Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 11
"Tsania..." panggil Arsen dengan suara serak yang nyaris tak terdengar.
Tangan Arsen yang bergetar hebat perlahan terulur. Ia ingin sekali mengusap puncak kepala Tsania, membelai rambut halus wanita yang dulu selalu bersandar di bahunya ketika lelah. Namun, saat jarinya berjarak hanya satu sentimeter dari dahi Tsania, Arsen menariknya kembali dengan cepat. Ia merasa tangannya yang penuh noda ego itu tak pantas lagi menyentuh Tsania.
"Kenapa kamu harus sekeras kepala ini?" bisik Arsen, air mata tergenang di sudut matanya yang merah.
"Kenapa kamu tidak mengundurkan diri saja kemarin? Kenapa kamu tidak memaki saya saat saya memberi kamu tumpukan dokumen itu? Kenapa kamu malah melawannya dengan menghancurkan dirimu sendiri, Tsania...?"
Bip... bip... bip-bip-bip...
Layar monitor penanda vital mendadak berubah ritme. Detak jantung Tsania yang tadinya melemah perlahan melaju. Kelopak mata wanita itu bergetar-getar gelisah. Jemari tangannya yang bebas meremas selimut rumah sakit kencang-kencang.
"Tsania?" Arsen panik, merapatkan tubuhnya ke tepi ranjang.
Perlahan tapi pasti, kelopak mata yang terasa seberat timah itu terbuka. Pandangan Tsania kabur berpendar, menangkap bayangan siluet jangkung yang berdiri tepat di atasnya. Bayangan kemeja putih kusut dan wajah kaku yang sangat ia kenal.
Tsania menarik napas pendek yang terasa sangat menyiksa dadanya, membuat kanula oksigen di hidungnya berembun tipis.
"Arsen..." lirih Tsania. Suaranya serak, parau, dan sangat lemah, bagai bisikan angin di tengah malam.
"Jangan banyak bicara dulu, Tsania. Kamu di HCU sekarang," sela Arsen cepat, nada suaranya diliputi kecemasan luar biasa yang tak sanggup lagi ia sembunyikan.
"Dokter bilang kamu kelelahan parah dan demam tinggi. Istirahatlah..."
Tsania mengedipkan matanya lambat. Kesadarannya yang terkumpul sedikit demi sedikit membawa ingatan pahit tadi siang: bentakan Arsen, tumpukan kertas yang menumpuk, cemoohan Aurelia, dan rasa dingin marmer yang menyapa pipinya sebelum semuanya menjadi gelap.
Tsania memalingkan wajahnya perlahan ke arah dinding, menolak menatap Arsen.
"Kenapa... Bapak ada di sini?" tanya Tsania. Suaranya dingin, walau ketegangan terpancar dari napasnya yang memburu.
"Bukannya... Bapak harusnya... sedang menikmati makan siang... bersama Bu Aurelia?"
Arsen memejamkan matanya rapat-rapat. Hatinya teriris mendengar nada bicara Tsania yang penuh luka terpendam.
"Danu menelepon saya... dia bilang kamu pingsan dan hidungmu berdarah," ujar Arsen bergetar.
"Saya langsung meninggalkan restoran dan ke sini, Tsania."
"Untuk apa, Pak?" Tsania memutar kembali kepalanya pelan, menatap lurus ke dalam manik mata Arsen. Ada kilatan air mata yang menumpuk di pelipisnya, menetes melewati pipinya yang pucat pasi.
"Untuk memastikan... apakah saya sudah mati... atau masih bisa disiksa dengan tugas baru? Padahal anda sudah mendapatkan penganti saya, Bu Aurela. Kenapa anda masih bersikap seperti ini? Saya hanya ingin bekerja, Pak Arsen...""
"Tsania! Saya tidak pernah berniat membuatmu sampai sak..."
"Bapak berniat!" potong Tsania. Suaranya melengking tipis walau ia harus terbatuk-batuk kecil sesudahnya, membuat alat monitor kembali berbunyi nyaring.
"Bapak sengaja, kan?! Bapak menahan saya di ruangan Bapak jam demi jam... Bapak tahu baju saya basah kuyup terkena hujan dan lumpur Bogor... Bapak tahu tubuh saya menggigil demam saat berdiri menyambut Bapak tadi pagi... Tapi Bapak pura-pura tidak tahu!"
"Saya hanya ingin kamu mengakui kesalahanmu di masa lalu!" meledak sudah pertahanan Arsen. Pria itu membungkuk sedikit, suaranya tertahan namun sarat akan kepedihan mendalam.
"Saya ingin kamu minta maaf! Saya ingin kamu jujur alasan kamu menghilang begitu saja dari hidup saya tanpa sepatah kata pun, Tsania! Kamu tinggalkan saya dan membuat saya hancur, lalu tiba-tiba kamu muncul lagi melamar sebagai karyawan di perusahaan saya! Menurutmu bagaimana perasaan saya?!"
Tsania tertawa sumbang, sebuah tawa paling menyakitkan yang pernah Arsen dengar sepanjang hidupnya. Air matanya kini mengalir deras membasahi bantal rumah sakit.
"Jadi ini... semua alasan balas dendam gila Bapak?" bisik Tsania di antara napasnya yang makin tersengal.
"Bapak tidak pernah tahu kan... kenapa saya pergi tiga tahun lalu? Bapak tidak pernah mau bertanya... Bapak hanya memelihara ego dan keangkuhan Bapak!"
"Lalu beritahu saya sekarang!" desak Arsen, matanya memerah penuh amarah dan keputusasaan.
"Beritahu saya alasannya, Tsania! Jangan diam saja seperti ini!"
"Tidak... Pak Arsen. Tidak akan pernah," bisik Tsania menggelengkan kepala perlahan.
"Dulu... saya berpikir Bapak adalah pria paling hangat yang pernah saya miliki. Tapi sekarang... saya sadar... Bapak hanya seorang pria berhati dingin yang memanfaatkan kekuasaan untuk menghancurkan wanita yang sudah tidak punya apa-apa lagi."
"Toh tak penting lagi anda tahu alasan saya di masa lalu. Anda sudah punya calon tunangan. Lebih baik fokus dengan kekasih dan masa depan anda dengannya. Saya hanya ingin bekerja dan hidup tenang saja,"
Tsania meremas jarum infusnya kencang, menatap Arsen dengan sorot ketegasan yang menyayat batin.
"Saya mohon... keluar, Pak. Jangan pernah temui saya lagi. Kalau Bapak mau memecat saya, pecat saja sekarang. Saya tidak akan pernah kembali ke Pratama Tower."
"Tsania, dengarkan saya..."
"SAYA BILANG KELUAR!" teriak Tsania melengking.
Dada Tsania kembang kempis secara tidak teratur. Monitor jantung berbunyi sangat cepat dan melengking. BIP-BIP-BIP-BIP! Garis di layar monitor menunjukkan lonjakan detak jantung yang membahayakan. Tubuh Tsania kejang pelan, jemarinya mencekeram selimut saat napasnya mendadak tersumbat hebat.
"Tsania! Tsania!" panik Arsen, tangannya memegang bahu Tsania.
Pintu HCU didobrak keras dari luar. Dokter jaga beserta dua suster menerobos masuk, disusul oleh Raihan dan Maya yang tampak panik luar biasa.
"Pak! Apa yang Anda lakukan?! Pasien mengalami spasme saluran napas!" teriak Dokter murka seraya mendorong Arsen menjauh dari ranjang.
"Suster! Siapkan suntikan penenang dan tingkatkan aliran oksigen sekarang!"
"Tsania!" teriak Maya hysteris melihat tubuh sahabatnya yang kewalahan menghirup udara. Maya menatap Arsen dengan mata membara penuh kebencian.
"Pak Arsen! Apa yang anda lakukan kepada Tsania?"
Raihan langsung memegang dada Arsen, mendorong pria CEO itu mundur hingga keluar dari pintu kaca HCU secara paksa.
"Cukup, Pak Arsen!" bentak Raihan dengan suara berat yang menggelegar di lorong HCU yang sunyi.
"Anda sudah mendengar sendiri permohonannya! Kehadiran Anda di sini adalah racun buat nyawanya!"
Arsen berdiri limbung di lorong rumah sakit. Pintu HCU di hadapannya kembali tertutup rapat. Dari balik kaca, ia bisa melihat dokter dan suster sibuk menempelkan masker oksigen tambahan ke wajah Tsania yang terus terbatuk dan kejang menahan sesak.
Raihan menyilangkan tangannya di dada, berdiri tepat di depan pintu kaca bagaikan benteng yang menutupi akses Arsen.
"Anda punya segalanya di luar sana, Pak Arsen," kata Raihan dengan nada dingin yang menghujam tajam.
"Uang, jabatan, kekuasaan, dan wanita modis yang menjadi calon tunangan anda. Tapi di dalam ruangan ini, Anda cuma seorang pecundang yang tidak tahu cara memperlakukan wanita yang pernah mencintai Anda. Pergilah sebelum saya panggil pihak keamanan untuk mengusir Anda secara tidak hormat."
"Darimana kau tahu?"
"Tak penting! Pergilah! Dan selesaikan masalahmu dengan Tsania saat dia sudah jauh lebih baik..."
Arsen mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih dan kulitnya pucat. Namun untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tidak punya kata-kata balasan. Tidak ada argumen hukum, tidak ada ancaman pemecatan, dan tidak ada pamer kekuasaan yang bisa menyelamatkan mukanya saat ini.
Pria itu menatap bayangan Tsania yang sedang ditangani medis untuk terakhir kalinya malam itu. Dengan langkah gontai, bahu yang tertekuk lesu, dan dada yang terasa remuk dihantam rasa penyesalan luar biasa, Arsen berbalik dan melangkah pergi menyusuri lorong rumah sakit yang sepi dan dingin.