Alone Claney hidup dalam kesendirian seperti namanya. Ibu suri yang terpikat padanya pun menjodohkan Alone dengan putra mahkota, calon pewaris tahta. Tak seperti cerita Cinderella yang bahagia bertemu pangeran, nestapa justru menghampirinya ketika mengetahui sifat pangeran yang akan menikahinya ternyata kejam dan kasar.
Karena suatu kejadian, seseorang datang menggantikan posisi pangeran sebagai putra mahkota sekaligus suaminya. Berbeda dengan pangeran yang asli, pria ini sungguh lembut dan penuh rasa keadilan yang tinggi. Sayangnya, pria itu hanyalah sesosok yang menyelusup masuk ke dalam istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yu aotian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Manusia Tanpa Kehendak Berkuasa
"Busana ini ternyata sangat cocok di badanku. Apa ini milik ibumu?"
Dia tak menjawab melainkan terus menatapku hingga membuatku sedikit salah tingkah. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Dia masih termangu di hadapanku.
Untuk memangkas sunyi yang tak wajar ini, aku lantas berkata, "Apa aku boleh langsung beristirahat?"
Seakan tersadar dari lamunannya, ia mengangguk dan langsung bergerak cepat mengambil posisi di depan kanvas lukisan yang belum selesai.
Aku langsung membaringkan tubuhku dalam posisi menyamping dan membelakanginya. Kurasa aku benar-benar lelah karena otakku tak bisa memikirkan apa pun. Mataku pun menutup dengan perlahan.
Kelopak mataku terbuka secara bertahap, pemandangan pertama yang masuk ke retinaku adalah langit-langit bernuansa kayu. Butuh lima detik untuk menyadari bahwa aku sedang di kediaman Bright. Kuedarkan pandangan ke sekeliling ruangan sampai kudapati pria itu tengah serius menghaluskan patung setengah badan. Rambut depannya yang berhamburan, justru menambah kesan maskulin.
"Apa kau tidak tidur semalaman?" Aku mencoba membuka obrolan.
"Aku harus menyelesaikan pesanan yang akan diambil hari ini," jawabnya tanpa menoleh ke arahku.
Ternyata dia menghasilkan uang dari membuat karya seni. Tampaknya bakat ini diturunkan dari ibunya. Aku ingat, saat pertama kali mengunjungi paviliun ibu suri Anne, ada beberapa koleksi lukisan yang terpajang di sana. Ibu suri mengatakan itu adalah hasil karya ibu pangeran Julian. Itu artinya, bakat seni ibunya menurun padanya.
Dengan kesibukannya seperti ini, dia cukup hebat karena bisa memimpin kelompoknya menggagalkan usaha pejabat yang hendak melakukan penyelundupan dan pencucian uang.
"Jika tubuhmu sudah bugar, sebaiknya kau segera pulang. Para pengawalmu sudah menunggu di luar sedari tadi."
Aku terkesiap dan segera menoleh ke jendela yang berada tepat di samping tempat tidurku. Ternyata benar, Theo, Ciro dan Sam tengah berdiri di depan sana. Aku menutup mata rapat-rapat seraya menggigit bibir bawahku. kenapa mereka tidak mendengarkan perintahku untuk tetap berada di sana dan menunggu sampai aku berhasil membujuk pria ini?
Aku lantas menoleh ke arahnya, sambil berkata dengan pelan, "Bagaimana aku bisa pulang ke istana jika kakiku bahkan tak bisa kugerakkan."
"Apa perlu kugendong dan membawamu masuk ke dalam keretamu? Jangan biarkan pengawalmu menunggu terlalu lama di luar."
Bibirku mengerucut seketika. Kenapa dia terus mengusirku?
Saat dia hendak menuju ke arahku, aku segera membungkuk dengan kedua tangan yang berpegangan di perutku. "Akh ... akh ... perutku sakit sekali. Kepalaku juga serasa berputar-putar."
Lima belas menit kemudian, aku menggeliat di atas kasur sambil sesekali merintih kesakitan.
"Agh, sakit sekali!"
Ketiga pengawal yang berada di sisi ranjang, tampak panik dan kelimpungan. Mereka bahkan hendak mencari dokter di desa ini. Namun, aku segera mengedipkan mata ke arah mereka, sekadar memberi kode kalau ini hanya sandiwara belaka. Seolah tahu apa yang harus mereka lakukan, ketiga pengawalku lantas menoleh ke arah Bright yang sedari tadi masih fokus dengan patung pahatannya.
"Pangeran, sebaiknya biarkan nona Alone beristirahat di sini sampai kesehatannya pulih," pinta Theo.
"Aku bukan pangeran!" ketus bright.
"Benar, Pangeran. Jika kami memaksa, takutnya kesehatan nona semakin memburuk," imbuh Ciro.
"Ya, Pangeran. Biarkan Nona kami tetap di sini. Perjalanan pulang sangat jauh," timpal Sam.
"Sudah kubilang aku bukan pangeran! Jangan terus memanggilku dengan sebutan itu!" gerutu Bright.
Hanya butuh waktu lima jam untuk malam kembali menurunkan tirainya. Sementara sudah sekitar enam jam pria itu pergi meninggalkan aku seorang diri di rumahnya. Aku bangkit dari ranjang kemudian beringsut pelan, menjejaki kaki di lantai kayu yang dingin.
Aku menilik satu per satu hasil karya seninya. Salah satu lukisan yang berisi dua siluet anak lelaki itu menarik perhatianku. Di depan siluet tersebut ada pilihan jalan yang berbeda. Pandanganku lalu terarah pada sebuah lukisan yang tertutupi kain di belakangnya. Penasaran, aku pun hendak membuka penutup kain di lukisan tersebut. Namun, baru saja jemariku menyentuhnya, suara pria itu menyambar telingaku.
"Kakimu sudah sembuh?"
Bahuku terangkat tiba-tiba. Aku membalikkan badan dengan anggun sambil tersenyum tipis.
"Iya, kakiku sudah lumayan sembuh. Tapi ...." Aku menekuk kepala sambil memegang ujung pelipisku, "kepalaku masih serasa berputar-putar."
"Kalau begitu kau seharusnya tidak berjalan-jalan seperti ini!"
"Ya, aku mau kembali beristirahat!" Baru saja hendak beranjak, mataku justru teralihkan pada tetesan darah yang mengalir dari tangannya. "Tanganmu berdarah!" ucapku sambil mencoba menyentuh tangannya.
Dia buru-buru menyembunyikan lengannya ke belakang. "Bukan masalah!"
Aku memerhatikan kostum yang ia kenakan saat ini. Persis dengan semalam saat ia dan kelompoknya menyerang keretaku. Itu artinya, ia baru saja melakukan aksinya. Dia duduk, membuka jubah hitamnya lalu mulai membalut luka di lengannya.
"Fakta kehidupan adalah kekuasaan. Setiap kehendak yang dilakukan oleh manusia tidak lain adalah agar mereka terus mendominasi hal-hal di bumi ini," ungkapku seketika.
"Jangan memulai membicarakan hal yang tidak ingin kudengar!" cetusnya dengan menampilkan raut tak nyaman.
"Aku sedang membicarakan isi buku ini!" Aku menunjuk buku tebal yang terletak tepat di samping meja kerjanya. "Kehendak untuk berkuasa. Itulah gagasan utama dari seorang pemikir besar Friedrich Nietzsche yang dituang dalam buku itu."
(Ket. Friedrich Nietzsche seorang filsuf Jerman abad ke 19)
Bright menoleh ke arahku dengan bibir yang terkatup rapat. Dia seakan tengah menanti apa yang akan kukatakan lagi.
"Namun, kau berbeda. Kau memilih menjauh dari kekuasaan yang sangat bisa kau raih dan membiarkan saudaramu yang menjadi pemilik kekuasaan itu. Meski begitu, kau tak sungkan membantunya mendapatkan kekuasaan yang ideal di mata rakyat. Memerangkap para pejabat yang berkhianat pada kerajaan adalah bagian caramu mendukungnya meski kau tak ikut serta masuk di lingkaran pemerintahan."
"Jangan asal menebak!" ucapnya sambil memandang lurus ke jendela.
"Aku hanya berbicara sesuai isi lukisan itu!" Kini aku menunjuk lukisan yang menampilkan dua siluet anak laki-laki yang memilih jalan mereka masing-masing.
"Isi lukisan bisa diinterpretasi siapapun, tapi hanya seniman itu sendiri yang tahu makna dari karyanya," tampiknya sambil berdiri setelah selesai membalut lukanya.
Ketika dia berbalik membelakangiku, aku lantas berkata, "Amat disayangkan ... apa yang kau dan kelompokmu lakukan ini justru dianggap sebagai pemberontakan."
Seketika, Bright menoleh cepat ke arahku. "Aku tak pernah ingin memberontak!" tegasnya lagi.
"Tapi, dia dan orang-orang di sisinya menganggap tindakan kalian adalah sebuah pemberontakan. Seperti yang sudah kukatakan, setelah menikah dia akan menjadi Duke. Jika dia benar-benar menjadi penguasa di daerah ini, maka semua usahamu selama ini akan sia-sia. Akan ada pertumpahan darah di wilayah ini karena dia ingin memberantas kelompok yang dianggap membuat gaduh dan mengancam kerajaan. Aku khawatir, rakyat yang tak bersalah akan dikambinghitamkan para prajurit jika mereka gagal membasmi kalian."
Aku bisa melihat ada perubahan pada air mukanya saat ini. Kesempatan ini kugunakan untuk membuka penawaran padanya.
"Tapi ... jika kau yang mengambil alih perannya ... sehari saja kau menjadi Duke, hanya sehari ... kau bisa mengubah semua sistem dan tatanan hukum yang semena-mena dan menguntungkan pejabat. Kau bisa menangkap dan mengadili para pejabat yang korupsi tanpa melakukan aksi yang mengancam keselamatan dirimu dan kelompokmu. Kau juga bisa membuat kebijakan yang bermanfaat dan adil bagi rakyat," lanjutku sambil menancapkan tatapan ke arahnya.
.
.
.
Like dan komeng
pastinya luar dalam dilayani🤭
Bgmn y Bright memperlakukan Barbara serba salah y......
dan selanjutnya apa yang akan terjadi...Kooong
Pangeran bright.....,, waspada,, hati2 jangan smpe si batubara mencurigaimu....