NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:842
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27- Lamaran Larut Malam

Malam semakin larut, namun kehangatan di dalam Alena’s Floral Boutique mendadak canggung.

Max, yang sejak tadi bersandar di pilar kayu sambil memamerkan dompetnya, mulai merasa terasing.

Setiap kali ia melihat bagaimana Alena menerima potongan tangkai bunga dari Bara, atau bagaimana Bara dengan sigap membersihkan duri sebelum menyerahkannya pada Alena, ada rasa tidak nyaman yang mencubit dadanya.

Interaksi mereka terlalu dekat dan terlalu selaras.

Tidak tahan hanya menjadi penonton, Max akhirnya menegakkan tubuhnya. Langkah kakinya yang biasanya diseret santai, kini terdengar mantap saat ia menghampiri Alena yang sedang menyusun vas di meja pajangan.

Max kemudian berdiri tepat di samping Alena. Kali ini, ekspresi wajahnya yang biasa dipenuhi senyum remeh dan gaya jamet yang berlebihan, mendadak luntur.

Ia menatap Alena dengan tatapan yang sangat serius, lalu berbicara secara gamblang tanpa ada yang disembunyikan lagi.

"Alena," panggil Max, dengan suara yang merendah. "Sebenarnya... alasan utama yang membuatku sangat senang dengan proyek kemarin bukan cuma karena nominalnya. Tapi karena akhirnya aku bisa menghasilkan uang yang cukup... untuk bisa melindungimu."

Mendengar penuturan Max, seketika Alena menghentikan gerakan tangannya yang sedang menata kelopak mawar.

Ia tertegun dan sedikit terkejut dengan perubahan sikap Max yang mendadak melankolis. Namun, ia memilih tetap diam dan membiarkan Max menyelesaikan kalimatnya.

Di sudut rak lain, Bara yang sedang memegang ember berisi air bersih langsung membeku.

Pria itu tidak menyela dan tidak bergerak. Ia hanya diam di posisinya dan menyimak setiap untaian kata yang keluar dari mulut pria yang lebih dulu mengenal kekasihnya itu.

Kini Max menarik napasnya dalam-dalam dan mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam dadanya.

"Aku ingin menjadi orang pertama yang berdiri di depanmu, melindungimu, dan membuatmu merasa aman di kota ini," lanjut Max, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Alena yang tenang dan berkata lagi, "Walau mungkin... penghasilanku saat ini belum seberapa jika dibandingkan dengan orang-orang kaya di luar sana, tapi hari ini... aku ingin melamarmu, Alena. Menikahlah denganku."

Teg!

Detik itu juga, waktu seolah berhenti berputar di dalam toko bunga. Suara jarum jam dinding yang berdetak mendadak terdengar begitu nyaring. Suasana toko yang tadinya hangat, seketika berubah menjadi sangat hening dan serius.

Bara yang mendengar hal itupun mengepalkan jemarinya. Dadanya bergemuruh, matanya menatap tajam ke arah Max, dan menunggu bagaimana reaksi Alena atas pernyataan cinta dan lamaran yang begitu tiba-tiba itu.

Sebagai pria yang baru saja meresmikan hubungannya dengan Alena, ada gejolak perasaan yang menuntutnya untuk maju. Namun, Bara menahannya karena ia memercayai Alena sepenuhnya.

Max sendiri berdiri dengan napas yang tertahan. Kedua tangannya meremas ujung jaketnya sendiri dan menunggu jawaban dengan wajah yang perlahan memerah akibat rasa gugup dan penuh harapan.

Satu detik... dua detik... tiga detik...

"Pfftt—hahaha!"

Bukannya suasana menjadi haru atau air mata yang pecah, sebuah tawa kecil justru lolos begitu saja dari bibir Alena.

Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan dan mencoba menahan rasa lucu yang menggelitik perutnya. Hingga tawa renyah Alena menggema di dalam toko yang hening.

"A ha ha ha ha ha..."

Mendengar tawa Alena, Max seketika mematung. Wajahnya yang tadi penuh kesungguhan langsung berubah menjadi campur aduk antara bingung, malu, dan salah tingkah yang luar biasa.

Ia mengerjapkan matanya berulang kali dan menatap Alena yang masih menepuk-nepuk dadanya untuk meredakan sisa tawa.

Sementara di sudut ruangan, ketegangan di bahu Bara perlahan melonggar. Pria tegap itu diam-diam mengembuskan napas lega yang panjang, walau matanya tetap menyimak dengan saksama.

"Max, sepertinya kamu kurang istirahat akibat perjalanan jauh, jadi bicaramu ngelantur ke mana-mana," seru Alena setelah berhasil menguasai dirinya kembali.

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan binar yang tak bisa disembunyikan.

Max spontan menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Gaya sok kerennya pun runtuh seketika.

Ia tersenyum canggung karena merasa situasi ini sangat lucu, heran, sekaligus menjatuhkan harga dirinya yang setinggi langit itu.

"Hei! Aku serius, Alena! Kenapa kau malah menertawakanku seolah aku ini sedang melawak di panggung komedi?!" protes Max dengan wajah yang merah merona, dan mencoba menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya yang terserak di lantai toko bunga.

"Bagaimana aku tidak tertawa, Max?" Alena kembali menata vas bunganya dengan santai, seolah tidak baru saja menolak lamaran seseorang.

"Kamu pergi berminggu-minggu tanpa kabar, lalu tiba-tiba muncul malam-malam, memamerkan dompet tebal, dan langsung mengajakku menikah? Itu benar-benar gaya lamaran paling aneh yang pernah aku dengar."

"Huh!"

Max mendengus kasar dan wajahnya pun cemberut total.

Ia lalu melirik Bara yang kini sudah kembali beraktivitas menyiram bunga dengan ekspresi wajah yang jauh lebih tenang, bahkan cenderung terkesan menyembunyikan senyum kemenangan.

"Sialan," gumam Max lirih, seraya melipat tangannya di dada dengan gaya merajuk khasnya. "Padahal aku sudah menyusun kalimat ini di sepanjang jalan kereta tadi."

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!