NovelToon NovelToon
Selingkuh With Bocah

Selingkuh With Bocah

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:18.5k
Nilai: 5
Nama Author: Marica

Dikhianati oleh suami dan adik sepupunya sendiri membuat dunia Intan Kalista Atmaja hancur. Namun ia tetap mencoba untuk kuat. Sampai dirinya dipertemukan dengan Giovanni Abiyan Prayoga, laki-laki yang umurnya lebih muda delapan tahun darinya.

Pertemuan awal yang tak mengenakan membuat keduanya saling membenci. Namun siapa sangka, Pemuda itu justru membawa delima pada Intan saat kenyamanan mulai tumbuh dalam hatinya.

Akankah mereka bersama atau justru Giovanni hanya dijadikan pelampiasan oleh Intan?

Yuk ikuti ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SWB chapter 8

Intan dalam perjalanan ke rumah orang tuanya. Ia berkendara sendiri dalam keadaan hati yang dipenuhi oleh amarah. Tangannya menggenggam erat setir mobil sampai buku-buku jarinya memutih. Setiap kali mengingat obrolan Ilham dan Talia yang tak sengaja ia dengar, dadanya kembali bergejolak. Terlebih lagi, pernyataan Talia yang mengharap kehadirannya di pernikahan mereka membuat darahnya mendidih.

"Apa dia gila?" gumam Intan dalam hati. Suaranya nyaris pecah oleh emosi yang tertahan.

Namun di balik itu, terselip rasa cemas yang tak terkalahkan. Beberapa menit yang lalu ia mendapatkan kabar jika ibunya jatuh sakit. Tanpa pikir panjang Intan langsung pergi meninggalkan rumah, tak peduli dengan Ilham dan Talia.

Jalanan kota mulai dipenuhi oleh kendaraan. Deru mesin dan klakson saling bersahutan, menambah kekesalan yang menumpuk di dadanya. Mobil Intan melaju tersendat di antrian panjang kendaraan. Dengan sabar atau lebih tepatnya mencoba untuk bersabar Intan menekan gas dan rem secara bergantian.

Sesekali ia menarik napas panjang untuk mencoba menenangkan diri, tapi setiap kali wajah Ilham dan Talia melintas di benaknya rasa sesak kembali menghantam. "Kenapa aku harus menghadapi masalah seperti ini ..." bisiknya pelan, matanya menghadap jalanan di depannya yang masih sangat padat.

Hampir satu setengah jam Intan berkutat dengan padatnya jalan. Klakson bersahut-sahutan membuat kepalanya terasa pening. Ia hanya ingin sampai, tetapi jalan seolah tak kunjung memberinya celah. Setiap menit terbuang, menambah perasaan khawatir di dadanya. Jantungnya berdegup dengan kencang, seolah berpacu dengan waktu.

Akhirnya setelah melewati perjalanan yang panjang ia sampai di rumah bergaya klasik modern milik orang tuanya. Rumah yang didominasi dengan warna putih, dikelilingi oleh pagar dan pohon cemara lilin yang berjejer rapi.

Mobilnya berhenti tepat di depan gerbang yang menjulang berwarna hitam. Ia menarik napas panjang mencoba untuk menenangkan diri. Namun rasa cemas masih menguasai dirinya. Dengan cepat ia membunyikan klakson untuk memanggil penjaga rumah.

Tak lama kemudian, seorang penjaga datang, muncul dengan wajah sedikit panik. Dengan segera penjaga itu membuka pintu gerbang dan membiarkan Intan masuk.

Intan yang segera melajukan mobilnya, tanpa sempat membalas sapaan penjaga itu. Setelahnya, Intan menghentikan laju mobilnya di halaman yang teduh.

Begitu berhenti Intan langsung keluar tanpa menunggu mesin benar-benar mati. Tumit sepatunya mengetuk lantai dengan cepat saat ia bergegas menuju pintu utama.

Seorang pelayan perempuan muncul dari dalam, wajahnya terlihat lega sekaligus canggung. "Mba Intan ... sapanya pelan.

"Di mana mama?" tanya Intan cepat tanpa basa basi. Suaranya terdengar tegas, tetapi di baliknya ada kekhawatiran yang mendalam.

"Beliau berada di kamar," jawab sang pelayan dengan hati-hati.

Tanpa menunggu apa pun lagi Intan langsung berjalan menaiki tangga besar menuju lantai atas. Suara langkahnya menggema di rumah yang terasa sunyi itu. Di setiap anak tangga yang ia lewati dipenuhi dengan bayangan ibunya, mungkin beliau sedang lemah, terbaring, atau bahkan mungkin sedang menahan sakit.

Hatinya tiba-tiba mencelos. Kini ia hanya menginginkan satu hal yaitu melihat ibunya dalam keadaan baik-baik saja.

Intan sampai di lantai atas, berjalan pelan namun pasti di atas lantai marmer yang mengkilap oleh cahaya matahari yang masuk melewati jendela kaca.

Langkahnya terhenti saat ia sampai di depan kamar ibunya. Tangannya sedikit bergetar saat Intan mengenggam gagang pintu kamar ibunya. Ia menarik napas dalam-dalam menenangkan debaran jantung yang terasa semakin kencang. Begitu pintu dibuka, aroma lembut pengharum ruangan menyeruak. Tatapan Intan langsung tertuju pada wanita paruh baya yang sedang duduk bersandar dengan senyuman di bibirnya. Dia adalah Nindi, ibu kandungnya.

"Intan ..." Suara Nindi terdengar serak, nada bicaranya penuh kasih sayang.

"Ma ..." ucap Intan lirih.

Seketika matanya memanas, seluruh amarah yang tadi memenuhi dadanya perlahan berganti dengan rasa haru. Ia mendekat, duduk di sisi ranjang, lalu mengenggam tangan ibunya yang terasa dingin. "Mama baik-baik saja?"

Nindi mengangguk. "Apa kabarmu?" tanya Nindi dengan nada lembut seolah lupa pada sakitnya sendiri. "Kamu sudah makan, Nak?"

Pertanyaan sederhana itu justru membuat dada Intan sesak. Ia menunduk, menahan air mata yang hampir tumpah. "Aku baik-baik saja, Ma. Maafin Intan jarang sekali datang nengokin Mama."

Nindi tersenyum kecil. "Tidak apa-apa. Mama tahu kamu pasti sibuk mengurus suamimu."

Dada Intan bertambah sesak saat harus kembali mengingat Ilham. Pria yang sudah membuat hidupnya nyaris hancur. Bukan hanya itu saja, masalah yang sedang dihadapinya menyita perhatiannya. Ia jarang menghubungi ibunya. Kini, rasa bersalah itu menyesak di dada.

"Sekali lagi Intan minta maaf. Tapi sekarang Intan di sini. Intan akan mengurus Mama."

Nindi mengeleng. "Kamu sekarang sudah menjadi milik Ilham. Kami harus tetap fokus pada Ilham. Di sini Mama banyak yang menjaga."

"Mama ..." Intan mengenggam erat tangan Nindi. "Mas Ilham pasti bisa ngertiin situasinya," imbuhnya disambut anggukkan oleh Nindi.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan, hanya suara detik jam dinding dan hembusan lembut pendingin ruangan yang terdengar. Intan masih menggenggam tangan ibunya sementara pikirannya berkelana ke banyak arah, tentang Ilham tentang Talia, tentang semua hal yang membuat hidupnya terasa kacau belakangan ini.

Sementara Nindy menatap wajah putrinya yang nampak lelah, garis halus di kening Intan kini begitu jelas. "Kamu kenapa? Apa ada masalah?" tanyanya pelan.

Pertanyaan ibunya membuat lamunan Intan menjadi buyar. Senyum kecil tergambar di wajahnya, mencoba terlihat jika semuanya baik-baik saja.

Intan menggeleng, ia menatap ibunya. Mencoba tersenyum tapi bibirnya hanya bergetar. "Tidak ada apa-apa, Ma. Aku cuma merasa lelah saja."

Senyum lembut muncul di wajah Nindi. "Kamu tidak perlu bohong, Nak. Mama ini memang tidak sekuat dulu, tapi masih bisa melihat dari matamu. Ada sesuatu yang kamu sembunyikan."

Intan menggeleng untuk mengelak. "Tidak ada yang Intan sembunyikan dari Mama."

Nindi hanya mengangguk dengan senyuman kecil tergambar di bibirnya. Setelahnya ia menumpuk tangannya di atas tangan Intan. "Jika kamu ada masalah katakan sama Mama."

Intan mengangguk. "Iya, Ma. Mama tenang saja."

TOK TOK TOK

Obrolan mereka terhenti oleh suara ketukan pintu. Keduanya melihat ke arah pintu, seorang asisten rumah tangga di rumah itu datang membawa nampan di tangannya berisi makanan dan minuman untuk Nindi.

"Permisi, Mba Intan. Saya buatkan bubur untuk ibu Nindi," ucapnya.

Intan mengangguk. "Letakan di sini!" Intan menunjuk meja nakas di samping tempat tidur. "Biar saya yang menyuapi mama. Mba Ida kerjain tugas lain saja."

Asisten rumah tangga bernama Ida itu melakukan apa yang diperintahkan oleh Intan. Setelahnya pergi meninggalkan keduanya.

"Ma, ayo Intan suapi," kata Intan disambut anggukkan oleh Nindi.

Intan menyendok bubur. Lebih dulu memastikan suhu bubur aman baru mendekatkan ke mulut ibunya. Nindi lantas membuka mulutnya.

"Ma ... Mama sebenarnya kenapa kenapa tiba-tiba Mama jatuh sakit?" tanya Intan seraya kembali menyuapi ibunya.

Nindy terdiam menjeda untuk menjawab pertanyaan Intan. "Kemarin ada yang menelpon Mama mengatakan jika suamimu berselingkuh."

DEG

Spontan gerakan Intan terhenti, tetapi detak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Intan terkejut, isi kepalanya langsung berputar mencoba menebak-nebak siapa kira-kira yang menelpon ibunya.

1
sunshine wings
Storynya bagus
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️
ig: Marica_Author
siap kak 🥰
Arinawati Rina
lanjut dong kak lgi seru nich
ig: Marica_Author
insyaAllah ya kak. tak tamatin yang satu dulu🙏
Yuli Yulianti
up nya sering sering dong thor
Yuli Yulianti
sudah waktu nya kamu jujur intan biar mm mu tau kebejatan Ilham ..
Happy Kids
terlalu jaga perasaan jd nya dibalik kan sama suamimuu wkwkwkw harusnya nindi ttp dikasi tau
sunshine wings
Bukan menggalakkan perselingkuhan tapi kalo keadaan sudah begini.. Hubungan suami isteri gak boleh diselamatkan lagi lebih baik berpisah.. Berpoligami benar tapi kalo gak adil sama juga boongnya..
sunshine wings
Yes.. Kebenaran itu adalah hakiki.. 🥰🥰🥰🥰🥰
sunshine wings
Mangkanya Intan.. Terus terang pada ibumu.. Menjelaskan secara perlahan² jadi gak kaget..
sunshine wings
benar apa kata Gio, Intan..
sunshine wings
Kenapa ndak jelaskan pada mamamu duduk perkara yg sebenarnya Intan supaya mama lebih mengerti.. Terus terang jangan sembunyikan.. Jadi ada solusinya..
sunshine wings
Satu aja caranya Intan.. Rumah itu dijual..
sunshine wings
Suami dayus..
sunshine wings
Siapa yg mau sisa biarpun dibolehkan poligami itu.. Jijik rasanya.. 🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️
sunshine wings
Ya terserahlaa mas.. tp ikut jalan masing²..
sunshine wings
Wow.. Gio udah menunjukkan rasa.. 😍😍😍😍😍
sunshine wings
🥰🥰🥰🥰🥰
sunshine wings
🤭🤭🤭🤭🤭🥰🥰🥰🥰🥰
sunshine wings
Hati Gio udah tersangkut..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!