Bima hanyalah "sampah desa" yang ringkih. Digerogoti penyakit jantung bawaan dan paru-paru basah akut, hidupnya dihabiskan untuk merangkak di bawah kaki orang-orang kaya yang arogan.
Puncaknya, di sebuah malam yang diguyur hujan lebat, Bima dihajar hingga sekarat dan jatuh ke dasar sungai.
Namun, maut justru membawanya menemukan batu mustika hitam misterius. Tak hanya sembuh total, fisik Bima bermutasi menjadi sekokoh karang, lengkap dengan kemampuan mata tembus pandang dan medis gaib.
Menariknya, energi baru di tubuh Bima membuat setiap wanita yang ia sentuh bergetar tak berdaya.
Berawal dari pijatan penyembuhan, Bima mulai menaklukkan hati para wanita cantik—
mulai dari Rasti si kakak ipar janda muda, Laras sang kembang desa, hingga Siska, istri pejabat kota—yang suaminya terlibat kasus perselingkuhan. Bersiaplah menyaksikan aksi Danu, si tukang pijat penakluk wanita!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7-
Bab 7
""Cukup bima, aku sudah membaik."
Bima perlahan menarik kembali telapak tangannya yang hangat dari kulit perut mulus sang kembang desa.
Menggunakan mata terawangnya sekilas, Bima bisa melihat kabut merah pekat yang semula menyumbat rahim Wulan kini telah mencair sepenuhnya, digantikan oleh aliran darah yang bersih dan lancar.
"Huft..."
Bima menghela napas panjang, mencoba menekan gejolak gairah yang membakar jiwanya. Jantungnya berdegup kencang. .
"M-mas Bima... ini benar-benar ajaib. Perutku sudah gak sakit sama sekali," bisik Wulan dengan suara yang melembut. Matanya kemudian beralih pada segepok uang yang berhamburan di lantai sofa.
Wulan segera memungut uang dua juta rupiah tersebut, lalu mengambil dompet kecilnya sendiri. Dia mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan tambahan dan menyerahkannya semua ke tangan Bima.
"Ini uang dua juta untuk ikan-ikan tadi, Mas. Dan ini..." Wulan menyelipkan uang tiga ratus ribu tambahan ke jemari Bima, pipinya kembali merona merah, "...ini ongkos pijat untukmu. Tolong diterima ya. Jangan ditolak."
Bima tersenyum lebar, menatap segepok uang tebal di tangannya. Dua juta tiga ratus ribu rupiah tunai! Hanya dalam waktu beberapa jam, dia berhasil memegang uang yang bahkan tidak pernah diimpikannya.
"Terima kasih banyak, Mbak Wulan. Kalau begitu, saya permisi pulang dulu. Jaga kesehatan ya," ucap Bima dengan suara bass-nya yang berwibawa.
Wulan mengangguk pelan, menatap punggung tegap Bima yang melangkah keluar dari pintu rumahnya dengan perasaan campur aduk yang sulit diartikan.
*
Bima melangkah keluar dari pintu pagar rumah mewah Wulan dengan perasaan sangat puas. Uang jutaan rupiah itu disimpannya dengan aman di dalam saku celana peniti tuanya. Sembari memanggul ember bambu kosong, dia berjalan menyusuri jalan setapak yang sepi di pinggir desa, berniat langsung pulang ke gubuk untuk membelikan Mbak Rasti makanan enak.
Namun, baru saja Bima melewati tikungan dekat rumpun bambu yang lebat, dua bayangan besar mendadak melompat keluar dari balik pohon mangga, langsung menghadang langkah jalannya.
"Hehehe... berhenti di situ, si ampas!"
Bima menghentikan langkahnya dengan tenang. Matanya menyipit menatap dua pria berbadan kekar yang berdiri di depannya dengan seringai rakus. Brian dan Wanto. Di tangan Brian, sebilah pisau belati berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari, sementara Wanto sudah mengepalkan tinjunya yang sebesar batu kali.
"Mau apa kalian?" tanya Bima dingin, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut yang biasanya membuat tubuhnya gemetar.
Wanto meludah ke tanah, menatap Bima dengan tatapan merendahkan. "Gak usah belagu kamu, Bim! Serahkan uang dua juta hasil menjual ikan dari Neng Wulan tadi! Sialan, modal keberuntungan saja bisa dapat duit segitu banyak. Sini serahkan, atau kami patahkan lagi kaki ringkihmu itu seperti semalam!"
Brian maju selangkah, mengacungkan pisaunya tepat di depan dada Bima. "Cepat serahkan! Duit segitu gak cocok dipegang sama gembel penyakitan kayak kamu!"
Mendengar ancaman itu, Bima tidak gemetar. Sebaliknya, dia justru terkekeh rendah—suara tawanya terdengar begitu dingin dan menakutkan, membuat batin Brian dan Wanto mendadak berdesir aneh.
Bima menurunkan ember bambunya perlahan, lalu meregangkan otot-otot lehernya hingga terdengar bunyi krek... krek... yang keras. Aura kejantanan dan kekuatan Mustika Hijau di dalam tubuhnya mendadak meluap, membuat udara di sekitar tikungan jalan itu terasa mencekam.
"Semalam kalian menghajarku sampai sekarat di kaki gunung," ucap Bima, matanya berkilat tajam mengunci tubuh kedua preman itu. "Hari ini, kalian datang lagi untuk merampokku. Kebetulan sekali... aku memang butuh samsak untuk menguji kekuatan baruku."
“Halah banyak bacot, kubilang sini kasih uang … ingat hutang dari bos Rian masih—”
Buru-buru Bima melemparkan uang gepok sejuta itu. Mau gimanapun hutang tetap hutang, dia membayarnya semua … termasuk bunga (kalau saja Rian memberikan bunga yang normal.)
“Apa ini cuma sejuta? Ha!” Brian merasa gak puas. “Hutangmu sama Rian lebih dari ini perasaan.”
“Itu perasaan kaian … hutangku cuma tinggal segitu kalau pakai hitungan normal. Bunga harian? Itu namanya pemerasan, bukan utang-piutang!"
sahut Bima dengan suara bass-nya yang berat dan tenang. "Utang pokokku pada Rian itu cuma lima ratus ribu rupiah buat beli obat . Aku sudah bayar sejuta tadi, artinya pokoknya sudah lunas plus bunga seratus perse*! Hitungan dari mana yang bisa bikin utang itu membengkak jadi lima juta dalam beberapa bulan?!"
"Halah! Gak usah sok pintar kamu, Ampas!" bentak Wanto, wajahnya makin memerah menahan geram karena skema licik bosnya dibongkar. "Bos Rian itu pakai aturan sendiri! Bunganya sepuluh persen per hari, dihitung bunga berbunga! Kalau kamu gak sanggup bayar sisa lima jutanya, sisa uang di kantongmu itu sini serahin semua kalau gak mau mampus!"
Bima yang mendengar itu justru terkekeh rendah—suara tawanya terdengar begitu dingin dan menakutkan, membuat batin Brian dan Wanto mendadak berdesir aneh. Lintah darat macam Rian memang sengaja menerapkan bunga cekik leher agar Bima tidak akan pernah bisa melunasinya, sehingga Rian punya alasan untuk merebut gubuk atau bahkan memaksa Mbak Rasti melayaninya sebagai ganti rugi.
"Sepuluh persen per hari? Berarti kalian memang sengaja merampok," ucap Bima sembari melipat kedua tangannya di dada.
Seulas senyum dingin penuh penghinaan terukir di wajah tampannya. Lewat mata terawangnya yang diaktifkan sekilas, Bima bisa melihat aliran darah dan titik-titik kelemahan di tubuh Brian maupun Wanto. Di matanya, gerakan otot kedua preman ini terlihat sangat lambat dan rapuh.
Plus ditambah fisik dia yang semakin kuat.
"Aku sudah bayar utangku secara sah menurut hitungan manusia normal. Kalau kalian masih mau memeras sisa uangku pakai aturan gila bosmu itu... silakan ambil sendiri pakai otot kalian, itu pun kalau kalian mampu."
"Sialan! Benar-benar menantang maut ini bocah!" raung Wanto yang sudah kehilangan kesabaran.
Tubuh kekarnya maju melesat, tangan kanannya yang sebesar batu kali mengayunkan sebuah pukulan mentah berkekuatan penuh yang mengincar rahang Bima. Pukulan seperti ini semalam sudah cukup untuk membuat Bima muntah darah dan jatuh pingsan di tanah.
w
Kok gak mikir konsekuensinya ya..🫣
Bersekutu dengan iblis menjanjikan keuntungan duniawi sesaat, namun selalu berujung pada petaka.
Konsekuensi utamanya meliputi ketergantungan spiritual, hilangnya kendali atas kehendak bebas, tuntutan tumbal nyawa, penderitaan batin, serta kehancuran dan penyesalan abadi di akhir.
Dampak fatal akibat praktik tersebut akan kehilangan Jiwa dan Kebebasan, harga yang harus dibayar untuk bantuan iblis adalah jiwa manusia itu sendiri.
Manusia yang awalnya merasa mengendalikan kekuatan tersebut akhirnya diperbudak dan kehilangan kehendak bebas mereka.
Untuk menghindari fitnah dengan cara membentengi diri dari perbuatan yang mendekati zina, pergaulan bebas dan pacaran.
Dengan melakukan pernikahan, seseorang dapat menyalurkan hasrat biologis secara halal, menjaga kehormatan, dan mencegah timbulnya tuduhan negatif serta prasangka buruk di masyarakat.
Menikah adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup seseorang.
Lebih dari sekadar menyatukan dua insan dalam ikatan resmi, pernikahan memiliki tujuan yang lebih dalam dan bermakna...🤭🤨😊