Senja Anjani, seorang gadis muda yang harus menjalani kehidupan penuh luka, air mata, serta cobaan hidup tidak ada habisnya.
di umurnya yang belum genap 22 tahun, ia kehilangan kesuciannya, di renggut secara paksa oleh Sagara Rahardian, yang tidak lain adalah kekasihnya.
Akibat kejadian satu malam, banyak kesalahpahaman terjadi pada perjalanan hidup mereka.
Benci dan cinta saling berebut untuk menguasai mereka.
"Sampai ragaku tak lagi bernyawa,
kebencian ku kepada mu akan tetap membara" (Senja)
Ayo...ikuti kisahnya 😍
*** hai Semuanya, mohon dukungannya ya, mohon kritik, serta sarannya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nay'ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maysarah & Mahira
*** Selamat datang 🤗
happy reading 😍
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
**** Empat tahun kemudian
"Hila, Ayah mu benelan tinggal di sulga Allah, kan?" tanya seorang gadis kecil cadel.
"Beneran lah, masak aku bohong, kan gak boleh berbohong, Dosa!"
"Tapi kenapa Ayahmu, gak pelnah nemuin kamu di mimpi? Pasti Ayahmu ndak di Sulga, tapi di Nelaka! makanya ndak bisa nemuin kamu di mimpi, kalena lagi di siksa sama Setan Nelaka!" sambung gadis kecil bernama Anna itu.
Belum sempat gadis cilik tadi menjawab pertanyaan temannya.
"Is...is, Hila pembohong!" ejek salah satu anak laki-laki bergigi ompong.
"Aku ndak bohong ya, Chaki-Chaki, dasar udah jelek, gigi ompong, masih suka ngompol lagi!" balas sang gadis cilik gak terima di cap pembohong.
"Ndak mungkin Ayahku masuk Neraka, Annabel!" teriakan melengking pun terdengar.
Tanpa mendengarkan balasan ataupun penjelasan dari teman sebayanya, Gadis cilik itu berlari pulang kerumahnya tanpa menggunakan sendal, ia merasakan perih di telapak kakinya ketika menginjak batu kerikil jalan kampung tak beraspal itu.
Hatinya benar-benar sedih setiap kali ada yang mengatakan jika Ayah nya menjadi penghuni neraka, bukan penghuni surga seperti yang selalu sang bunda katakan.
Mahira nama gadis bermata Amber itu, di umurnya yang sudah genap empat tahun, ia termasuk anak yang pintar, sudah pintar berhitung, berbicara lancar dan jelas.
"Mahila" mendengar seseorang memanggil namanya, ia pun mencari sumber suara itu, di ujung jalan sana tampak seorang gadis cilik seumurannya berjalan mendekatinya.
"Kamu kok nangis, jangan nangis, Mahila" ujar kembarannya, sembari menghapus airmata di pipi gembul Hira.
"Annabel, dan Chaki-Chaki jahat May, mereka bilang ayah kita tinggalnya di Neraka, bukan di Surga" hiks hiks hiks Hira mengadu kepada Maysarah sang kembaran.
"Aku kan udah bilang, jangan main sama anak nakal itu, kamu sih gak mau dengelin aku, nangis kan jadinya!" omel May namun tangannya tak henti menghapus airmata yang mengalir deras di pipi kemerahan Hira.
"Ayo pulang, bental lagi Bunda pulang kelja, jadi kita halus udah belsih dan wangi!" ajak May kepada Hira.
Dua anak kembar identik itu berjalan pulang saling bergandengan tangan. mudah untuk membedakan mereka berdua.
Maysarah: sang kakak memiliki bola mata berwarna abu-abu, berbicara masih cadel, ia belum bisa menyebutkan huruf R dengan benar. Maysarah memiliki sifat lebih kalem, pendiam, namun penyayang, ia tidak secerewet Adik kembarnya.
Mahira : memiliki pribadi Cerewet, manja, dan sedikit cengeng, jika kalah dalam berdebat jurus andalannya adalah menangis.
...----------------...
"Assalamualaikum tante Intan!" teriak si kembar berbarengan.
"Walaikumsalam" Bintang yang melihat salah satu keponakannya sesenggukan akibat terlalu lama menangis, langsung menghampirinya.
"Adek, kenapa kak May? pipi bulat seperti bakpao nya ini, kok banyak bekas kerak ingus ya?" goda Bintang.
"Ih, Tante, apa gak bisa lihat? ini tuh bekas air mata bukan ingus, bukan juga iler!" Hira kesal, Bintang adalah salah satu penyebabnya menjadi cengeng, selalu suka menjahilinya.
"Oh...air mata toh, maaf ya cantik, Tante tadi ngelihatnya gak bener" cup...cup di kecupnya pipi Hira yang terasa asin itu.
"Siapa, yang udah buat si cantiknya Tante Intan ini bersedih? sini kasih tau, biar nanti Tante marahin Dia!" ujar bintang sembari membawa Hira kedalam gendongannya, dan menggandeng tangan Maysarah, berjalan memasuki rumah sederhana mereka.
"Marahin, banyak banyak Annabel dan Chaki-Chaki tante! mereka buat aku nangis keras-keras!" adu Hira
Hampir saja Bintang tertawa lepas, mendengar Hira, menamai anak orang sesuka hatinya.
Hira memang paling suka mengganti bahkan menambahkan nama orang di sekitarnya, sesuai perilaku mereka terhadap dirinya.
"Kali ini, apa lagi yang di perbuat oleh mereka, Hira?" langsung saja tangis kencang memenuhi rumah mereka.
Setelah mendengar penuturan Hira, Bintang dengan penuh kasih memberi pengertian.
"Hira, Ayah sudah bahagia di surganya Allah, bukannya setiap malam, kalian berdua selalu berdoa, memohon kepada Allah untuk selalu menempatkan ayah di surga indah-Nya, benar tidak?" Kedua bocah itupun menangguk mengiyakan tutur kata sang tante.
"Tapi, kenapa kami gak pelnah melihat wajah ayah tante?" Mendengar pertanyaan dari May, membuat Bintang terdiam, tidak bisa menjawabnya.
"Wah, sepertinya Bunda sudah pulang itu!" Bintang mengalihkan pembicaraan, ketika mendengar suara mobil memasuki halaman rumah.
Langsung saja kedua gadis kecil itu berlari, menyambut sang Bunda pulang kerja.
"Alhamdulillah, kali ini aku berhasil menghindar lagi, andai saja kalian tahu siapa ayah kalian sayang" batin Bintang
...****************...
"Bunda, Bunda" seru semangat gadis cilik nan menawan itu, begitu melihat sang Bunda keluar dari dalam mobil.
"Assalamualaikum, cantik dan manisnya Bunda," Senja langsung memeluk dan mencium kedua malaikat kecilnya, pelipur hatinya, penyemangat hidupnya.
"Walaikumsalam" jawab kompak mereka.
"hmm, sepertinya Bunda mencium bau asem kecut gimana gitu" seloroh Senja, setelah mencium bertubi tubi wajah gadis ciliknya.
"Ha ha ha ha, kami belum mandi Bunda, jadi wajal masih bau acem!" jawab si sulung.
"Inikan hari Jum'at, kami tidak mengaji sore hari, jadi buat apa mandi cepat cepat" kilah sang adik menimpali.
"Iya deh, Bunda kalah hari ini, di serang dua orang sekaligus, Tante Bintang, tolong bantuin Bunda, dari serangan dua bidadari kecil ini!" seru dramatis Senja. lalu mereka tertawa bersamamu.
"Terimakasih ya Allah, atas segala nikmat yang Engkau limpahkan, ke pada keluarga kecil kami" batin Senja, ia begitu bahagia bisa hidup aman, dan damai, di desa kecil dan terpencil ini, selama lima tahun belakangan.
Kini usia Senja sudah 27 tahun, sedangkan Bintang 24 tahun.
Mereka berhasil melewati badai besar dengan baik, saling bahu membahu menjalani kehidupan yang tidak mudah. sekarang Senja, menyambi kerja menjadi supir mengantar jemput sekolah di perumahan elit, tidak jauh dari tempat mereka tinggal.
Bintang sendiri mengelola usaha rumahan mereka, memproduksi tempe menjadi olahan keripik, di bantu dengan tiga orang pekerja.
Jika pagi hari sampai menjelang sore, Bintang yang merawat serta menemani si kembar. setelah itu bergantian dengan Senja.
...----------------...
Di sebuah ruangan gedung pencakar langit, terdapat seorang laki-laki dewasa tengah menatap jalanan Ibu Kota.
Sagara Rahardian sekarang menjelma menjadi pribadi yang sangat berbeda dari lima tahun yang lalu, tidak tersentuh sama sekali, kehidupan pribadinya benar benar tertutup. sangat sulit mencari informasi tentangnya.
Tok
Tok
Tok
Begitu mendengar pintu ruangannya di ketuk dari luar, Sagara mempersilahkan si pengetuk masuk.
"Katakanlah!"
"Tuan, saat ini, Agam, sedang dalam perjalanan membawa seseorang yang selama ini kita cari!" beritahu Mira sang asisten.
"Apa, ada lagi?" tanya Sagara ketika melihat salah satu asistennya, terlihat ragu untuk menyampaikan sesuatu.
Ragu-ragu Mira, melanjutkan laporannya, "Barusan, pengasuh tuan muda Raka, mengatakan, jika tuan muda sedang terserang demam, dan terus menerus memanggil nama Anda, Tuan!"
~ Bersambung ~
Mohon dukungannya ya 🤗
padahal ini udh aku tunggu2 up nya... 🥰🥰 kngn sm si kembar . kangn bngt sm kakek agam..🤣🥰🥰🥰😘😘😘