Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Setelah emosinya sedikit mereda di dalam ruangan Dokter Fahmi, sisa-sisa air mata di wajah Ganda mengering, digantikan oleh tatapan mata yang mendadak berubah menjadi sangat dingin, tajam, dan penuh perhitungan.
Rasa sedihnya kini telah bermutasi menjadi kemarahan tak kasat mata yang terorganisir.
Pria itu berdiri tegap, lalu menoleh ke arah sang ayah.
"Abah, Ganda mohon. Abah tetap tinggal di sini untuk menjaga Diaz. Ganda tidak tenang kalau tidak ada keluarga yang mendampinginya dalam kondisi kritis seperti ini."
Abah Kiai menatap putranya, melihat kilat mata Ganda yang tidak lagi seperti biasanya.
Beliau tahu ada badai besar yang siap diledakkan oleh putra tunggalnya itu.
Dengan helaan napas berat, Abah Kiai mengangguk.
"Pergilah, Ganda. Selesaikan dengan tegas, tapi ingat batas. Abah akan menjaga Diaz di sini."
Ganda melangkah keluar dari rumah sakit, masuk ke dalam mobilnya, dan melaju kembali menuju pondok pesantren sendirian secara senyap.
Ia sengaja memarkirkan mobil nya agak jauh di luar gerbang belakang pondok agar kedatangannya tidak disadari oleh siapa pun.
Ia ingin menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri seberapa jauh ibunya dan Laura akan berbohong dan bersandiwara di hadapannya nanti.
Langkah kaki Ganda bergerak cepat tanpa suara, menyelinap masuk melalui pintu belakang ndalem yang sepi.
Tujuan pertamanya adalah menemui Zainal dan Lukman yang sejak tadi menunggu dengan cemas di dekat asrama santri.
Melihat kedatangan Ganda dengan aura yang begitu mengintimidasi dan rahang yang mengeras, kedua santri senior itu langsung menunduk dalam, nyaris tak berani bernapas.
Ganda maju selangkah, menekan suaranya serendah mungkin namun sarat akan ancaman mutlak.
"Zainal, Lukman. Dengarkan aku baik-baik. Jika Umi dan Laura pulang dari pasar dan menanyakan perihal Diaz, berikan skenario ini kepada mereka..."
Ganda menjeda kalimatnya, menatap kedua santri itu dengan sorot mata yang mengunci.
"Katakan pada Umi dan Laura bahwa Diaz berhasil menjebol pintu kayu gudang dari dalam, lalu melarikan diri entah ke mana saat kalian sedang lengah. Paham?"
"P-paham, Ustaz... paham," jawab Zainal dengan bibir gemetar.
"Bagus. Lakukan tugas kalian dengan rapi, atau kalian tahu sendiri akibatnya," ancam Ganda dingin.
Setelah memastikan kedua santrinya bergerak sesuai perintah, Ganda melangkah masuk ke dalam ruang tengah ndalem.
Ia merogoh saku jubahnya, mengeluarkan sebuah perangkat CCTV mini wireless portabel berukuran sekecil kancing baju yang memang biasa ia gunakan untuk keperluan pengamanan aset pondok.
Dengan gerakan taktis dan cepat, Ganda memasang kamera pengintai kecil tersebut di sudut bingkai sebuah lukisan kaligrafi besar yang terpajang tepat menghadap ke arah sofa ruang tengah—tempat di mana Umi Maryam dan Laura biasanya bersantai dan mengobrol.
Setelah memastikan sudut pandang kamera terhubung dengan sempurna ke layar ponsel pintarnya melalui aplikasi privat, Ganda segera kembali ke rumah sakit.
Di ruangan perawatan, Ganda duduk di kursi samping ranjang istrinya sambil menatap layar ponselnya yang menyala, bersiap merekam dan menyaksikan langsung kepalsuan dari dua wanita yang sangat dihormati dan dicintainya, yang kini berubah menjadi sosok yang teramat asing di matanya.
Tak lama berselang, suara deru mobil angkutan umum berhenti di depan gerbang ndalem.
Umi Maryam dan Laura melangkah masuk ke halaman dengan senyum sumringah, menjinjing banyak sekali plastik belanjaan berisi bahan makanan mewah dan camilan sambil bersenda gurau.
Laura, yang di balik jubahnya masih merasakan sedikit sisa perih akibat petaka semalam, mengabaikan rasa sakit itu karena rasa puas yang membuncah.
Ia membayangkan harga diri Diaz saat ini sudah runtuh, menangis ketakutan meratapi nasibnya di dalam gudang yang gelap dan pengap.
Kedua wanita itu melangkah masuk ke dalam ruang tengah dengan perasaan menang yang teramat sangat.
Namun, suasana riang itu terusik ketika Zainal melangkah maju menghadap mereka di ruang tengah.
Tubuh santri senior itu tampak gemetar hebat. Umi Maryam dan Laura mengira Zainal gemetar karena takut dan takzim pada otoritas sang Umi, padahal fakta sebenarnya, Zainal setengah mati ketakutan membayangkan amarah Ganda yang kini sedang mengintai mereka.
"U-Umi... Mbak Laura... gawat," ucap Zainal dengan suara yang sengaja dibuat terbata-bata sesuai skenario.
"Mbak Diaz, kabur dari gudang. Pintunya dirusak dari dalam dan dia melarikan diri lewat gerbang belakang saat kami berdua sedang lengah menjaga depan."
Mendengar laporan itu, Laura seketika menegang.
Wajahnya sempat memucat panik; ia takut jika Diaz lolos, wanita kota itu akan langsung menghubungi Ganda dan mengadukan semua perbuatan mereka.
Namun, respons sebaliknya justru ditunjukkan oleh Umi Maryam.
Wanita paruh baya itu sama sekali tidak panik. Alih-alih marah, seulas senyum licik dan penuh kemenangan perlahan terukir di wajah tuanya.
Umi Maryam mengibaskan tangannya dengan santai di udara, menganggap berita kaburnya Diaz justru menjadi keuntungan besar yang jatuh dari langit untuk rencana mereka.
"Lebih baik dia kabur! Jangan panik, Laura," ucap Umi Maryam dengan nada suara yang tenang namun sarat akan racun.
"Dengan begitu, saat Ganda dan Abah pulang dari luar kota dua hari lagi, kita sudah punya alasan yang sangat bagus. Kita tinggal katakan pada Ganda kalau istri kotanya itu tidak betah tinggal di pondok, tidak mau diatur, dan memilih kabur secara sukarela bersama selingkuhannya, siapa itu namanya? Ah, Bramasta!"
Mendengar ide brilian nan kejam yang keluar dari mulut ibu mertuanya, seluruh rasa takut dan kepanikan di dada Laura menguap seketika.
Skenario fitnah itu terdengar begitu sempurna di telinganya.
Bayangan Diaz yang akan sangat dibenci, diceraikan secara tidak terhormat, dan diusir selamanya dari hidup Ganda membuat harga diri Laura kembali melambung ke atas angin.
Laura langsung tertawa terbahak-bahak di tengah ruangan, suara tawa yang melengking puas, merayakan fitnah keji yang baru saja mereka susun bersama.
"Umi pintar sekali! Luar biasa!" sanjung Laura dengan mata yang berbinar penuh kelicikan.
"Mas Ganda pasti akan sangat membenci wanita kota kotor itu dan tanpa ragu langsung menjatuhkan talak tiga kepadanya! Setelah itu, Mas Ganda akan sepenuhnya menjadi milikku, Umi!"
Laura dan Umi Maryam sedang tertawa puas di atas penderitaan orang lain, merayakan skenario busuk yang mereka anggap sempurna, lensa kamera CCTV kecil di sudut lukisan kaligrafi perlahan memantau dan menangkap setiap jengkal pergerakan mereka tanpa meleset sedikit pun.
Kedua mata Ganda menatap lurus ke layar ponsel pintarnya.
Melalui aplikasi privat, ia menyaksikan dan merekam seluruh pembicaraan, raut wajah, serta suara tawa busuk ibu kandungnya dan istri keduanya yang sedang menggema di ruang tengah ndalem. setiap kata fitnah, setiap sanjungan kelicikan, dan setiap derai tawa terekam dengan sangat jelas, menjadi bukti otentik yang tak terbantahkan.
Rahang Ganda mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang parah.
Sepasang matanya yang merah padam bukan lagi karena sisa tangisan, melainkan oleh kilat murka yang begitu pekat dan dingin.
Ganda mematikan layar ponselnya perlahan, memasukkannya ke dalam saku jubah, lalu menatap wajah pucat Diaz yang masih berjuang melewati masa kritisnya.
"Sandiwara yang luar biasa..." desis Ganda lirih dengan nada suara yang teramat dingin, sedingin es yang siap membekukan siapa saja.
Ganda membalikkan badannya, melangkah keluar dari ruang perawatan dengan langkah yang mantap dan sarat akan ancaman.
Waktu dua hari yang ia rencanakan untuk memantau dari jauh seketika ia pangkas habis.
Badai kemarahan seorang suami yang dizalimi telah mencapai puncaknya, dan Ganda siap kembali ke pondok saat itu juga untuk meledakkan seluruh kebenaran serta menghancurkan topeng kepalsuan Umi Maryam dan Laura di bab berikutnya.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡