NovelToon NovelToon
BATAS KESABARAN RENATA

BATAS KESABARAN RENATA

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:21.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.

​Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
​Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.

Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

​Motor ojek online yang membawa Rena dan Dio membelah jalanan pagi yang mulai berisik oleh hiruk-pikuk kota. Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, motor itu akhirnya melambat dan berhenti di depan sebuah area dengan bangunan rumah petak yang berjajar rapi. Di dinding pagar bagian depan, terpampang sebuah papan kayu sederhana dengan tulisan cat yang masih jelas: Terima Kos.

​Rena turun dari motor, menurunkan dua tas ransel besarnya, lalu menuntun Dio masuk ke dalam pekarangan. Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan hari ini. Sebenarnya, sebelum badai dalam rumah tangganya terjadi, Rena tidak tinggal diam. Dia sudah mencari, menyurvei, dan melihat-lihat beberapa tempat kos yang lokasinya strategis—dekat dengan sekolah Dio dan juga dekat dengan tempatnya bekerja di rumah Ririn. Strategi ini dia susun matang-matang agar nantinya dia tidak perlu mencari tempat kos lagi dan menghabiskan terlalu banyak uang untuk biaya transportasinya.

​Dan setelah membandingkan beberapa tempat, pilihan terbaiknya jatuh pada rumah kos milik Bu Aminah. Lingkungannya bersih, aman, dan pemiliknya terkenal ramah.

​Melihat area jemuran yang sepi, Rena melangkah menuju rumah utama yang berada di paling depan.

"Permisi... Assalamualaikum," sapa Rena dengan nada sopan.

​Seorang wanita paruh baya berhijab instan keluar dari pintu depan dengan senyuman hangat.

"Waalaikumussalam. Oh, Mbak Rena ya? Yang waktu itu sempat datang lihat-lihat?"

​"Iya, benar, Bu Aminah," jawab Rena sembari tersenyum ramah. Dia segera menemui Bu Minah untuk menanyakan kelanjutan niatnya tempo hari. "Saya mau menanyakan lagi, Bu, apakah saat ini masih ada kamar kosong yang bisa saya tempati segera?"

​Bu Aminah menepuk tangannya pelan dengan wajah berbinar. "Alhamdulillah, tentu saja ada, Mbak! Kebetulan baru satu bulan lalu ada penghuni kos di petak nomor tiga yang keluar karena harus pulang kampung. Kamarnya sudah dibersihkan. Untuk biaya sebulannya masih sama seperti yang saya bilang kemarin, lima ratus ribu rupiah saja, sudah bersih termasuk air."

​"Alhamdulillah. Kalau begitu, saya ambil kamar itu sekarang ya, Bu. Ini uang untuk bulan pertamanya," ujar Rena sembari menyerahkan selembar uang pecahan seratus ribu sebanyak lima lembar yang diambilnya dari dompet.

​"Iya, mari Mbak, saya antar ke kamarnya," kata Bu Aminah ramah.

​Dan disanalah mereka tinggal sekarang. Kamar petak nomor tiga itu menjadi saksi bisu awal mula kebebasan Rena. Ketika pintu kayu itu dibuka, ruangan di dalamnya masih benar-benar kosong melompong. Belum ada perabot apapun yang menghiasi ruangan berukuran tiga kali empat meter tersebut. Lantainya yang beralaskan keramik putih tampak bersih, dan di sudut belakang hanya ada sebuah kamar mandi dalam.

​Rena menurunkan tas-tasnya ke lantai, lalu menyamakan tingginya dengan Dio. Dia menggenggam kedua tangan kecil itu dengan lembut, mencoba memberi pengertian kepada Dio tentang hidup mereka yang baru.

​"Dio sayang, sekarang kita akan tinggal di sini ya? Sementara waktu tempatnya masih kosong, belum ada kasur atau televisi. Tapi di sini, tidak akan ada lagi orang yang membentak Ibu atau memarahi Dio. Kita berdua akan aman di sini. Dio nggak apa-apa, kan?" tanya Rena dengan tatapan penuh permohonan.

​Dio, bocah lelaki yang selama ini terbiasa melihat ibunya bersedih dalam diam, menatap sekeliling kamar kosong itu. Alih-alih mengeluh, dia justru mengulas senyum lebar dan hanya mengangguk mengerti dengan polosnya.

"Nggak apa-apa, Ibu. Yang penting Dio sama Ibu terus."

​Mendengar jawaban itu, separuh beban di pundak Rena serasa menguap. Setelah melepas lelah beberapa saat dan meluruskan kakinya yang tegang akibat ketegangan semalam dan tadi pagi, Rena bangkit berdiri. Dia mengajak Dio keluar kembali untuk membeli beberapa barang untuk mengisi kamar kos mereka agar layak huni malam nanti.

​Mereka berjalan kaki menuju pasar tradisional dan toko perabotan yang terletak tak jauh dari area kos. Rena membeli beberapa kebutuhan, sebuah kasur lantai yang cukup tebal untuk mereka berdua, sebuah kompor gas beserta tabung gas kecil, penanak nasi, satu wajan kecil, panci kecil serta beberapa peralatan makan dasar lainnya.

​Rena tidak perlu merasa cemas soal biaya. Uang tabungan rahasia yang selama ini dia sisihkan sedikit demi sedikit dari hasil kerja kerasnya dan sisa uang belanja yang dia hemat bulan ini, ternyata lebih dari cukup untuk membeli itu semua dan bahkan masih tersisa banyak untuk biaya hidup beberapa bulan ke depan.

​Sore harinya, kamar kos nomor tiga itu sudah berubah total. Mereka pun mulai merapikan tempat tinggal mereka sekarang. Kasur lantai sudah digelar rapi di sudut ruangan dengan sprei bermotif kartun kesukaan Dio. Kompor dan penanak nasi sudah tertata rapi di dekat wastafel belakang. Wangi pembersih lantai menguar, menciptakan suasana yang amat menenangkan. Malam itu, di bawah atap rumah petak yang sederhana, Rena dan Dio menyantap makan malam pertama mereka dengan tenang, mereka memulai hidup baru di tempat baru yang penuh harapan.

****

​Kondisi yang bertolak belakang seratus delapan puluh derajat justru terjadi di kediaman Aris. Suasana di dalam rumah bercat abu-abu itu terlihat masih sangat panas dan mencekam, bahkan setelah matahari mulai condong ke barat.

​Sejak pulang dari balai RT dengan menanggung malu yang teramat besar, Bu Broto tidak berhenti berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Wajahnya berkerut penuh amarah, napasnya memburu teratur. Dia terus mengomel tanpa henti, memaki dan mengatai Rena dengan sumpah serapah yang keji.

​"Dasar perempuan ular! Menantu tidak tahu diuntung!" omel Bu Broto dengan suara melengking, tangannya mengacung-acung ke udara. "Dia sengaja menjebak kita semalam! Dia sengaja mempermalukan keluarga kita di depan seluruh tetangga! Sekarang dia pergi begitu saja dengan kepala tegak, meninggalkan nama baik keluarga kita yang tercoreng sampai ke dasar jurang! Bagaimana Ibu bisa keluar rumah lagi kalau begini?!"

​Siska yang sedang duduk di sudut ruangan sembari menyuapi Amel hanya bisa diam, tidak berani menyela karena takut menjadi sasaran amuk ibunya. Sementara Linda hanya bisa diam tanpa suara mendengar ocehan ibu mertuanya.

​Tak puas meluapkan kemarahannya pada bayangan Rena, Bu Broto mendadak berbalik. Matanya menatap tajam ke arah Aris yang duduk termenung di kursi kayu dengan wajah frustrasi. Dengan langkah kasar, Bu Broto juga menyalahkan Aris atas segala bencana yang menimpa mereka.

​"Dan kamu juga, Aris! Ini semua salahmu!" tunjuk Bu Broto tepat di depan hidung putranya. "Ibu kan sudah bilang, kalau mau berhubungan dengan Linda, lakukan dengan rapi! Kenapa kamu bodoh sekali dengan membawa Linda pulang ke rumah ini di saat istrimu ada di sini?! Dan yang paling menjijikkan, kenapa kamu tidak bisa menahan nafsumu sedikit saja sampai harus bermain di ruang tamu?! Kalau kamu tidak sembrono dan bisa berpikir pakai otak, semua ini tidak akan pernah terjadi! Sekarang istrimu pergi, uang belanja bulan ini hilang, dan kita semua menanggung aib seumur hidup!"

​Aris tidak menyahut. Dia hanya bisa meremas rambutnya sendiri dengan frustrasi. Di dalam benaknya, bayangan tatapan dingin Rena dan lambaian tangan Dio saat pergi naik ojek tadi pagi terus berputar laksana kaset rusak. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir, Aris merasakan sebuah ketakutan yang teramat besar, dia sadar dia telah kehilangan wanita yang selama ini menjadi pondasi terkuat di hidupnya, dan kini dia harus menghadapi badai kehancuran seorang diri.

1
Rina Arie
good
Maya indahsari
real life
Eys Resa: ❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Elina thea
di sini si Aris kelewat bodoh DECH...meskipun jabatannya di turunkan jadi karyawan biasa,seharusnya dia tetap bersyukur...bukannya itu jauh lebih baik daripada jadi driver online
Eys Resa: malu, kak... beban mental mungkin🫢
total 1 replies
Sayekti 0519
Alhamdulillah bagus sekali.ceritanya
aku pikir sampai Rena menikah lagi
Eys Resa: makasih kak, atas dukungannya🙏
total 1 replies
Adrian
kok tamat gak ada extranya kah
mama
yaaah udh tamat ajjh kak
Eys Resa: Terima kasih sudah mampir di novel ini, mohon maaf jika ceritanya terlalu singkat🙏
total 1 replies
putri 💕
y udh tamat aja Thor....gk ada sambungan nya kah thor
Eys Resa: enggak kak. mohon maaf mau istirahat dulu, follow aja nanti kalau ada novel baru biar dapat notif🙏🌹❤
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
semangat Rena, semoga jualan nasi gorengnya laris manis
Mefiani
kacian dech lo linda...mangkane dadi mantu tu tau diri..jangan mau enaknya tpi gak mau tanggung jawab saat dirumah palagi kamu juga mencelakai tuan rumah..rasakno🤣🤣
Eys Resa: hahaha
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
good job
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mefiani
cobaan terus berdatangan....
Mefiani: ok...istirahat aja dulu dan ditunggu meluncur cerita selanjute💪😘
total 4 replies
Mefiani
jangan harap kamu bisa kembali lagi sama rena...setelah apa yang kamu lakukan...terima sajalah keluarga aris dan dio dipaksa berpikir dewasa karena keadaan..💪
Ayunda
sukurin
Mefiani
salahmu dewe aris...mangkane punya istri baik itu dijaga bener2...bukan disia2kan...apalagi sampe terdengar atasanmu..siap2 menderita.kau buang keberuntungan dan kau ambil kesialan..sakano..🤣🤣
Lee Mba Young
semoga Ada warga yg memviralkan biar tmbh malu di tempat kerja Dan di pecat.
Lee Mba Young
semoga viral biar aris di pecat.
stela aza
lanjut thor
putri 💕
jangan lama" dong thor up nya
Lee Mba Young
nikah tanpa izin istri sah juga kena pasal. jd lapor kan sekalian.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!