Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.
Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.
Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.
Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.
Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.
Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:
Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.
Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Jenius yang Mengguncang Sekte
Pecahan Batu Pengukur Roh masih berserakan di atas panggung.
Butiran kristal berkilauan diterpa cahaya matahari, namun tidak seorang pun memperhatikannya.
Seluruh perhatian tertuju kepada seorang anak berbadan gemuk yang masih berdiri dengan wajah bingung.
Suasana yang terlalu sunyi membuat Bai Hu merasa semakin tidak tenang.
Ia menarik napas pelan sebelum membungkukkan badan dengan hormat.
Beberapa murid Sekte Awan Langit yang sejak tadi menahan napas akhirnya saling berpandangan.
Seorang murid senior yang berdiri di belakang Xu Canghai sampai menundukkan kepala sambil menahan tawa.
Di saat semua orang masih terkejut karena munculnya Akar Spiritual Surgawi...
Anak ini justru masih memikirkan biaya ganti rugi.
Xu Canghai akhirnya mengembuskan napas panjang.
Ia menatap Bai Hu beberapa saat sebelum berkata dengan nada tenang.
"Bangunlah. Tidak ada seorang pun yang akan memintamu mengganti Batu Pengukur Roh."
Bai Hu perlahan mengangkat kepala.
Wajahnya tampak sedikit lega.
"Benarkah, Tetua?"
Xu Canghai mengangguk.
"Batu itu memang hancur, tetapi bukan karena kau sengaja merusaknya. Lagi pula, dibandingkan nilai Batu Pengukur Roh..."
Ia berhenti sejenak.
Tatapannya berubah serius.
"...kemunculan pemilik Akar Spiritual Surgawi jauh lebih berharga bagi Sekte Awan Langit."
Kalimat itu langsung membuat seluruh lapangan kembali gaduh.
"Dia benar-benar memiliki Akar Spiritual Surgawi?"
"Aku kira tadi hanya dugaan."
"Mustahil..."
"Sudah berapa ribu tahun tidak muncul bakat seperti itu?"
Para peserta mulai berbicara satu sama lain.
Tatapan mereka kepada Bai Hu berubah total.
Kalau sebelumnya mereka hanya melihat seorang anak gemuk yang tampak biasa...
Kini mereka melihat seorang jenius yang bahkan mampu menghancurkan Batu Pengukur Roh milik sekte.
Di antara kerumunan peserta...
Tie Niu masih berdiri mematung.
Ia memang sudah mengetahui bahwa Bai Hu memiliki bakat luar biasa.
Namun melihat para tetua bereaksi seperti itu...
Ia tetap tidak mampu menyembunyikan rasa kagumnya.
Salah seorang peserta yang berdiri di sampingnya menepuk bahunya.
"Hei, bukankah kau datang bersama anak itu?"
Tie Niu mengangguk.
"Ya."
Peserta itu menelan ludah.
"Sejak tadi dia terlihat santai. Aku benar-benar tidak menyangka..."
Tie Niu tersenyum kecil.
"Aku juga sering dibuat terkejut olehnya."
Ia teringat saat Bai Hu masih berusia tujuh tahun.
Anak itu bisa menghabiskan belasan roti kukus sendirian.
Bisa menghabiskan waktu berjam-jam membaca buku alkimia tanpa merasa bosan.
Lalu tiba-tiba bertanya kepada Tetua Guo tentang harga tanaman spiritual daripada khasiatnya.
Memikirkan semua itu membuat Tie Niu tertawa kecil.
"Dasar Bai Hu..."
Sementara itu...
Di atas panggung, para tetua mulai berkumpul.
Mereka tidak lagi mempedulikan peserta lain.
Perhatian mereka seluruhnya tertuju kepada Bai Hu.
Seorang tetua berjanggut panjang melangkah lebih dahulu.
Tatapannya tajam, tetapi tidak menunjukkan permusuhan.
Ia memandang Xu Canghai sambil berkata,
"Tetua Xu, menurutku tidak perlu melanjutkan seleksi untuk anak ini. Dengan bakat seperti itu, ia sudah memenuhi syarat menjadi murid inti."
Belum sempat Xu Canghai menjawab...
Tetua perempuan yang sejak tadi diam langsung menggeleng.
"Aku tidak setuju."
Semua mata tertuju kepadanya.
Ia melanjutkan dengan tenang.
"Bakat memang penting. Namun sekte juga harus mengetahui watak dan kemampuan berpikirnya. Kita tidak boleh hanya melihat akar spiritual."
Tetua berjanggut mendengus pelan.
"Apa lagi yang perlu diuji? Akar Spiritual Surgawi adalah jawaban terbaik."
Tetua perempuan tidak mundur sedikit pun.
"Justru karena terlalu langka, kita harus lebih berhati-hati, kita bukan hanya mencari murid berbakat."
Xu Canghai mendengarkan perdebatan mereka tanpa menyela.
Beberapa saat kemudian ia mengangkat tangan.
Perdebatan langsung berhenti.
Dengan suara yang tetap tenang, ia berkata,
"Peraturan sekte berlaku untuk semua orang."
Tatapannya beralih kepada Bai Hu.
"Meskipun kau memiliki Akar Spiritual Surgawi, kau tetap harus mengikuti seluruh tahapan seleksi."
Bai Hu membungkukkan badan.
"junior mengerti."
Xu Canghai mengangguk puas.
Di dalam hatinya, ia semakin menyukai anak itu.
Tidak sombong.
Tidak tergesa-gesa.
Dan mampu tetap tenang meskipun menjadi pusat perhatian ribuan orang.
Sifat seperti itu jauh lebih berharga daripada sekadar bakat.
Namun...
Di sudut lapangan...
Seorang pemuda berpakaian biru tua terus menatap Bai Hu.
Usianya sekitar lima belas tahun.
Tubuhnya tinggi.
Di pinggangnya tergantung sebilah pedang panjang.
Sejak awal seleksi, ia tidak pernah menunjukkan ekspresi apa pun.
Tetapi sekarang...
Tatapannya dipenuhi semangat bertarung.
Ia bergumam pelan,
"Akar Spiritual Surgawi..."
"Menarik."
Di sampingnya berdiri seorang gadis muda berwajah dingin.
Ia melipat kedua tangannya sambil berkata,
"Apa kau mulai tertarik?"
Pemuda itu tersenyum tipis.
"Sudah lama aku tidak bertemu seseorang yang mungkin bisa menjadi lawan sepadan."
Gadis itu kembali menatap Bai Hu.
Namun yang dilihatnya justru membuat sudut bibirnya bergerak pelan.
Bai Hu sedang berbicara kepada seorang murid sekte.
Bukan mengenai Akar Spiritual ataupun mengenai seleksi.
"...Senior, kalau seleksinya masih lama, apakah peserta boleh pergi makanan dulu?"
Gadis itu terdiam beberapa saat.
Kemudian menggeleng pelan.
"Orang ini... benar-benar aneh."
Sementara Xu Canghai yang mendengar pertanyaan Bai Hu hanya bisa tertawa sambil mengusap dahinya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
ia menemukan seorang jenius yang lebih mengkhawatirkan makan siang daripada ketenaran yang baru saja diperolehnya.
Keributan di alun-alun belum juga mereda.
Para peserta masih membicarakan nama Feng Bai Hu.
Sebagian memandangnya dengan kagum.
Sebagian lagi merasa iri.
Namun Bai Hu sendiri sama sekali tidak memedulikan tatapan mereka.
Ia justru berdiri di depan Xu Canghai sambil mengusap perutnya yang mulai berbunyi pelan.
Xu Canghai memperhatikan ekspresi anak itu beberapa saat sebelum bertanya sambil tersenyum tipis,
"Kau masih memikirkan soal makan?"
Bai Hu mengangguk dengan wajah yang sangat serius.
"Tetua, sejak pagi murid sudah mengikuti seleksi. Sekarang matahari juga sudah mulai tinggi. Murid khawatir kalau terlalu lapar nanti tidak bisa berpikir jernih saat mengikuti ujian berikutnya."
Beberapa murid Sekte Awan Langit saling berpandangan.
Mereka benar-benar tidak tahu harus tertawa atau tetap menjaga wibawa.
Xu Canghai akhirnya terkekeh pelan.
Sudah puluhan tahun ia memimpin seleksi.
Ia pernah bertemu peserta yang sombong.
Peserta yang terlalu percaya diri.
Bahkan peserta yang menangis karena gugup.
Tetapi...
Ini pertama kalinya ia bertemu seorang anak yang benar-benar bertingkah konyol.
"Baiklah. Setelah seluruh peserta menyelesaikan tahap pertama, sekte akan memberi waktu istirahat satu jam. Kau tidak perlu khawatir kelaparan."
Mata Bai Hu langsung berbinar.
Ia membungkukkan badan dengan hormat.
"Terima kasih, Tetua."
Xu Canghai menggeleng sambil tersenyum.
"Anak ini benar-benar sulit ditebak."
Tidak jauh dari sana...
Beberapa tetua masih berdiskusi dengan suara pelan.
Tetua berjanggut panjang kembali membuka pembicaraan.
"Tetua Xu, aku tetap berpendapat bahwa anak itu harus segera menjadi murid inti. Kalau berita tentang Akar Spiritual Surgawi sampai terdengar oleh sekte lain, mereka pasti akan berusaha merebutnya."
Tetua perempuan menganggukkan kepala pelan.
"Aku juga memikirkan hal yang sama. Namun kita tidak boleh terburu-buru. Justru karena bakatnya luar biasa, kita harus mengetahui wataknya lebih dalam. Seorang kultivator yang hanya memiliki bakat tanpa hati yang benar bisa menjadi bencana di masa depan."
Xu Canghai menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung.
Tatapannya masih mengikuti Bai Hu yang sedang mengobrol dengan Tie Niu.
Setelah beberapa saat ia berkata,
"Aku sudah memperhatikan anak itu sejak ia naik ke atas panggung. Saat diejek karena tubuhnya yang gemuk, ia tidak marah. Saat mengetahui dirinya memiliki bakat luar biasa, ia juga tidak menjadi sombong. Bahkan setelah menghancurkan Batu Pengukur Roh, hal pertama yang dipikirkannya adalah bagaimana jika ia disuruh mengganti kerugian sekte."
Ia berhenti sejenak.
Kemudian melanjutkan dengan nada penuh keyakinan.
"Menurutku, wataknya jauh lebih baik daripada bakatnya."
Para tetua perlahan mengangguk.
Mereka sulit membantah ucapan Xu Canghai.
Sementara itu...
Tie Niu menghampiri Bai Hu yang baru turun dari panggung.
Tanpa berkata apa-apa, ia langsung memukul pelan bahu sahabatnya.
Bai Hu meringis sambil mengusap bahunya.
"Kenapa memukulku?"
Tie Niu tertawa lebar.
"Aku hanya ingin memastikan kau masih Bai Hu yang kukenal. Barusan kau membuat seluruh lapangan berhenti bernapas."
Bai Hu menggaruk pipinya.
"Aku juga tidak tahu kenapa batu itu pecah lagi."
Tie Niu menggeleng.
"Aku bukan membicarakan batunya."
Ia menatap Bai Hu dengan wajah serius.
"Aku membicarakan dirimu. Bahkan para tetua sekte terlihat terkejut. Sepertinya bakatmu benar-benar luar biasa."
Bai Hu terdiam beberapa saat.
Kemudian ia tersenyum kecil.
"Tie Niu, bakat hanya membuat seseorang berjalan lebih cepat. Kalau berhenti belajar, cepat atau lambat orang lain akan menyusul."
Tie Niu memandang sahabatnya cukup lama.
Lalu tertawa pelan.
"Kau tahu? Kadang aku merasa kau jauh lebih tua daripada usiamu. Tapi beberapa saat kemudian kau kembali bertingkah seperti anak kecil yang hanya memikirkan makan."
Bai Hu ikut tertawa.
"Karena dua-duanya memang benar."
Pada saat itulah...
Seorang pemuda berpakaian biru tua berjalan mendekat.
Langkahnya tenang.
Sorot matanya tajam.
Di pinggangnya tergantung sebilah pedang yang terlihat sederhana, tetapi terawat dengan sangat baik.
Ia berhenti sekitar dua langkah di depan Bai Hu.
Kemudian memberi salam dengan sopan.
"halo,, Namaku Jian Wuchen, berasal dari Kota Beiyun. Aku melihat pengujianmu tadi."
Bai Hu membalas hormat.
"Aku Feng Bai Hu."
Jian Wuchen mengangguk.
Tatapannya tetap tenang.
"Aku tidak datang untuk mencari masalah. Aku hanya ingin mengatakan satu hal."
Bai Hu menunggu dengan sabar.
Pemuda itu melanjutkan,
"Aku tidak peduli seberapa tinggi bakatmu. Di dunia kultivasi, yang menentukan bukan hanya akar spiritual, tetapi juga kerja keras dan pengalaman bertarung. Aku berharap suatu hari nanti kita bisa saling menguji kemampuan dengan pedang, bukan sebagai musuh, tetapi sebagai sesama kultivator."
Bai Hu tidak langsung menjawab.
Ia memperhatikan wajah Jian Wuchen beberapa saat.
Tidak ada kesombongan.
Tidak ada rasa iri.
Yang ada hanyalah semangat seorang pendekar.
Bai Hu tersenyum tulus.
"Aku juga berharap begitu. Aku memang belum pandai menggunakan pedang, tetapi aku ingin mempelajarinya. Kalau nanti kita sama-sama menjadi murid sekte, semoga kita bisa saling belajar."
Jian Wuchen sedikit terkejut.
Ia mengira Bai Hu akan menyombongkan bakatnya.
Ternyata...
Anak gemuk di depannya justru mengakui
kekurangannya dengan jujur.
Senyum tipis akhirnya muncul di wajah Jian Wuchen.
"Kalau begitu, aku menantikan hari itu."
Ia memberi hormat sekali lagi sebelum kembali ke tempatnya.
Tie Niu memperhatikan punggung pemuda itu yang semakin menjauh.
Kemudian ia berbisik pelan,
"Orang itu kuat."
Bai Hu mengangguk.
Tatapannya juga masih mengikuti Jian Wuchen.
"Ya... dan aku yakin dia berlatih pedang setiap hari."
Tie Niu menoleh.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
Bai Hu tersenyum.
"Lihat telapak tangannya. Kapalan di ibu jari dan telunjuknya jauh lebih tebal dibanding orang lain. Itu jelas bukan terbentuk dalam satu atau dua bulan."
Tie Niu kembali terdiam.
Sahabatnya memang selalu mengamati hal-hal kecil yang sering diabaikan orang lain.
Sementara itu, di atas panggung, Xu Canghai kembali melangkah ke depan.
Suaranya menggema ke seluruh alun-alun.
"Tahap pertama telah selesai. Semua peserta diberi waktu satu jam untuk beristirahat. Setelah itu, kita akan memulai tahap kedua."
Mendengar kata "beristirahat", mata Bai Hu langsung berbinar.
Ia menoleh ke arah Tie Niu sambil tersenyum lebar.
"Ayo! Kita cari makan dulu. Setelah kenyang, baru kita pikirkan ujian berikutnya."
Tie Niu hanya bisa menggeleng sambil tertawa.
Bagaimanapun hebatnya bakat Bai Hu...
Satu hal memang tidak pernah berubah.
Perutnya selalu menjadi yang pertama berbicara.
Setelah pengumuman waktu istirahat diberikan, suasana alun-alun yang sebelumnya tegang berubah menjadi jauh lebih ramai.
Para peserta segera berpencar.
Sebagian memilih duduk di bawah pohon untuk memulihkan tenaga.
Sebagian lagi berkumpul bersama teman atau keluarganya sambil membahas ujian pertama.
Namun ada juga yang tetap berdiri memandang Bai Hu dari kejauhan.
Nama Feng Bai Hu telah menyebar ke seluruh lapangan.
Anak dari Kota Qinghe.
Pemilik Akar Spiritual Surgawi.
Anak yang menghancurkan Batu Pengukur Roh Sekte Awan Langit.
Meskipun baru beberapa saat berlalu, berita itu sudah menjadi bahan pembicaraan semua orang.
Berbeda dengan peserta lain...
Bai Hu sedang berdiri di depan sebuah warung kecil yang menjual mi kuah dan daging panggang.
Asap putih mengepul dari panci besar.
Aroma kaldu memenuhi udara.
Bai Hu menarik napas panjang.
Wajahnya memperlihatkan ekspresi puas.
"Tie Niu, aku baru sadar. Kota Qingyun memang jauh lebih besar daripada Kota Qinghe. Bahkan aroma makanan di sini terasa lebih menggoda."
Tie Niu yang berdiri di sampingnya langsung tertawa.
"Sejak tadi yang kau lihat hanya makanan. Apa kau tidak penasaran kenapa semua orang terus memperhatikanmu?"
Bai Hu melirik ke belakang.
Benar saja.
Beberapa peserta masih mencuri pandang ke arahnya.
Ada yang berbisik.
Ada yang menunjuk.
Bahkan beberapa murid sekte ikut mengamatinya.
Namun Bai Hu hanya mengangkat bahu.
"Biarkan saja mereka melihat. Tatapan mereka tidak membuat perutku kenyang."
Tie Niu kembali menggeleng.
"Kadang aku benar-benar kagum dengan caramu berpikir."
Bai Hu tersenyum sambil duduk di bangku kayu.
"Kalau aku sibuk memikirkan pendapat semua orang, kapan aku sempat belajar? Lagi pula, orang yang mengenalku karena bakat belum tentu akan tetap menghormatiku nanti. Yang menentukan tetap diriku sendiri."
Tie Niu memperhatikan wajah sahabatnya.
semakin lama ia mengenal Bai Hu, semakin ia sadar bahwa sahabatnya selalu memiliki cara berpikir yang berbeda.
Pemilik warung datang membawa dua mangkuk mi panas.
Ia meletakkannya di atas meja dengan senyum ramah.
"Silakan, Anak Muda."
Bai Hu menghirup aroma kuahnya.
Matanya langsung berbinar.
Ia mengambil sumpit, tetapi sebelum mulai makan, ia menatap pemilik warung.
"Paman, boleh aku bertanya sesuatu?"
Lelaki itu tersenyum.
"Tentu"
"Kalau aku membeli bahan-bahannya sendiri, lalu Paman hanya memasakkannya, apakah harganya akan lebih murah?"
Tie Niu yang baru saja meminum air langsung tersedak.
"Batuk... batuk..."
Pemilik warung terdiam beberapa saat.
Kemudian ia tertawa lepas.
"Kau benar-benar suka menghitung. Baiklah, kalau nanti kau membawa daging sendiri, aku hanya akan mengambil biaya memasaknya."
Mata Bai Hu langsung berbinar.
"Kalau begitu kita sepakat."
Tie Niu memijat dahinya.
"Kau baru pertama kali datang ke sini, tetapi sudah mulai memikirkan cara menghemat uang."
Bai Hu mengambil sepotong daging, lalu menjawab sambil tersenyum.
"Batu roh tidak jatuh dari langit. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi banyak."
Pemilik warung tertawa semakin keras.
"Anak muda, semoga kau benar-benar menjadi orang kaya nanti."
Bai Hu mengangguk mantap.
"Itu memang rencanaku."
Di sisi lain alun-alun...
Xu Canghai berdiri di balkon sebuah bangunan batu.
Tatapannya masih mengikuti Bai Hu.
Di belakangnya berdiri lima orang tetua lainnya.
Tetua perempuan yang tadi memperhatikan Bai Hu sejak awal akhirnya membuka suara.
"Tetua Xu, bagaimana pendapatmu tentang anak itu setelah melihatnya lebih dekat?"
Xu Canghai tidak langsung menjawab.
Ia memperhatikan Bai Hu yang sedang makan dengan lahap sambil sesekali berbicara dengan Tie Niu.
Beberapa saat kemudian ia berkata,
"Aku melihat sesuatu yang jarang dimiliki seorang jenius."
Tetua berjanggut panjang menoleh.
"Apa maksudmu?"
Xu Canghai menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung.
"Anak itu, sepertinya tidak pernah merasa dirinya hebat."
Ia melanjutkan dengan nada tenang.
"Saat berbicara denganku, ia beberapa kali mengatakan bahwa dirinya masih harus belajar. Ketika ditanya mengenai bakatnya, ia tidak menunjukkan sedikit pun kesombongan. Bahkan ketika semua orang memperhatikannya sekarang, ia tetap sibuk memikirkan makan siang dan tidak terganggu oleh hal lain."
Beberapa tetua tertawa kecil.
Xu Canghai ikut tersenyum.
"Sifat seperti itu sangat berharga. Selama ia tidak kehilangan kerendahan hati, masa depannya hampir tidak memiliki batas."
Tetua perempuan menganggukkan kepala pelan.
"Aku juga memperhatikan satu hal. Anak itu selalu mengamati keadaan di sekitarnya. Ia tidak hanya melihat, tetapi benar-benar memperhatikan."
Xu Canghai mengangguk setuju.
"Ya. Aku tidak sengaja memperhatikan arah pandangannya sejak tiba di lapangan. Saat peserta lain sibuk mengamati lawan, ia justru memperhatikan murid sekte bekerja, saat kami para tetua mengambil keputusan, bahkan mengamati pedagang menjual barang."
Tetua berjanggut panjang tertawa pelan.
"Sepertinya sekte kita akan menjadi jauh lebih ramai setelah anak itu bergabung."
Sementara itu...
Bai Hu menghabiskan tetes terakhir kuah mi di mangkuknya.
Ia mengusap mulutnya dengan lengan baju, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Wajahnya dipenuhi kepuasan.
"Sekarang aku siap mengikuti ujian apa pun."
Tie Niu menggeleng sambil tersenyum.
"Semangatmu benar-benar bisa meningkat hanya karena semangkuk mi."
Bai Hu tertawa kecil.
Namun beberapa detik kemudian...
Ekspresinya perlahan berubah serius.
Ia menatap gerbang Sekte Awan Langit yang menjulang tinggi di kejauhan.
Kemudian berkata dengan suara pelan,
"Tie Niu, apa pun ujian berikutnya, kita harus lulus."
Tie Niu mengangguk mantap.
"Tentu."
Bai Hu mengepalkan tangannya.
Tatapannya menjadi jauh lebih tajam dibanding sebelumnya.
"Aku tidak datang ke sini hanya untuk menjadi murid sekte. Aku datang karena ingin belajar sebanyak mungkin. Aku ingin menjadi lebih kuat, mempelajari alkimia, pedang, penempaan, formasi, dan semua ilmu yang bisa membuatku terus berkembang."
Ia menarik napas panjang.
"Suatu hari nanti... tidak akan ada lagi yang bisa mengambil apapun dari aku."
Tie Niu tidak menjawab.
Ia hanya menganggukkan kepala pelan.
Pada saat yang sama...
Suara lonceng bergema dari dalam Sekte Awan Langit.
GONG...!
GONG...!
GONG...!
Xu Canghai kembali melangkah ke atas panggung.
Dengan suara yang menggema ke seluruh alun-alun, ia berkata,
"Waktu istirahat telah berakhir. Seluruh peserta segera kembali ke tempat masing-masing. Ujian tahap kedua akan segera dimulai."
Mendengar pengumuman itu, Bai Hu berdiri sambil meregangkan tubuhnya.
Senyum khasnya kembali muncul.
"Ayo, Tie Niu. Sudah waktunya."
Kedua sahabat itu kemudian berjalan kembali menuju lapangan, tanpa menyadari bahwa ujian tahap kedua akan menjadi tantangan yang jauh lebih sulit daripada yang mereka bayangkan.
Bersambung,,
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut