"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
delapan
"lian..habiskan makannya nak!"
Diandra meraih killian, menarik putranya itu sedikit menjauh dari xavier yang perlahan bangkit.
"maaf chef diandra. Kalau saya menganggu acara makan malam keluarga" suara berat xavier terdengar penuh tekanan.
Mata pria itu, menatap diandra dengan sorot tajam menusuk. Seakan ingin menunjukkan kalau dirinya sedang tak suka melihat acara makan malam itu.
"apakah anda suami chef diandra?"
Xavier mengalihkan perhatiannya pada elang, elang sedikit tersentak, ia menatap tangan xavier yang terulur.
"kenalkan saya xavier pratama" ujarnya mengenalkan diri, mata pria itu malah memindai elang.
"saya elang atmaja" sahut elang pendek, namun pria itu menyambut tangan xavier, walau dengan raut wajah setengah hati.
"maafkan saya kalau menganggu..." ujar xavier lagi, kini mata pria itu beralih kembali, menatap killian lekat.
Senyum tipis pria itu kembali mengembang, namun terlihat sangat manis. Mungkin karena senyuman itu sebuah senyuman yang tulus.
"sampai jumpa lagi, ganteng" ujarnya mengajak killian toss, dan dengan semangat bocah 5 tahun itu menyambut toss dari xavier.
Diandra mendudukkan killian di sisinya, raut wajahnya masih terlihat tak enak hati.
"pria itu pemilik grup pratama jaya kan?" tanya elang menyentakkan diandra dari lamunannya, diandra mengangguk pelan.
"kamu sudah kenal lama dengan pria tadi?" tanya elang lagi penuh selidik, nada suaranya sangat ingin tahu.
Diandra memicingkan matanya, ada ragu yang menghampiri hatinya. Haruskah dia jujur pada elang, atau memendam kenangan itu selamanya.
Ia dan xavier tidak memiliki apapun untuk dikenang, tak ada cinta di masa lalu mereka. Walau tak dapat dipungkiri, ada killian diantara mereka.
"aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dariku, di. Aku merasa antara kamu dan pria itu ada sesuatu"
Diandra terperanjat, tak percaya elang begitu memahaminya. Pria itu bisa tahu hanya karena bahasa tubuh diandra tak nyaman, sejujurnya diandra sedikit takut.
"apakah pria itu ayah killian?"
Diandra tersentak kaget, ia terkesiap tak percaya, padahal suara elang sangat lirih setengah berbisik. Ia tahu elang bertanya sepelan itu agar killian tak mendengarnya, namun diandra sangat terkejut.
Sangat terkejut malah, mulutnya masih terperangah menatap lekat elang yang masih menatapnya juga.
"kamu nggak perlu jawab di. Reaksi kamu sudah menjawabnya.."
"mas.." panggil diandra dengan helaan nafasnya yang terdengar berat.
"apakah dia masa lalumu?"
Diandra menggeleng cepat, " tak pernah ada apa-apa di antara kami. Dia juga tak mengenaliku"
Elang mengernyitkan keningnya heran, apa maksud diandra sebenarnya. Wanita ini tak menyangkal sama sekali pertanyaan tadi, tentang kemungkinan kalau pria itu ayah killian.
Namun apa maksudnya itu tadi, tak pernah ada apa-apa di antara mereka, pria itu tak mengenali diandra, apa maksudnya ini coba.
"di.." panggil elang hati-hati.
"mas.." sambar diandra cepat,"suatu saat aku akan cerita, tapi jangan sekarang mas, aku nggak siap"
Elang tak menyahut, ia hanya menatap lekat wajah diandra yang sendu.
Elang tak mau memaksa, walau sejujurnya ia sangat penasaran. Ia bisa tahu kalau diandra tadi sangat tak nyaman dengan kehadiran pria bernama xavier itu, tapi rasa penasarannya ini untuk sementara akan dipendamnya, sampai diandra mau menceritakan ada apa antara dirinya dan pria itu.
<<<<<<<<<<<<<<<>>>>>>>>>>>>
Xavier melangkah kesal, kekesalan itu jelas terlihat di wajah tampannya. Rahangnya menegang. Sungguh ia sangat tak menyukai kenyataan kalau wanita itu ternyata sudah menikah.
Padahal xavier berharap, wanita yang ia cari selama ini adalah wanita itu.
Xavier tersentak kaget, dengan isi kepalanya sendiri. Terkesima tak percaya dengan apa yang dipikirkannya, mengapa dia berharap kalau wanita yang ia cari selama ini adalah diandra, dan mengapa pula ia cemburu tadi.
"hadeuhhh.."
Xavier menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya, apakah dia tertarik pada perempuan itu.
"ada apa xavi?"
Xavier menoleh, menatap geraldine yang memandanginya dengan sorot mata keheranan.
Xavier tersenyum tipis, berusaha menenangkan wanita yang duduk di hadapannya itu. Sebenarnya ada rasa malu, bagaimana bisa ia tak menyadari bahwa saat ini ia bersama orang lain.
"apakah kamu teringat sesuatu yang belum kamu selesaikan?" tanya wanita itu lagi, kali ini xavier tersenyum sembari mengangguk.
"iya, aku teringat sesuatu di kantor siang tadi. Ada dokumen yang belum aku tanda tangani"
Geraldine mengangguk paham, sorot mata wanita itu terlihat penuh kagum menatap xavier. Wanita itu sepertinya sudah jatuh ke dalam pesona xavier, matanya yang selalu berbinar, jika menatap xavier, sangat tak bisa ditutupi lagi.
Xavier tahu, kalau wanita di hadapannya ini menyukainya. Geraldine sering memberi sinyal, baik melalui mata atau bahasa tubuh wanita itu.
Namun sejujurnya xavier tidak memiliki perasaan yang sama, ia tidak tertarik sama sekali pada perempuan ini.
"oh ya, xavi! 4 hari lagi ulangtahun oma, apakah ada yang bisa aku bantu?"
Xavier menggeleng, "ultah oma sederhana saja kok, sudah ada yang menanganinya"
Geraldine mengangguk paham, mata wanita itu mengamati xavier lagi. Entah mengapa sejak kembali dari toilet tadi, mood xavier berubah.
Pria ini mendadak dingin dan lebih banyak diam, sejujurnya geraldine merasa kalau pria yang duduk di depannya ini, sama sekali tak memperhatikannya.
Geraldine tahu, kalau xavier bukanlah pria yang gampang jatuh cinta hanya karena kecantikan. Dia tahu sepak terjang pria ini, wanita cantik baginya hanyalah sebuah koleksi.
Jauh sebelum papanya memberitahu padanya, kalau keluarga pratama menginginkannya sebagai menantu. Geraldine sudah jatuh hati pada pria ini, sejak ia melihat pria ini pertama kalinya.
Saat itu xavier menggandeng perempuan yang luar biasa cantiknya, catherine wijaya. Seorang model top dunia, dengan tubuhnya yang tinggi semampai khas seorang model.
Siapapun yang mengetahui hubungan di antara mereka, pasti setuju jika mereka adalah pasangan yang serasi.
Geraldine hanya mengagumi dalam diamnya, bagaimana ia berani mengungkapkan perasaannya, jika melihat siapa pacar pria itu.
7 tahun sudah ia memendam rasa ini, saat papanya mengatakan kalau oma dari keluarga pratama menanyakan kesediaannya untuk kencan buta dengan xavier, geraldine langsung mengiyakannya.
"jangan lupa yah, kehadiranmu dan keluargamu" celetuk xavier menyadarkan geraldine yang termenung.
Wanita itu mengangguk, ia tersenyum manis menatap lekat xavier yang menatapnya.
"apakah kamu mengharapkan kedatanganku, xavi?" tanya geraldine hati-hati.
Terlihat sesaat bola mata xavier membesar, pria itu tersenyum lagi. Ia tak menjawab, hanya mengamati wanita yang duduk di depannya itu, yang menatapnya dengan sorot mata penuh harap.
Terdengar helaan nafas xavier cukup berat, sejujurnya dia tahu geraldine menyukainya, dan ia tak mau memberikan wanita ini harapan sedikitpun.
Mengapa xavier mau mengajak geraldine makan malam lagi, itu hanya salah satu cara yang ia lakukan untuk bisa berhenti dari tekanan omanya.
Dan ia juga sedang mencari cara untuk membuktikan bahwa wanita yang ia cari selama ini, adalah chef diandra.
Xavier membutuhkan waktu, dan geraldine adalah alat yang ia butuhkan untuk mengulur waktu, agar omanya berhenti mencari perempuan-perempuan yang harus ia temui satu persatu.
Xavier kembali menatap lekat wajah wanita yang ada di depannya itu, yang masih menatapnya penuh harap, cinta dan binar yang berpendar.
Lagi-lagi terdengar helaan nafas yang cukup berat, akhirnya untuk menenangkan geraldine, xavier tersenyum manis, namun tanpa jawaban ataupun hanya sekedar anggukan kepala darinya.
Bersambung...