Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Kamu yakin ingin melakukan ini?" tanya Alex untuk memastikan..
Killian mengangguk. "Kita tidak bisa membiarkan dia menghilang lagi," jawabnya.
"Bagaimana kalau dia menolak ikut?"
Killian menatapnya tajam. "Dia akan ikut," balasnya dingin.
Alex menghela napas. "Kita harus berhati-hati," ujarnya mengingatkan.
"Aku tahu," jawab Killian.
Killian kemudian berjalan menuju jendela. Tatapannya tertuju pada gedung-gedung yang berdiri di kejauhan.
"Dokter itu mungkin satu-satunya orang yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," ujar Killian dengan suara rendah.
Alex mengangguk.
"Kalau dia memang menerima uang dari Dominic," ucap Alex menggantung.
"Vivienne berhak mengetahui semuanya," potong Killian tegas.
Alex terdiam.
Killian mengepalkan tangannya. Selama ini ia memang sering mengejek Vivienne. Ia juga sering menyebut wanita itu bodoh dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk membuatnya kesal. Namun, kali ini berbeda. Ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa tinggal diam.
"Begitu Dokter Malcom keluar dari bandara," ujar Killian sambil menoleh kepada Alex, "jemput dia."
Alex mengangguk. "Baik."
"Jangan sampai dia tahu kita sudah menunggunya," pesan Killian.
"Akan kami usahakan."
Killian kembali menatap ke luar jendela. Wajahnya orang-orang di sekitar mereka tidak menyadari bahwa seorang dokter baru saja dibawa pergi dari tempat itu.
Di dalam mobil, Dokter Malcom duduk kaku di kursi belakang. Wajah pria paruh baya itu tampak pucat. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas paha. Di sebelahnya duduk salah seorang pria suruhan Killian.
Dokter Malcom sempat membuka mulut ketika mobil baru berjalan beberapa meter dari bandara. Namun, sebelum suara apa pun keluar, pria itu membungkuk dan membisikkan sesuatu tepat di telinganya.
Mata Dokter Malcom langsung membesar.
Tubuhnya yang semula tegang perlahan melemas. Ia menelan ludah dan kembali menutup mulutnya Pria di sampingnya menepuk bahunya pelan.
"Tenang saja, Dokter. Kami hanya ingin berbicara dengan Anda," bisiknya. .
"Kalau begitu, kenapa saya dibawa seperti ini?"
Pria itu hanya tersenyum tipis.
"Karena kami tidak ingin Anda membuat keributan di tempat umum." Dokter Malcom kembali terdiam.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah bangunan yang jauh dari keramaian. Alex sudah menunggu di sana.
Begitu pintu mobil dibuka, Alex mendekat.
"Dokter Malcom," sapa Alex dengan tenang.
Dokter Malcom menatapnya penuh kewaspadaan "Siapa kalian?" tanyanya.
Alex tidak langsung menjawab. Ia justru membuka pintu bangunan tersebut.
"Masuklah. Ada seseorang yang ingin berbicara dengan Anda. "Saya tidak mau," jawab Dokter Malcom tegas, meskipun suaranya masih terdengar gugup.
Alex menatapnya beberapa detik. "Kalau begitu, kita bisa berdiri di sini sampai pagi."
Dokter Malcom menghela napas panjang.
Ia tahu tidak ada gunanya melawan.
Akhirnya, ia melangkahkan kaki masuk. Di tempat lain, suasana di Laurent Group mulai berubah.
Sejak pagi, beberapa karyawan terlihat berbisik-bisik di lorong. Mereka berhenti berbicara setiap kali melihat seseorang dari jajaran manajemen berjalan mendekat.
Dominic yang baru keluar dari ruangannya langsung menangkap suasana aneh tersebut. Ia menghentikan langkah ketika mendengar dua orang karyawan berbicara pelan di dekat mesin kopi.
"Aku dengar bagian keuangan sudah diminta menyiapkan semua laporan," ujar seorang karyawan.
"Serius?" tanya rekannya sambil menoleh ke kanan dan kiri.
"Iya. Katanya akan ada audit."
Dominic yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung menegang. "Apa yang kalian bicarakan?" tanya Dominic tiba-tiba.
Kedua karyawan itu langsung terkejut.
"T-Tuan Dominic!" seru salah seorang sambil menundukkan kepala.
Dominic berjalan mendekat. "Audit apa?" tanyanya dengan tatapan tajam.
Karyawan itu tampak gugup. "Saya juga tidak tahu pasti, Tuan. Kami hanya mendengar kabar."
"Siapa yang memerintahkan?" tanya Dominic lagi.
Keduanya saling berpandangan.
"Katanya dari manajemen atas," jawab karyawan lainnya dengan suara pelan.
Dominic tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia langsung berbalik dan berjalan cepat menuju ruangannya.
Begitu pintu tertutup, ia mengunci dari dalam. Napasnya terdengar berat. "Audit?"
Dominic berjalan mondar-mandir di dalam ruangan. Tangannya beberapa kali mengusap wajah. Selama setahun terakhir, ia memang memiliki akses yang cukup luas terhadap keuangan perusahaan.
Semua itu terjadi karena Vivienne mempercayainya. Dahulu, setiap kali Dominic membutuhkan dana untuk berbagai keperluan, ia hanya perlu memberikan alasan bahwa uang tersebut telah disetujui oleh Vivienne.
Tidak ada yang berani mempertanyakan. Tidak ada yang berani meminta tanda tangan langsung dari Vivienne. Dominic memanfaatkan kepercayaan itu. Sebagian uang digunakan untuk membantu keluarganya. Sebagian lainnya digunakan untuk menyenangkan Giselle.
Ada pula yang dipakai untuk mentraktir teman-teman dan rekan bisnisnya. Jumlahnya tidak sedikit.
Awalnya Dominic menganggap semuanya tidak masalah. Toh, ia adalah suami Vivienne. Perusahaan itu juga berada di bawah kendali istrinya.
Namun sekarang, semua terasa berbeda. Dominic teringat bagaimana beberapa orang di bagian keuangan mulai meminta dokumen tambahan ketika ia hendak menggunakan dana perusahaan.
Ia juga teringat perubahan aturan yang membuat kewenangannya semakin terbatas. Dan sekarang muncul kabar tentang audit.
Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
"Jangan-jangan ...!" gumam Dominic. Ia berhenti berjalan. Matanya tertuju pada meja kerja.
"Jangan-jangan mereka mulai memeriksa semua pengeluaran selama ini."
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
dasar keluarga parasit 😡😡😡
dasar lintah darat 😡😡