Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: kelas kontrol Energi
Matahari pagi menyinari menara batu putih Akademi Langit Biru. Lonceng besar berbunyi tiga kali, menandakan dimulainya hari pertama perkuliahan resmi bagi angkatan baru.
Lin Fan berjalan menuju Gedung A, Aula Teori Dasar. Di tangannya, ia membawa sebuah token kayu berwarna emas—lambang status Siswa Istimewa yang diberikan oleh Direktur Feng kemarin. Token itu menarik tatapan campuran iri, kagum, dan kebencian dari siswa-siswa lain yang berlalu-lalang di koridor.
"Lihat itu... Itu si 'Sampah' dari Qingyun," bisik seorang siswa berjas merah.
"Dengar-dengar dia pakai artefak terlarang sampai lolos ujian," tambah temannya.
"Tapi Direktur melindunginya. Siapa kita untuk membantah?"
Lin Fan mengabaikan gosip-gosip itu. Ia memasuki aula besar berbentuk amphitheater. Kursi-kursi sudah terisi hampir penuh. Ia melihat Bao Da dan Zhang Wei duduk di barisan tengah, menyisakan satu kursi kosong di antara mereka. Mei Ling juga ada di sana, tersenyum ramah saat Lin Fan mendekat.
Namun, suasana berubah tegang ketika Lin Fan duduk. Di barisan depan, tepat di bawah podium pengajar, duduk Li Tianhao. Putra Jenderal itu tidak menoleh, tapi aura kemarahan dingin memancar dari punggungnya. Di sampingnya, Su Qingxue sedang membaca buku dengan tenang, sementara Gu Yichen tampak tertidur pulas dengan topengnya yang miring.
Tiba-tiba, pintu aula terbuka lebar. Seorang wanita muda dengan rambut diikat kuda tinggi dan mengenakan jubah instruktur berwarna ungu tua masuk dengan langkah tegas. Wajahnya cantik namun keras, dengan bekas luka tipis di pipi kirinya yang justru menambah kesan berbahaya.
"Instruktur Yan," bisik Zhang Wei pada Lin Fan. "Salah satu instruktur bertarung terdekat paling ditakuti di akademi. Dia mantan anggota Pasukan Hantu Kerajaan. Jangan coba-coba bohong di kelasnya."
Instruktur Yan melemparkan tas kulit berat ke atas meja podium. DUG! Debu beterbangan.
"Diam Semua nya!" suaranya tajam seperti pecahan kaca. Seluruh aula hening seketika.
"Aku Instruktur Yan"
"Di kelas ini, aku tidak peduli siapa ayahmu, berapa banyak uang klanmu, atau seberapa tinggi skormu di ujian masuk. Di sini Semua Sama."
Ia menulis satu kata besar di papan tulis hitam menggunakan kapur Qi.
"KONTROL"
"Banyak dari kalian berpikir kultivasi adalah tentang mengumpulkan sebanyak mungkin Qi dan meledakkannya ke wajah lawan. Salah besar! Itu cara orang bodoh mati muda. Kultivasi sejati adalah tentang presisi. Mengeluarkan 1% kekuatan dengan efek 100%."
Instruktur Yan menatap sekeliling ruangan. Matanya berhenti sejenak pada Lin Fan, lalu pada Li Tianhao.
"Hari ini, kita akan melakukan tes dasar"
"Ambil bola kristal di meja kalian."
"Aturannya sederhana," lanjut Instruktur Yan.
"Masukkan Qi kalian ke dalam bola. Bola ini memiliki sensor sensitivitas tinggi. Tugas kalian adalah mengisi bola tersebut hingga tepat 50% kapasitasnya. Tidak kurang, tidak lebih. Jika 49%, gagal. Jika 51%, gagal. Kalian punya waktu lima menit."
Para siswa saling pandang bingung. Ini terdengar mudah, tapi bagi praktisi muda yang emosinya masih labil dan kontrol Qi-nya belum sempurna, ini adalah mimpi buruk.
"Mulai!"
Suara gemuruh Qi memenuhi aula. Cahaya biru, merah, hijau, dan kuning mulai bersinar dari ratusan bola kristal.
Lin Fan memegang bolanya. Ia menutup mata, memasuki keadaan Kehampaan Jiwa. Baginya, ini bukan tes kesulitan. Ini adalah latihan meditasi dasar. Ia bisa merasakan aliran Qi di dalam tubuhnya seperti sungai yang tenang. Ia membuka "keran" Dantiannya sedikit saja, membiarkan aliran tipis mengalir ke bola.
Cahaya di bola Lin Fan naik perlahan. 10%... 20%... 30%...
Di sebelah kanannya, Bao Da berkeringat dingin. Bola miliknya berkedip-kedip liar, kadang naik cepat, kadang turun drastis.
"Sial! Susah banget ngaturin nya!" gerutunya Bao Da.
Di barisan depan, Li Tianhao tersenyum sombong. Bola miliknya bersinar stabil. Dengan bakatnya yang luar biasa, mencapai 50% adalah hal sepele. Ia bahkan melakukannya dalam satu menit. Ia menoleh sekilas ke arah Lin Fan, menunggu kegagalan sang "anomali".
Su Qingxue juga menyelesaikan tugasnya dengan elegan, wajahnya tetap datar. Gu Yichen? Bolanya sudah menyala 50% sejak detik pertama, seolah-olah ia tidak perlu berusaha sama sekali.
Waktu tinggal satu menit.
Lin Fan membuka matanya. Bola di tangannya bersinar dengan cahaya biru lembut yang stabil persis di garis 50%. Sempurna.
"waktu habis!" teriak Instruktur Yan.
Ia berjalan menyusuri lorong antar kursi, memeriksa hasil setiap siswa dengan alat pemindai kecil.
"Gagal.
Gagal.
Gagal.
Berhasil.
Gagal..."
Sebagian besar siswa gagal. Hanya sekitar sepuluh orang yang berhasil mencapai angka tepat 50%. Li Tianhao, Su Qingxue, dan Gu Yichen tentu saja lulus dengan mudah.
Instruktur Yan berhenti di depan meja Lin Fan. Ia menatap bola itu, lalu menatap Lin Fan.
"Kau yakin ini 50%?" tanya Instruktur Yan skeptis. "Banyak siswa curang dengan menahan napas atau menggunakan teknik penahan Qi eksternal."
"Saya hanya mengalirkan apa yang diperlukan, Instruktur," jawab Lin Fan tenang.
Instruktur Yan mengaktifkan pemindainya. Angka di layar menunjukkan: 50.00%.
Matanya sedikit melebar. Presisi mutlak. Bahkan Gu Yichen pun memiliki deviasi 0.01% karena faktor manusia. Tapi Lin Fan? Nol persen error.
"Menarik," gumam Instruktur Yan. Ia melanjutkan pemeriksaan ke Li Tianhao. Hasilnya: 50.02%. Masih sangat bagus, tapi tidak sempurna.
Li Tianhao mengerutkan kening saat melihat Instruktur Yan menghabiskan waktu lebih lama di dekat Lin Fan. Rasa iri mulai menggerogotinya.
Setelah memeriksa semua siswa, Instruktur Yan kembali ke podium.
"Hanya 12 orang yang lulus," katanya dingin.
"Bagi yang gagal, kalian akan mendapat hukuman tambahan:"
"Lari mengelilingi lapangan akademi sambil membawa batu spirit seberat 50 kg. Kerjakan!."
Keluhan terdengar dari sebagian besar kelas, tapi mereka tidak berani membantah. Bao Da mengeluh keras, "Ah! Aku benci lari!" tapi ia tetap berdiri untuk mengambil batu.
Instruktur Yan menunjuk ke arah 12 siswa yang lulus, termasuk Lin Fan. "Kalian boleh pulang lebih awal. Tapi ingat, ini baru pemanasan. Minggu depan, kita akan uji kontrol elemen api. Dan bagi yang gagal... hukumannya akan lebih parah."
Saat kelas bubar, Li Tianhao sengaja menabrak bahu Lin Fan saat lewat.
"Hati-hati, Lin Fan," desis Li Tianhao pelan, hanya terdengar oleh mereka berdua.
"Presisi sempurna hari ini tidak berarti apa-apa di arena pertarungan nyata. Aku akan menghancurkanmu saat ujian praktik bulan depan."
Lin Fan tidak menoleh. Ia hanya tersenyum tipis. "Kalau kau bisa menyentuhku dulu, Tuan Muda Li."
Li Tianhao mendengus kesal dan pergi bersama pengawalnya.
Zhang Wei mendekati Lin Fan. "Kau baru saja membuat musuh terbesar di kelas. Li Tianhao sangat kompetitif. Dia tidak akan membiarkan seseorang mengalahkannya dalam hal apapun, apalagi presisi."
"Aku tahu itu," kata Lin Fan.
"Tapi setidaknya sekarang aku tahu batas kemampuan mereka. Li Tianhao kuat tapi kasar. Su Qingxue cerdas tapi defensif. Gu Yichen... masih menjadi misteri."
Mei Ling bergabung dengan mereka. "Hei, karena kalian lulus, bagaimana kalau kita makan siang bersama? Ada kafetaria baru di sayap timur yang menjual Roti Spirit enak. Traktiran dariku sebagai ucapan selamat."
Bao Da, yang baru saja mengangkat batu berat di pundaknya, berteriak dari kejauhan, "Jangan lupa pesankan dua porsi buatku! Aku lapar banget!"
Lin Fan tertawa kecil. Kehidupan akademisnya dimulai dengan baik. Tapi ia tahu, ketenangan ini hanya sementara. Di Perpustakaan Tingkat Tiga nanti sore, ia berencana mencari informasi tentang Teknik Penyegelan Jiwa—sesuatu yang mungkin bisa membantu meningkatkan kekuatan nya.
Sore itu, Lin Fan berjalan sendirian menuju perpustakaan. Saat ia melewati taman sakura, ia melihat sosok familiar duduk di bawah pohon.
Gu Yichen.
Pemuda bertopeng itu tidak tidur kali ini. Ia sedang memegang sebuah daun sakura yang jatuh, mengamati urat-uratnya dengan saksama.
"Kau datang," kata Gu Yichen tanpa menoleh, seolah-olah ia sudah tahu Lin Fan akan lewat.
Lin Fan berhenti. "Apa yang kau lihat di daun itu, Gu Yichen?"
Gu Yichen akhirnya menoleh. Matanya di balik topeng tampak dalam dan tua.
"Aku melihat pola kematian. Setiap urat daun adalah jalur meridian. Dan daun ini... sudah mati sebelum jatuh. Seperti banyak hal di dunia ini."
Ia melempar daun itu ke udara. Daun itu hancur menjadi debu sebelum menyentuh tanah.
"Waspadalah, Lin Fan. Akademi ini bukan tempat belajar. Ini adalah kandang harimau. Dan kau... kau adalah daging segar yang berbau berbeda."
Gu Yichen berdiri, lalu menghilang di balik kelopak bunga sakura yang tertiup angin.
* Hook: Kunjungan Lin Fan ke Perpustakaan Tingkat Tiga. Apa rahasia yang akan ia temukan? Apakah ada hubungan antara "pola kematian" yang dilihat Gu Yichen dan teknik yang dicari Lin Fan?
Cari tau di Bab Berikut nya.