Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Motor ojek online yang membawa Rena dan Dio membelah jalanan pagi yang mulai berisik oleh hiruk-pikuk kota. Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, motor itu akhirnya melambat dan berhenti di depan sebuah area dengan bangunan rumah petak yang berjajar rapi. Di dinding pagar bagian depan, terpampang sebuah papan kayu sederhana dengan tulisan cat yang masih jelas: Terima Kos.
Rena turun dari motor, menurunkan dua tas ransel besarnya, lalu menuntun Dio masuk ke dalam pekarangan. Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan hari ini. Sebenarnya, sebelum badai dalam rumah tangganya terjadi, Rena tidak tinggal diam. Dia sudah mencari, menyurvei, dan melihat-lihat beberapa tempat kos yang lokasinya strategis—dekat dengan sekolah Dio dan juga dekat dengan tempatnya bekerja di rumah Ririn. Strategi ini dia susun matang-matang agar nantinya dia tidak perlu mencari tempat kos lagi dan menghabiskan terlalu banyak uang untuk biaya transportasinya.
Dan setelah membandingkan beberapa tempat, pilihan terbaiknya jatuh pada rumah kos milik Bu Aminah. Lingkungannya bersih, aman, dan pemiliknya terkenal ramah.
Melihat area jemuran yang sepi, Rena melangkah menuju rumah utama yang berada di paling depan.
"Permisi... Assalamualaikum," sapa Rena dengan nada sopan.
Seorang wanita paruh baya berhijab instan keluar dari pintu depan dengan senyuman hangat.
"Waalaikumussalam. Oh, Mbak Rena ya? Yang waktu itu sempat datang lihat-lihat?"
"Iya, benar, Bu Aminah," jawab Rena sembari tersenyum ramah. Dia segera menemui Bu Minah untuk menanyakan kelanjutan niatnya tempo hari. "Saya mau menanyakan lagi, Bu, apakah saat ini masih ada kamar kosong yang bisa saya tempati segera?"
Bu Aminah menepuk tangannya pelan dengan wajah berbinar. "Alhamdulillah, tentu saja ada, Mbak! Kebetulan baru satu bulan lalu ada penghuni kos di petak nomor tiga yang keluar karena harus pulang kampung. Kamarnya sudah dibersihkan. Untuk biaya sebulannya masih sama seperti yang saya bilang kemarin, lima ratus ribu rupiah saja, sudah bersih termasuk air."
"Alhamdulillah. Kalau begitu, saya ambil kamar itu sekarang ya, Bu. Ini uang untuk bulan pertamanya," ujar Rena sembari menyerahkan selembar uang pecahan seratus ribu sebanyak lima lembar yang diambilnya dari dompet.
"Iya, mari Mbak, saya antar ke kamarnya," kata Bu Aminah ramah.
Dan disanalah mereka tinggal sekarang. Kamar petak nomor tiga itu menjadi saksi bisu awal mula kebebasan Rena. Ketika pintu kayu itu dibuka, ruangan di dalamnya masih benar-benar kosong melompong. Belum ada perabot apapun yang menghiasi ruangan berukuran tiga kali empat meter tersebut. Lantainya yang beralaskan keramik putih tampak bersih, dan di sudut belakang hanya ada sebuah kamar mandi dalam.
Rena menurunkan tas-tasnya ke lantai, lalu menyamakan tingginya dengan Dio. Dia menggenggam kedua tangan kecil itu dengan lembut, mencoba memberi pengertian kepada Dio tentang hidup mereka yang baru.
"Dio sayang, sekarang kita akan tinggal di sini ya? Sementara waktu tempatnya masih kosong, belum ada kasur atau televisi. Tapi di sini, tidak akan ada lagi orang yang membentak Ibu atau memarahi Dio. Kita berdua akan aman di sini. Dio nggak apa-apa, kan?" tanya Rena dengan tatapan penuh permohonan.
Dio, bocah lelaki yang selama ini terbiasa melihat ibunya bersedih dalam diam, menatap sekeliling kamar kosong itu. Alih-alih mengeluh, dia justru mengulas senyum lebar dan hanya mengangguk mengerti dengan polosnya.
"Nggak apa-apa, Ibu. Yang penting Dio sama Ibu terus."
Mendengar jawaban itu, separuh beban di pundak Rena serasa menguap. Setelah melepas lelah beberapa saat dan meluruskan kakinya yang tegang akibat ketegangan semalam dan tadi pagi, Rena bangkit berdiri. Dia mengajak Dio keluar kembali untuk membeli beberapa barang untuk mengisi kamar kos mereka agar layak huni malam nanti.
Mereka berjalan kaki menuju pasar tradisional dan toko perabotan yang terletak tak jauh dari area kos. Rena membeli beberapa kebutuhan, sebuah kasur lantai yang cukup tebal untuk mereka berdua, sebuah kompor gas beserta tabung gas kecil, penanak nasi, satu wajan kecil, panci kecil serta beberapa peralatan makan dasar lainnya.
Rena tidak perlu merasa cemas soal biaya. Uang tabungan rahasia yang selama ini dia sisihkan sedikit demi sedikit dari hasil kerja kerasnya dan sisa uang belanja yang dia hemat bulan ini, ternyata lebih dari cukup untuk membeli itu semua dan bahkan masih tersisa banyak untuk biaya hidup beberapa bulan ke depan.
Sore harinya, kamar kos nomor tiga itu sudah berubah total. Mereka pun mulai merapikan tempat tinggal mereka sekarang. Kasur lantai sudah digelar rapi di sudut ruangan dengan sprei bermotif kartun kesukaan Dio. Kompor dan penanak nasi sudah tertata rapi di dekat wastafel belakang. Wangi pembersih lantai menguar, menciptakan suasana yang amat menenangkan. Malam itu, di bawah atap rumah petak yang sederhana, Rena dan Dio menyantap makan malam pertama mereka dengan tenang, mereka memulai hidup baru di tempat baru yang penuh harapan.
****
Kondisi yang bertolak belakang seratus delapan puluh derajat justru terjadi di kediaman Aris. Suasana di dalam rumah bercat abu-abu itu terlihat masih sangat panas dan mencekam, bahkan setelah matahari mulai condong ke barat.
Sejak pulang dari balai RT dengan menanggung malu yang teramat besar, Bu Broto tidak berhenti berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Wajahnya berkerut penuh amarah, napasnya memburu teratur. Dia terus mengomel tanpa henti, memaki dan mengatai Rena dengan sumpah serapah yang keji.
"Dasar perempuan ular! Menantu tidak tahu diuntung!" omel Bu Broto dengan suara melengking, tangannya mengacung-acung ke udara. "Dia sengaja menjebak kita semalam! Dia sengaja mempermalukan keluarga kita di depan seluruh tetangga! Sekarang dia pergi begitu saja dengan kepala tegak, meninggalkan nama baik keluarga kita yang tercoreng sampai ke dasar jurang! Bagaimana Ibu bisa keluar rumah lagi kalau begini?!"
Siska yang sedang duduk di sudut ruangan sembari menyuapi Amel hanya bisa diam, tidak berani menyela karena takut menjadi sasaran amuk ibunya. Sementara Linda hanya bisa diam tanpa suara mendengar ocehan ibu mertuanya.
Tak puas meluapkan kemarahannya pada bayangan Rena, Bu Broto mendadak berbalik. Matanya menatap tajam ke arah Aris yang duduk termenung di kursi kayu dengan wajah frustrasi. Dengan langkah kasar, Bu Broto juga menyalahkan Aris atas segala bencana yang menimpa mereka.
"Dan kamu juga, Aris! Ini semua salahmu!" tunjuk Bu Broto tepat di depan hidung putranya. "Ibu kan sudah bilang, kalau mau berhubungan dengan Linda, lakukan dengan rapi! Kenapa kamu bodoh sekali dengan membawa Linda pulang ke rumah ini di saat istrimu ada di sini?! Dan yang paling menjijikkan, kenapa kamu tidak bisa menahan nafsumu sedikit saja sampai harus bermain di ruang tamu?! Kalau kamu tidak sembrono dan bisa berpikir pakai otak, semua ini tidak akan pernah terjadi! Sekarang istrimu pergi, uang belanja bulan ini hilang, dan kita semua menanggung aib seumur hidup!"
Aris tidak menyahut. Dia hanya bisa meremas rambutnya sendiri dengan frustrasi. Di dalam benaknya, bayangan tatapan dingin Rena dan lambaian tangan Dio saat pergi naik ojek tadi pagi terus berputar laksana kaset rusak. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir, Aris merasakan sebuah ketakutan yang teramat besar, dia sadar dia telah kehilangan wanita yang selama ini menjadi pondasi terkuat di hidupnya, dan kini dia harus menghadapi badai kehancuran seorang diri.
aku pikir sampai Rena menikah lagi