NovelToon NovelToon
Takdir Didunia Sihir

Takdir Didunia Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.

Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 – Terbangun di Dunia Sihir

"Haruto! Bangun!"

Sebuah kapur melesat tepat mengenai dahinya.

Tok!

"Aduh!"

Haruto Kazehara tersentak bangun sambil memegangi kepala yang terasa panas. Seluruh kelas langsung tertawa melihat ekspresinya yang masih linglung setengah sadar.

"Akhirnya terbangun juga," ucap guru matematika dengan wajah datar tanpa ekspresi. "Kalau mau tidur nyenyak, lebih baik pulang saja ke rumah."

Haruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tersenyum canggung.

"Maaf, Pak..."

Teman sebangkunya, Kenta, menahan tawa sambil menepuk pundaknya.

"Kau benar-benar hebat. Pelajaran baru dimulai lima menit sudah terlelap."

Haruto hanya mendesah pelan.

"Semalam begadang menyelesaikan misi terakhir game baru."

"Itu urusanmu sendiri, jangan tidur di kelas."

Jam pelajaran terasa berjalan sangat lambat. Haruto menatap langit biru dari balik jendela. Awan putih berarak pelan, sementara angin musim semi menggoyangkan kelopak bunga sakura yang berjatuhan di halaman sekolah.

"Kalau saja hidupku seperti di novel isekai yang kubaca," gumamnya pelan, "bangun-bangun langsung jadi penyihir terkuat yang disegani semua orang."

Kenta mendengar bisikannya dan menggeleng.

"Berhenti berkhayal yang tidak-tidak. Fokuslah pada pelajaran."

Haruto hanya terkekeh pelan.

Tak lama kemudian, bel istirahat akhirnya berbunyi.

Namun rasa kantuk yang menyerang begitu berat membuat Haruto kembali menyandarkan kepalanya di atas meja.

"Cuma lima menit... sebentar saja..."

Kelopak matanya perlahan tertutup. Suara riuh teman-teman sekelas memudar pelan, langkah kaki di koridor menghilang, dan segalanya berubah menjadi sunyi senyap.

...

Entah berapa lama ia terlelap.

Saat Haruto membuka mata, hal pertama yang ia sadari adalah langit-langit yang sama sekali asing.

"Aneh sekali..."

Warnanya putih kebiruan, dihiasi ukiran rumit bentuk bintang dan kilatan cahaya yang belum pernah ia lihat seumur hidup.

"Hah?"

Ia duduk perlahan. Meja belajarnya hilang. Kursi kayu yang biasa ia duduki lenyap. Papan tulis putih di depan kelas pun tak ada bayangannya.

Sebagai gantinya, ia berada di sebuah ruangan luas yang terbuat dari batu pualam. Pilar-pilar raksasa menjulang tinggi hingga puluhan meter ke atas, seolah menopang langit itu sendiri.

"Ini..."

Haruto mengucek matanya berkali-kali, berharap pemandangan itu berubah kembali menjadi ruang kelas. Namun tidak ada yang berubah. "Aku masih bermimpi?"

Tepat di hadapannya terhampar lingkaran sihir raksasa yang memancarkan cahaya biru lembut. Simbol-simbol asing berputar perlahan di sepanjang garisnya, memancarkan getaran yang membuat bulu kuduk merinding.

"Luar biasa..."

Ia berjalan mendekat dengan hati-hati. Begitu ujung jarinya menyentuh permukaan cahaya itu...

Wuuussh!

Seluruh lingkaran menyala terang menyilaukan mata.

"Apa-apaan ini?!"

Haruto terpental mundur hingga jatuh duduk di lantai batu.

Seketika sebuah suara wanita yang lembut namun berwibawa bergema memenuhi ruangan.

"Selamat datang... wahai pengembara dari dunia lain."

Haruto membeku di tempat.

"Dari... dunia lain?"

Di udara di depannya perlahan muncul sosok perempuan berjubah putih berkilauan, dengan rambut perak panjang yang terurai hingga ke pinggang. Wajahnya cantik bagai pualam, namun sorot matanya tampak dingin dan serius.

"Namaku Asteria. Aku yang memanggilmu ke sini."

Haruto menunjuk dirinya sendiri dengan wajah masih bingung.

"Ini... acara cosplay?"

Asteria terdiam sejenak.

"Cos... apa?"

"Bukan begitu? Syuting film fantasi?"

"Bukan."

"Taman hiburan dengan tema dunia sihir?"

Asteria menggeleng pelan.

Haruto menarik napas panjang.

"Kalau begitu..."

"Kau telah berpindah ke dunia yang berbeda dari dunasalmu," jawab Asteria tegas.

Sunyi menyelimuti ruangan.

Lima detik berlalu. Sepuluh detik. Lima belas detik.

Tiba-tiba Haruto mengangkat kedua tangannya ke udara sambil berteriak riang.

"YEAAAY!! Akhirnya mimpiku jadi kenyataan!"

Asteria berkedip beberapa kali, tampak bingung.

"Kau... tidak merasa takut atau terkejut?"

"Tak perlu! Aku sudah menunggu momen ini sejak kelas satu SMP!" serunya bersemangat. "Di mana status kekuatanku? Di mana sihir legendaris? Mana pedang pusaka? Dan di mana gadis elf yang cantik?"

Asteria mulai menyesal telah memanggil pemuda ini.

"Tolong tenangkan dirimu dulu."

"Tidak bisa! Ini momen paling membahagiakan dalam hidupku!"

Haruto berlari mengelilingi ruangan sambil tertawa lepas, memandangi setiap ukiran di pilar batu.

"Aku benar-benar masuk ke dunia fantasi yang sesungguhnya!"

Namun karena terlalu asyik bersorak...

Bruk!

Kepalanya menabrak pilar batu yang keras.

"Aduh..."

Asteria memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.

"Apakah semua manusia dari duniamu bertingkah laku seperti ini?"

"Kurasa cuma aku saja," jawab Haruto sambil mengusap benjol di dahi, lalu berdiri tegak seolah tidak terjadi apa-apa. "Jadi... sekarang aku adalah pahlawan yang dipanggil untuk menyelamatkan dunia, kan?"

Asteria menggeleng pelan.

"Belum tentu."

"Hah? Tapi biasanya tokoh utama langsung diberi kekuatan setara dewa begitu sampai."

"Dunia ini tidak semudah cerita yang kau baca," jawabnya dengan nada berat.

Belum sempat Haruto bertanya lebih lanjut...

Terdengar suara retakan samar.

Krek...

Retakan halus perlahan menyebar di lantai batu.

"Apa itu?" tanyanya bingung.

Asteria membelalakkan mata ngeri.

"Tidak mungkin..."

Cahaya biru dari lingkaran sihir perlahan meredup.

"Ritual pemanggilanmu belum sempurna! Ada gangguan dari luar!"

"Lho? Lalu apa yang harus kulakukan?"

"Tidak ada waktu! Cepat lari!"

"Lari ke mana?!"

Lantai di bawah kakinya tiba-tiba runtuh seketika.

"Aaaaaaa!!"

Tubuh Haruto terjatuh ke dalam kegelapan yang tak berdasar.

"Asteriaaaaa!"

Suara gadis itu terdengar semakin samar menjauh.

"Semoga... takdir benar-benar berpihak kepadamu..."

Gelap pekat. Sepi tanpa suara. Tubuhnya terus meluncur jatuh, hingga akhirnya...

Byur!

Ia tercebur ke air yang dingin menusuk tulang.

"Kyaaah! Dingin sekali!"

Haruto berenang sekuat tenaga hingga akhirnya berhasil merangkak naik ke tepian danau. Sambil batuk-batuk mengeluarkan air yang tertelan, ia menatap sekeliling dengan takjub.

Di hadapannya terbentang hutan hijau yang tak berujung. Burung-burung berwarna pelangi terbang berkelompok di antara ranting pohon raksasa. Kupu-kupu sebesar telapak tangan melintas perlahan tepat di depan hidungnya. Dan di kejauhan, tampak gunung-gunung tinggi yang puncaknya melayang bebas di angkasa.

Haruto terpaku diam.

"...Benar-benar. Ini bukan mimpi. Aku benar-benar berada di dunia lain."

Tiba-tiba perutnya berbunyi keras.

"Kruuuk..."

Ia tersenyum tipis dan mengepalkan tangan dengan tekad kuat.

"Baiklah. Petualangan pertamaku dimulai sekarang!"

Belum sempat kakinya melangkah...

Semak-semak di sampingnya bergoyang hebat.

Sesosok makhluk kecil berwarna biru bulat sebesar bola tenis melompat keluar, lalu memantul-pantul di hadapannya.

"Pyuu?"

Haruto memiringkan kepala bingung.

"Slime?"

Makhluk itu menatapnya dengan mata bulat hitam berbinar. Haruto membalas menatapnya lekat-lekat.

Lima detik berlalu. Sepuluh detik.

Haruto tersenyum lebar.

"Lucu sekali!"

Ia perlahan mengulurkan tangan. Slime itu justru mendekat, lalu menyentuh jari Haruto dengan tubuh lunaknya.

"Lembut juga," gumamnya sambil mengelus kepala makhluk itu.

Namun tiba-tiba...

"Hap!"

Slime itu menggigit ujung jarinya dengan cepat.

"Aduh!" Haruto melompat mundur sambil menggoyangkan tangannya. "Kecil-kecil galak sekali ya!"

Slime itu justru memantul-pantul riang, seolah sedang menertawakan ekspresi kaget Haruto.

Pemuda itu menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga, lalu menghela napas panjang sambil tersenyum.

"Sepertinya... hidup di dunia ini sama sekali tidak akan membosankan."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!