NovelToon NovelToon
Melodi Air Mata Samudera

Melodi Air Mata Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.

Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.

Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?

"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Kepanikan Edgard

Elara mendongak, menatap lekat-lekat pahatan rahang dan wajah rupawan Cedric dari bawah. 'Apa dia... mate-ku?'

Cedric berusaha keras mengabaikan tatapan intens dari sepasang mata biru jernih milik Elara, meskipun di dalam rongga dadanya sendiri, jantung sang Elf sudah berdebar tak karuan akibat kontak fisik yang terlalu dekat ini.

Tanpa menyentuh gagang pintu atau mengeluarkan kunci, pintu kayu jati di depan mereka mendadak terbuka dengan sendirinya—sebuah sentuhan magis alam yang halus dari sang pemilik rumah.

Cedric melangkah masuk, lalu pintu itu menutup kembali dan terkunci rapat dengan sendirinya di belakang mereka melalui aliran sihirnya.

Ia membawa Elara ke lantai atas dan membaringkan tubuh ringkih gadis itu di atas ranjang kamarnya dengan sangat lembut.

"Istirahatlah di sini. Tunggu sebentar, aku akan mengambilkanmu pakaian ganti," ucap Cedric sebelum buru-buru membalikkan badan dan melangkah keluar kamar.

Kebetulan, di lemari pakaian kamar sebelah, baju-baju milik ibunya saat masih gadis dulu banyak yang tertinggal. Cedric sendiri sengaja merawat dan tidak pernah membuang pakaian-pakaian itu karena baginya, itu adalah peninggalan yang sangat berharga. Sebab, ada satu fakta memilukan lainnya yang ia simpan dalam-dalam: sang ibu sudah lama tiada dari dunia ini.

****

Sementara itu, di belahan kota lain, keheningan malam menyelimuti sebuah packhouse megah yang berdiri kokoh di tengah area hutan privat. Tempat itu adalah kediaman utama klan Blue, milik Alpha Oliver—sang mantan Alpha terdahulu sekaligus ayah dari Ethan Blue.

Di dalam salah satu kamar mandi mewah di kediaman tersebut, Edgard tampak berdiri mematung di bawah guyuran shower. Sudah hampir satu jam lamanya pemuda itu membiarkan air dingin membasahi seluruh tubuhnya.

Menariknya, ia bahkan belum melepas selembar pun pakaiannya; kemeja putih dan celana kain yang ia kenakan di kasino tadi kini telah basah kuyup, melekat erat pada lekuk tubuh atletisnya.

"Berengsek!" maki Edgard kasar. Voice werewolf-nya yang berat menggeram rendah, memantul di dinding kamar mandi yang beruap.

Ia mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba mengusir bayang-bayang yang terus menghantui pikirannya. "Mengapa aku bisa menjadi sebajingan ini? Bagaimana bisa aku menyerang gadis Siren asing itu secara brutal?! Sialan!"

Edgard mengacak rambut biru gelapnya yang basah dengan frustrasi yang memuncak. Dengan sentakan kasar, ia mematikan keran shower, lalu melangkah keluar untuk menanggalkan seluruh pakaian basahnya yang terasa mencekik.

Pemuda itu kemudian menenggelamkan tubuhnya ke dalam bathtub yang berisi air hangat. Ia menyandarkan kepalanya di tepian porselen, memejamkan mata rapat-rapat saat rasa sesal dan bersalah yang teramat sangat menghantam kesadarannya tanpa ampun.

Kulitnya yang berlumur sisa aroma mawar dan feromon manis sang Siren terasa seperti membakarnya hidup-hidup. Edgard berharap jepitan air hangat ini bisa membasuh bersih memori erotis sekaligus mengerikan beberapa jam lalu.

Namun, semakin ia mencoba melupakannya, semakin jelas pula bayangan tubuh ringkih gadis Siren—yang bahkan tidak ia ketahui namanya itu—tergeletak tak berdaya di bawah kungkungannya yang tak berbelas kasih.

"Ah, sial! Enyah kau dari pikiranku!" teriak Edgard frustrasi, melampiaskan amarahnya pada kesunyian kamar mandi tanpa berniat membuka matanya.

Satu pikiran mengerikan tiba-tiba melintas dan menyengat benaknya: Bagaimana jika sang paman, Alpha Ethan, atau bahkan Oliver—mantan Alpha sekaligus kakak dari neneknya—mengetahui perbuatan bejatnya malam ini?

Edgard mendadak gemetar. Ia tidak sanggup membayangkan rahasia kelam ini terbongkar.

Sebagai keponakan kandung Ethan, Edgard sudah menganggap sang Alpha seperti orang tuanya sendiri. Orang tua kandung Edgard memang tinggal di kota lain dan telah membangun pack baru di sana.

Namun, karena lahir dan tumbuh besar di lingkungan Blue Light Pack, Edgard memilih untuk tetap tinggal di sini, mendedikasikan kesetiaannya di bawah kepemimpinan sang paman.

Bayangan akan kemurkaan Ethan dan Oliver kini berputar-putar di kepalanya bagai mimpi buruk. Ethan adalah sosok pemimpin yang terkenal tegas tanpa kompromi. Terlebih lagi Oliver; sang mantan Alpha itu jauh lebih kejam dan berdarah dingin daripada Ethan jika menyangkut pelanggaran kehormatan. Edgard benar-benar tidak bisa membayangkan hukuman apa yang akan ia terima jika kedua petinggi pack itu sampai tahu.

"Bagaimana ini? Aku harus bagaimana?!"

Rasa frustrasi di dalam dadanya kian bermutasi menjadi keresahan yang mutlak. Di balik tubuhnya yang tegap dan dominan, Edgard sejatinya hanyalah seorang pemuda berusia 18 tahun yang baru saja lulus sekolah menengah.

Mentalnya belum siap menghadapi konsekuensi sebesar ini. Masih banyak keraguan, kepolosan, serta rasa takut akan masa depan yang seketika terasa akan hancur berantakan.

Lalu, sebuah kenyataan yang jauh lebih mengerikan mendadak menghantam isi kepalanya. Edgard tersentak, napasnya tercekat di tenggorokan saat mengingat detail percintaan brutal mereka di ranjang VIP tadi. Ia ingat betul... ia telah menumpahkan benih rahimnya berkali-kali di dalam tubuh gadis asing tersebut.

Rasa terkejut yang luar biasa kini terasa mencekik lehernya perlahan, membuat pasokan oksigen di paru-parunya menipis.

"Bagaimana jika... dia hamil? Tidak..."

Edgard menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencipratkan air hangat ke segala arah. "Itu tidak boleh terjadi! Tidak mungkin terjadi!"

Ia berusaha keras meyakinkan hatinya yang telanjur panik. Namun, sisi serigala di dalam dirinya tidak bisa menolak fakta biologis yang krusial dari klan mereka: Tingkat kesuburan ras werewolf murni sangatlah mengerikan. Angka keberhasilan pembuahan mencapai 99% jika mereka melakukan penyatuan intim yang didorong oleh kabut dominasi penuh seperti malam ini.

Dinding rahim sang Siren kemungkinan besar telah mengikat benihnya. Menyadari hal itu, Edgard hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik kedua lutut, merutuki kebodohannya yang telah menciptakan bom waktu bagi hidupnya sendiri.

Edgard kembali menegakkan kepalanya, membiarkan punggungnya bersandar pada dinding porselen yang dingin. Sepasang matanya menatap kosong ke arah riak air di dalam bak mandi yang perlahan mulai mendingin.

"Aku harus memastikannya sendiri," bisik Edgard, suaranya terdengar datar namun sarat akan ketetapan hati yang dingin. "Jika benar benihku tumbuh subur di dalam rahimnya... akan kupastikan janin itu lenyap sebelum ia sempat terbentuk sempurna atau melihat indahnya dunia ini."

Rahang pemuda itu mengeras. Pikiran egois yang lahir dari rasa takut mulai mengambil alih akal sehatnya. "Ini hanya murni kecelakaan karena pengaruh alkohol. Aku tidak menginginkan anak itu lahir. Lagipula, gadis itu pun pasti merasakan hal yang sama. Dia tidak akan sudi melahirkan anak dari pria yang telah merusaknya."

Edgard memantapkan hatinya. Ketakutan akan masa depan dan hukuman dari sang paman mendesaknya untuk mengambil tindakan nekat. Mulai detik ini, fokus utamanya adalah bergerak di bawah bayangan untuk melacak keberadaan sang gadis Siren. Ia harus menemukan Elara sebelum perut gadis itu membuncit dan rahasia besarnya terendus oleh seluruh anggota Blue Light Pack.

Tanpa Edgard ketahui, keputusannya ini akan membawanya berhadapan langsung dengan Cedric Valerius—pengusaha Elf berkuasa yang kini tengah melindungi gadis yang dicarinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!