Shen Yu hanyalah seorang pemburu yatim piatu dari desa terpencil yang setiap hari hidup dalam hinaan. Takdirnya berubah saat ia memperoleh warisan Menara Dewa Kuno, peninggalan terakhir Sekte Dewa Kuno yang telah dimusnahkan.
Di balik kekuatan itu tersembunyi rahasia kematian kedua orang tuanya dan konspirasi Dua Belas Sekte Besar yang menguasai dunia kultivasi.
Dengan tekad membalas dendam, membangkitkan kembali Sekte Dewa Kuno, dan mencapai puncak kultivasi, Shen Yu memulai perjalanan untuk menjadi True God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lantai Pertama Menara Dewa Kuno
KLANG!!!
Suara dentangan logam yang teramat dahsyat memekakkan telinga saat rantai raksasa itu putus dan menghantam lantai batu. Benturan tersebut memicu gelombang kejut yang kasat mata, membuat dinding-dinding kokoh Menara Dewa Kuno bergetar hebat.
Retakan baru menjalar seperti jaring laba-laba, dibarengi rontoknya debu kuno dari langit-langit aula.
Shen Yu refleks memasang posisi siaga, tangannya mencengkeram erat gagang pedang tua yang terselip di pinggangnya. "Sial! Apa segel luar sudah jebol? Apa anjing-anjing sekte itu berhasil menerobos masuk?!"
Roh Menara menggelengkan kepalanya dengan tenang. "Belum. Kerusakan rantai ini bukan disebabkan oleh serangan luar."
"Lalu kenapa bisa putus?"
Roh Menara mendongak, menatap struktur menara yang menembus kabut atas. "Setiap kali seorang pewaris sah berhasil menembus tahap pertama kultivasi fisik, maka mekanisme otomatis menara akan menganggapmu layak. Segel penghalang untuk menuju lantai berikutnya akan terbuka dengan sendirinya."
Baru saja kalimat itu selesai diucapkan, suara gemuruh dari roda gigi kuno terdengar berputar di bawah tanah.
Grrrrrr...
Lantai batu di depan mereka perlahan-lahan bergeser ke dua sisi, memunculkan sebuah tangga spiral megah yang mengarah ke atas kegelapan. Tangga itu dipenuhi ukiran relief makhluk mitologi—mulai dari naga bermahkota, burung phoenix yang terbakar, hingga simbol-simbol kuno misterius yang tidak dikenali oleh Shen Yu.
"Naiklah," titah Roh Menara. "Tangga itu menujumu ke Lantai Pertama Menara Dewa Kuno yang sesungguhnya."
Shen Yu mengernyitkan dahi. "Memangnya selama ini kita berada di mana?"
"Tempat kita berdiri sekarang hanyalah Ruang Warisan paling dasar. Lantai Pertama yang menyimpan fondasi kekuatan sekte baru dimulai dari atas sana."
Shen Yu menghela napas pendek, lalu terkekeh pelan penuh sarkasme. "Jadi setelah semua siksaan di kolam tadi, aku bahkan belum benar-benar menginjakkan kaki di dalam menara? Sepertinya perjalanan mengklaim warisan ini akan jauh lebih merepotkan daripada dugaanku."
Tanpa keraguan lebih lanjut, Shen Yu mengayunkan langkahnya menaiki anak tangga pertama.
Deg!
Begitu kakinya menapak, Shen Yu merasakan atmosfer di sekitarnya mendadak berubah. Setiap ia melangkah naik satu demi satu anak tangga, udara terasa semakin pekat dan berat tak kasat mata. Tekanan spiritual (pressure) yang menekan pundaknya kian lama kian ekstrem.
Jika seorang kultivator tahap Body Tempering biasa yang mencoba mendaki tangga ini, mereka dipastikan sudah muntah darah dan pingsan sebelum mencapai pertengahan jalan.
Namun, tubuh Shen Yu telah ditempa oleh energi Kekacauan Purba. Ia terus melangkah maju dengan tatapan lurus.
Seratus anak tangga... Dua ratus... Lima ratus...
Keringat dingin mulai membasahi dahinya, dan napasnya mulai terasa memburu akibat melawan gravitasi spiritual yang gila.
Hingga akhirnya, saat ia menapakkan kaki di anak tangga terakhir, sebuah pintu batu hitam pekat di hadapannya bergeser terbuka secara perlahan, memancarkan hawa kuno yang pekat.
GROOOM...
Di balik pintu itu, terbentang sebuah aula raksasa yang luar biasa luas. Rak-rak kayu kuno yang terbuat dari kayu spiritual berjejer rapi hingga ke ujung ruangan yang berkabut. Di atas setiap rak, tersimpan ribuan gulungan teknik kultivasi, senjata-senjata pusaka yang berdarah, botol-botol pil obat langka, dan berbagai macam artefak yang memancarkan pendaran aura magis.
Shen Yu sempat terpaku di ambang pintu, matanya berbinar. "Semua kekayaan ini..."
"Benar. Ini adalah sebagian kecil dari sisa kejayaan milik Sekte Dewa Kuno di masa lalu," sahut Roh Menara bangga.
Namun, belum sempat Shen Yu mengambil satu langkah pun untuk masuk ke dalam aula, sebuah kilatan cahaya hitam pekat melesat dari balik kegelapan kabut, mengincar tepat ke arah tenggorokannya!
SWIIING!
Insting berburu Shen Yu yang telah terasah selama bertahun-tahun di alam liar berteriak histeris. Tubuhnya bergerak melampaui logika berpikirnya—ia melentingkan badannya ke belakang seraya mengayunkan pedang tuanya ke atas.
CLANG!!!
Bilah pedang Shen Yu berhasil menghantam dan membelokkan ujung sebuah tombak hitam besar. Suara benturan logam berat itu bergema nyaring, memantul di setiap sudut dinding aula. Hantaman itu begitu kuat hingga membuat telapak tangan Shen Yu berdenyut mati rasa.
Perlahan, dari balik bayangan kabut, sesosok pria berzirah perang hitam pekat melangkah keluar. Zirah kuno yang dikenakannya dipenuhi oleh bekas goresan senjata, menandakan ia telah melewati ratusan pertempuran berdarah. Tatapan matanya tampak kosong tanpa emosi fana, namun aura energi yang menguar dari tubuhnya terasa bagaikan gunung berapi yang siap meledak.
Di bagian pelindung dadanya, terukir dengan jelas lambang Menara Dewa Kuno.
Roh Menara melayang di samping Shen Yu, suaranya mendadak berubah formal. "Dia adalah Penjaga Jiwa dari Lantai Pertama. Jika kau ingin memperoleh dan menggunakan semua harta karun yang ada di lantai ini... syarat mutlaknya adalah kau harus bisa mengalahkannya."
Pria berzirah hitam itu perlahan mengangkat tombak besarnya, mengarahkannya lurus ke hidung Shen Yu. Di luar dugaan, bibirnya bergerak dan ia membuka suara dengan nada sedingin es batu:
"Pewaris... buktikan pada jiwaku bahwa kau memang layak memikul nama besar Sekte Dewa Kuno."
Meskipun pria berzirah hitam itu tidak memancarkan niat membunuh yang liar, tekanan aura murni yang keluar dari posisinya berdiri sudah cukup untuk membuat dada Shen Yu terasa sesak.
Shen Yu membetulkan posisi genggamannya pada pedang tua, matanya menyipit waspada. "Kakek, dia berada di tingkat kultivasi apa? Jangan bilang dia seorang ahli dunia atas."
Roh Menara menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari sang penjaga. "Dahulu kala saat masih hidup... dia adalah seorang pendekar bergelar Saint (Maha Kudus). Tapi sekarang yang tersisa di sini hanyalah secercah fragmen jiwa spiritualnya yang terikat menara. Tenang saja, menara ini adil. Kekuatan fisiknya saat ini telah ditekan dan disesuaikan agar setara dengan tingkat kultivasimu saat ini."
Shen Yu mengembuskan napas lega yang panjang. "Syukurlah. Kalau tidak disesuaikan, aku pasti sudah berubah jadi remahan biskuit dalam satu detik."
Pria berzirah itu tiba-tiba menghentakkan ujung bawah tombaknya ke lantai batu.
DUG!
"Namaku... Qin Luo," ucapnya, suaranya berat bergema. "Aku adalah Penjaga Lantai Pertama Menara Dewa Kuno. Sudah tiga puluh dua ribu tahun lamanya... aku berdiri di kegelapan ini hanya untuk menunggu kedatangan seorang pewaris berikutnya."
Tatapan kosong Qin Luo mendadak mengunci lurus pada manik mata Shen Yu, memancarkan kilatan dingin. "Namun ingat, jika kau terbukti tidak berkompeten dan gagal dalam ujian ini... tombakku akan langsung menembus jantungmu tanpa ampun."
Wush!
Begitu suku kata terakhirnya selesai diucapkan, sosok Qin Luo mendadak lenyap dari pandangan mata telanjang Shen Yu secara instan. Kecepatannya melampaui batas nalar!
"Di belakangmu! Menghindar!" teriak Roh Menara panik.
Tanpa sempat berpikir, Shen Yu mengandalkan insting hewannya. Ia memutar poros tubuhnya 180 derajat sambil menebaskan pedangnya secara membabi buta ke arah udara kosong di belakangnya.
CLAAANG!!!
Mata pedang Shen Yu tepat waktu menahan hantaman horizontal dari tombak Qin Luo. Namun, meskipun ia berhasil memblokirnya, daya dorong mentah dari kekuatan fisik Qin Luo yang luar biasa masif tetap melempar tubuh Shen Yu hingga terpental beberapa meter ke belakang. Kakinya terseret di lantai batu, meninggalkan bekas gesekan yang dalam.
"Sial... Berat sekali! Lenganku sampai mati rasa!" batin Shen Yu, merasakan kedua tangannya bergetar hebat menahan sisa getaran energi.
Qin Luo tidak memberikan musuhnya waktu bahkan hanya untuk sekadar menarik napas. Sosok hitamnya kembali merangsek maju bagai badai. Satu demi satu tusukan tombak meluncur bertubi-tubi dengan kecepatan ekstrem yang sulit diikuti oleh mata.
Sret! Sret! Sret!
Udara tercabik-cabik. Pakaian berburu Shen Yu yang sudah robek kini semakin hancur. Beberapa luka goresan tipis yang mengeluarkan darah mulai muncul di lengan kanan dan bahu kirinya.
Namun, di tengah hujan serangan mematikan itu, ada satu hal yang tidak dimiliki kultivator biasa tetapi dimiliki Shen Yu: Insting bertahan hidup seekor pemburu liar. Setiap kali ujung tombak Qin Luo hampir mengenai titik fatalnya, Shen Yu selalu mampu menggeser posisi tubuhnya beberapa milimeter di detik-detik terakhir secara ajaib.
"Dia selalu membaca arah langkah kakiku sebelum menyerang..." Shen Yu terus mengamati dengan cermat pola dan ritme pergerakan lawannya di tengah desingan tombak.
Tiba-tiba, di tengah situasi kritis itu, ujung bibir Shen Yu terangkat. Ia tersenyum tipis. "Aku sudah menemukan polamu."
Qin Luo kembali meluncurkan serangan pamungkas—sebuah tusukan lurus berkecepatan tinggi yang mengincar tepat di tengah dada Shen Yu. Sebuah serangan lurus yang seharusnya tidak menyisakan ruang pelarian.
Namun kali ini, Shen Yu sama sekali tidak mencoba mengangkat pedangnya untuk menangkis. Ia justru dengan sengaja mengambil risiko besar dengan melangkah setengah langkah ke arah kiri secara tak terduga.
Wush! Ujung mata tombak tajam Qin Luo melintas bebas, hanya berhasil merobek ujung kain baju Shen Yu.
Pada fraksi detik momentum saat tubuh Qin Luo condong ke depan akibat serangannya yang meleset, Shen Yu memanfaatkan jarak dekat mereka. Dengan gerakan memutar yang halus, ia menghantamkan pangkal gagang pedang kerasnya tepat ke titik saraf pergelangan tangan Qin Luo yang sedang menggenggam tombak.
Tak!
Hantaman telak itu seketika membuat otot pergelangan tangan Qin Luo terdistorsi, membuat cengkeramannya pada tombak hitam sedikit mengendur.
Tanpa menyia-nyiakan celah emas yang tercipta dalam satu kedipan mata itu, Shen Yu memutar seluruh bobot tubuhnya, menyalurkan tenaga fisiknya ke kaki kanan, lalu melepaskan sebuah tendangan berputar yang sangat kuat tepat ke arah dada zirah Qin Luo.
Bukkk!
Hantaman kaki itu begitu solid, memaksa sosok pria berzirah hitam itu mundur terhuyung sebanyak tiga langkah ke belakang sebelum akhirnya berhasil menyeimbangkan posisinya kembali.
Suasana aula mendadak hening.
Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, tatapan kosong di wajah Qin Luo melunak. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sarat akan rasa puas.
"Bagus. Sangat bagus," ucap Qin Luo, nadanya dipenuhi getaran emosi. "Kau sama sekali tidak bertarung dengan gaya kaku seperti para murid sekte ortodoks yang membosankan. Cara bertarungmu... adalah cara bertarung seekor pemburu sejati yang pragmatis."
Shen Yu menyeringai lebar, menyeka tetesan darah di dagunya dengan punggung tangan. "Aku memang seorang pemburu dari desa terpencil, Tuan Penjaga. Bagiku, tugas seorang pemburu itu sangat sederhana: Amati mangsamu, tunggu dengan sabar hingga ia lengah, lalu jatuhkan dia dalam satu kali kesempatan fatal."
Sepasang mata Qin Luo memancarkan kilatan kekaguman yang mendalam. "Kalau begitu, wahai Pemburu... tunjukkan padaku seluruh esensi dari serangan terkuat yang kaumiliki saat ini!"
Shen Yu menarik napas dalam-dalam, membiarkan paru-parunya terisi penuh.
Untuk pertama kalinya di dalam sebuah pertempuran nyata, ia mulai mengaktifkan dan mengedarkan formula mistis dari Kitab Dewa Abadi di dalam tubuhnya. Aliran energi Qi Kekacauan Purba yang sedingin es namun berdaya ledak tinggi seketika mengalir deras dari dantiannya, merangsek melewati 108 meridian yang terbuka, dan bermuara seluruhnya ke bilah pedang tua di tangan kanannya.
Wuuuung!
Pedang besi tua yang semula tampak kusam dan berkarat itu kini mendadak bergetar hebat, memancarkan pendaran cahaya keemasan samar yang teramat murni dan menekan udara sekitarnya.
Melihat fenomena instan tersebut, wajah Roh Menara yang menyaksikannya dari jauh seketika berubah drastis penuh horor. "Mustahil! Bagaimana bisa... dia sudah mampu memanipulasi dan menyalurkan Qi Kekacauan ke senjatanya secepat ini?! Ini adalah pertarungan pertamanya!"
Shen Yu mengambil satu langkah besar maju ke depan. Hanya satu gerakan ayunan pedang tunggal ke arah depan.
SWOOOSH!!!
Sebuah gelombang tebasan cahaya pedang keemasan membelah udara aula dengan kecepatan yang mengerikan, memancarkan tekanan tirani Dewa Kuno.
Menghadapi serangan mematikan yang mengarah ke tubuhnya, Qin Luo sama sekali tidak mencoba mengangkat tombaknya untuk bertahan ataupun melompat menghindar. Sebaliknya, ia justru menurunkan senjatanya, perlahan memejamkan kedua kelopak matanya, dan menyambut datangnya tebasan cahaya emas itu dengan senyuman tulus di wajahnya.
CLANG!!!
Tebasan cahaya emas itu menghantam telak, namun tidak menghancurkan tubuh zirah tersebut menjadi potongan daging. Sosok Qin Luo perlahan-lahan mulai terurai, berubah menjadi jutaan butiran partikel cahaya keemasan yang indah yang beterbangan di udara aula.
Sebelum fragmen kesadarannya benar-benar lenyap sepenuhnya terserap menara, Qin Luo membuka matanya untuk terakhir kali, menatap Shen Yu penuh takzim.
"Selamat... wahai Pewaris baru. Lantai pertama ini... kini resmi menjadi milikmu sepenuhnya."
Sesaat setelah sosok sang Penjaga Jiwa lenyap tanpa sisa, seluruh struktur aula Lantai Pertama mendadak berguncang pelan secara ritmis. Rak-rak kayu kuno yang menyimpan ribuan pusaka di sekeliling ruangan mulai memancarkan cahaya fluoresen, menandakan segel aksesnya telah dibuka.
Kreeek...
Di titik paling tengah aula, sebuah peti batu kuno berukir relief rumit perlahan-lahan bergeser dan terbuka dengan sendirinya dari dalam lantai.
Shen Yu melangkah mendekat dengan rasa penasaran yang membuncah. Namun, ketika ia melongokkan kepalanya ke dalam peti, ia sedikit mengernyit. Di dalam peti batu yang begitu megah itu, ternyata tidak ada senjata dewa ataupun pil obat legar. Di sana hanya tergeletak sebuah cincin logam berwarna hitam polos tanpa ukiran apa pun, tampak sangat biasa dan rapuh.
Namun, tepat pada detik ketika tangan Shen Yu terulur ke bawah hendak mengambil cincin misterius tersebut, Roh Menara dari arah belakang tiba-tiba berteriak histeris dengan nada suara yang dipenuhi kepanikan luar biasa:
"Shen Yu! Jangan sentuh cincin itu dulu dengan tangan telanjangmu! Berhenti!"
Langkah Shen Yu seketika terhenti di udara, ia menoleh bingung. "Ada apa? Ini hanya sebuah cincin hitam polos."
Wajah Roh Menara tampak pucat pasi, seluruh tubuh spiritualnya gemetar hebat menatap benda hitam di dalam peti.
"Itu bukan cincin penyimpanan biasa, Bodoh! Benda itu adalah... [Cincin Penyegel Surga], artefak tabu berdarah yang dahulu digunakan secara pribadi oleh Sang Pendiri Agung Sekte Dewa Kuno untuk mengunci dan menyembunyikan tirani kosmik! Jika kau menyentuhnya tanpa persiapan spiritual, jiwamu akan langsung tersedot habis ke dalamnya!"