Kesalahan yang dilakukan Azalea Calista membuat suaminya kecewa dan berakhir ingin menceraikannya. Namun demi cinta yang tumbuh di hati Alea, dia bertekad untuk mengejar kembali cinta sang suami.
Sayangnya Alea harus kehilangan Fathan karena laki-laki itu pergi tanpa berpamitan. Hingga suatu hari, keduanya kembali dipertemukan dalam keadaan berbeda.
Akankah mereka kembali bersama atau justru memilih saling melepaskan bersama pasangan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 - Pasar Malam 2
Nyaman, hangat, itu yang Alea rasakan kala tangan kekar menahan perutnya. Ingin tahu siapa sosok itu Alea mendongak dan mata mereka bertemu.
Deg.
"Kamu!" Syok, pria itu Fathan.
Pun dengan Fathan, ia pikir perempuan yang tadi hendak jatuh bukan Alea nyatanya wanita yang sedang ingin ia perjuangkan kembali.
Perlahan tangan Fathan menarik perut Alea, beralih memegang pinggang dan sejenak tubuh mereka berdekatan saling berhadapan.
Tatapan mata keduanya saling mengunci, menyelami perasaan masing-masing serta sulit untuk melepaskan. Tatapan Fathan sangat intens memperhatikan setiap pahatan sempurna wajah cantik nan manisnya Alea.
Wajah Azalea Calista memiliki ciri khas bentuk oval dengan garis rahang yang tegas namun tetap memberikan kesan manis. Hidung yang mancung, mata yang ekspresif, serta sering tampil dengan alis tebal natural. Alea juga memiliki kulit yang tetap glowing dan mempesona meski tampil tanpa makeup.
Pun dengan Alea, dia juga tak kalah memperhatikan setiap inci wajah tampan Fathan.
Pria itu memiliki garis rahang dan dagu yang tegas, memberikan kesan karismatik dan maskulin. Matanya tajam dengan bentuk mata yang ekspresif, sering dianggap memiliki tatapan yang hangat namun tajam saat menatap. Alis tebal natural membingkai wajahnya dengan sempurna dan mempertegas ekspresi wajahnya. Gaya rambutnya sering tampil dengan potongan rambut gaya Korean style atau messy hair yang kekinian. Fathan juga memiliki bentuk wajah yang proporsional dan postur tubuh tinggi yang menunjang penampilannya. Memiliki senyum yang ramah dan menawan, yang menjadi daya tarik utamanya saat orang melihatnya.
Keduanya sama-sama saling mengagumi wajah sosok di depannya dan debaran itu masih ada di keduanya, tidak hilang namun kian bertambah. Inikah yang dinamakan jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama?
"Sayang, kamu disini?" pertanyaan lembut dari bibir Fathan membuat Alea sadar.
Tunggu, Alea masih bingung kenapa pria di depannya manggil sayang? "Sayang? Salah orang kali."
Dia berontak ingin melepaskan pelukannya Fathan, berdiri tegak menghindari tatapan mata Fathan. Tubuhnya gugup gak sanggup bila harus menatap matanya, sulit bagi Alea mengendalikan diri.
Fathan sadar sama posisi mereka, dia melepaskan rangkulan tangannya di pinggang Alea. "Enggak kok, kamu memang sayangnya aku."
Hah.
Lagi-lagi Alea kaget, matanya memicing penuh curiga dan refleks meraba keningnya Fathan lalu beralih meraba keningnya sendiri.
"Gak panas, normal kok, tapi kok kamu mendadak eror ya manggil aku sayang? Gak sedang mabuk kan? Atau tadi ke jedot tembok makanya ngomong aneh, atau lagi salah minum obat? Ah aku tau pasti habis kena tonjok makanya eror." Melihat wajah babak belur Fathan, Alea yakin ada orang memukulnya. Meski penasaran siapa pemukulnya namun ia urung bertanya.
Fathan tersenyum manis, senyuman yang mampu membuat Alea jatuh cinta.
"Aku emang lagi error." Ada jeda sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. "Error karena ketemu wanita cantik kayak kamu."
Dih, Alea mengernyit heran. "Aneh kamu."
"Ya aneh ya? Soalnya aku aneh sebab mikirin kamu terus."
Alea geleng-geleng kepala. "Makin gak waras, gak lupa sama ucapan kamu tadi di ..." Namun sedetik kemudian Alea menyadari sesuatu. "Ya ampun, Azka."
Dia panik melupakan putranya, kini perhatiannya teralihkan pada Azka. "Azka kamu dimana sayang?"
Dia kembali lari mencari Azka, merasa lari ke depan parkiran.
"Azka? Alea tunggu." Fathan mengejar bahkan melupakan Silvi yang sedang pergi mencari toilet.
Ya, dia memang jalan bareng Silvi dan itu atas paksaan bukan keinginan dia sendiri. Awalnya Silvi mengajar dinner di cafe atau restoran tapi hati Fathan memilih pasar malam.
"Azka kamu dimana?" Wajah Alea berubah panik takut putranya menghilang diantara banyak orang.
"Tadi kamu sama Azka?"
Wajah panik Alea menoleh. "Iya Mas, tadi Azka lari kesini tapi gak ada. Aku takut dia hilang, cepat bantu aku. Aku gak akan maafin diri aku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu sama Azka." Mata indahnya berkaca-kaca, takut kehilangan untuk kesekian kalinya, tubuhnya tegang, pikirannya gelisah, matanya bergerak kesana kemari mencari.
Kedua bahu Alea di pegang Fathan. "Kamu tenang ok, kita cari Azka sama-sama, kamu harus yakin anak kita gak akan kenapa-kenapa."
Dalam keadaan panik seperti ini Alea tidak memikirkan apapun, pikirannya terus pada Azka.
Dia mengangguk saja, "cepat cari lagi Mas."
Sementara yang di cari.
"Ayah." Azka berlari menghampiri Gavin memeluk kakinya.
"Hei, jagoan." Dari jauh secara diam-diam Gavin mengikuti Alea, bukan tidak percaya sama orang lain hanya saja dia tidak mau kecolongan lagi.
"Mama, Ayah, itu," ucap Azka sudah berada dalam gendongan Gavin. Tangan mungilnya menunjuk ke arah Alea dari jarak cukup jauh.
"Udah gak apa-apa, kita jalan-jalan yuk, Azka ikut ayah saja. Mama bisa pulang sendiri, untuk malam ini kita bermain, Azka mau?"
"Mau mau, main itu ayah."
Gavin membiarkan Alea dan Fathan bersama, justru Gavin malah membawa Azka pergi dari sana. Eh gak lupa juga mengabari Ayumi dan Vale, tentunya Alea juga.
Gavin : "Jangan mengkhawatirkan Azka, dia ada bersama Om. Barusan mau nyusul kalian malah lihat dia lari, jadi om ajak jalan-jalan."
Pesan itu langsung masuk ke ponsel Ayumi, Vale dan Alea, sayangnya hanya dua gadis yang menerima pesannya tidak dengan Alea sebab ponselnya ketinggalan di Vale.
"Dapat pesan dari Om Gavin nih," kata Vale sambil menikmati semangkuk bakso.
Ayumi juga mengangguk. "Gue juga dapet, mungkin aja Om Gavin nyusul kesini terus ketemu Alea di jalan depan."
Tidak mempunyai pikiran aneh-aneh keduanya kembali menikmati makanan di depannya.
Balik lagi ke Alea, wajah bingungnya mencari-cari keberadaan Azka di tengah banyak orang.
"Ketemu tidak?"
Alea menoleh sudah menangis panik. "Enggak Mas, gak ada Azka dimanapun, dia dimana?" Pikirannya tidak tenang, takut terjadi sesuatu sama putranya.
"Tadi kesini kalian sama siapa?" Fathan pun panik, apalagi melihat wajah sedih Alea semakin tidak tenang memikirkan segala sesuatu bisa terjadi pada Azka.
Mendengar itu Alea berlari mencari kedua temannya dan Fathan juga ikut mengejar Alea.
Setibanya di tukang bakso, mata Alea mencari keberadaan Vale dan Ayumi. Saat menemukan mereka Alea menghampiri.
"Vale, Ay, Azka ..."
Keduanya mendongak terbelalak melihatnya. "Loh kamu kenapa nangis dan panik gitu?" tanya Vale.
"Pak Fathan! Ini pasti ulah Anda kan, Pak?" seru Ayumi menyadari sosok lain di belakang Alea.
"Bukan, saya tidak melakukan apapun."
"Azka hilang," sahut Alea terisak memeluk Vale.
"Hilang?" Vale dan Ayumi saling pandang.
"Ya ampun Lea, Azka sama Om Gavin, nih kalau gak percaya." Barulah Vale menunjukan pesan dari Gavin dan foto Azka yang sedang bersamanya.
Melihat itu Alea bernapas lega. "Kenapa gak bilang? Kenapa pula gak nemuin gue dulu, gue panik nyariin Azka setengah mati eh ternyata lagi asik main sama Om Gavin."
"Dih, Lo gak nyadar ponsel lo ada sama gue," kata Vale dan Alea baru menyadarinya.
"Hehe, maaf."
"Gimana gak mau nyamperin elo, elo nya aja lagi asik sama mantan," celetuk Ayumi kemudian makan bakso.
"Mantan." Dan seketika Alea sadar ada sosok lain di belakangnya.