Semua orang pasti memiliki Cinta Pertama..
Kapan waktunya kita tak dapat menentukannya..
Seperti yang dialami Intan , gadis remaja yang kini baru merasakan cinta pertamanya di sekolah menengah pertama..
Bagas kakak kelas Intan, sosok yang selalu membuat jantung Intan berdebar lebih cepat dari biasanya..
Dari sinilah perjalanan cinta Intan di mulai..
Bagaimana kah, kelanjutan kisah cinta pertamanya? akan kah terbalas? ataukah sebaliknya??..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nikma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gunjingan
"Itu tuh, yang namanya Intan yang nolak Amir waktu itu" ucap seorang siswi yang berpapasan dengan Intan dan Ifa, selepas mereka dari kantin.
"Oh, dia. Padahal biasa aja, belagunya kebangetan" timpal teman sebelahnya.
Mereka menatap Intan sinis, sedangkan Intan yang ditatap hanya bersikap cuek dan acuh dengan perkataan mereka.
Berbeda dengan Ifa, yang sudah pingin melabrak mereka, tapi segera Intan cegah, karna ia tak ingin cari ribut. Ia yakin, masalah ini akan segera teredam sejalan iringnya waktu.
"Ih, aku gemes banget tau gak Tan, sama mereka. Kamu kenapa juga ngehalangi aku buat ngelabrak mereka" omel Ifa bersungut-sungut.
"Hahaha. Aku aja yang diomongin biasa aja, kenapa kamu yang jadi kesel sih Fa" tawa Intan pecah melihat tingkah temannya itu.
"Hm, aku gak tahan liat kamu digunjungin sama anak-anak kayak gitu. Mereka aja yang kurang bener, Amir emang playboy kelas kakap juga, masih aja dikintilin. Jijik aku ngelihatnya" jelas Ifa panjang lebar.
"Jangan diladeni ... jika kita ngelawan, mereka malah akan seneng dan gak bakal selesai-selesai. Percuma menjelaskan ke anak-anak yang uda buta kayak gitu. Mending cuekin, entar pasti capek sendiri. Toh gak semua mikir kayak gitu, ada yang malah ngefans sama aku kan, Hehe. Bagi anak-anak yang normal tentunya" ucap Intan menenangkan Ifa.
Ia tahu jika terus meladeni anak-anak model begitu, pasti gak bakal ada habisnya. Ia yang masih normal lebih memilih untuk diam.
Sudah lewat seminggu semenjak kejadian pernyataan cinta itu dan Intan mendadak menjadi terkenal. Karna ia telah menolak lelaki terpopuler di kelasnya atau bahkan seangkatannya, yang tak lain adalah Amir.
Telinganya kini seakan sudah kebal dengan gunjingan dibelakangnya yang selalu ditanggapinya dengan cuek. Toh, ia tak khawatir tak punya teman. Ifa masih selalu mendukungnya, terlebih Intan.juga tergolong pintar, sehingga cukup dibutuhkan dikelas.
Tak sengaja sewaktu ia berjalan, ia melihat Amir sedang duduk bercanda disalah satu bangku didepan kelas 7G dan yang dia ajak bercanda tak lain dan tak bukan adalah pacar barunya yang penampilannya jauh lebih cantik dan modis daripada Intan tentu saja.
Intan memang terlihat polos. Rambut yang selalu dikuncir kuda tanpa poni, wajah polos tanpa make up, hanya pelembap saja yang ia gunakan. Mungkin tak terlihat menarik. Tapi, sebenarnya Intan memiliki pesonanya sendiri, wajahnya manis dengan sedikit cabi. Mungkin, tergolong wajah-wajah yang tak akan membosankan untuk dipandang lama dan mudah diingat tentu saja.
Ketika ia dan Ifa berjalan didepan mereka, Amir seakan sengaja untuk lebih bermesraan. Salah satu tangannya kini merangkul pundak wanita disebelahnya.
Entah apa yang dipikirkan Amir, yang jelas Intan sama sekali tak berpengaruh dengan tingkah Amir, ia berlalu meninggalkan dua sejoli itu tanpa melirik sedikitpun.
"Dia masih berusaha manas-manasi kamu tuh Tan" bisik Ifa pelan.
"Biarin aja. Toh, siapa juga yang bakal panas ngelihatin mereka" jawab Intan cuek.
"Apa dia gak inget ya padahal kamu uda nolak dia dengan teges kayak gitu. Masih aja sok-sok'an kepedean" cemooh Ifa sambil melirik Amir yang memandang mereka.
Sedangkan Intan, hanya tersenyum samar teringat penolakannya waktu itu Jika, diingat-ingat Intan juga kaget waktu itu bisa mengatakan hal demikian di hadapan banyak orang. Entah keberanian darimana itu muncul. Kelihatannya, itu karna dorongan kejengkelan yang sudah menumpuk selama sebulan.
----------------
Flashback on
Seminggu sebelumnya.
Intan hanya terbelalak kaget dengan apa yang dikatakan Amir barusan. Ia heran kenapa ada orang senarsis dan sepemaksa itu. Jelas-jelas ia mengatakan 'Tidak', kenapa masih memaksa bahwa ia akan mengatakan 'Tidak akan menolak'.
"Ayo coba kamu katakan kelanjutannya ke temen-temen" ucap Amir sambil tersenyum ke arah teman-teman sekelasnya.
"Kamu punya masalah pendengaran kah?" tanya Intan pada akhirnya. Ia sudah tak tahan dengan kelakuan Amir.
"Apa? Tentu saja aku sehat" ucap Amir terkejut.
"Lalu kenapa kamu tidak dengar, aku dari tadi bilang tidak?! Tidak ya artinya tidak!! Kenapa maksa banget sih?!" Teriak Intan melotot tajam ke arah Amir yang sekarang membeku dengan jawaban Intan. Ia seperti terhempas jatuh dari kepercayaan diri yang tinggi.
"Mana mungkin, kamu menolak pria tampan seperti ku? Apa kamu sudah gila atau kamu sudah punya pacar yang jauh lebih ganteng dari aku?" tanya Amir menyindir, ia yakin bahwa ia memang tampan seangkatannya.
"Kenapa tidak mungkin. Baru saja kau lakukan" ucap Intan cuek.
"Kamu sudah punya pacar yang lebih ganteng dari aku?" tanya Amir sekali lagi. Harga dirinya seakan tercabik mendengar jawaban Intan.
"Punya atau tidak, apa urusannya denganmu. Lalu apakah standar pacar itu harus tampan? Percuma tampan rupa tapi sifat gak ada tampan-tampannya. Aku gak bakal terima pria seperti itu" ucap Intan tegas yang seperti pukulan telak bagi Amir.
Sebagian teman wanitanya yang masih normal seperti teringat dengan sifat Amir, memberikan tatapan dukungan pada Intan. Begitupun teman-tema wanita yang sudah punya pacar tapi tak setampan Amir.
"Dari jawaban kamu kayaknya kamu belum punya pacar. Aku jamin deh, nantinya kamu gak bakal pernah dapetin cowok seganteng aku" ucap Amir masih percaya diri, seakan mengabaikan perkataan Intan barusan. Berusaha mempertahankan kepercayaan dirinya.
Intan menghembuskan nafas kasar mendengar jawaban Amir.
"Kalau memang gak seganteng kamu memangnya kenapa?! Kenapa juga aku harus bandingkan dengan kamu?!" ucap Intan acuh dan berjalan ke bangkunya diikutin Ifa, ia meletakkan buku-bukunya dan berjalan hendak keluar.
"Semua orang gak kayak kamu yang selalu menjadikan rupa pilihan pertama. Semua orang berhak menyukai dengan alasan mereka masing-masing. Banyak kok orang diluar sana yang gak sempurna Secara rupa, tapi sifatnya jauh lebih sempurna.
Lagian mana ada di dunia ini manusia yang sempurna, tua juga pasti jadi keriput, ujung-ujungnya mati juga.
Terlebih, kesempurnaan itu hadir ketika kita bisa menerima semua yang ada dari orang yang kita sukai.
Bukan dari rupanya!!" ucap Intan tegas, tanpa melihat Amir dan berlalu pergi dari kelas bersama Ifa untuk ke kantin.
Flashback off
--------------
Mengingat kejadian itu, Intan juga mengingat bagaimana respon orang tuanya ketika ia menceritakan kejadian itu.
Mereka setengah bangga pada Intan, karena sudah berani mengatakan kebenaran di depan orang banyak dan pilihannya untuk tidak menerima playboy macam itu juga sebuah kedewasaan, karna Intan mampu menilai orang dengan benar.
Tapi, ia juga tak lupa bagaimana kekesalan sang ayah ketika ia menceritakan bahwa semenjak itu ia banyak digunjing oleh banyak orang. Ia ingat, sang ayah sudah ingin pergi ke sekolah dan melabrak mereka-mereka yang sudah menggunjing putri kesayangannya dan mengatakan putrinya tak cantik.
Intan berusaha keras menahan amarah ayahnya itu dan mengatakan padanya bahwa ia tak apa.
*..Bagi orang tua, anaknya paling sempurna tentu saja, tapi manusia juga gak ada yang sempurna, kesempurnaan itu hadir ketika kita dapat menerima semua kelebihan dan kekurangan seseorang..*
Bener gak yaaa??🙄
.
.
.
Bersambung..
harusnya tokohnya sudah SMA minimal kelas 9 lah
sukaaa ceritanyaaa thorrr 😍
tinggalin jejak juga yaaa di novelku ASIYAH AKHIR ZAMAN 😊
mari qt slg dukung. like balik novel q
the thunder's love
mari saling mendukung terimakasih
Kutunggu kedatangan kalian.
Terima kasih.