Kecelakaan membuat nyawanya masuk dalam tubuh seorang anak SMA yang menjadi korban saat menolong seorang gadis saat terjebak tawuran siswa.
Mengetahui dirinya telah meninggal, Dom tidak bisa menerima hal itu. Terutama saat dia mulai sering bermimpi buruk yang membuatnya tidak nyaman.
Dom yang seorang dokter bedah ternama, sekaligus dokter peneliti obat obatan, yang memiliki laboratorium, serta pewaris tunggal dinasti dari keluarga yang bergerak di bidang farmasi, harus bisa menerima kenyataan bahwa raganya telah tiada.
Dom menjalani kehidupan sebagai anak SMA, sambil menyelidiki kematiannya sendiri.
Dalam perjalanannya menyelidiki, banyak hal yang tak terduga dialaminya.
Penghianatan, rahasia keluarga, dan teman membuat hidup Dom yang sebagai Arthur semakin berwarna.
Ikuti terus kisahnya hanya di sini.
Jangan lupa like dan komentarnya, baca secara urut juga ya.
Terima kasih 😘💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dee Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menolong Lucy
"Apa masalahmu?" Dom membantu Lucy berdiri dan membawanya ke ruang kesehatan.
"Apa pedulimu? Bukankah urusan kita sudah selesai. Tidak usah mengurusi orang lain." Sahut Lucy ketus.
Dom memapah Lucy hingga masuk ke ruang kesehatan siswa.
"Ada apa?" Tanya seorang karyawan yang jaga.
"Dia terluka, apakah bisa minta tolong?" Dom membawa masuk Lucy dan membaringkan pada tempar tidur yang ada di ruangan itu.
"Oh, maaf, aku ada urusan mendadak saat ini. Bisa minta tolong urus temanmu. Oya, bukankah, kamu Lucy? Ayahmu seorang dokter. Hubungi saja ayahmu."
"Aku bisa mengurusnya." Cetus Dom.
"Baguslah. Kotak p3k ada di dalam lemari. Apa yang terjadi denganmu Lucy?"
Petugas itu bersiap untuk pergi sambil menatap Lucy yang meringis menahan sakit.
"Aku jatuh."
Sahut Lucy pelan.
"Aku rasa temanmu bisa membantumu. Aku tinggal dulu."
Karyawan ruang kesehatan keluar dari tempat itu, lalu Dom mengambil kotak obat dalam lemari.
"Sini, aku bersihkan lukamu dulu."
Dom menarik lengan Lucy.
"Auuch... Kamu bisa pelan nggak sih?! Sakit tau!" Lucy menahan sakit sambil melirik pada lengannya yang masih dalam pegangan Dom.
"Cerewet." Gerutu Dom sambil terus membersihkan baret luka pada tubuh Lucy.
Terdengar sesekali teriakan Lucy menahan sakit, namun tak dihiraukan oleh Dom.
Dom melirik pada Lucy usai menyelesaikan tugasnya. Remaja itu masih meniup lukanya yang telah dibersihkan dan diberi obat.
"Sebaiknya kamu ke rumah sakit, supaya tidak infeksi." Dom memberi saran sambil mengembalikan obat dalam lemari.
"Tak usah repot repot memperhatikanku. Aku dapat menjaga diriku sendiri." Sahut Lucy ketus.
Dom menoleh pada Lucy.
"Kamu berbeda dari beberapa hari yang lalu." Ucap Dom masih dengan memperhatikan Lucy.
"Oh, atau semua ini akan berubah saat sudah masuk dalam lingkungan sekolah? Dirimu yang sebenarnya kamu sendiri tidak tahu." Sambung Dom sambil menggelengkan kepala.
Lucy hanya diam tak menanggapi ucapan Dom.
"Ini bukumu." Dom melempar tepat di samping Lucy.
Dom menghela napas dalam dalam lalu bersiap hendak beranjak dari ruangan itu.
"Aku gila! Aku tergila gila padanya. Mungkin obsesi."
Ucap Lucy tepat saat Dom melangkah menuju ke arah pintu.
Dom menghentikan langkahnya dan menoleh kembali pada Lucy.
"Siapa?" Tanya Dom.
Lucy menunjukkan buku diarynya pada Dom.
"Mungkin mereka benar. Tapi, aku tak suka mereka menyebut mamaku gila. Mamaku memang sempat di rawat di rumah sakit jiwa karena depresi. Namun, dia tidak gila! Mengapa seolah semua menyudutkan mama?"
Lucy duduk menekuk dan memeluk lututnya.
"Aku takut menghadapi kenyataan. Bahkan untuk pulang ke rumah, aku takut bertemu dengan mamaku."
Lucy menundukkan kepala, dan menangis.
"Mamamu mungkin perlu waktu untuk menyembuhkan rasa traumanya. Jika dia bisa melawan rasa takutnya, aku yakin, dia pasti akan kembali padamu. Temani dia. Mungkin kehadiranmu, bisa menjadi obat mujarab baginya. Bukan hanya hanya hadir secara fisik, namun, kalian harus saling berkomunikasi. Mungkin dia rindu padamu."
Dom menasihati Lucy, lalu menepuk bahu remaja itu.
"Terima kasih, Arthur." Lucy menoleh pada Dom.
Dom tersenyum.
"Maaf aku bersikap kurang baik padamu tadi. Aku hanya mulai muak dengan teman temanku. Di depan mereka baik baik, rupanya menusukku dari belakang. Kamu lihat Rachel. Dulu dia gadis pemalu, lusuh, dan tak bisa bergaul. Aku membantunya bergaul, mengajari cara bersolek. Ternyata dia gunakan untuk merebut Matt. Dia memang licik. Menggunakan pekerjaan orang tuanya yang seolah olah pemilik rumah sakit, untuk mencapai semua keinginannya. Mamanya juga mendepak mamaku, lalu mencoret dari daftar perkumpulan istri dokter di rumah sakit. Padahal aku tahu, jika mama tahu hal ini, dia akan semakin kepikiran dan kumat lagi."
"Anak siapa dia?" Dom bertanya dengan taut wajah heran.
"Papa dan Mamanya adalah pasangan dokter Steve. Bekerja di rumah sakit Internasional, milik Dokter Luther."
"Mereka tinggal menunggu waktu saja. Papanya dokter penyakit dalam, dan ibunya ahli gizi, bukan? Dokter Steve terendus menggelapkan dana rumah sakit, dan istrinya tukang selingkuh." Dom tersenyum sinis. Dia beberapa kali melihat istri Dokter Steve melakukan perbuatan asusila di area parkir atau gudang dengan lelaki yang berbeda. Menurut analisa Dom, dia memiliki hasrat berlebih dalam bercinta, karena suaminya tidak bisa memuaskan.
Lucy terbengong mendengar ucapan Dom, dan menatapnya bingung.
"Ah, ya, aku pernah mendengar gosip dari rumah sakit sewaktu menemani ibuku melakukan pemeriksaan." Dom tersadar, bahwa dia kini berada dalam tubuh Arthur.
"Aku menyukai Dokter Dom. Dia cinta pertamaku. Buku itu berisi perasaanku padanya. Pertama kali aku bertemu saat ikut menjemput papaku. Aku melihatnya keluar dari ruang operasi. Berjalan melewatiku, dengan gagah. Dia sangat tampan." Lucy bercerita dengan raut wajah berbinar.
Dom menatap Lucy, lalu tak dapat menahan lagi tawanya.
Dom tertawa terbahak-bahak usai Lucy bercerita.
Lucy menatap Dom dengan tatapan tak suka.
"Apa maksudmu? Menertawakanku? Hah? Kamu, tak jauh berbeda dengan Rachel dan komplotannya."
Lucy marah, melipat tangannya di depan dada sambil bersandar.
"Jangan marah dulu. Jangan tersinggung."
"Hah, sudah menertawakanku, lalu kamu bilang jangan marah dan tersinggung. Aku kecewa cerita ini padamu, Arthur."
Lucy menghela napas dalam, dengan raut wajah kecewa.
"Kamu masih sangat muda. Dia terpaut jauh usianya denganmu, Dokter itu seusia papamu. Apa menariknya dia bagimu?"
"Dia hebat. Aku pernah ikut seminar, dan Dokter Dom pengisi acaranya. Aku bertekad ingin menjadi dokter juga. Aku memiliki buku buku yang ditulis olehnya, aku membaca dan mempelajarinya juga. Aku juga melakukan penelitian di lab. Aku menguji beberapa daun, sebagai penenang, akan aku jadikan teh herbal untuk mamaku."
"Wow, hebat sekali!"
"Itulah, aku sering menghabiskan waktu hingga malam di lab sekolah untuk itu. Lalu, malam itu, adalah malam sialku, harus bertemu pada berandal tukang tawuran. Beruntung kamu menolongku, meski harus seperti ini."
Lucy memegang perban luka jahit pada kepala Dom.
"Kamu masih muda. Jangan suka dengan orang yang jaraknya jauh. Eh, lalu Matt?"
"Aku juga sadar, tidak mungkin aku merebut Dokter Dom dari Dokter Stella." Sahut Lucy sambil tertawa kecil.
"Aku hanya ingin lebih eksis saja, jika menjadi kekasih seorang atlet basket sekolah yang menjadi idola." Lucy tersenyum kecut.
"Rupanya seorang Lucy butuh eksistensi juga. Aku pikir selain menjadi murid yang pintar, juara olimpiade MIPA, juara pidato, putri Dokter Erick, masih membutuhkan itu?" Dom menggelengkan kepala.
"Heh, kamu menyindirku?" Lucy cemberut.
"Dan sekarang dia menghianatimu?"
"Masih belum pasti. Aku masih menduga."
"Jika benar?"
Lucy diam, lalu melayangkan pandangan ke arah luar.
"Aku akan mendepaknya jauh jauh."
Dom tersenyum tipis, lalu menyodorkan sebotol air mineral pada Lucy. Lucy menerimanya, lalu meneguk hingga setengah.
"Sebaiknya kita keluar dari sini dan menuju kantin. Perutku mulai lapar."
Dom berdiri, lalu mengulurkan tangannya membantu Lucy berdiri.
"Arthur."
"Ya."
"Terima kasih."