Cinta di tolak dukun bertindak itulah sebutan buat Ninis. Penolakan dari laki-laki yang bernama Tirta membuat dia nekat bersekutu dengan jin agar bisa menolongnya untuk mendapatkan Tirta.
Sebagai tunangan Tirta, Sena berjuang mati-matiam gar bisa menyelamatkan Tirta dari pengaruh sihir yang Ninis kirim.
Mampukah Sena menyelamatkanya?
Simak ceritanya di sini. Jangan lupa, Like, Coment, Vote, jangan lupa mawar dan kopinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osiye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Tumbal Siluman Hitam
Remaja laki-laki kisaran umur 13 tahun tersebut memberanikan diri mengikuti dua orang yang baru saja menculik seorang perempan yang di kenalinya. Ia mengayu sepeda bututnya berharap bisa mengikuti kedunya walaupun rasanya sangat tidak mungkin dia bisa mengejar mereka berdua hanya dengan menggunakan sepeda bututnya. Tapi remaja tersebut sangat penasaran sama apa yang mau mereka lakukan sama perempuan yang di panggil Sakinah.
Baru setengah perjalanan dia tampak kelelahan tidak bisa mengejar motor si penculik membuatnya harus kehilangan jejak mereka berdua, remaja itu baru tersadar kalau ternyata dirinya ada tengah-tengah hutan alas roban yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya, bukannya takut ia malah kembali melanjutkan perjalanannya.
Wus.. wus.. Wus.
Krek! Krek! Krek!
Suara angin dan pepohonan saling bersahutan dengan suasana yang begitu gelap, dia berhenti sejenak merogo-rogoh saku celananya mencari sesuatu yang bisa di gunakan sebagai lampu penerang.
"Oh.. Iya aku lupa, tadi kan aku bawa hape, lumayan buat penerang. Aku harus tetep cari tau orang-orang itu mau membawa Mba Sakinah kemana? Dan siapa mereka kenapa mereka meculik Mba Sakinah?" monolognya.
Remaja tersebut menyalakan senter yang ada di ponsel jadulnya, dia sama sekali tidak memiliki rasa takut sedikitpun meski berada di hutan alas roban yang sepi dan terkenal angker. Keberanian remaja berumur 13 tahun tersebut memang patut diacungi jempol, meskipun hanya menggunakan sepeda tapi tidak membuat dirinya menyerah yang ada di dalam pikirannya saat ini cuma ingin menolong Sakinah pikirnya.
Bug!
Bruk!
Argh!
Di saat lagi mengayuh sepedanya dia di kagetkan sama suara benda jatuh di hadapannya dan membuatnya hilang keseimbangan saat lagi mengayuh sepedanya sampai membuatnya terjatuh. Ia meringis kesakitan karena tubuhnya tertimpa sepedanya sendiri tanganya bergerak menyingkirkan sepeda itu dari tubuhnya, remaja tersebut mengarahkan senternya ke arah lutut dan juga sikunya yang ternyata terluka akibat jatuh tadi.
"Sakit sekali," keluhnya sambil meniup-niup lutut dan sikunya yang lecet-lecet dan lebam sedikit mengeluarkan darah.
Terlihat pantulan cahaya berwarna merah menyorot ke arah remaja tersebut membuat atensi remaja itu teralihkan ke arah caya itu, remaja tersebut mengesot mendekati pantulan cahaya itu. Matanya terbelalak melihat sosok berkepala berambut panjang dengan kedua mata merah menyala menatap tajam kearahnya.
Argh!
Remaja itu berteriak ketakutan langsung berdiri dan berlari cepat meninggalkan sepedanya begitu saja. Ia melewati potongan kepala itu sampai tidak memperdulikan rasa sakit di kaki dan juga sikunya.
"Tolong! Tolong!" teriaknya ketakutan sambil meminta tolong.
Haaaa! Haaaa!
Bukannya lari mencari jalan pulang remaja itu malah semakin masuk kedalam hutan alas roban. Ia semakin ketakutan melihat banas pati tersebut terus mengejarnya dengan wujud yang sangat mengerikan dengan rambutnya apinya yang menyala pun gigi panjangnya seperti siap memangsanya hidup-hidup.
Haaaa! Haaaa!
Suara mengerikan itu semakin terdengar jelas di telinganya, remaja tersebut menoleh ke belakang dan bener saja banas pati itu masi terus mengejarnya dengan suara tawa begitu menggelegar dan mengerikan.
"Ibu, tolong Ageng, Ageng takut," ucapnya menangis ketakutan.
Haha... Haha.
"Bocah kecil kamu tidak akan bisa kabur dariku, malam ini kamu harus menjadi santapan lezatku!" suara mengerikan itu semakin terdengar jelas.
"Tidak! Tidak!" Ageng menggeleng hebat wajahnya sudah di banjiri air mata mendapati banas pati itu berada di atas kepalanya.
Argh!!!!
Bruk!
Saking takutnya melihat banas pati berada di atas kepalanya Ageng sampai tidak melihat jalanan di depannya, lampu senter di ponselnya tiba-tiba mati. Dia terjatuh berguling-guling ke bawah darah segar mengalir di kepalanya.
"Ibu, Ageng sudah tidak kuat," ucap Ageng suaranya ikut terbawa angin matanya terpejam rapat.
Duar! Duar!
Hujan deras mulai turun membasahi bumi pun suara petir yang terdengar menggema di semua penjuru hutan tersebut ikut menyaksikan betapa malangnya nasib Ageng saat ini. Remaja itu tergeletak di bawah guyuran air hujan tanpa ada satu orang yang melihatnya.
Di sebuah gubuk tua terlihat sosok gadis tergeletak di atas amben beralaskan kain putih terlihat belum sadarkan diri. Di depannya ada laki-laki dan perempuan lagi menjaganya sesekali terdengar pedebatan anatara keduanya.
"Ninis, sebenernya apa yang mau kamu lakukan sama gadis ini? Bukankah dia tetangga kita anak si janda miskin itu? Kamu jangan macem-macem sama anak ini. Kalau ada yang tau kita menculiknya gimana nasib kita nanti?" tanya Andi panik.
"Sudah kamu jangan banyak tanya. Kamu tenang saja enggak ada satu orang pun yang tau soal ini. Kamu percaya saja sama aku," sahut Ninis mencium bibir Andi dengan rakus.
Andi yang sempet emosi langsung luluh saat Ninis menyambar bibirnya, laki-laki itu tidak membuang kesempatan. Dia membalas ciuman Ninis dengan rakus dan terdengar suara desahan dari bibir keduanya. Di sebuah gubuk tua itu terjadilah hubungan terlarang diantara keduanya.
"Dasar manusia-manusia terkutuk beraninya kalian melakukan itu di tempatku!" terdengar suara menggelegar tanpa terlihat wujudnya membuat Ninis dan Andi terkejut.
Mendengar suara yang tidak asing di telinganya, Ninis bangun dari amben dia meminta Andi untuk kembali mengenakan pakaiannya, Ninis merapihkan rambutnya yang berantakan akibat kegiatan panas tadi.
"Guru," ucap Ninis mencari-cari orang yang di panggil guru.
Sosok kake tuan muncul di hadapan Ninis dan Juga Andi, tatapannya nyalang melihat sepasang pemuda tersebut. Andi yang baru melihat sosok kake tua itu terhenyak dan memundurkan langkahnya.
"Nin-is ka-ke tua me-nye-ramkan ini siapa?" tanya Andi tergagap.
"Diam! Jangan banyak bicara kalau kamu masih sayang sama nyawamu," ujar Ninis berbisik di telinga Andi.
Susah payah Andi menelam ludahnya kasar mengangguk patuh mendengar ucapan Ninis, dia bergidik ngeri melihat soso kake tua di depannya wajah yang penuh benjolan pun bola matanya yang sebagian berwarna putih, tongkat tengkoraknya yang menyala membuat nyali Andi menciut.
"Perempuan bodoh! Ngapain kamu bawa laki-laki kesini!" seruh kake tua mencekik leher Ninis.
"Say-a." suara Ninis terdengar tersengal perempuan itu berusaha melepaskan tangen kake tua tersebut dari lehernya.
"Pergi kalian dari sini sebelum aku menghabisi nyawa kalian detik ini juga." kake tua melepaskan cekikannya mendorong Ninis sampai perempuan itu terjerembab di tanah yang penuh krikil.
Ninis menarik tangan Andi dan mengajaknya pergi sebelum kake tua itu bener-bener membunuhnya.
Kake tua tersenyum mengerikan melihat remaja tergeletak di amben yang beralaskan kain putih.
"Sebentar lagi kekuatanku akan segerah bertambah," ujarnya sambil tertawa menggelegar.
****
"Ibu tolong Sakinah, Bu. Sakinah takut," ucap Sakinah ketakutan.
"Ya Allah, Sakinah, apa yang terjadi sama kamu, Nak? Dan kalian siapa? Apa yang kalian lakukan sama anak saya? Lepaskan dia! Lepaskan dia!" jerit wanita paru baya.
Melihat anaknya di ikat dikelilingi orang-orang berpakaian serba hitam membuat wanita itu ketakutan, terlebih lagi di depannya ada patung berhala dengan mata merah menyala, wanita itu berlari mau membebaskan putrinya tapi beliau malah terpental jauh hingga menabrak bebatuan.
Sosok siluman hitam menggerang marah menunjukan taringnya melangkah mendekati wanita tersebut mencekik lehernya kuat, siluman hitam itu mengangkat tinggi tubuh wanita tersebut dan membantingnya ke bawah.
Akh!
Wanita paru baya tersebut menggerang kesakitan tapi beliau sama sekali tidak menyerah. Demi membebaskan putrinya beliau kembali berdiri mau menghampiri sang putri. Tapi siluman hitam itu malah menendangnya menjauh.
"Wahai manusia jangan pernah kalian mengusik milikku! Gadis itu sudah di tumbalkan untuk menjadi santapanku." ujarnya dengan suara berat membuat orang merinding.
"Ibu, tolong aku! Ibu! Ibu!!" teriak Sakinah.
"Sakinah!!!" wanita tersabut terbangun dari tidurnya.
"Astaghfirullah. Ya Allah, saya mimpi buruk, Sakinah, dimana dia? Apa yang terjadi padanya?" ujarnya.
Nafas wanita itu terengah-engah setelah bangun dari mimpi buruknya, wanita itu melihat di sebelahnya tidak mendapati kedua anaknya ada di sampingnya, beliau langsung menyibak kain tipis di tubuhnya dan buru-buru bangun turun dari amben bergegas pergi ke kamar sang putri betapa terkejutnya mendapati kamar itu kosong. Beliau keluar dengan wajah paniknya saat kedua anaknya tidak ada di rumah.
"Ya Allah, kemana mereka." ucapnya wajahnya terlihat pucat.
*****