NovelToon NovelToon
SAJADAH Di Atas BARA

SAJADAH Di Atas BARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.

happy reading💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DINDING EGO DAN AIR MATA DI AMBANG MALAM

Langkah kaki Maira dan ibunya terdengar bergaung pelan di bawah temaram lampu neon koridor rumah sakit yang dingin. Bau khas obat-obatan dan antiseptik yang menyengat seolah memperkeruh suasana hati Maira yang kian membeku. Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu ruangan kelas tiga, tempat di mana Yudi dirawat.

Saat pintu digeser perlahan, pandangan Maira langsung tertuju pada ranjang rumah sakit di sudut ruangan. Benar saja, pria yang dahulu bertubuh tegap dan menjadi monster mengerikan di masa lalunya, kini tampak terbaring sangat lemah. Tubuh Yudi menyusut drastis, menyisakan tulang yang seolah hanya dibungkus oleh kulit keriputnya yang pucat.

Sesaat setelah kelopak mata Yudi yang sayu terbuka dan menangkap sosok Maira, air matanya seketika luruh membasahi pipi. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, Yudi sekuat tenaga berusaha bangkit dari posisi tidurnya. Ia mengabaikan jarum infus yang menancap di lengan kurusnya serta selang oksigen yang menyumbat kedua lubang hidungnya.

“Ma... Maira... ma-af... kan sa-ya...” ucap Yudi terengah-engah, suaranya terdengar serak dan terputus-putus menahan rasa sakit yang mendera dadanya.

Detik itu juga, rahang Maira seketika mengeras. Menatap kembali wajah renta di hadapannya itu secara otomatis memutar kembali kaset lama di kepalanya—mengingatkan Maira tentang malam-malam mencekam yang membuatnya ketakutan setengah mati bertahun-tahun lalu. Dada Maira bergemuruh. Ia memejamkan matanya sekejap, mencoba mengumpulkan sisa-sisa energi warasnya yang sudah tersedot habis sejak sore tadi.

Maira membuka mata, menatap Yudi dengan tatapan yang menghunus sedalam belati. “Apa menurut Anda... semua perbuatan biadab Anda dulu bisa dimaafkan begitu saja hanya dengan satu kata maaf saat Anda sekarat?” tanya Maira dengan suara bergetar menahan amarah.

“Hidup saya hancur, saya kehilangan arah, dan parahnya... saya ditelantarkan oleh ibu kandung saya sendiri karena membela Anda! Apa Anda bisa menebus semua tahun-tahun penuh penderitaan yang saya lalui?” cecar Maira.

Maira menarik napas dalam-dalam, senyum sinisnya kembali terbit di tengah kepedihan. “Baiklah... memang kalau sekarang Anda bertobat, itu jauh lebih bagus buat Anda. Terus dekati saja dan mohon pengampunan dari Tuhan. Perbaiki terus urusanmu dengan-Nya sekarang juga, agar setidaknya... rasa sakit yang saya rasakan dari perbuatanmu tidak sia-sia di akhirat nanti. Karena di hadapan Tuhan kelak... aku pasti akan menuntut Anda!” ucap Maira dengan nada suara yang meninggi di akhir kalimat.

Tanpa sudi mendengar balasan atau ratapan Yudi lebih lama lagi, Maira langsung berbalik arah. Ia melangkah cepat keluar dari ruangan pengap itu, meninggalkan Yudi yang kini menangis tergugu dengan dada naik turun menahan sesak.

Langkah kaki Maira yang terburu-buru di koridor rumah sakit mendadak tertahan ketika sang ibu berlari menyusulnya dan menahan lengannya.

“Maira, tunggu sebentar, Nak! Tolong dengar Ibu dulu,” ucap ibunya terengah-engah. “Terima kasih... terima kasih karena kamu sudah sudi datang ke sini malam-malam. Dan... Ibu harap, kamu juga bisa memaafkan kesalahan Ibu. Bagaimana pun juga, Ibu adalah ibu kandung kamu, Maira. Dengan perubahan kamu yang sekarang... yang mulai belajar berhijab... seharusnya kamu bisa lebih memaafkan dan mengerti posisi Ibu dulu. Jangan jadi anak durhaka, Nak... meskipun Ibu tahu perbuatan Ibu dulu memang sangat salah kepadamu.”

Deg.

Ucapan yang keluar dari mulut ibunya sontak membuat dada Maira bergemuruh hebat oleh emosi yang membakar seluruh kesabarannya. Kalimat 'anak durhaka' dan 'tuntutan untuk mengerti' terasa seperti tamparan keras yang paling tidak tahu diri di telinganya. Maira menghentakkan tangannya kasar hingga cengkeraman ibunya terlepas. Ia berbalik, menatap tajam sang ibu dengan mata yang menyala-nyala.

“Durhaka? Wow... memang dunia ini gak pernah adil yah, Bu?” ucap Maira dengan tawa sumbang yang sarat akan rasa perih. “Saya terlempar ke lingkungan hitam dan menjadi berantakan seperti ini juga karena perlakuan Anda! Anda yang memilih menutup mata dan membuang saya demi laki-laki itu! Dan sekarang... Anda dengan tidak tahu dirinya menuntut saya untuk memaafkan dan mengerti posisi Anda? Hanya karena Anda merasa Anda seorang ibu?”

Maira maju selangkah, menatap wajah ibunya yang mulai pucat karena syok. “Ibu? Rasanya kata itu sudah tidak pantas lagi saya panggil ke Anda, melihat bagaimana egoisnya Anda kepada darah daging Anda sendiri demi laki-laki berengsek itu! Mulai detik ini... jangan pernah cari saya lagi!” ucap Maira telak dan final.

Kalimat pemutus hubungan itu sukses membuat sang ibu terdiam seribu bahasa, membeku di tempatnya dengan air mata yang terus mengalir deras. Maira tidak peduli lagi. Ia membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar, keluar dari area rumah sakit tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

Maira berjalan terhuyung menyusuri trotoar jalanan malam yang berangin dingin. Pikirannya benar-benar kalut, berantakan, dan hancur lebur. Segala doktrin tentang dosa, agama, dan konsep anak durhaka yang baru saja ia pelajari mendadak bertubrukan keras dengan luka traumatis masa lalunya.

Langkah kakinya membawa Maira hingga ke atas sebuah jembatan layang yang cukup sepi. Ia berjalan mendekati pembatas jembatan, lalu mencengkeram besi pembatasnya erat-erat. Maira menatap kosong ke arah kegelapan malam di bawah jembatan, membiarkan embusan angin kencang menerpa wajah dan hijabnya yang mulai berantakan. Ia menghela napas panjang, mencoba membuang sesak yang mengimpit dadanya.

“Gue... gue berhak bersikap sadis dan dingin begini kan, Tuhan? Salahkah kalau gue menuntut keadilan atas masa muda gue yang dirampas secara paksa oleh mereka?” batin Maira dalam hati, mencoba mencari pembenaran atas sikap kasarnya di dalam ruang rawat tadi demi menenangkan jiwanya yang terguncang.

Di saat Maira sedang bergelut dengan badai batinnya di tepi besi jembatan, suara deru halus sebuah motor mendadak melambat dan berhenti tepat di sisi jalan, beberapa meter di belakang posisi Maira berdiri.

Sosok pria berhelm hitam dengan jaket gelap itu turun dari motor dengan tergesa-gesa. Begitu pandangan matanya menangkap siluet seorang wanita yang sangat ia kenal sedang berdiri merenung di tepi jembatan sepi larut malam, jantung pria itu seketika berdegup tidak karuan karena terkejut dan panik.

“Maira? Astaghfirullahaladzim, Maira?!”

Maira tersentak kaget mendengarnya. Ia mengenali suara bariton yang meneduhkan itu. Dengan perlahan, Maira membalikkan tubuhnya dan mendapati Fatih yang sedang melangkah lebar menghampirinya dengan raut wajah yang tampak sangat panik dan khawatir.

“Kenapa kamu berdiri di sisi jembatan lagi malam-malam begini, Maira? Apa yang terjadi?” tanya Fatih dengan napas memburu, menatap lekat-lekat mata Maira yang tampak hampa dan kelelahan. Fatih benar-benar takut melihat Maira berada di dekat jembatan atau jalan raya sepi, takut jika wanita itu kembali berniat nekat mengakhiri hidupnya akibat tekanan batin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!