NovelToon NovelToon
SHINIGAMI The Shadow Of Hero

SHINIGAMI The Shadow Of Hero

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Fantasi Isekai / Epik Petualangan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad Voltigern

Berlatar di sebuah dunia yang dihantui ramalan Invasi Volgath. Sebuah perang dahsyat ketiga dunia yakni melawan dunia atas, tengah, dan bawah ditakdirkan melawan makhluk asing dari luar dunia. Di tengah bayang-bayang kehancuran, muncul harapan dimana datangnya seorang pahlawan yang ditakdirkan untuk mencabut pedang legendaris dan menyatukan semua ras sebagai harapan terakhir dunia.

Di Benua Gradecya, benua sihir tempat mayoritas penduduknya adalah penyihir, hiduplah Ardius. Terlahir di keluarga penyihir Leonheart yang ternama. Kehadirannya dianggap sebagai aib dan produk gagal karena tak mampu menggunakan tongkat sihir.

Tak goyah oleh takdir yang melanda hidupnya, Ardius berjuang balik melawan takdir itu sambil diam-diam menyimpan rahasia bahwa ia adalah reinkarnasi dari dunia lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 : Adik Yang Baik

Ardius dan kedua sahabatnya kembali ke penginapan pada malam hari seperti biasanya. Malam ini adalah malam keempat dimana mereka kembali pulang ke penginapan setelah dari hutan. Perayaan masih berjalan dengan sangat ramai, orang-orang masih tampak bersukacita dan selama empat malam ini, Gilia tidak pernah sepi.

Hari ini adalah hari yang sangat panjang dan melelahkan. Axel dan Luna terjatuh lemas ke kasur mereka di kamarnya masing-masing dan tertidur dengan sangat lelap. Sementara Ardius malam itu tidak bisa tertidur akibat suara ribut yang berasal dari luar.

Dia melihat kerumunan orang dari jendela. Saat itu langsung muncul rasa penasaran di benaknya. Dia segera mengambil pedang miliknya lalu pergi dari penginapan menuju kerumunan orang-orang tersebut.

Sesampainya di sana, pandangannya disuguhi dua orang asing yang tengah berkelahi. Dari penampilan kedua orang itu, Ardius langsung dapat menebak jika mereka adalah para petualang. Sudah tak heran jika seorang petualang memiliki masalah dengan petualang lain. Orang-orang mengerumuni sekitar, menciptakan baris lingkaran yang menyoraki kedua petualang yang tengah bertarung dengan tangan kosong.

Ardius tidak tahu apakah ini sebuah hiburan atau apa, namun dari reaksi orang-orang tidak ada yang berusaha untuk melerai tetapi sebaliknya malah terhibur dengan perkelahian kedua petualang tersebut. Dia memcoba bertanya kepada seorang warga yang ikut menonton dan dia menjawab bahwa kedua petualang itu memiliki masalah satu sama lain dan akhirnya memutuskan untuk duel tangan kosong secara resmi dengan para warga dan petualang lain sebagai saksi.

Ardius langsung paham apa maksud dari warga tersebut. Namun menonton duel antara dua petualang itu tak membuatnya tertarik. Pemuda berambut hitam tersebut memutuskan untuk pergi mencari sesuatu yang menarik di distrik hiburan sendirian.

Ketika tengah berjalan menuju lift akar, tanpa sengaja ditabrak oleh seseorang yang tampak buru-buru. Ardius dan orang tersebut sama-sama terjatuh. Buah-buahan dari kantong kertas belanjaan yang dibawa oleh orang itu berserakan kemana-mana.

Ardius segera kembali berdiri lalu mengulurkan tangannya kepada orang tersebut. "Kau tidak apa-apa?" tanya dia dengan tenang dan tak menunjukan kemarahan sedikit pun.

Terlihat seorang pemuda seumuran dengannya yang mengenakan seragam biru navy dengan corak merah dan emas yang menunjukan dia adalah orang dari kalangan atas. Rambutnya merah tua dengan mata kuning menyala. Wajahnya terlihat tegas meskipun di sisi lain terlihat sedikit kecerobohan dari wajahnya tersebut.

Pemuda itu melihat Ardius mengulurkan tangan. Ia tak menolaknya dan segera meraih tangan Ardius lalu berdiri. "Aku tidak apa-apa. Maaf karena menabrak secara tiba-tiba!" katanya sambil tersenyum ramah.

"Sepertinya kau sangat buru-buru. Mau kubantu?" ucap Ardius, tatapannya melirik ke arah buah-buahan yang berserakan.

"Ya kau benar... aku sangat terburu-buru. Sekali lagi maaf karena telah merepotkan! Aku sangat menghargai bantuanmu." Pemuda tersebut menerima tawaran bantuan dari Ardius dengan senang hati.

Keduanya segera mengambil kembali buah-buahan yang berserakan dan tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk membersihkan semua buah-buahan tersebut. Ardius memberikan kantong kertas berisi buah-buahan tersebut kepada pemiliknya.

"Sekali lagi terima kasih atas bantuanmu," kata pemuda itu.

"Tidak usah dipikirkan," balas Ardius singkat.

"Ngomong-ngomong siapa namamu?" tanya pemuda tersebut dengan rasa penasaran.

"Namaku Ardius."

Pemuda itu melihatnya dengan tatapan penasaran seolah menunggu kalimat lain terucap dari mulut orang yang dia ajak bicara. Mengetahui hal tersebut, Ardius langsung tahu apa yang dia tunggu.

"Hufh...," dia menghembuskan napas pelan. "Ardius... hanya Ardius saja. Aku tidak memiliki nama belakang."

"Tidak punya nama belakang? Baru pertama kali ini aku mendengar nama orang tanpa nama belakang." Wajah pemuda tersebut terlihat sedikit tertegun. "Ngomong-ngomong namaku Glenvar Flamecrest." Dia mengenalkan dirinya dengan santai dan akrab.

Mata Ardius sedikit menyipit saat mendengar nama pemuda tersebut. Dia tetap tenang dan tak menunjukan emosinya sedikitpun. "Senang bertemu denganmu... Tuan Muda Flamecrest. Maaf jika gaya bicara saya barusan terdengar tidak sopan!"

Glemvar tersenyum ramah dan akrab. Dia mulai berjalan pergi melewati Ardius, namun dia sedikit berbalik ke belakang untuk mengucapkan perpisahan. "Sekali lagi maaf karena merepotkanmu! Aku tidak akan melupakan kebaikanmu. Sampai jumpa, Ardius!" Dia kembali berjalan pergi.

Ardius berbalik. Matanya menangkan sosok Glenvar yang mulai pergi entah menuju kemana.

Glenvar Flamecrest... tidak kusangka aku akan bertemu dengan putra dari bangsawan Duke di tempat ini.

.

.

.

Malam itu jalanan distrik hiburan masih seperti mimpi. Lampu-lampu kristal biru menggantung sepanjang jalan. Tenda-tenda makanan, pertunjukan sihir, dan tawa menciptakan simfoni kebahagian. Selama seminggu ini, kebahagiaan menyelimuti semua orang di Benua Gradecya.

Ardius berjalan senyap dalam keramaian seolah sosoknya tak diketahui. Ia terus berjalan menyusuri jalanan yang terbuat dari kayu pohon raksasa. Sesekali melewati orang-orang dewasa yang tengah mengobrol serta menghindari anak-anak yang berlarian dengan riang dan gembira. Kedua tangannya berada di dalam saku baju dengan aksen kuning keemasan, pedangnya tetap tergantung di pinggang. Mata Ardius kosong seolah tak menemukan sesuatu yang membuatnya tertarik. Langkahnya terus berjalan tanpa henti meskipun tanpa tujuan.

Saat itu, dia mampir ke sebuah kedai roti lalu membeli sebuah roti untuk dia makan selama berkeliling. Tepat saat berbalik ke belakang, di seberang toko roti itu dia melihat adiknya sendiri—Arlena.

Rambut pirangnya tersorot oleh cahaya biru kota. Iaberdiri di tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang. Tak bergerak, hanya menatap langsung ke arah Ardius seolah ia telah menunggunya.

Ketika Ardius melihatnya, dia hendak memutuskan untuk memalingkan pandangannya dan pergi.

"Kakak!" panggil Arlena.

Langkahnya terhenti namun dia tak memalingkan wajahnya ke arah suara itu. Sorot matanya dingin, tubuh tegang, namun suara langkah Arlena yang mendekat membuatnya tak jadi pergi.

"Ini sudah malam... kenapa tidak pulang saja? ucap Ardius dengan pelan namun terdengar menegur.

Arlena menghiraukan teguran halus dari kakaknya. "Kakak... maafkan aku!" ucapnya dengan suara pelan yang hampir tenggelam di dalam kerumunan orang. "Maaf karena aku membawamu kembali ke rumah malam itu... seharusnya aku tahu bagaimana perlakuan mereka kepada Kakak."

Ardius tak menjawab. Kejadian malam itu memang masih membekas dalam hatinya, namun dia benar-benar tidak menyangka jika Arlena akan meminta maaf secara langsung. Pandangannya mengarah ke depan. Dia tak menjawab satu patah kata pun, bukan karena tidak mau namun dia tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada adiknya.

"Kupikir aku bisa memperbaiki semuanya. Aku hanya ingin kita semua bisa berkumpul kembali sebagai sebuah keluarga. Tetapi nyatanya aku hanya menyakitimu lebih dalam," lanjut Arlena, suaranya terdengar rapuh.

Ardius menghembuskan napaa pelan. "Kau hanya ingin melakukan sesuatu yang baik. Namun sesuatu yang baik menurutmu belum tentu baik untuk orang lain." Akhirnya Ardius mulai bicara. "Aku juga salah karena tetap ingin ikut ke rumah. Mungkin jika aku tidak ikut, kejadian malam itu tidak pernah terjadi."

Dia menatap roti di tangannya. Hangat dari roti tersebut perlahan memudar, seperti kenangan yang sudah lama dibiarkan di pojok kepala. Ia tak menatap Arlena, tapi suaranya terdengar lebih pelan, seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Aku tidak marah padamu, Arlena."

Mata adiknya membesar sejenak. Hening mengambang di antara mereka. Lampu kristal biru di atas mereka perlahan memantulkan bayangan lembut di wajah Arlena yang penuh rasa bersalah.

"Aku hanya berusaha untuk menjadi adik yang baik."

Akhirnya Ardius menoleh, hanya sebentar. "Dan kau sudah melakukannya."

Arlena menunduk. Hatinya sedikit lega. Suara ramai festival seperti mengecil untuk memberi ruang bagi percakapan mereka.

"Boleh aku menebusnya?" tanya Arlena pelan. "Mungkin... dengan menemani Kakak jalan sebentar?"

Ardius tidak langsung menjawab. Tapi dia melangkah lebih dulu, pelan—tanpa bicara, tanpa ekspresi yang berubah. Arlena tersenyum kecil lalu mengikutinya. Keduanya berjalan menyusuri jalanan distrik hiburan yang berhiaskan lampu kristal biru yang menggantung di udara.

Suara musik petik terdengar samar dari arah panggung. Sementara di sisi lain, seorang pria tua meniup seruling sihir, membuat gelembung bercahaya menari di udara. Anak-anak mengejarnya, tertawa riang walaupun ini sudah malam.

"Masih ingat waktu dulu kita pernah main ke pasar malam di distrik hiburan?" tanya Arlena tiba-tiba.

Ardius diam sejenak. "Waktu aku sembunyi di balik tong kayu karena takut pada badut yang meledakkan balon?"

Arlena tertawa kecil, tulus. "Waktu itu aku pikir kakakku pemberani. Ternyata takut badut."

"Kau juga kabur saat diminta naik panggung buat baca puisi," balas Ardius dengan nada sedikit mengejek di balik suara datarnya.

Arlena mengangkat alis. "Itu karena sepatuku hilang. Kakak yang menyembunyikannya, ingat?"

"Masih menggunakan alasan sepatu hilang itu? Padahal sudah jelas kau sendiri yang menyembunyikannya supaya punya alasan."

Arlena memalingkan wajahnya yang merah karena malu mengingat kejadian memalukan semasa kecilnya. Ardius menyunggingkan senyum tipis. Tiba-tiba Arlena menghentikan langkah. Dia menatap Ardius, kali ini serius.

"Kak... waktu Ayah dan Ibu bilang hal itu... aku sangat malu. Tapi lebih dari itu, aku marah. Bukan pada mereka... tapi pada diriku sendiri. Aku.. tidak bisa melakukan apapun."

Ardius menatap ke arah tenda permainan. Seorang anak kecil gagal memukul lonceng, tapi tetap tertawa.

"Aku tahu," balas Ardius akhirnya. "Kau tidak perlu merasa bersalah atas sesuatu yang bahkan bukan salahmu."

Arlena menggigit bibirnya, mencoba menahan emosi.

"Jangan memaksa semuanya bisa kembali seperti dulu," kata Ardius pelan.

Arlena mengangguk, matanya sedikit berkaca.

Beberapa detik kemudian, dua wanita berseragam datang—dua pelayan keluarga Leonheart. Wajah mereka dingin seperti salju musim utara. Tatapan mereka mendarat pada Ardius seperti menatap bayangan yang tak diinginkan.

"Nona Arlena," kata salah satu dari mereka, suaranya datar. "Waktu Anda sudah terlalu lama. Mari kami antar pulang."

Arlena menoleh ke Ardius. "Bolehkah... aku mengajakmu bertemu lagi besok?"

Ardius hanya mengangguk singkat. Itu cukup untuknya. Sebelum pergi, Arlena menatap kedua pelayan yang masih menatap Ardius seolah dia penyakit yang tak pantas disentuh. Ardius tidak bereaksi. Tatapannya ke depan, langkahnya santai seolah mereka tidak lebih dari angin yang lewat.

Arlena berjalan bersama para pelayan itu, tapi sebelum benar-benar pergi, dia menoleh lagi. Ardius masih berdiri di tempat, roti di tangannya belum dia makan.

Malam semakin larut. Saat itu Ardius kembali ke penginapan, tetapi bukan untuk beristirahat. Dia memasukan beberapa makanan seperti roti dan air ke dalam sebuah kantong kain yang besar. Dengan langkah kaki pelan, dia pergi meninggalkan penginapan serta kedua sahabatnya yang tengah tertidur lelap.

Dia berjalan di tengah jalan yang sangat sepi. Ardius kembali turun ke distrik hiburan. Bekas suasana dari perayaan seakan masih tertinggal. Tak ada keramaian, toko-toko dan kios tutup, tidak ada tawa penuh kegembiraan. Hanya ada hening dan senyap.

Ardius terus berjalan menuju gerbang keluar kota Gilia. Dia bersembunyi di balik sebuah papan besar bertutiskan "Selamat Datang". Matanya memperhatikan dua orang penjaga yang tengah menjaga gerbang masuk. Ardius mengambil sebuah kristal dari kantongnya lalu melemparnya ke arah rumah warga.

Suara benturan kristal yang menabrak dinding rumah warga menarik perhatian kedua penjaga. Bersama-sama, mereka melangkah menuju sumber suara. Tepat saat itu, Ardius pergi dari kota Gilia dengan senyap dan diam.

Dia terus berjalan di tengah jalanan yang terbuat dari akar pohon Yggdrasilium. Langkahnya terhenti ketika dia mendongak ke arah bulan biru. Setelah menghembuskan napas pelan, Ardius kembali berjalan meninggalkan kota tersebut.

1
Erna Wati
Kereen
Tuxedo Mask
Seru banget deh!
Ahmad Voltigern: Makasih udah baca novel saya kak🙏🥰
total 1 replies
ella ellie
Banyak air mata terbuang untuk cerita ini, tapi worth it!
Ahmad Voltigern: makasih udah baca cerita ini!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!