Akibat kenakalan yang dilakukan nya, Aluna terpaksa harus menikah dengan seorang pria tampan yang tidak sengaja dia temui disebuah club malam.
Tapi kesialan nya belum sampai disitu. Karena ternyata pria yang menikahinya sudah memiliki seorang istri. Dan karena itu Aluna di cap sebagai seorang pelakor perusak rumah tangga orang.
Akankah Aluna menyerah dan pergi? Atau malah tetap bertahan setelah beberapa kejadian terungkap dalam kehidupan rumah tangga nya???
..
Follow ig @mulyanisyahfitri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mulyani Syahfitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbanding Terbalik
Malam ini Luna sedang membuat makan malam untuk dirinya sendiri. Dia masih berkutat didapur seraya bernyanyi nyanyi kecil. Tangan nya mengaduk aduk sayuran yang dia campur irisan daging, dan sebentar lagi akan masak.
Ini adalah hari ketiga Luna menjadi istri Adrian, dan sampai saat ini Luna masih menikmati nya. Sendirian dirumah dan tidak lagi mendengar pertengkaran kedua orang tua nya.
Tidak bekerja, tapi dia masih bisa makan enak. Yah, nikmati saja, sebelum istri Adrian tahu.
Astaga... mungkin setelah ini Luna yang akan bertengkar setiap hari.
Sejak pagi itu Adrian belum ada pulang kerumah ini. Mungkin dia sedang bersenang senang dengan istrinya. Fikir Luna.
Miris sekali bukan. Jika dia mencintai Adrian, mungkin ini akan menjadi perjalanan yang paling menyakitkan, mungkin lebih sakit dari pada harus melihat pertengkaran kedua orang tuanya selama ini.
Ya semoga Luna tidak akan pernah jatuh cinta dan memiliki perasaan apapun pada pria tampan itu. Agar dia bisa tetap tenang menjalani kehidupan ini.
Luna tersenyum senang, saat masakan hasil tangan nya sudah selesai. Dia menyajikannya kedalam piring yang dibeli nya kemarin.
Bekerja sebagai pelayan direstauran membuat Luna sedikit banyaknya bisa memasak makanan ala resto. Ibu Luna juga sering mengajari Luna memasak, karena sebelum bekerja dulu, Luna memang diwajibkan untuk memasak dan membereskan rumah selagi orang tuanya bekerja.
Jadi sekarang, sudah tidak heran lagi jika dia melakukan ini.
Tok tok tok
Suara pintu yang diketuk membuat Luna menoleh.
Siapa yang datang malam malam begini?
Jantung Luna berdebar tidak menentu. Dia takut jika itu adalah istri Adrian.
Tapi... sudah lah, semoga saja bukan.
Luna meninggalkan masakan nya di atas meja, dan berjalan menuju kedepan untuk melihat siapa yang bertamu malam malam begini.
Dan saat membuka pintu, Luna mematung melihat yang datang ternyata.... Adrian.
"Mas" gumam Luna. Dia menoleh keluar, kenapa Luna tidak mendengar suara mobilnya.
"Kamu tidak mengizinkan saya masuk?" tanya Adrian.
Luna terkesiap, dia langsung tersenyum canggung dan membuka pintu lebar lebar.
"Maaf... saya kaget. Kirain mas gak kesini lagi" jawab Luna. Dia kembali menutup pintu saat Adrian sudah masuk kedalam rumah.
"Kamu juga istri saya Lun. Tidak mungkin saya tidak datang" ucap Adrian yang langsung duduk disofa dan bersandar lemas disana.
Luna duduk disamping Adrian, memandang wajah lelaki ini yang terlihat lelah.
"Mas capek ya?" tanya Luna
Adrian melirik Luna sekilas, dan mengangguk pelan.
"Yaudah, istirahat aja. Eh... tapi saya mau makan, mas udah makan belum?" tanya Luna lagi.
"Belum" jawab Adrian, cukup singkat. Karena dia memang lelah, dan bukan hanya lelah badan, tapi juga fikiran. Lagi lagi dia bertengkar dengan Vania. Hingga Adrian memutuskan untuk pulang kerumah Luna saja.
"Kamu pesan aja, biar gak repot" ujar Adrian.
"Saya udah masak kok. Tinggal makan. Kebetulan masak banyak. Sebenarnya untuk sampai besok, tapi karena mas datang, jadi kita bisa makan untuk malam ini" ungkap Luna
Adrian menoleh kearah Luna.
"Kamu bisa masak?" tanya Adrian
Luna langsung tertawa mendengar nya.
"Ya bisa lah, perempuan kok gak bisa masak. Ada ada aja" jawab Luna yang langsung beranjak dari kursi dan berjalan lebih dulu ke dapur.
Adrian tersenyum tipis dan juga beranjak mengikuti Luna.
Vania... dia jadi ingat istri cantik nya itu. Bahkan untuk sekedar mie instan saja dia tidak bisa memasak. Mungkin bisa dihitung berapa kali Vania memegang kompor dirumah mereka.
Adrian duduk dikursi makan, dan memang sudah tersaji sepiring lauk dan omelet disana. Luna menyeduh segelas teh untuk Adrian.
"Nih mas... saya kasih irisan lemon. Biar berkurang lelah nya" ucap Luna seraya menyerahkan teh pada Adrian.
Adrian tersenyum dan mengangguk.
Ini adalah pertama kalinya dia dilayani oleh seorang istri. Dan itu cukup membuat Adrian terharu. Ya Tuhan... andai saja Vania seperti Luna.
"Kamu bisa memasak ini, belajar dari mana?" tanya Adrian
Luna yang sedang mengambil nasi dipiring Adrian melirik kearahnya sekilas.
"Saya kan kerja direstauran, jadi sedikit banyak nya saya mencuri ilmu disana. Lagian dirumah sejak SMP udah belajar masak" jawab Luna.
"Tapi gak tahu deh sesuai atau enggak sama selera mas" tambah Luna lagi, yang kini menyerahkan makanan dihadapan Adrian.
"Saya suka, dan saya tidak pemilih" jawab Adrian dengan senyum tipisnya.
Dan sialnya, senyum itu membuat Luna selalu terpesona. Sialan...
Luna duduk dikursi nya, dan juga mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
"Enak mas?" tanya Luna saat Adrian sudah memakan makanan nya.
"Enak, saya suka" jawab Adrian. Luna langsung tersenyum senang mendengar itu.
"Tapi tentunya gak seenak masakan istri mas kan ya" ucap Luna dengan tawa kecilnya.
Adrian hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan.
"Kamu juga istri saya. Dan masakan kamu memang enak" jawab Adrian.
Luna hanya mengangguk saja, sepertinya Adrian memang tidak ingin membahas tentang istri pertamanya itu. Sejak awal kenal, lelaki ini memang tidak mau berkata apapun tentang istrinya. Keren sekali kan, dia benar benar mencintai istrinya. Hingga apapun tentang istrinya itu, Adrian tidak ingin mengumbar nya.
Beruntung sekali wanita itu.
Mereka makan dengan lahap, Luna yang memang sudah lapar, dan Adrian yang juga menikmati masakan Luna. Merasakan ini, Adrian jadi teringat dengan masakan ibunya. Dan kini, akhirnya dia bisa merasakan masakan rumahan lagi.
Ting
Suara sendok yang terhantuk dipiring menandakan jika Adrian sudah selesai. Meninggalkan Luna yang masih enak menikmati makanan nya. Bahkan dia tidak canggung sama sekali ketika Adrian memandang nya dengan lekat.
"Sudah berapa hari kamu tidak makan?" tanya Adrian.
Luna mengerucutkan bibirnya sekilas dan kembali memakan daging tanpa nasi lagi.
"Laper mas. Tadi siang cuma makan mie doang. Saya sibuk beresin belakang rumah, udah banyak banget rumput yang tumbuh" jawab Luna
"Kan bisa pesan makan aja. Uang yang saya kasih gak akan habis kalau cuma untuk beli makanan" ucap Adrian
Luna tersenyum dan menggeleng.
"Saya udah gak kerja. Gak enak dong kalau saya enak enakan dirumah dan cuma menghabiskan uang mas. Lagian kemarin saya juga udah belanja banyak untuk keperluan dapur. Saya juga beli alat alat masak yang gak ada. Gak papa kan?" tanya Luna
Adrian menggeleng. Kenapa bisa berbanding terbalik begini dengan Vania. Apa karena masih baru?
"Terserah kamu. Yang penting ketika saya kerumah ini, saya hanya ingin kamu memperlakukan saya dengan baik." sahut Adrian
Luna tersenyum dan mengangguk.
"Iya mas. Gak mungkin saya kurang ajar sama suami sendiri. Belajar dari pengalaman" jawab Luna.
Adrian menghela nafas sejenak dan memandangi Aluna dengan lekat. Gadis muda yang cantik dan terlihat sederhana.
"Kamu jangan lagi ke club' malam ya" ujar Adrian.
uhuk uhuk
Luna langsung tersedak mendengar nya.
"Kenapa?" tanya Luna
"Selama kamu menjadi istri saya, saya melarang kamu pergi ketempat itu. Kalau kamu mau bertemu teman teman kamu silahkan, tapi jangan lagi injakkan kaki kamu disana" ujar Adrian. Terdengar begitu tegas, hingga membuat Aluna merasa terancam.
"Iya mas" jawab Aluna dengan pasrah.
"Dan satu lagi, mungkin beberapa hari lagi saya akan membawa kamu bertemu dengan orang tua saya"
uhuk uhuk
Luna kembali tersedak, bahkan lebih parah hingga dia meminum air dengan cepat.
"Bertemu dengan orang tua mas??? untuk apa???" tanya Luna begitu ngerih!