"Aku tau kau membenciku Quen... tapi apa kau tahu jika perkataanmu menyakitiku?" tanya Anna dengan tangisan nya
" Rasa sakit yang kau rasakan sekarang hari ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang aku rasakan sejak dulu... sebelum kau merasa dirimu tersakiti fikiran dulu apa yang sudah kau lakukan padahal kau sama sama wanita... apa kau tidak punya hati atau kau memang tidak tau malu? " tanya Quen tajam
dan membuat Sean menatap Quen dengan tak kalah tajam nya Sean dan Quen menikah karna perjodohan yang di lakukan ayah Sean,Sean menerima perjodohan itu karna saat itu kekasih Sean berselingkuh di belakang Sean yang membuat Sean menerima perjodohan itu tapi tak lama Sean malah menjalin hubungan kembali dengan kekasihnya setelah menikah dengan Quen malah perselingkuhan itu di lakukan secara terak terangan di hadapan Quen dan di dukung oleh teman teman Sean dan kekasihnya. Quen yang mengetahui perselingkuhan yang dilakukan Sean hanya bisa diam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quenn9597, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Bagus! Semoga kerja sama kita lancar dan tepat pada waktunya" kata Sean mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan Quen melihat Satria lagi dan Satria begitu kesal lalu dia yang membalas jabatan tangan Sean dan Sean sempat beberapa detik melihat Quen yang enggan bahkan hanya sekedar melihatnya.
“Kita berangkat sekarang!"
"Baik Kapten" Mereka menuju kearah Helicopter.
“Kalian sudah siapkan barang-barang terbaik kalian?" tanya Rio di perjalanan mereka.
"Kami membawa barang terbaik kami Ka" jawab Gavin.
"Bagus "
Kami tidak menyangka jika ternyata Althea yang akan kami damping" kata Arsen.
"Kalian tidak tahu?" tanya Arya.
"Iya. Rumah sakit itu tidak memberi tahu apapun dan hanya mengirim kami kesini" kata Gavin.
"Ini misi rahasia" kata Kai tersenyum dan mereka mengangguk
“Quen kau baik-baik saja" bisik Vio.
“Aku ingin kembali" kata Quen membuat Satria dan Jeno terkejut.
"Jangan gila" kata mereka dan Quen memutar bola matanya malas.
Mereka masuk kedalam helikopter dan disana Sean duduk di samping kursi pilot.
"Jalankan Helikopternya!" perintah Sean.
“Baik Kapten"
Quen menatap kearah luar jendela dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.. ia memang merindukan Sean namun ia lebih memilih lari dan menjauh dari pria itu.
Mereka semua melihat kearah kedatangan para tim medis dengan beragam ekspresi diwajah mereka. Hangat, dingin dan datar mencampur menjadi satu.
“Selamat datang untuk kalian tim medis" sapa Anna dengan senyumannya membuat Quen dan beberapa temannya muak sedangkan yang tidak tahu apa apa membalasnya dengan tersenyum.
“Kami adalah tim inti dari Althena, seiring berjalannya waktu kita pasti akan saling mengenal satu sama lain. Dan kami juga sudah menyiapkan tempat kalian dan juga gedung medisnya. Nanti ka Alvian dan ka Albian yang akan mengantar kalian dan mengenalkan kalian pada gedung medisnya. KA minta tolong ya" kata Anna ramah.
"Tentu saja Anna" kata Alvian tersenyum Anna melihat mereka tersenyum.
"Tapi aku akan jelaskan beberapa mengenai peraturan di markas ini aku ingin kalian dengarkan hal itu dan berjanji untuk tidak melanggarnya. Bisa aku mulai?" tanya Anna.
"Bisa" kata mereka kecuali Quen dan Quen hanya melipat tangannya didepan dadanya dan melihat-lihat sekeliling markas yang gersang dan dia menatap horor tempat ini yang tidak ada hijaunya sama sekali.
"Baiklah,Peraturan pertamanya,Kalian tidak diizinkan keluar dari markas tanpa izin dari Kapten Sean. Kedua kalian juga tidak dibebaskan menggunakan telepon kecuali untuk Rumah sakit dan selain itu apapun yang menyangkut kepentingan medis juga harus didiskusikan pada kami sebelum kalian mengambil keputusan"kata Anna.
"Mengerti"
"Iya ka"
“Bagus Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik disini" kata Anna tersenyum.
"Sekarang kalian semua akan diantar menuju ke gedung medis dan juga tempat tinggal kalian. Nanti kita bertemu lagi saat makan malam. Sampai jumpa" kata Sean lalu dia masuk kedalam gedung Althea dikuti yang lainnya.
“Ayo kami akan mengantar kalian" kata Alvian.
"Terimakasih Ka" kata Gavin Mereka berjalan kearah kanan dari pintu masuk markas utama menuju kesebuh gedung yang jaraknya sekitar 10 meter dari pintu masuk markas.
“Apa tim rumah sakit sudah memberitahu kalian jika kalian disini selama 7 bulan?" tanya Albian.
"Sudah ka mereka sudah memberitahu kami" kata Vio.
“Aku harap kalian semua bisa bertahan disini.. tenang saja.. semua keperluan kalian akan kami siapkan dan kami smeua juga akan menjaga kalian semua" kata Albian.
"Terimakasih Ka kami akan melakukan tugas kami dengan baik" kata Quen yang akhirnya bicara setelah sejak tadi diam.
"Kami yakin kalian yang terbaik karena itu kalian dikirim kesini" kata Alvian membuat mereka tersenyum karena faktanya mereka dikirim lantaran mereka yang kurang dianggap serta memiliki masalah dengan ketua rumah sakit itu.
“Apa ini pertama kali kalian menjadi relawan"
"Iya ka ini pertama" kata Acha.
"Wahhh semoga kalian betah dan kuat ya" kata Alvian membuat mereka tersenyum.
"Wahh gedung medisnya bagus sekali" kagum Jevan.
"Gedung medis ini adalah gedung paling kuat dan paling bersih disini.. dan juga paling sejuk“ kata Alvian.
"Wahh luar biasa" kagum Aksa.
"Ayo masuk"
Mereka masuk kedalam dan mereka dibuat kagum dengan tampilan dalamnya yang seperti lobby rumah sakit Para dokter diberi kamar sendiri-sendiri.
“Barang kalian sudah kami letakan dikamar kalian masing2.. apa kalian ingin melihat gedung ini dulu?" tanya Albian.
“Iya ka" kata Vio.
"Baiklah.. akan kami antar"
"Apa kakak tidak sibuk?" tanya Quen.
"Tidak Quen karena sekarang tugas utama kami adalah melindungi kalian Tim medis dan juga jika kalian perlu apa-apa kalian bisa mengatakannya pada kami" kata Alvian.
“Ayo"
Disana mereka melihat ruangan rawat, ruang UGD dan juga ruang operasi.
"Wah ruangan rawatnya banyak sekali dan juga sangat rapi dan bersih" kata Beno.
“Kami membuatnya serapi dan sebersih ini karena kami tahu kesehatan sangat penting"
“Wahhh bagus sekali" kata Jevan.
“Bahkan lebih bagus dari yang di rumah sakit" kata Acha.
"Aku rasa aku akan nyaman disini" kata Gavin.
Quen menatap wajah bahagia timnya yang tidak seperti awal keberangkatan mereka.
"Disana adalah tempat santai kalian. disana ada kamar kalian, ruang Tv dan balkon" kata Alvian.
“Benarkah?" tanya Gavin tidak percaya.
"Iya. ayo masuk" kata Alvian sampai disana mereka melihat ruangan Tv dan juga balkon Dibalkon tersebut terdapat meja dan kirsi serta Sofa dan penghangat.
"Itu tangga kemana?" tanya Jeno.
"Ohh.. itu tangga menuju kelantai tempat kamar inti dari Althena" kata Albian.
"Jika ada apa-apa kalian bisa langsung memanggil kami"
Setelah dari jalan-jalan, Quen masuk kekamarnya, ia melihat tas berisi segala perlengkapan miliknya yang terdapat di Sofa kamarnya Quen mengeluarkan bajunya dan meletakan bajunya dilemari pakaiannya dan setelah itu ia mulai menata segala perlengkapannya, mulai dari make upnya, peralatan medisnya, buku catan nya dan juga sepatu beserta dengan tas miliknya Setelah selesai.
Quen menuju kearah balkon kamarnya yang terdapat tempat bersantai, ia akui Tim Athena memang hebat karena ditempat terpencil seperti ini, mereka bisa membangun hunian mewah bak villa tersebut.Didekat balkon kamarnya, ia melihat sebuah kamar yang terletak cukup dekat dengannya, ia memperhatikan balkon kamar itu dan dari jenis interiornya ia sudah tahu siapa yang tidur disana dan jawabannya adalah suaminya sendiri.
Quen berfikir apa Sean satu kamar dengan Anna? Dan sontak ia tersenyum pedih mengingat hal itu, bahkan sejak tadi ia tidak bicara sepatah katapun pada Sean.
Sean baru saja masuk kekamar nya, ia merenggangkan dasinya dan menuju kesebuah meja didekat balkon dan ia menuangkan wine kedalam gelasnya Sean keluar kearah balkon dan menikmati akohol ditangannya dengan melihat area markasnya yang terlihat sangat jelas dari kamarnya.
Sean mengedarkan pandangannya dan ia melihat serang gadis yang tengah duduk di balkon kamarnya Sean memperhatikan gadis tersebut yang merupakan istri sahnya.
Quen terlihat berbicara dengan seseorang lewat ponsel ditangannya dan terkadang ada tawa dan senyum bahagia dari wajahnya membuat Sean kagum dengan wajah istrinya itu Sean memang mengakui jika Quen adalah perempuan paling cantik yang pernah ia lihat namun hanya sebatas itu karena ia mencintai wanita lain dan itu adalah Anna.
Suara pintu kamar Sean diketuk seseorang dan kemudian dibuka Seorang wanita menghampirinya.
"Kau disini" kata Anna yang menghampiri Sean dibalkon kamar Sean Anna datang dan ia langsung memeluk Sean kemudian berdiri disamping Sean.
“Aku mencarimu kemana-mana" kata Anna.
“Apa yang kau lakukan disini?" tanya Anna lagi.
"Hanya beristrirahat sebentar" kata Sean dingin.
“Kau peru rileksasi?" tanya Anna dengan Senyuman yang menggoda.
"Tidak untuk sekarang" kata Sean menolak dan Anna mengangguk namun sebenarnya ia heran kenapa Sean menolaknya Sean fokus dengan area markasnya dengan segelas Wine bersama dengan Anna yang juga tengah menikmati Wine yang sama.