NovelToon NovelToon
MATA TAKDIR

MATA TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kultivasi Modern / Komedi
Popularitas:676
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.

Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.

Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!

Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?

#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern

#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa

#ZeroToHero #BenciJadiCinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tarian Monyet di Atas Bara

Deru angin sore yang terjebak di dalam gudang tua itu mendadak menderu, membawa amis debu dan aroma karat yang pekat. Ki Bersam melesat. Tubuh tegapnya yang dibalut kain pangsi hitam membelah keremangan laksana bayang-bayang macan yang lepas dari kurungan. Pukulan tapak kanannya menderu lurus, membawa seluruh berat tenaga dalam fana yang telah ia luhurkan selama puluhan tahun di lereng gunung sunyi. Udara di depan kepalan tangannya berdesing ringkih, menciptakan tekanan angin yang sanggup meretakkan papan jati sekali hantam.

Di belakangnya, Pak Johan menyeringai puas. Wajahnya yang bengkak bergetar oleh rasa dendam yang hampir tuntas. Ia ingin melihat pemuda kurus berkaos biru pudar itu tersungkur di atas ubin semen, memuntahkan darah segar dari dada yang remuk.

Namun, di sepasang mata Dika, badai serangan itu bergerak dalam ritme yang sepenuhnya berbeda.

Mata Takdir berdenyut hangat di balik selaput korneanya, memancarkan pendar emas purba yang tak kasat mata bagi bentala. Dunia monokrom kembali terhampar luas. Gerakan cepat Ki Bersam melambat laksana tetesan embun yang menggantung di ujung daun saat musim beku. Di mata sang mantan dewa, bukan kepalan tangan itu yang menarik perhatian, melainkan selembar benang merah tua di atas pundak kiri Ki Bersam yang mendadak meliuk putus akibat ketidakseimbangan kuda-kuda fana yang ia gunakan.

“Tenaga yang besar tanpa kelenturan jiwa hanyalah kebodohan yang mengundang petaka,” dengus keheningan di balik batok kepala Dika. Suara batin itu mengalir agung, bergaung laksana genta perunggu yang mengetuk kesadaran jagat raya. “Manusia bumi mengira mereka telah mencapai puncak ilmu beladiri saat sanggup menggerakkan angin. Mereka tidak tahu, di hadapan jalinan takdir, seluruh kekuatan otot ini tidak lebih berharga dari kibasan ekor sapi yang menghalau lalat.”

Namun, keagungan filosofis itu seketika buyar oleh kepanikan urusan perut yang kembali meronta konyol di dalam benaknya.

“Aduh, aduh! Ini bapak-bapak pangsi kenapa mukanya serem banget pas nerkam?! Mana baunya kayak minyak angin tawon lagi, menyengat banget ke hidung dewa gue! Tenang Dika, jangan merem. Sisa energi gue tinggal sepuluh persen, kalau ketukan gue meleset sedikit saja ke tulang belikatnya, kaos biru andalan gue ini bisa robek dua bagian. Nggak ada duit lagi buat beli kaos baru di pasar loak!”

Lina yang berdiri beberapa meter di belakang Dika langsung menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Di tengah situasi hidup dan mati, di mana sebuah pukulan maut siap meremukkan dada Dika, telinganya justru dipaksa mendengar ratapan tak berdaya sang calon dewa yang meremas hati perihal bau minyak angin dan kaos pasar loak. Rasa tegang yang sempat mencengkeram dadanya mendadak buyar, berganti menjadi rasa gemas yang luar biasa.

Tepat saat jangkauan tapak Ki Bersam hanya tersisa se jengkal dari dadanya, Dika bergerak.

Gerakannya tidak meledak-ledak. Ia hanya menggeser tumit kirinya tiga senti ke belakang, membiarkan tubuhnya meliuk tipis laksana selembar kertas yang ditiup angin sore. Pukulan maut Ki Bersam luput, membelah udara kosong dengan suara wush yang nyaring. Bersamaan dengan momentum lawannya yang terdorong ke depan, Dika mengayunkan tangan kanannya yang semula terbenam di saku celana. Dua jarinya menjentik pelan, tepat mengenai titik simpul kelabu yang meredup di area siku lengan Ki Bersam.

Plak!

Sentuhan itu begitu ringkih, namun dampaknya laksana hantaman palu gaib yang memutus paksa aliran darah. Aliran tenaga dalam di lengan Ki Bersam mendadak berbalik arah, menghantam balik pusat saraf di bahunya sendiri. Pendekar paruh baya itu melotot, tubuh tegapnya kehilangan kendali arah. Dengan momentum kecepatannya sendiri, Ki Bersam meluncur tak terkendali ke arah sudut gudang, menghantam tumpukan ban bekas hingga terjungkal dengan posisi kaki di atas dan kepala tertanam di dalam ban karet yang berdebu.

Brak! Debu tegap mengepul tinggi, mengubur sisa-sisa wibawa sang pendekar gunung dalam waktu satu detik saja.

“K-Ki Bersam?!” pekik Pak Johan, suaranya naik tiga oktav hingga melengking tinggi. Lututnya yang besar seketika lemas melihat pelindung bayarannya yang berharga jutaan rupiah tumbang dalam posisi sekonyol itu tanpa sempat mengeluarkan jurus kedua.

Dika menegakkan kembali tubuhnya, melipat tangan di depan dada sembari memandang tumpukan ban tersebut dengan tatapan dingin yang acuh tak acuh. “Sudah kukatakan, Pak Tua. Tarian monyetmu tidak akan pernah bisa menyentuh jubah takdirku,” ucap Dika, suaranya rendah dan berwibawa, memantul di dinding-dinding gudang yang sepi.

“Hahahaha! Rasakan itu, pendekar minyak tawon! Sukses besar! Tapi astaga... pinggang encok gue beneran mau copot rasanya. Gerakan meliuk barusan bikin otot punggung gue ketarik parah. Tolong jangan ada yang nyerang lagi, kalau gue disuruh melompat sekali lagi, gue beneran bakal roboh sambil megangin pinggang di depan si gemuk Johan!” ratap batin Dika yang kian histeris menahan linu, membuat bahu Lina di belakangnya bergetar hebat menahan tawa yang hampir meledak.

Lina buru-buru maju beberapa langkah, berdiri di samping Dika dengan wajah yang sengaja dibuat galak untuk menutupi rasa gelinya. Ia menunjuk muka Pak Johan dengan tas kain kumalnya. “Heh, bos korup! Lo lihat sendiri kan? Jangankan polisi, dewa pelindung lo yang bau minyak angin itu aja langsung KO sekali jentik sama Dika! Sekarang lo mau bayar utang dosa lo atau mau kita jeblosin ke ban bekas juga?!”

Mendengar gertakan Lina, Pak Johan langsung pucat pasi. Ketakutannya pada Dika yang dianggap memiliki ilmu gaib telah meruntuhkan seluruh sisa keberaniannya. Ia membalikkan badan dengan tergesa-gesa, berniat kabur melewati pintu belakang gudang yang terbuka sedikit.

Namun, nasib buruk tampaknya enggan melepaskan sang mantan manajer. Karena berlari sambil menoleh ke belakang dengan panik, kaki kanan Pak Johan yang besar tersangkut untaian kabel jpointer bekas yang menjalar di lantai semen.

“Aaaa!”

Bruk!

Tubuh tambun itu jatuh terjerembap dengan sangat estetis ke depan, wajahnya menghantam lantai semen yang berdebu hingga mengeluarkan suara plak yang cukup nyaring. Surat-surat berharga dan sisa uang tunai yang disimpan di dalam saku kemejanya berhamburan ke atas ubin, bersanding dengan debu dan oli bekas.

Dika melangkah lambat menghampiri tubuh Johan yang sedang mengerang kesakitan memegangi hidungnya yang berdarah. Setiap tapak kaki Dika seolah membawa beban takdir yang kian berat, menekan sisa mental sang mantan bos hingga ke dasar bumi. Dika membungkuk sedikit, mengambil beberapa lembar dokumen korupsi palsu yang berhamburan di lantai, lalu menatap Johan dengan sepasang mata yang menyisakan sisa-sisa pendar emas purba.

“Keserakahanmu telah menemui ujung jalannya, Johan,” ucap Dika datar, nadanya dingin tanpa emosi fana. “Di dunia ini, tidak ada kebohongan yang cukup rapat untuk menyembunyikan diri dari tatapan langit. Pergilah ke tempat di mana jeruji besi akan menjadi saksi atas penyesalanmu yang terlambat.”

“Aduh, akhirnya selesai juga ini drama kungfu sore-sore! Untung dia jatuh sendiri, kalau nggak, gue bingung mau ngejar pake kaki encok begini gimana caranya. Lina, buru-buru panggil polisi gih, gue udah nggak kuat berdiri tegak sok keren begini. Lambung gue beneran udah demo masak dari tadi, perih banget demi langit!” jerit suara hati Dika yang merana, mengemis pertolongan di dalam kepala Lina.

Lina menarik napas panjang, menatap Dika dengan pandangan campur aduk antara kagum atas kehebatannya yang nyata, dan gemas setengah mati pada kelemahan fisiknya yang konyol. Gadis itu maju, dengan sigap memungut sisa uang tunai milik Johan yang berhamburan untuk dijadikan barang bukti, lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi petugas keamanan kantor pusat yang sejak tadi mencari keberadaan sang buronan.

“Tenang aja, kaisar naga,” bisik Lina pelan di dekat telinga Dika, nadanya penuh sindiran namun terselip kehangatan yang tulus. “Polisi bentar lagi dateng. Setelah tikus gemuk ini diangkut, gue bakal traktir lo nasi goreng kambing porsi kuli di depan gang. Jadi, tahan dulu itu wibawa lo jangan sampai pingsan sekarang!”

Dika tertegun, melirik Lina dengan sudut matanya yang memerah padam karena malu isi hatinya kembali dibaca mentah-mentah. Namun, mendengar kata "nasi goreng kambing porsi kuli", sepasang mata emas Mata Takdir milik sang mantan dewa seketika berbinar cerah, memancarkan kebahagiaan hakiki yang paling murni di bawah langit malam Jakarta.

1
SANG
Semangat ya thor💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Mantap, mantap banget💪👍
SANG
Cerita baru semangat baru ya dek💪👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!