Pernikahan yang Ayra perjuangkan selama bertahun-tahun ternyata hanyalah kebohongan yang dibungkus cinta.
Dia begitu mencintai Arga, suaminya. Pria itu terlihat sempurna dimatanya—dewasa, perhatian, dan selalu mampu membuat Ayra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Hingga suatu hari, semuanya hancur dalam sekejap.
Ayra menemukan fakta menyakitkan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Arga. Suaminya ternyata memiliki wanita lain dibelakangnya. Bukan orang asing… melainkan sekretaris pribadinya sendiri.
Yang lebih menghancurkan, hubungan terlarang itu telah melahirkan seorang anak laki-laki.
Anak yang selama ini Ayra rawat sepenuh hati. Anak yang dia peluk setiap malam. Anak yang dia anggap sebagai pelipur lara karena rumah tangganya belum juga dikaruniai buah hati.
Namun nyatanya… putra kecil itu adalah darah daging suaminya bersama wanita simpanannya.
Hati Ayra runtuh seketika. Semua kasih sayang, pengorbanan, bahkan cintanya terasa dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 ~ Menghancurkan Tanpa Menyentuh
Setelah beberapa saat perjalanan, mobil Bima akhirnya berhenti tepat didepan butik milik Ayra. Pria itu mematikan mesin mobilnya, lalu menatap wajah Samuel yang tampak tenang sejak tadi.
"Tuan kecil, kita turun dulu, ya?" ucap Bima.
"Apa Mama Ayra ada disini?" tanyanya antusias.
Bima mengangguk. "Iya, Mama Ayra ada didalam,"
Samuel terdiam. Lalu mengangguk pelan. Sementara Bima langsung turun dari mobil. Pria itu berjalan cepat membuka pintu untuk Samuel.
Begitu pintu mobil dibuka,, Samuel langsung melihat papan nama butik yang begitu dikenalnya. Tanpa menunggu lama, Bima langsung menggendong Samuel lalu berjalan masuk ke dalam butik.
Cklek. Pintu berbunyi pelan.
Ayra yang sedang berbicara dengan salah satu pegawainya spontan menoleh. Dan tepat saat itulah sepasang mata kecil itu langsung berbinar terang.
"Mama!"
Deg. Jantung Ayra seolah berhenti sesaat.
"Sam..."
Bima baru saja menurunkan Samuel saat bocah itu langsung berlari sekencang mungkin menghampirinya.
Bruk! Tubuh kecil itu langsung memeluk pinggang Ayra erat. "Sam kangen Mama..." ucap Samuel dengan suara bergetar.
Mata Ayra langsung memanas. Ia berjongkok lalu memeluk Samuel balik dengan erat. "Mama juga kangen Samuel..."
Beberapa saat mereka hanya saling berpelukan. Samuel bahkan tidak mau melepaskan pelukannya sedikit pun, seolah takut Ayra akan menghilang lagi.
"Lihat... Sam masih simpan ini." Samuel menunjukkan dinosaurus kecil yang dibawanya
Ayra tersenyum sambil mengusap rambutnya. "Anak pintar."
Samuel lalu menggenggam tangan Ayra. "Kalau begitu ayo pulang."
Deg. Senyum diwajah Ayra perlahan memudar, Samuel kembali menarik tangannya.
"Ayo pulang, Mama."
Namun kali ini Ayra menahan tangan kecil itu dengan lembut.
"Sam..."
Bocah itu langsung menatapnya polos.
Ayra menarik napas panjang sebelum membelai pipinya perlahan. "Maafkan Mama Ayra, sayang. Karena untuk sekarang... Mama Ayra tidak bisa tinggal bersama Samuel lagi."
Wajah Samuel langsung berubah. "Kenapa?"
Ayra sempat terdiam beberapa detik. Mencari kata-kata yang bisa dimengerti oleh anak sekecil Samuel.
"Ayo ikut Mama, nanti Mama ceritakan." Ayra berdiri, menggandeng tangan Samuel.
"Olive, tolong handel semuanya dulu," ucap Ayra pada salah satu karyawannya.
"Baik, Bu." jawab Olive.
Ayra menggenggam tangan kecil Samuel dan mengajaknya berjalan menuju taman kecil dibelakang butik.
Tempat itu memang sengaja dibuat Ayra untuk beristirahat. Tidak terlalu luas, namun cukup nyaman dengan hamparan rumput hijau, beberapa bunga yang bermekaran, dan sebuah ayunan besi putih yang berdiri dibawah pohon rindang.
"Ayo duduk disini." ajak Ayra lembut.
Samuel langsung mengangguk.
Mereka berdua duduk berdampingan diatas ayunan tersebut. Akhirnya Ayra kembali menggenggam tangan bocah kecil itu.
"Sam... ada satu hal yang harus Samuel tau." Samuel menatapnya dengan saksama.
"Mama dan Papa sudah tidak bisa lagi tinggal bersama sekarang. Terkadang orang dewasa memiliki masalah dan cara untuk menyelesaikannya sendiri. Dan.. Kali ini mama memilih untuk tidak lagi tinggal bersama papa."
"Kenapa? Apa kalena Tante Shella? Kenapa Tante Shella bilang kalau Tante Shella juga mamanya Sam?" tanya bocah itu polos. Banyak sekali pertanyaan yang Samuel ajukan, sampai Ayra bingung harus menjawab seperti apa.
Tapi Ayra tetap menghadapinya dengan senyuman. "Tante Shella memang Mama kandung Samuel." ucap Ayra akhirnya.
Jemarinya menyentuh kulit tangan Samuel dengan lembut. "Didalam tubuh Samuel, mengalir darah milik Tante Shella. Dia yang melahirkan Sam, memperjuangkan nyawanya untuk membuat Sam bisa lahir ke dunia ini."
Bocah itu langsung terdiam.
"Tapi Mama Ayra yang selalu merawat Sam." ucapnya lalu. "Kalau begitu Sam mau tinggal disini saja sama Mama,"
Hati Ayra langsung sesak mendengarnya. Anak sekecil ini harus menghadapi masalah yang begitu rumit.
"Sam harus tetap pulang. Sam harus jadi anak yang baik dan mendengarkan orang-orang yang menyayangi Sam."
Samuel langsung memeluk balik tubuh Ayra erat-erat. "Tapi kalau Sam kangen?"
Ayra tersenyum sambil mencium puncak kepalanya. "Samuel boleh datang kemari kapanpun Samuel mau."
"Janji?"
"Janji."
••
••
Sementara itu, Nyonya Ratna dan Shella yang baru saja turun dari mobil langsung membeku ditempat saat melihat beberapa orang sedang menggeledah rumah mereka.
"Apa-apaan ini?!"
Tatapan mereka langsung tertuju pada halaman depan rumah yang kini dipenuhi berbagai barang milik mereka semua. Bahkan beberapa pakaian juga tampak berserakan begitu saja.
"Berhenti!" teriak Nyonya Ratna panik sambil berlari mendekat.
Namun para petugas yang berada disana tetap bekerja seperti biasa sambil mencatat satu per satu barang yang dikeluarkan.
"Apa kalian sudah gila?!" bentak Nyonya Ratna.
Salah satu pria berpakaian serba hitam yang berdiri disana segera menoleh. "Maaf, Nyonya. Kami hanya menjalankan tugas."
"Tugas apa?!"
Pria itu lalu menyerahkan sebuah map. "Rumah ini telah ditarik kembali oleh pemilik sahnya."
Deg.
Wajah Nyonya Ratna langsung berubah. "Apa maksudmu pemilik sahnya?"
"Rumah ini terdaftar atas nama Nyonya Ayra."
Hening. Beberapa detik tidak ada seorang pun yang berbicara.
Bahkan Shella sampai membelalakkan matanya tidak percaya. "Tidak mungkin..." gumamnya.
Pria itu kembali membuka berkas ditangannya.
"Sesuai instruksi pemilik, seluruh penghuni diberikan waktu untuk mengosongkan rumah."
Brak!
Map ditangan Nyonya Ratna langsung jatuh ke tanah.
"Ayra..." desisnya penuh amarah. "Tidak! Aku tidak akan pergi dari rumah ini!" pekiknya histeris.
Namun pria itu tetap tenang. "Itu hak Anda, Nyonya. Tapi proses pengosongan tetap akan berjalan."
"Kurang ajar!" bentak Nyonya Ratna.
Sementara itu Lisa langsung berlari ke arah beberapa koper dan tas yang sedang dipindahkan.
"Jangan sentuh barang-barangku!" Ia buru-buru memeluk beberapa tas bermerek miliknya.
Namun salah satu petugas segera menghentikannya.
"Maaf, Nona. Barang-barang itu tidak boleh dibawa."
"Apa?!" Lisa langsung menatap tidak percaya. "Itu milikku!"
Petugas tersebut membuka dokumen ditangannya. "Berdasarkan data pembelian, sebagian barang mewah ini dibeli menggunakan fasilitas perusahaan dan saat ini masuk dalam daftar aset yang sedang diamankan."
Deg.
Wajah Lisa langsung memucat.
"Tidak mungkin..."
"Begitu pula dengan beberapa koleksi perhiasan, jam tangan, dan kendaraan yang terdaftar dalam laporan keuangan perusahaan."
"Tidak! Kalian bohong!" teriak Lisa panik.
Petugas itu melirik berkas lain. "Seluruh kendaraan yang ada disini juga sedang dalam proses peninjauan aset."
Tubuh Shella langsung menegang, wanita itu benar-benar merasa takut. Karena ini bukan lagi sekadar kartu kredit yang dibekukan. Satu per satu kenyamanan hidup mereka mulai dicabut.
Ternyata Ayra benar-benar tidak main-main dengan ucapannya. Dia menghancurkan segalanya tanpa menyentuhnya langsung sedikitpun.
"Brengsek!"