NovelToon NovelToon
Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mafia
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

Repan menetap di Kota Bogor.

Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bagaimana kelanjutannya..?

"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Zahra terdiam terpaku. Ucapan Repan barusan sukses membuat lubuk hatinya bergetar hebat.

Gadis itu terharu karena ada seseorang yang mau mengulurkan tangan di saat ia terdesak, namun sisi realistis di dalam dirinya... merasa hal itu mustahil.

Repan, tanpa membuang banyak kata, langsung berdiri dari posisi duduknya. Sorot matanya masih tampak tenang seperti biasa.

"Ayo, kita selesaikan semua administrasi pembayarannya sekarang."

Zahra mendongakkan wajah, menatap Repan dengan raut canggung dan bingung.

"Nggak usah, Pan... Biaya perawatannya besar sekali. Tapi terima kasih banyak ya... sungguh, aku terharu banget kamu sampai mau berniat menolong." Suara Zahra terdengar lembut dan santun, namun sarat akan nada kesedihan yang mati-matian ia sembunyikan.

Repan melirik ke arah Zahra, raut wajahnya tetap tenang tanpa gejolak. "Tunggu apa lagi? Ibu lo butuh tindakan operasi secepatnya. Kita nggak punya banyak waktu buat ragu."

"Pan... aku hargai banget niat baik kamu. Tapi beneran, aku nggak apa-apa kok," pukas Zahra mencoba bersikap tegar, walau kelopak matanya bergetar menahan bulir air mata yang hendak tumpah kembali.

Tanpa membalas penolakan itu, Repan langsung meraih pergelangan tangan Zahra dan menariknya pelan.

"Ayo ikut gue," panggilnya singkat namun sarat akan ketegasan.

"Pan?! Kamu mau ngapain? Aku serius, aku nggak apa-apa. Tolong lepasin tangan aku," Zahra panik dan sedikit berontak, berusaha menarik pergelangan tangannya kembali.

Sebagai siswi yang taat dan selalu menjaga jarak, ia sangat tidak terbiasa kulit tangannya tersentuh oleh seorang pria.

Repan melepaskan genggamannya secara perlahan, namun ia sama sekali tidak mengambil langkah mundur. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Zahra dengan intensitas yang serius.

"Zahra... gue udah ambil keputusan. Gue mau bantu pengobatan ibu lo. Jadi tolong... izinkan gue buat melakukan ini," ucap Repan tenang, namun vokalnya bergaung dalam. Kalimat singkat yang makin membuat gejolak di dalam dada Zahra kian bergemuruh.

"Tapi, Pan..." Zahra hendak menyuarakan penolakannya lagi, namun Repan memotongnya dengan cepat.

"Cukup. Sekarang lo cuma perlu melakukan satu hal... percaya. Kadang, kita harus belajar buat mempercayai orang-orang yang peduli sama kita."

Suara Repan terdengar datar, namun sarat akan makna mendalam. Untuk sepersekian detik, atmosfer di koridor itu seolah-olah membeku.

Zahra menundukkan kepalanya perlahan. Dalam keheningan itu, pertahanannya runtuh. "Baiklah..." bisiknya sangat pelan.

Ia pun mengayunkan langkah kaki pelan menyusuri koridor, berjalan bersisian dengan Repan menuju ke bagian meja administrasi rumah sakit.

"Ada yang bisa saya bantu, Mas, Mbak?" puji seorang petugas resepsionis wanita dengan ukiran senyum ramah.

Repan melirik ke arah Zahra. Siswi itu sempat ragu sejenak, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara.

"Kami... kami berniat untuk melunasi seluruh biaya operasi atas nama Ibu Siti," tutur Zahra. Suaranya agak gemetaran, namun dapat terdengar dengan sangat jelas.

Petugas resepsionis itu mengangguk paham, jemarinya mulai menari lincah di atas papan ketik komputer.

"Mohon ditunggu sebentar ya."

Beberapa saat kemudian, wanita itu mengangguk kecil usai memeriksa layar monitor.

"Pasien atas nama Ibu Siti memang membutuhkan tindakan operasi darurat secepatnya. Dan berdasarkan catatan rekam medis, bakal ada lima tahap operasi lanjutan yang harus dijalani."

Repan dan Zahra menyimak penjelasannya.

"Total estimasi biaya yang perlu diselesaikan... sekitar 1,8 miliar rupiah." Nada suara petugas administrasi itu tetap profesional dan santun, meskipun baru saja menyebutkan nominal angka yang sangat fantastis.

Zahra seketika menoleh cepat ke arah Repan dengan raut wajah yang memucat pias. "Kamu dengar itu, Pan?! 1,8 miliar rupiah! Udah deh... ayo kita pergi aja," bisik Zahra dengan intonasi gugup dan campur aduk menahan malu.

Namun Repan tetap bergeming di posisinya, raut wajahnya tetap sama seperti sebelumnya: tenang, lempeng, dan tak tergoyahkan.

"Saya bayar sekarang."

Zahra membelalakkan matanya lebar-lebar.

"Hah?! Pan, kamu lagi ngelawak, kan? Itu... nominal angka yang nggak masuk akal!" Gadis itu sama sekali tak sanggup menyembunyikan rasa syoknya.

Sangat tidak masuk di akal—bagaimana mungkin Repan, seorang siswa bernasib sederhana yang bahkan tak punya kesan kaya sedikit pun, mampu melunasi dana sebesar itu dalam sekejap mata?

Repan tak menanggapi keterkejutan itu. Ia hanya merogoh ponsel dari saku celananya dan mulai mengetikkan beberapa perintah transaksi.

Petugas resepsionis menyodorkan kode transaksi dan nomor rekening resmi rumah sakit, lalu Repan langsung memproses pengiriman dana saat itu juga.

Hanya dalam hitungan detik...

[Transaksi Berhasil]

Notifikasi pemberitahuan muncul di layar. Bukti transfer dana sukses terverifikasi. Petugas resepsionis langsung tersenyum sangat ramah usai mengecek sistemnya.

"Pembayaran telah berhasil kami terima secara penuh. Terima kasih banyak. Kami akan segera menjadwalkan tindakan medis lanjutan untuk Ibu Siti."

[Anda Mendapatkan 18 Poin]

Papan informasi transparan dari sistem mendadak muncul melayang di hadapan pandangan Repan.

Zahra mematung kaku. Detak jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Ia menatap Repan yang masih berdiri santai, seolah-olah cowok itu baru saja menyelesaikan pembayaran jajanan ringan di minimarket, bukan menggelontorkan dana operasi bernilai miliaran rupiah.

"I-ini beneran nyata...? Repan... kamu beneran membayarkan semuanya?!"

Repan menoleh, lalu menyunggingkan senyuman tipis.

"Kan udah gue bilang dari awal. Gue bakal bantu lo."

Zahra tertegun bisu. Senyuman tipis itu... senyuman yang selama ini tak pernah ia perhatikan dari sosok Repan.

Untuk sepersekian detik, Zahra merasakan kedua belah pipinya mendadak menghangat memerah. Sepasang matanya seolah terkunci, tak sanggup berpaling dari paras Repan.

'Repan... ternyata dia sebaik ini... Dan tunggu, kenapa dia... kelihatan setampan ini dari dulu?' batin Zahra kebingungan dengan sensasi asing yang mendadak muncul dan berdesir di dalam dadanya.

Di tengah keheningan koridor rumah sakit itu, di antara himpitan duka dan secercah harapan, sebutir benih perasaan baru mulai bertunas halus.

Namun, di tengah atmosfer emosional yang menyentuh hati tersebut, sebuah intonasi suara yang sangat familier mendadak terdengar dari arah belakang.

"Pan... ayo balik, gue udah selesai diperiksa nih," celetuk Bimo dengan santainya.

Repan dan Zahra kompak menoleh.

Bimo melangkah keluar dari koridor ruang perawatan dengan penampilan yang nyaris tak mengenali wujud aslinya lagi. Hampir seluruh bagian kepala dan wajahnya terbalut perban putih tebal, hanya menyisakan sepasang lubang mata yang menyipit.

Zahra terperanjat kaget. "Eh?! Ini... siapa ya?" tanyanya kebingungan menatap wujud mumi di hadapannya.

Bimo sempat terdiam, menatap Zahra dengan raut heran dari balik gulungan perbannya.

"Ya elah, ini gue—"

Sebelum Bimo sempat memperjelas identitasnya, Repan dengan cepat menyela, "Dia Bimo. Anak yang nilai rapornya selalu merah membara."

"What the f**k?! Nilai Bahasa Sunda gue kagak merah ya, Woi!" protes Bimo keras, berusaha menyelamatkan sisa martabatnya walau wujudnya saat ini lebih mirip mumi firaun dari Mesir.

Zahra memiringkan kepalanya, lalu terkekeh pelan. "Eh... Bimo? Ciyus? Kenapa muka kamu bisa hancur kayak korban bentrokan tawuran begitu?"

"Gue itu tadi—" Bimo hendak membela diri, namun lagi-lagi Repan memotong omongannya dengan cepat.

"Dia baru aja selesai operasi pendarahan ambeien stadium lanjut. Parah banget sampai komplikasi merambat ke area wajah."

"Bangsat lo, Pan! Gue kagak—" Bimo sudah bersiap meledakkan amarahnya, namun Repan dengan dramatis menepuk-nepuk bahunya.

"Udah, Bim. Jangan banyak bergerak dan banyak omong dulu. Nanti ambeien lo bisa kambuh terus meledak di tempat."

"WOI!!" Bimo nyaris meledak beneran menahan emosi, namun Repan sudah lebih dulu merangkul pundaknya dan menyeret mumi itu pelan menjauh dari area pendaftaran.

Zahra yang menyaksikan interaksi konyol kedua cowok itu tak sanggup lagi menahan tawa. Wajah cantiknya yang semula dibalut awan mendung kini tampak jauh lebih berseri-seri.

Bahkan untuk pertama kalinya sepanjang hari itu, ia benar-benar terkekeh geli. Kehangatan ikatan persahabatan mereka terasa begitu tulus, berhasil mengikis tumpukan beban berat di dalam hatinya.

Repan menghentikan langkahnya sejenak, lalu membalikkan badan menatap Zahra. Ulasan senyumnya terasa hangat, sangat berbeda dari perawakannya yang biasa terkesan cuek.

"Zahra, semoga operasi ibu lo berjalan lancar dan beliau cepat sembuh, ya."

Zahra mengangguk cepat, sepasang matanya kembali berkaca-kaca, namun kali ini bukan karena duka—melainkan pendar rasa terharu yang membuncah.

"Terima kasih banyak, Repan. Aku... aku bakal balas semua kebaikan kamu ini suatu hari nanti."

Repan hanya memberikan anggukan ringan, lalu kembali menyeret Bimo yang masih sibuk membela diri sambil terus menggerutu sepanjang jalan.

"Pan, sumpah demi apa pun gue bakal viralkan muka lo kalau sampai gue beneran kena ambeien gara-gara sumpah serapah lo!"

"Bagus dong. Itu artinya doa tulus gue dikabulkan Tuhan..."

"GUE TABOK LO YA, PAN!"

Suara gelak tawa dan pertengkaran konyol mereka kian samar terdengar, menjauh dari posisi Zahra yang masih berdiri anggun di depan meja resepsionis.

Ia terus mengamati punggung Repan yang perlahan menghilang di balik pintu luar dengan pandangan yang sepenuhnya berbeda... Ada sesuatu yang hangat dan mekar di dalam dadanya—sebuah perasaan manis yang belum pernah ia rasakan sebelumnya pada pria mana pun.

'Repan... dia ternyata baik banget, humoris, dan juga... kelihatan tampan,' batin Zahra diiringi senyuman tipis.

'Eh... apa-apaan sih yang lagi aku pikirin?!' ringis Zahra dalam hati seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pipi yang merona merah.

#NOTE

Waduh, makin seru atau makin bikin gemas, nih? Coba ketik pendapat kalian sekarang!

Supaya aku makin semangat, jangan lupa klik like dan tinggalkan jejak di komentar, ya.

 Aku juga sangat mengharapkan ulasan (review) jujur dari kalian tentang novel ini—bintang dan masukan dari kalian adalah kompas bagi jalannya cerita ini ke depan.

Oh ya, kalau bab ini sukses menghibur kalian, dukung aku lewat gift seikhlasnya, ya. Terima kasih banyak, kalian luar biasa! 🙏❤️

1
Ahmad Wela
dua duanya aja biar seru.
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Hary
cerita anjing... skip and out
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!