BANTU SUPPORT CERITA INI DENGAN LIKE, VOTE, DAN COMMENT.
VISUAL TOKOH MUNGKIN AKAN MENGALAMI PERUBAHAN
Dipertemukan dengan sesama bad guy membuat Bianca dan Alvaro terlihat seperti kucing dan anjing yang saling mengganggu dan tak bisa akur. Dan entah kenapa seorang bad boy itu menjabat sebagai ketua OSIS, anak pemilik yayasan, dan juga menangkup sebagai ketua genk Swataru.
Jika takdir meminta mereka bersama
Jika bumi menginginkan mereka menjadi satu
Dan jika semesta mengharapkan mereka menjadi satu insan
Hati besi pun akan tetap meleleh seiringnya waktu dan seiring logika mau memikirkan hal itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieksel259, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SMA Dirgantara
“Lelet amat sih? Bisa pake motor gak sih?” Bianca mulai membuat masalah di atas motor yang sedang dikendarai itu.
Cukup, Alvaro mulai menaikan kecepatannya. Hatinya kembali bersembunyi karena ucapan dari Bianca. Perempuan itu benar sudah memancing emosinya terlalu jauh. Alvaro melirik pada kaca spion yang menampilkan wajah Bianca yang nampak biasa-biasa saja.
Apakah ia menaruh lem di jok belakangnya sehingga perempuan itu tak takut untuk jatuh?
“Bianca” Panggil laki-laki itu dengan datar.
“Hm” Bianca berdehem.
“Kita ke markas Swataru dulu, oke?”
“Nggak” Tolak Bianca mentah-mentah ia menatap pada kaca spion juga dilirik oleh Alvaro untuk sesaat tatapan mereka saling beradu di antulan cermin itu.
“Bentar aja”
“Silakan kalau lo mau kesana, tapi turunin gue sekarang juga” Bianca tetap bersikeras tidak mau ke markas Swataru.
“Gak”
“Turunin atau gue lompat” Ancam Bianca.
“Lompat aja kalau lo berani”
Bianca menatap kesal pada tubuh Alvaro yang ada di hadapannya, ia ancang-ancang berdiri, Alvaro melihat dengan terkejut akan ulah gadis yang terlalu nekad itu.
“Woy, mau ngapain lo?” Ucap Alvaro heboh dengan ulah dari gadis itu.
“Lompat lah” Jawab Bianca dengan datar.
“Cewek gila”
“Iya baru tahu lo” Bianca semakin memperlihat ancang-ancangnya untuk melompat dari motor yang sedang melaju kencang itu.
“Oke-oke, kita langsung ke sekolah” Lagi-lagi Alvaro mengalah pada sikap keras kepala dari Bianca. Entah jin apa yang merasukinya hingga laki-laki pemaksa itu mengalah pada Bianca, bad girl SMA Xanendra.
“Bohong” Sahut Bianca langsung.
“Gue bukan cowok munafik”
“Belum munafik” Ralat Bianca dengan seketus-ketusnya.
“Masih gak percaya?”
“Iya” Bianca mengatur nafasnya sejenak, “Kalau lo mau buat gue percaya, berhentiin motornya disini terus gue yang bonceng”
“Nggak” Tolak Alvaro. Laki-laki macam apa dirinya jika dibonceng oleh seorang perempuan ber-body goals seperti Bianca. Gadis itu terlalu cantik untuk menjadi seorang ojek online.
“Gue lompat nih” Lagi-lagi, tindakkan itu membuat Alvaro kesal-sekesalnya.
Ciiiit...
Alvaro me-rem mendadak ketika Bianca kembali berdiri, “Ini pertama dan terakhir kalinya gue ngalah sama lo” Ucapnya dengan jengkel.
“Gitu dong, jangan PMS mulu” Bianca turun dari motor Alvaro lalu disusul oleh laki-laki itu. Kini berganti dengan Bianca yang berada di depan sebagai pengemidi motor sport. Ia mengumbar gas motor itu beberapa kali.
Alvaro naik di jok belakang, “Nggak usah banyak gaya, cepetan” Komen Alvaro pedas saat Bianca belum juga menjalankan motor itu dan masih mengumbar gas.
Bianca langsung melajukan kendaraan itu di atas kecepatan rata-rata.
Sekolah....
Bianca dan Alvaro sampai di parkiran mereka turun dan mepeskan helm full face di kepala mereka masing-masing, “Tunggu sini, gue mau ambil proposal dulu” Alvaro berkata sambil menaruh helmnya di jok belakang motor.
“Lah gue kan mau ke kelas” Bianca memprotes perintah dari Alvaro.
“Kelas atau bolos?” Tanya Alvaro dengan datarnya. Ia sudah tahu jika ucapan Biamca hanyalah alibi belaka.
“Bukan urusan lo”
“Pokoknya lo tunggu di situ, kalau lo berani kabur hukuman berat sudah menanti”
“Lo pikir gue pengedar narkoba?” Ketus Bianca, serapat-rapatnya ia mencoba untuk menahan amaran akan ucapan dari Alvaro yang menganggapnya seakan dia adalah seorang buronan.
“Pengedar ***** di seluruh dunia” Alvaro pergi setelah mengucapkan hal itu, ia tahu apa yang akan terjadi saat merendahkan seorang Bianca.
“ALVARO LO BENAR-BENAR SIALAN!!” Teriak Bianca dengan kesalnya, wajahnya memerah tanda emosinya sudah tak bisa tertahankan lagi.
. . .
Bianca menatap horor pada nama sekolah yang ia kunjungi bersama dengan Alvaro. Ia diam tak berkutik melihat logo sekolah itu, ia diam walaupun Alvaro terus memanggilnya dengan bentakkan.
“Ck, lelet lo. Ayo cepet” Ucap Alvaro sambil menarik Bianca yang sedari tadi diam mematung tak meresponnya sama sekali.
“Lo kenapa nggak bilang kalau kita bakal ke SMA Dirgantara?” Bianca masih bersikeras tak mau bergerak, ia mengajukan protes pada Alvaro yang hanya menatapnya datar.
“Kita ke SMA Dirgantara Bianca yang banyak bacot”
“Telat o’on!” Kesal Bianca dengan pemberitahuan Alvaro yang benat-benar terlambat.
“Yaudah yuk"
“Lo tahu kan ini tempat apa?”
“Sekolah yang jadi tujuan proposal ini dan perkumpulan genk Royaln” Saat mengatakan hal itu dengan datar tanpa suatu beban. Mungkin ia melupakan seberapa ganasnya Genk Royaln itu.
“Nah karena itu--”
“Lo tenang aja, semua bakal baik-baik aja” Potong Alvaro lagi.
“Hello Alvaro, ini bukan cerita romance ya. Jadi jangan pikir dengan lo ngomong gitu gue bakal baik-baik saja terus iya-iyain apa kata lo” Sepertinya Bianca mulai kesal dengan semua kata-kata yang keluar dari mulut Alvaro yang menyepelekan hal sepenting ini.
“Ayo cepat”
“Nggak”
“Bianca, gue udah sudah terlalu sabar ya sama lo. Denger, ini di sekolah lain dan lo jangan bikin malu nama sekolah. Inget itu!” Alvaro menarik paksa Bianca walaupun gadis itu sedikit memberontak.
“Alvaro lepasin gue”
“Lo diem aja, dan jangan keluar dari belakang tubuh gue” Benar saja Alvaro membuat Bianca terus ada di belakang tubuhnya yang kekar, “Jangan berasumsi kalau gue lagi ngelindungi lo tapi gue berusaha menjaga imej SMA Xanendra dengan membuat body lo itu nggak terlalu kentara” Sambungnya.
“Kalau lo tahu gitu ngapain lo tetap maksa gue sih?”
“Berisik”
Bianca diam, bukan karena satu kata dari Alvaro melainkan tatapan dari siswa yang terus melemparkan tatapan tajamnya. Bianca tahu, mereka adalah beberapa dari anggota Royaln.
Sial. Umpatnya dalam hati. Matanya teralih pada pergelangan tangannya yang di pegang oleh Alvaro.
“Lepas Al” Ucapnya penuh kekesalan.
“Nggak, nanti lo kabur”
“Nggak bakal”
“Gue tetap gak percaya”
“Ck, lama” Bianca menarik tangannya paksa hingga memar karena dicekal terlalu keras oleh cowok kasar. Ia berjalan mendahului Alvaro yang menurutnya terlalu lama.
“Woy, Bianca”
“Lo berisik”
Ruang OSIS........
Tatapan tajam terjadi antara ketua OSIS SMA Dirgantara dan ketua OSIS SMA Xanendra.
Gila, ketua genk Royaln juga ketoa OSIS. Batin Bianca setengah mengumpat melihat tatapan tajam antara Alvaro dan juga Juan—ketos SMA Dirgantara dan ketua genk Royaln.
“Gue terima aja proposalnya”
“Oh gitu ya. Bagus deh”
“Kalu gitu gue sama Bianca balik, kan udah kelar urusannya”
“Bianca?”
Glek.
“Bianca, lo tolong urus di sini gue mau bantu yang sana”
“Iya bang”
Saat itu terjadi pergumulan hingga adu ketangkasan antara Swataru dan Royaln. Dan pada saat itu Aldo menyerukan nama Bianca, gadis bermasker hitam yang selalu melekat di wajahnya.
Sudah pasti nama Bianca dapat terdengar dengan jelas karena teriakan itu. mata Juan menatap tajam Bianca, jantung Bianca berpacu cepat. Ia tak terlalu mampu untuk melawan seorang Juan. Dengan keberanian yang masih ada di baris terdepan ia menatap balik pada laki-laki itu.
“Apa lo liat-liat? Gue colok juga mata lo itu” Kegarangan Bianca berusaha menutupi ketakutannya.
“Apaan sih Bi?” Balas Alvaro dengan ketus.
“Diem lo!” Hardik Bianca pada laki-laki yang duduk di sampingnya.
“Anggota Swataru ya?” Kini giliran Juan yang berucap ia menatap intens pada Bianca yang sudah menatap horor padanya.
Deg.
“Bu-bukan, nggak usah SKSD deh. Jijik tahu gak? Ayo Al” Bianca tak seenuhnya berdusta karena ia bukan lagi anggota Swataru semenjak ia di PHK oleh Alvaro yang menyandang status ketua genk. Dengan gerak cepat Bianca bangkit berdiri dan menarik Alvaro keluar.
Alvaro menatap heran pada Bianca yang tiba-tiba saja menariknya keluar dari ruang itu, “Lo kenal?” Tanya Alvaro saat ia sudah berada agak jauh dari ruang OSIS.
“Bego aja gue kalau nggak tahu dia”
“Kira aja” Tatapan Alvaro jatuh pada pergelangannya yang di pegang oleh Bianca ia segera menepisnya, “Lepas, ngapain lo pegang-pegang gue cari kesempatan banget”
“Kalau bukan karena terpaksa gue nggak mau megang lo, jadi nggak usah geer deh” Ucap Bianca dengan kesal pada Alvaro yang kelebihan narsis.
“Wait, wait, wait, lo ketua Swataru yang baru kan?” Lima orang laki-laki berpakaian layaknya berandal menghadang Alvaro dan Bianca. Alvaro menatap tajam pada mereka, tangannya sudah terkepal kuat.
“Ck, ayo Al. Nggak usah lo ladenin mereka” Ucap Bianca dengan malas melihat emosi Alvaro yang memuncak. Mood nya benar-benar hilang untuk memulai perdebatan. Kecuali setelah kejadian ini.
Seorang laki-laki yang rambutnya berwarna menatap Bianca dari atas sampai bawah, “Ck, ck, ck, bagus banget modelan kayak lo. Se-jamnya berapa mbak?”
“Eh nggak usah brengsek ya lo” Ucap Bianca dengan kesal.
“Kasar amat neng”
“Bahkan gue lebih kasar dari yang lo kira” Balas Bianca dengan nada seketus-ketusnya.
“Oh ya masa? Cewek kayak lo----”
Bugh.
“Jangan kurang ajar lo”