Shen Dazhi, seorang pengembara yang berhasil mengumpulkan 10 pusaka legendaris yang diturunkan oleh Dewa. Bukan hanya itu, dirinya juga berhasil mengalahkan pemimpin sekte aliran hitam terbesar dan menjadi salah satu orang terkuat di dunia.
Namun rasanya semua itu tidak sepadan karena banyak sekali rekan-rekan serta orang tersayangnya yang mati dimasa lalu karena ulah sekte hitam tersebut.
Sampai akhirnya, dirinya diberikan kesempatan kedua oleh Dewa untuk kembali ke masa lalu dan menyelamatkan orang-orang berharganya.
Inilah cerita sang Pengembara dari masa depan yang kembali ke masa lalu untuk menulis ulang takdirnya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dazhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Persiapan Menuju Turnamen
Turnamen antar Kultivator adalah turnamen yang diselenggarakan di Kota Jianxia setiap lima tahun sekali. Turnamen ini didanai oleh tiga sekte besar, sehingga menjadi salah satu peristiwa paling bergengsi yang selalu dinantikan oleh masyarakat.
Turnamen ini biasanya diikuti oleh lebih dari seribu kultivator yang datang dari berbagai kota di seluruh kekaisaran. Turnamen ini merupakan sebuah kesempatan emas untuk mengangkat nama, memperoleh sumber daya kultivasi, serta menarik perhatian para tetua sekte.
Bagi para kultivator muda, kemenangan dalam turnamen ini dapat mengubah nasib mereka dalam semalam. Hadiah dari turnamen ini sangat besar, yaitu sejumlah besar Batu Roh, pil kultivasi tingkat tinggi, senjata kelas langka, bertumpuk-tumpuk koin emas, serta hak untuk memilih salah satu dari tiga sekte besar sebagai tempat mereka berkultivasi.
Tentu saja diantara itu semua, yang Dazhi incar adalah koin emasnya. Ia pernah mengikuti turnamen ini pada kehidupan sebelumnya dan berhasil menjadi juara pertama. Lalu hadiah yang diberikan sungguh tidak main-main.
"Kalau aku setidaknya bisa masuk peringkat besar, aku bisa mendapatkan cukup banyak koin emas!! Ini benar-benar bagus!! Aku harus mengikuti turnamen ini!"
Dazhi tertawa senang, kebetulan sekali turnamen ini dilakukan sekarang, jadi dirinya bisa mengikuti turnamen itu.
"Kau harus berterima kasih kepadaku, Dazhi. Turnamen ini hanya diadakan lima tahun sekali, dan kau bisa mengikutinya sekarang karena keberuntunganku. Semua ini berkat aku!!" Sven menyela dengan nada sombong.
Dazhi hanya terkekeh pelan. Mungkin keberuntungan Sven memang ikut andil dalam hal ini. Jika bukan karena bertemu dengannya, ia mungkin harus menunggu lima tahun berikutnya untuk mengikuti Turnamen Antar Kultivator.
"Ya baiklah... Terimakasih Sven."
Dikala Dazhi mempersiapkan rencana untuk turnamen, tiba-tiba ia melihat Xiao Qingxuan sudah kembali dari kedai makanan dan sedang mencari-cari dirinya sekarang.
"Zhizhi!! Dimana kau?!!" Panggil Xiao Qingxuan.
"Aku disini paman!!" Teriak Dazhi sembari mendekat kearah Xiao Qingxuan.
Ketika sampai dihadapannya, Xiao Qingxuan langsung mengajak Dazhi pergi ke kereta kuda mereka untuk makan bersama disana.
Makanan yang dibawa Xiao Qingxuan benar-benar menggugah selera. Bakpao besar, pangsit, daging babi goreng dengan aroma khas, sate belalang, dan segelas air putih biasa.
Dazhi tanpa diminta sudah memasukkan makanan-makanan itu ke piringnya dan makan dengan lahap. Jarang sekali Xiao Qingxuan membelikan makanan enak seperti ini.
"Dazhi, apa dirimu tidak akan meminta izin kepada Xiao Qingxuan untuk ikut turnamen itu?"
Ditengah-tengah memakan daging babi, Sven berbicara membuat Dazhi berhenti sejenak. Benar juga, ia harus meminta izin Xiao Qingxuan untuk bisa mengikuti turnamen tersebut.
"Hm... Namun bagaimana kalau paman tidak mengizinkan?" Khawatir Dazhi.
"Tenang saja, dengan keberuntunganku. Dia pasti akan mengizinkan!"
Sven berbicara dengan percaya diri. Tentu saja Dazhi tak punya pilihan selain mengikuti apa yang Sven katakan. Lagipula dia pusaka legendaris, perkataannya bisa dipertanggungjawabkan.
"Paman..." Dazhi berbicara dengan hati-hati.
"Ada apa Zhizhi?"
"Itu, aku dengar ada sebuah turnamen yang diadakan di kota ini. Bolehkah aku mengikutinya?"
Xiao Qingxuan menatap Dazhi dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. Namun detik berikutnya, ia mengangguk dan menyetujui permintaan Dazhi.
"Baiklah, boleh."
Dazhi menatap dengan terkejut. Ia tak menyangka kalau Xiao Qingxuan akan menyetujui ini.
"Sudah kubilang juga apa. Hehe..." Ucap Sven.
Xiao Qingxuan sebenarnya sudah mengetahui tentang Turnamen Antar Kultivator yang sedang diselenggarakan di Kota Jianxia. Bahkan, ia sempat berniat untuk ikut serta. Sayangnya, pekerjaannya yang menumpuk membuat keinginan itu harus ia urungkan.
Karena itulah, Xiao Qingxuan tidak keberatan saat Dazhi meminta izin untuk mengikuti turnamen. Menurut pengetahuannya, Dazhi masih berada di Ranah Kultivasi Pertama. Ia berpikir, jangankan bersaing memperebutkan peringkat, lolos dari seleksi awal saja sudah merupakan tantangan yang cukup berat bagi anak dihadapannya.
Xiao Qingxuan sama sekali tidak mengetahui bahwa bocah di hadapannya bukanlah anak biasa.
Di balik wajah polos nya itu, tersembunyi seorang pengembara yang telah hidup puluhan tahun serta pernah berdiri di puncak dunia kultivasi. Pengalaman bertarungnya bahkan jauh melampaui kebanyakan tetua sekte.
Tentu saja, semua itu masih menjadi rahasia yah hanya Dazhi sendiri ketahui.
"Terimakasih Paman!" Ucap Dazhi sembari tersenyum lebar.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Kalau memang tidak sanggup, menyerahlah. Turnamen bukan tempat bermain."
"Baik!"
Dazhi memang berniat menyerah jika bertemu lawan yang terlalu kuat untuk dikalahkan. Bagaimanapun juga, tujuan utamanya mengikuti turnamen bukanlah menjadi pemenang utama, melainkan memperoleh hadiah berupa koin emas. Selama target itu tercapai, hasil lainnya tidak terlalu penting baginya.
***
Keesokkan harinya, Dazhi langsung pergi ke pasar di pusat kota Jianxia. Ia ingin membeli senjata untuk persiapan turnamen antar Kultivator 8 hari lagi.
"Sven, menurutmu toko mana yang menjual pedang berkualitas tinggi tapi dengan harga yang rendah."
"Hah?"
Sven menatap Dazhi dengan wajah bingung. Bocah itu menginginkan pedang berkualitas tinggi, tetapi enggan mengeluarkan banyak uang.
"Ya ampun... Dirimu ini benar-benar aneh. Mana ada pedang berkualitas tinggi yang dijual murah? Kalau memang ada, semua orang pasti sudah berebut membelinya sejak lama."
"Bukankah kau ini liontin keberuntungan? Siapa tahu keberuntunganmu bisa membawaku menemukan pedang seperti itu." Dazhi menunjukkan cengiran kudanya.
"Baiklah... Baiklah... Toko senjata disebelah kedai mie."
Mendengar ucapan Sven, Dazhi segera berjalan menuju toko yang dimaksud. Toko yang cukup sepi dengan penjual yang terlihat malas melayani pelanggan.
"Permisi..."
"Masuk dan pilih sendiri yang kau sukai, kalau hanya ingin bertanya-tanya, pergilah dari toko ini."
Dazhi menatap malas kepada penjual toko itu. Sepertinya ia tahu alasan kenapa toko ini begitu sepi pelanggan.
Dazhi kemudian menatap pedang yang dijual di toko itu. Tak ada yang spesial, hanya pedang biasa dan bukan pedang sakti apalagi pusaka legendaris.
Sampai akhirnya mata Dazhi menemukan sebuah pedang dengan bilah yang terlihat kusam dan dipenuhi goresan halus seolah sudah lama tak terawat.
Meski penampilannya terlihat sederhana dan jauh dari kata sempurna, namun Dazhi tahu sesuatu. Itu bukanlah pedang biasa.
"Paman, berapa harga pedang ini."
"Oh... Itu 67 koin perak."