Hidup Vania langsung berubah saat kedua orang tuanya memutuskan untuk menjodohkannya dengan seorang laki-laki bernama Alfin yang merupakan putra dari sahabat papanya.
Berawal dari pertemuan yang tidak menyenangkan, keadaan terus memaksa mereka harus bisa hidup berdampingan dan saling memahami dengan segala perbedaan yang ada walau awalnya menikah tanpa cinta.
Let's cekidot⬇️
Story by Okiramitzu
________
📢 Mohon maaf jika masih terdapat banyak kekurangan🙏
enjoyyyyyy💃
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Okiramitzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Vania merengek kepada Saira. Ia mencoba berkali-kali minta izin agar bisa ikut acara camping.
“Ma, boleh ya?”
“Nggak Vania! Kamu pikir di hutan itu menyenangkan apa, yang ada malah membahayakan,” tegas Saira sambil menuangkan teh hangat ke dalam cangkir Suherman dan Vania secara bergantian.
“Dalam rangka apa mau camping?” tanya Suherman sambil menikmati sarapannya.
“Cuma dalam rangka silaturrahmi aja, Pa. Antara BEM kampus sama mahasiswa baru, pesertanya banyak kok, bakal rame. Acaranya juga gak jauh-jauh banget.”
“Kapan acaranya?”
“Hari sabtu depan, Pa.”
“Nggak bisa Vania!” sahut Saira yang sekarang sudah duduk bersama mereka di meja makan. “Hari sabtu acara pertunangan kamu dengan Alfin.”
“Tapi kan aku berangkatnya sore juga, Ma. boleh ya?” rengek Vania. Saira dan Suherman saling memandang.
“Mama bilang nggak bisa ya nggak bisa Vania!” tegas Saira.
“Oke, aku akan bertunangan dengan Alfin ... tanpa membantah lagi. Vania akan ikuti semua perkataan Mama dan Papa, asal aku boleh ikut camping ya."
Kedua orangtuanya melihat ke arahnya kompak.
"Vania pengen banget ikut acara itu," kata Vania dengan wajah memelas.
“Cuma satu malam?” tanya Suherman.
“Iya, Pa.”
“Adelia sama Oris ikut?”
“Heeh.” Vania mengangguk antusias.
“Ya sudah.”
"Yang bener, Pa?" Vania memastikan jika ia tidak salah dengar.
"Iya, tapi harus pandai jaga diri selama disana sama utamakan keselamatan." Suherman berpesan.
Untuk sementara Vania terlihat girang. Setidaknya sebelum hari pernikahan itu tiba, ia tetap akan mencari cara lain agar tidak jadi menikah dengan Alfin.
...❁❁❁...
“Di sini rupanya!” Oris mengagetkan Vania dan Adelia yang sedang mengobrol santai.
“Apaan sih lo, Nyet,” ketus Adelia.
“Lo berdua ikut camping ya? Gue juga ikut!”
“NGGAK NANYA!!” Vania dan Adelia kompak.
“Lo kenapa sih, Ris. Ngikutin gue mulu deh, nggak capek apa?” tanya Vania.
“Gue seneng kok ngikutin lo, sekarang jadi hobi buat gue.”
“Vania udah mau nikah kali.”
“Gue nggak peduli, selama Vania nggak suka sama tu orang.”
“Dasar emang lo, Ris,” ucap Adelia.
“Biarin,” jawab Oris dengan santai.
***
“Vania!” panggil Nino begitu ia memilki kesempatan untuk menegur Vania di sela koridor kelas, dilihatnya keadaan tidak terlalu ramai.
“Iya?” Vania menghentikan langkahnya.
"Gimana? Lo ikut kan?”
“Iya, tadi udah daftar sama panitia.”
“YES!!!” Nino terlihat girang. Lalu ia malu sendiri sambil menggaruk-garuk kepalanya. Salah tingkah.
“Oke Vania. Gue tinggal dulu ya, sori nggak bisa lama. Ntar malam gue telepon ya."
Vania mengiyakan sembari memperhatikan Nino yang berjalan menjauhinya.
“Lo jangan merasa senang dulu karena Nino ngedeketin lo!” Bella datang tiba-tiba mengagetkannya.
Vania merasa tidak berani untuk menyahut omongan Bella. Ia menyadari bahwa ia masih mahasiswa baru, sedangkan Bella sudah seniornya.
“Lo belum tau aja siapa dia.” Bella tersenyum sinis.
“Gue nggak ada apa-apa sama kak Nino.”
“Gue cuma mau ngasih tau! Lo itu bukan tipe Nino, jadi jangan besar kepala karena baru sekali diajak pulang bareng.”
Vania tercengang, Bella pasti melihatnya kemaren pulang bareng dengan Nino. Vania tidak mengetahui siapa sebenarnya Bella, kenapa ia begitu sinis melihatnya karena Nino mendekatinya.
“Woo ... woo ... wooo.” Oris datang memecah suasana ketegangan.
“Kakak Bella yang cantik,” sapa Oris. “Lo ngapain ganggu my sweetheart Vania?”
Bella hanya menatap dingin ke arahnya dengan muka angkuhnya.
“Oris lo apaan sih,” bisik Vania.
“Gue cuma peringatin cewek lo ini biar dia nggak usah sok cantik jadi orang, lagian kalian itu cuma mahasiswa baru, jadi nggak usah belagu!” ketus Bella.
“Woo hoo ... kayaknya ada yang takut kesaing nih.” Oris tertawa geli.
“Sori ya, gue sama sekali nggak merasa tersaingi tuh, apalagi sama cewek kayak dia.” Bella menatap sinis ke arah Vania.
“Ya udah ngapain lo gangguin dia! Lo takut kan kalo cowok yang lu kejar berpihak ke Vania?! Gue rasa lo harus terima dong kalo ternyata Vania lebih disukai daripada lo.”
Vania mencubit perut Oris, membuatnya menjerit kesakitan. Vania segera menariknya meninggalkan Bella yang sepertinya sudah mulai meradang.
Vania menyeret tangan Oris sampai mereka merasa aman, dari jangkauan gadis angkatan semester lima tersebut. Vania sadar bahwa ia bukan tandingan untuk gadis sekelas Bella.
Meski tidak terlalu mengetahui tentang Bella, tapi Vania tahu bahwa dia adalah gadis populer di kampus. Cantik, pintar, punya prestasi, dan yang pastinya digilai para cowok.
“Lo jangan suka nyari gara-gara dong, Ris.”
“Iye, gue tau. Tapi gue liat tadi lo diem aja kayaknya dimarahin sama tuh cewek? Padahal kan lo aslinya galak.”
“Gue cuma nggak mau ada masalah sama orang, apalagi dia kan cewek populer di kampus. Lo tau kan bokap gue seorang rektor di kampus lain, gue nggak boleh punya masalah sama siapapun di kampus ini! Kalo bokap gue tau gimana?”
“Bokap lo nggak bakal tau lah, orang kampusnya beda.”
“Ihhhh … lo susah banget ya dibilangin! Pokoknya gue nggak mau kita ada masalah lagi sama kakak kelas, ngerti?!”
Vania langsung berjalan menjauhi Oris.
“Vania, lo mau ke mana?”
“Pulang!”
...✿✿✿...
Di kediaman Vania.
“Del, gue bakalan bener-bener akan nikah sama Alfin.”
“Terus?” Adelia membenarkan posisinya dari tengkurap di ranjang Vania.
“Ya gue nggak mau lah! Itu kan keinginan papa sama mama gue!”
“Yaelah elo Vania. Terima aja kali. Nasib lo mujur.” Adelia tertawa geli.
“Gue nggak suka sama dia! Gue udah bilang iya lagi sama ortu gue. Lagian, ngapain sih pake acara lamaran, tunangan segala, toh tanggalnya udah mereka sepakati.”
“Kapan emang tanggal pernikahan lo?”
“Gue nggak tau pasti sih, kata mama dalam waktu dekat.”
“Nggak papa dong, gue dukung 100%, daripada lo sama Oris.”
“Gue mending nggak nikah deh daripada harus sama orang songong gitu, gue pasti harus melewati hari-hari yang membosankan kalo udah nikah sama dia.”
“Tapi ganteng loh. Enak yah, tiap malam bisa mandangin mukanya sebelum tidur. Aduh gue nggak bisa bayangin kalo harus liat dia nggak pake baju!”
“Udah ... udah, Del, lo mulai ngawur deh!” Vania duduk di atas kasurnya diikuti oleh Adelia.
“Eh, gue denger dari Oris, lo habis dilabrak sama kak Bella ya?”
“Nggak juga sih, ya gitu deh gara-gara Nino mungkin.”
“Kok bisa?” Adelia langsung penasaran.
“Kemaren gue pulang bareng sama Nino, Del.”
“APAA????!!!! Aaaa… Vania, lo curang deh.”
“Orang dia yang nawarin kok, gue nggak ada apa apa juga sama dia!”
“Gila lo Van, lo bener-bener gila. Udah dapat jackpot aja lo, Alfin sama Nino,” ketus Adelia memandang iri. “Tapi nggak papa sih, lo kan bentar lagi sama Alfin juga, gue sumpahin cepet nikah lo!”
“Jahat lo, Del ... parah!”
“Terima aja kali nasib lo, sayang loh cowok langka kayak Alfin nggak lo sikat."
"Pokoknya gue harus cari cara biar pernikahan ini batal," tegas Vania.
"Caranya?"
"Itu dia, gue belum tahu. Haduuhh, gue harus ngelakuin apa ya." Vania membingung.
"Ngapain juga pusing mikirin caranya. Udah, terima aja. Kalo gue jadi lo sih, gue rela bangettt.”
Vania menengadahkan bola matanya, tak menghiraukan apa yang diucapkan oleh Adelia.
“Ya udah, Van. Gue pulang dulu ya, kasian supir gue udah nunggu! Makasih ya bukunya.”
“Iya, hati-hati lo.”
“Sampai ketemu di kampus ya, dahh.”
***
Vania menutup pintu kamarnya setelah mengantar Adelia sampai ke depan. Dilihatnya ke sebuah jam dinding di kamarnya menunjukkan jam 9 malam.
Vania mulai merasa lelah dan mengantuk. Setiap malam sebelum tidurnya, ia selalu memikirkan rencana perjodohan yang konyol ini.
arsitek itu profesi. sedangkan, ilmunya arsitektur.
ambil jurusan apa? dokter. anehkan?
yang benar ... kedokteran.
mengingat masa remaja wwkwk