NovelToon NovelToon
Dendam Manis Di Cawan Hitam

Dendam Manis Di Cawan Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: Neef

Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
​Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Api Pengkhianatan dan Denyut Terakhir

*"Kau pikir dengan membakar ruangan ini, kau bisa menghapus sejarah Vance, Elara? Bodoh. Kau hanya sedang mencoba memadamkan matahari dengan setetes minyak tanah."*

Suara Julius dingin, membelah gemeretak api yang mulai menjilati rak-rak buku tua di ruang rahasia itu. Di sekeliling kami, dinding-dinding beton mulai retak akibat tekanan sihir api hitam yang sangat pekat. Elara tidak sekadar membakar; dia menggunakan *Nectar* terkontaminasi untuk menciptakan api yang tidak bisa dipadamkan dengan air, api yang memakan oksigen dan mengubahnya menjadi racun.

Aku terbatuk, asap hitam mulai menyesakkan paru-paruku. Di tengah kobaran api, aku melihat jantung milik ayah Marie yang berada di dalam cawan kristal itu mulai meredup. Detaknya yang tadinya stabil, kini melambat—seolah-olah nyawaku sendiri sedang ditarik keluar dari tubuh ini.

*"Julius, jantung itu..."* suaraku parau. *"Jika detaknya berhenti, aku juga akan lenyap, bukan?"*

Julius menatapku sekilas. Wajahnya tidak lagi tenang. Ada guratan kecemasan yang nyata di balik tatapan obsidiannya. Dia tahu bahwa jika aku mati sekarang, rencananya untuk menggunakan garis keturunan alkemis Marie akan sia-sia.

*"Jangan bicara omong kosong,"* bentak Julius, meski tangannya sibuk merapal mantra pelindung yang mulai retak. *"Kau tidak akan mati sebelum aku mengizinkannya. Marie, gunakan tanganmu! Fokuskan sihirmu pada cawan itu. Kau adalah keturunan langsung pemilik jantung itu. Jika ada seseorang yang bisa menarik kembali detak jantungnya dari ambang kematian, itu adalah kau!"*

Aku tidak mendebat. Ini bukan waktunya untuk bertanya mengapa dia begitu peduli. Aku merangkak di antara kobaran api, merasakan panas yang membakar kulit gaunku. Aku memusatkan seluruh kesadaranku pada satu titik—pada denyut lemah di dalam cawan kristal itu.

*Aku adalah intelijen. Aku adalah seorang pengamat. Dan aku tidak akan kalah oleh taktik murahan seperti ini,* batinku menguatkan diri.

Aku meletakkan telapak tanganku di atas cawan kristal yang kini mulai retak akibat panas api Elara. Sihir murniku, yang sempat kusembunyikan di balik kekacauan, mulai mengalir. Aku tidak memurnikan *Nectar* kali ini; aku mencoba melakukan *sinkronisasi detak*. Aku menghubungkan detak jantungku sendiri dengan jantung milik ayah Marie.

*Deg. Deg. Deg.*

Satu detik, dua detik, jantung itu merespons. Namun, rasa sakit yang menghantamku jauh lebih besar daripada sebelumnya. Rasanya seperti jantungku sendiri sedang dicabik-cabik oleh tangan yang tak terlihat.

*"Lebih dalam, Marie! Masukkan bagian dari jiwamu ke dalamnya!"* perintah Julius di belakangku. Dia sedang menahan dinding api agar tidak runtuh menimpa kami, wajahnya pucat karena kelelahan sihir.

Aku memejamkan mata, membiarkan energi sihirku mengalir deras. Tiba-tiba, sebuah ingatan muncul bukan dari ingatanku, melainkan dari jantung itu sendiri. Ingatan tentang malam itu. Bukan malam kematiannya, melainkan malam ketika ayah Marie menyembunyikan kunci rahasia di balik silsilah keluarga Vance. Dia tahu. Dia tahu bahwa suatu saat nanti, *sesuatu* akan datang untuk mengambil jantungnya, dan dia telah merancang sebuah sistem pertahanan yang hanya bisa diaktifkan oleh keturunan yang benar-benar siap.

*Aku menemukannya,* pikirku.

Aku menyalurkan energi itu ke dalam cawan. Cahaya biru elektrik menyambar dari tanganku, memadamkan api hitam Elara di sekitar cawan itu dalam sekejap. Jantung itu kembali berdetak dengan kuat, lebih kuat dari sebelumnya, hingga membuat ruangan itu bergetar.

*"Sekarang!"* teriakku.

Julius tidak membuang waktu. Dia menghentakkan kakinya, dan sebuah lorong rahasia terbuka di lantai bawah rak buku. Kami melompat masuk ke dalamnya tepat saat seluruh ruangan meledak menjadi bola api raksasa.

Kami mendarat di terowongan bawah tanah yang dingin, jauh di bawah gedung *The Black Cup*. Napasku tersengal-sengal. Tubuhku terasa sangat ringan, seolah-olah aku baru saja kehilangan separuh dari beban jiwaku.

Julius berdiri di sampingku, jubahnya hangus dan rambutnya berantakan. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kelegaan dan kekhawatiran yang mendalam.

*"Kau berhasil,"* bisiknya pelan. *"Kau benar-benar berhasil menyinkronkannya."*

*"Apa yang terjadi selanjutnya?"* tanyaku, masih mencoba menstabilkan detak jantungku yang kini terasa menyatu dengan detak jantung di cawan itu.

*"Selanjutnya?"* Julius tertawa kecil, suara tawanya memantul di dinding terowongan. *"Selanjutnya adalah perang. Elara tidak akan berhenti hanya dengan membakar satu gedung. Dia bekerja untuk seseorang di Dewan, seseorang yang sangat takut dengan apa yang bisa kau lakukan dengan darah ayahmu."*

Dia mendekatiku, tangannya menyentuh bekas luka tato di lenganku. *"Marie, kau sekarang telah terikat secara permanen dengan jantung itu. Kau bukan lagi sekadar pion. Kau adalah pemilik kunci dari rahasia terdalam Oakhaven. Tapi ada harga yang harus dibayar."*

*"Harga apa?"*

*"Kau tidak bisa lagi menjauh dariku lebih dari seratus meter. Karena jika kau melakukannya, hubungan sinkronisasi itu akan terputus, dan kau akan mati dalam hitungan menit."*

Aku tertegun. *Sialan.* Jadi dia mengikatku kembali? Dengan cara yang lebih licik? Apakah dia sengaja membiarkan jantung itu berada di tangan Elara agar aku terpaksa melakukan sinkronisasi ini?

*"Kau merencanakannya, bukan?"* tanyaku dengan suara dingin yang menusuk. *"Kau membiarkan Elara mencuri jantung itu agar aku tidak punya pilihan selain menyinkronkannya denganmu."*

Julius tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan mata obsidian yang dalam. *"Aku tidak pernah mengatakan aku adalah orang baik, Marie. Aku hanya mengatakan aku adalah orang yang ingin kau tetap hidup."*

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari kejauhan. Banyak langkah. Ratusan. Pasukan bayaran Syndicate telah mengepung pintu keluar terowongan ini. Elara telah memanggil bala bantuan.

*"Mereka mengepung kita,"* ucapku, mengambil belati yang terselip di gaun robekku.

Julius mengeluarkan pedang hitam yang memancarkan aura kegelapan murni. Dia menatapku, memberikan senyuman yang paling tulus—dan paling menakutkan—yang pernah kulihat selama ini.

*"Bersiaplah, Istriku. Malam ini, kita akan menunjukkan kepada mereka mengapa keluarga Vance tidak pernah bisa dihapus dari peta sejarah Oakhaven."*

Kami berlari menuju suara pasukan itu. Aku tidak lagi memikirkan tentang kehidupan asliku atau tentang pria bertopeng burung hantu. Aku hanya memiliki satu fokus: bertahan hidup, dan menghancurkan siapapun yang berani menantang jalanku.

Saat kami berbelok di tikungan terowongan, kami disambut oleh barisan pasukan dengan panah-panah magis yang terhunus. Elara berdiri di depan mereka, wajahnya penuh kemenangan.

*"Habisi mereka,"* perintah Elara dengan suara tajam.

Ribuan anak panah melesat ke arah kami. Julius bergerak di depanku, menciptakan perisai hitam yang sangat besar, namun jumlah anak panah itu terlalu banyak. Beberapa berhasil menembus celah perisai. Aku merasakan tusukan tajam di bahuku.

*Darah.*

Darahku memercik ke tanah. Namun, saat darah itu menyentuh tanah, sesuatu yang aneh terjadi. Darahku tidak meresap ke tanah, melainkan membentuk pola sihir yang bercahaya keemasan. Pola itu meluas ke seluruh lorong, menciptakan ledakan energi yang membuat seluruh pasukan Elara terlempar ke dinding.

Aku terbelalak. Sihirku... sihirku bukan lagi sekadar alkimia. Itu adalah kekuatan kuno yang terbangun dari darah ayah Marie.

Namun, saat aku mencoba berdiri, aku melihat Elara tidak menyerang kami. Dia malah memegang sebuah alat kecil—sebuah detektor sihir yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang besar sedang menuju ke arah terowongan ini.

*"Ini bukan akhir,"* teriak Elara sambil mundur ke dalam kegelapan. *"Kalian tidak tahu apa yang kalian bangunkan dengan menyinkronkan jantung itu!"*

Dan tepat setelah dia menghilang, tanah di bawah kaki kami mulai berguncang hebat. Bukan gempa bumi biasa. Sesuatu yang sangat besar sedang bergerak di bawah kota Oakhaven. Sesuatu yang telah tertidur selama ribuan tahun, dan kehadiranku—serta detak jantung yang kini selaras denganku—telah membangunkan makhluk itu.

Julius menatap lantai yang retak, wajahnya pucat. *"Kita membangunkan Penjaga Kota, Marie. Dan dia tidak membedakan antara musuh dan sekutu."*

Sebuah cakar raksasa menembus atap terowongan, menahan kita di tengah-tengah kehancuran yang total.

1
Abe shaikha
Aku suka yang FL nya kuat begini, semangat thor nulisnya😍
Abe shaikha
Seru Thor... 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!