Ada pepatah terkenal, "Jangan menilai seseorang dari luarnya."
Theodore Arvan Ilyas. Semua wanita akan setuju kalau dia tampan bak jelmaan malaikat. Namun, apakah hatinya juga sebaik malaikat? Sayangnya iya. Itulah yang membuat Farah merasa dirinya tak pantas untuk sekedar berharap Theo melihat ke arahnya.
Karya kedua setelah Hutang Kepada Mr. Devil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngengat
“Farah, look at me.” Cih Theo jijik mendengar kalimat yang sempat terpikirkan akan dia katakan kepada Farah. Seakan-akan dia mengemis perhatian Farah. Theo tak mungkin bisa mengatakan kalimat bucin seperti itu.
“Kamu gak haus?” Akhirnya pertanyaannya itu yang Theo ajukan.
Farah memegang mug yang ada di depannya. “Aku udah ambil minum, nih masih ada.”
Gagal. Theo tak bisa membuat Farah melihat ke arahnya lagi.
Farah menghindarinya. Farah sedikit terusik dengan keberadaan Theo, ralat bukan sedikit terusik. Amat sangat terusik sekali. Farah terbiasa melihat model yang berpakaian super mini selama bekerja di dunia modeling, tapi Theo .... Bagaimana bisa ia menghindarkan diri dari pesona tubuh sempurna miliknya? Farah percaya kalau Theo tak perlu susah payah mengejar perempuan. Cukup berbaring seperti ini dan taruh dompetnya di depan para wanita. Mereka akan berlomba-lomba menari di hadapannya hanya untuk menarik perhatian Theo. Mungkin mereka juga dengan suka rela melemparkan diri ke tubuh Theo meskipun hanya mendapatkan kenikmatan sekali ....
“Stop!” seru Farah pada dirinya sendiri, “Sial!” Berada dalam satu ruangan dengan Theo membuat pikirannya jadi tidak sehat. Farah harus segera pergi dari tempat itu.
“Hoaaaammm.” Farah menguap dan menyeka ujung matanya yang sedikit berair. Ia melihat benda bulat pipih yang tertempel di dinding lalu sekali lagi ia harus menghadapi tantangan untuk melihat ke arah Theo. “Sorry, Theo aku tidur dulu ya. Besok hari terakhir, aku seharusnya gak terjaga sampai selarut ini.”
Theo tak menjawab kalimat Farah, dia terlihat bingung. Farah segera berdiri untuk mengembalikan buku ke raknya semula. Ia tak perlu menoleh ke belakang agar tahu kalau Theo mengikuti langkahnya. Bulu halus di tengkuknya berdiri, sudah cukup menjadi tanda. Farah jadi heran, sebenarnya Theo ini jelmaan malaikat apa setan?
Setelah Farah mengembalikan buku itu di tempatnya semula, ia berbalik dan ....
“Oh sorry.” Badan Farah menubruk Theo yang berdiri terlalu dekat dengannya. Theo memegang pinggang Farah agar dia tidak jatuh. Tapi Farah ragu, bagaimana Theo bisa bergerak secepat itu, atau jangan-jangan dia sudah memperkirakan bahwa ini akan terjadi? Seperti scene-scene drama romantis yang sering ia tonton.
Farah meringis. “Tentu saja!” tukas Farah dalam hati. Theo pasti sudah sangat berpengalaman dengan wanita. Dengan wajah tampan bak malaikat, tubuh yang terpahat sempurna, dan kekayaan yang tidak akan habis sampai tujuh turunan. Wanita mana yang tidak klepek-klepek di dekatnya?
Farah harus segera melepaskan diri dari Theo. Posisi mereka terlalu bahaya. Farah tidak yakin kalau beberapa detik lagi pikirannya masih bisa beroperasi dengan baik. Tubuh Theo terasa hangat dan ototnya keras menekan pinggangnya yang ramping. Jika tatapan Theo saja mampu melumpuhkan syarafnya, maka tubuh Theo mampu membuat Farah tersengat aliran listrik jutaan volt dan memercikkan api yang Farah tahu api itu bisa membakarnya habis.
“Are you OK?” tanya Theo dengan suara serak.
Farah merenggangkan diri dari pelukan Theo, secepatnya.
“Maaf,” jawabnya singkat lalu segera pergi dari sana. Farah mempercepat langkah agar sampai ke kamarnya dan menutup pintu. Farah segera menjatuhkan diri ke atas ranjang dan mengatur napas. “Semoga mukaku gak merah tadi,” ujar Farah sambil memegang pipi-pipinya.
Sedangkan Theo, ia mengumpat di tempatnya melihat Farah dengan langkah cepat menghindarinya. Theo yakin kalau Farah menghindar darinya. Bukan tak peduli karena dasarnya Farah cuek, tapi gadis itu benar-benar menghindarinya.
Wanita itu seperti ngengat yang menghindari api. Sangat tidak wajar. Biasanya ngengat akan mendekat ke arah api. Ia akan suka rela mengorbankan dirinya dilalap api agar bisa mendapatkan kehangatan. Tapi Farah ....
“Kau bodoh, Theo!” rutuk Theo pada dirinya sendiri. Ia meremas dan menjambak rambutnya sendiri. Kini ia sudah sampai ke kamarnya dan benar-benar menyadari kesalahannya. Farah bukan sembarang wanita. Bagaimana bisa ia menyamakan Farah dengan para wanita di luar sana yang seketika rela menjadi ****** hanya untuk mendekati Theo dan merasakan satu malam panas dengannya?
Untung saja selama ini Theo selalu berhasil kabur dari tiap pesta, ia tak tahu bagaimana kondisinya kalau sampai dia terlalu lama berada di sana. Mungkin bangun pagi hari dalam keadaan telanjang di samping seorang wanita yang dia tidak ingat namanya. Di sebuah hotel yang Theo juga lupa kapan mereka ke sana.
Theo sering mendengar scene cerita menjijikkan semacam itu dari para bachelor yang terpaksa jadi temannya. Ah terbalik. Theo terpaksa menjadi teman mereka hanya untuk menjaga imej bisnisnya. Mereka sudah menganggap Theo sebagai bagian dari lingkaran pertemanan mereka atau mereka yang terlalu percaya diri menceritakan aib mereka. Entahlah Theo tidak seberapa paham. Sehingga mereka tanpa malu bercerita tentang petualangan panasnya tiap malam.
Apa menariknya berhasil membuat seorang wanita random tidur dengan mereka? Berganti-ganti wanita tiap malam. Kadang sampai dua atau tiga wanita dalam satu malam. Apa mereka tidak takut AIDS? Meskipun mereka memakai ******, tapi Theo pernah membaca kalau ukuran virus itu sangat kecil dan masih bisa menembus kulit ****** karena saat dipakai permukaan kulit tipis itu meregang dan pori-porinya membesar jadi tubuh virus bisa melaluinya. Bahkan Theo juga dengar cerita kalau kadang mereka lupa memakainya karena terlalu mabuk. Mereka tak ambil pusing karena si cewek bisa pakai pil plan B untuk mencegah kehamilan. Tetap saja Theo merasa mereka irasional.
Jadi, bagaimana bisa Theo bersikap brengsek seperti tadi dan menggoda Farah dengan cara yang semula ia anggap menjijikkan? Farah terlalu berharga untuk diperlakukan seperti itu. Theo sangat menyesali perbuatannya.
Ia berjanji pada dirinya sendiri akan meminta maaf kepada Farah. “Dinner? Yaa dinner ide yang bagus. Farah berhak mendapatkan pengalaman dinner terbaik di New York,” janji Theo pada dirinya sendiri sebelum tidur.
*****
Pagi menjelang dan Theo sudah bersiap dengan rapi di meja untuk sarapan. Farah dan Sammy akhirnya keluar dari kamar dan Theo sudah ancang-ancang meminta bicara berdua dengan Farah sebelum mereka berangkat kerja.
“Mmm sup makroni ini enak,” gumam Sammy pada makanannya. “Sayang sekali ini jadi sarapan terakhir kita di New York. I'm gonna miss this.”
Theo mengerutkan dahinya. “Terakhir?”
“Hm em. Soalnya penerbangan kembali ke Indonesia nanti sore.”
“Bukannya besok?” tanya Theo lagi. Seingatnya Gwen memberitahu kalau mereka akan di New York selama satu minggu dan itu berarti sampai besok.
“Rencana awal emang begitu, tapi gue ada acara gala dinner jadi tidak bisa mendadak pulangnya.”
Theo jadi berpikir ulang tentang rencananya untuk mengajak Farah dinner. “Apa tidak bisa diundur besok pagi?” tanya Theo.
“Tiketnya udah dibeli dan gue gak bisa ngelewatin gala dinner itu. Gala dinner itu adalah acara yang diselenggarakan pemerintah.”
besttt
semangat author 💞💞💞💞💞💞💞
kebayang g sih wajah Zach yg ituuu truss senyum2 gaje🤣🤣
bumi kepada othor
bumi kepada othor
tapii
Theo nya kurang gahar dikit
ganteng pinter tapi kok aga be... dlm mslh asmara sich
gemeshh dweh
thd siapa saja
terutama anak dan pasangan kta
kan cerita ini ada mafia2nya juga.