NovelToon NovelToon
Bayi Mungil Kesayangan Keluarga Petani

Bayi Mungil Kesayangan Keluarga Petani

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Salsabila mbil

Di desa xixiang, seluruh penduduk tahu bahwa keluarga Zhao baru saja memungut seorang gadis kecil. Gadis itu berusia tiga tahun, berkulit putih dan bertubuh montok menggemaskan. semua orang berkata bahwa anak perempuan hanyalah beban merugikan. namun keluarga Zhao justru memperlakukan nya bagai permata berharga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabila mbil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

koMalam-malam begini... jujur saja, ucapan A Bao tadi terdengar agak menyeramkan.

Sambil terengah-engah, A Bao merangkak mendekati Wang chunniang. Cakar kecilnya menunjuk ke arah dada Lin Xiang, lalu dengan mata merah ia berkata, "disitu bergerak!"

Mendengar itu, tangan Wang chunniang gemetar hingga mangkuk mie yang di pegangnya hampir tumpah.

"Xuan'er, bawa adikmu cuci muka." Wang chunniang menyuruh kedua anak itu menjauh, lalu memeriksa napas Lin Xiang.

Ternyata benar, napasnya kembali!

Malam itu, setelah napas Lin Xiang berangsur stabil, barulah keluarga Zhao beristirahat. A Bao kembali meringkuk di sisi Zhao Xuan, membungkus dirinya rapat-rapat dengan selimut hingga menyerupai kepompong ulat sutra raksasa yang gemuk.

***

Keesokkan paginya, kepala desa jiao kembali mengetuk pintu. Saat itu, A Bao sedang mengangkat mangkuk besar, menyantap Huntun(Pangsit kuah) kecil dengan lahap. Mendengar ketukan pintu yang terburu-buru, ia memanyunkan bibir dan berteriak lantang ke arah depan rumah, "ayah keledai keras kepala! Ada yang mengetuk pintu!"

Zhao Heng:"...." telinganya sakit.

Diluar pintu, kepala desa jiao mendengar suara lantang itu dan bergumam heran, "kenapa panggilannya keledai keras kepala begitu?"

"Ehhh Ah Xuan, ternyata kau. Mana orang tua mu?" melihat Zhao Xuan yang membukakan pintu, kepala desa jiao bertanya dengan penasaran, "bukankah keluargamu akan mengadakan pemakaman? Aku khawatir kalian kekurangan tenaga, jadi aku datang lebih awal untuk menanyakan apakah butuh bantuan?"

Zhao Xuan tahu kepala desa jiao berniat baik, ia menggelengkan kepala. Baru saja ia hendak menjelaskan, putra pandai besi yang, Yang Dabao, beserta sekawanan bocah laki-laki sudah menyelinap masuk dari pintu rumah keluarga Zhao. Mereka langsung menyerbu ke arah A Bao yang sedang duduk di samping sambil makan dengan pipi menggembung. Mereka terus menerus mengejek A Bao sambil menjulurkan lidah, "sudah kubilang kan, kamu itu pembawa sial. Kebun buah keluargamu terbakar, sekarang ada orang mati lagi. Kamu benar-benar pembawa sial. "

A Bao tidak suka diganggu saat makan. Jadi ia memeluk mangkuk besarnya dan berlari kecil masuk kedalam rumah, enggan meladeni mereka.

Zhao Xuan bergegas menghampiri, lalu dengan satu tangan menjinjing satu persatu bocah laki-laki itu dan mengusir mereka keluar.

Mungkin karena Zhao Xuan tidak menggunakan tenaga kasar, gerombolan bocah itu sama sekali tidak takut. Meski sudah dilempar keluar oleh Zhao Xuan, Yang Dabao diam-diam memungut batu kecil dan melemparnya ke punggung A Bao.

Zhao Xuan tidak berani menunjukkan ilmu bela dirinya di depan orang banyak. Ia hanya bisa memiringkan tubuh untuk menghalangi. Karena sudut lemparannya meleset, A Bao baik-baik saja, tapi mangkuk besar di tangan A Bao terkena lemparan batu. Untungnya isi mangkuk sudah hampir habis, dan Zhao Xuan dengan sigap menangkap A Bao, sehingga sikecil tidak luka sedikitpun.

Hanya saja, melihat mangkuk besar kesayangannya pecah berkeping-keping, A Bao meronta-ronta gila-gilaan. Ia mengeluarkan ketepel kecilnya dan mulai mengejar Yang Dabao dan kawan-kawannya sambil berteriak, "akan ku hajar kalian!"

***

Lima belas menit kemudian, kepala desa jiao duduk di halaman rumah keluarga Zhao, menengok ke kiri dan ke kanan.

Barusan ia menyaksikan sendiri bagaimana bayi gemuk keluarga Zhao itu kalah telak. Semua peluru lumpurnya habis ditembakkan, tapi tak satupun mengenai sasaran. Akhirnya , dengan wajah kotor penuh debu, ia hanya bisa lari ke pelukan Zhao Heng dan menangis.

Jari-jari panjang Zhao Heng mendarat di kepala A Bao, sementara tangan lainnya memijat pelipisnya sendiri. "kenapa kau sebodoh ini?"

A Bao memanyunkan bibir, merengek pelan.

Disamping mereka Wang chunniang buru-buru menuangkan secangkir air untuk kepala desa jiao dan berkata, "kakak jiao, maaf merepotkanmu. Tapi adik kami sudah tidak apa-apa, orangnya masih hidup dan sehat, hanya saja belum bisa turun dari tempat tidur. tadi pagi dia sudah sadar."

"Sudah sadar? Tapi aku dengar dari tabib Qian ..." kepala desa jiao terkejut.

"Kami justru baru mau pergi mencari tabib Qian" Wang chunniang berkilah sambil tertawa canggung.

***

Aneh bin ajaib,tidak sampai dua hari Lin Xiang sudah bisa turun dari tempat tidur. Pikirannya juga sudah jernih,dan ia mengenali Wang chunniang serta Zhao Heng. Awalnya ia pendiam,tapi begitu mendengar Wang jinya sudah "dibereskan",ia memeluk A Bao sambil menangis dan tertawa sekaligus.

" Bibi jangan menangis,besok kita pergi ke kebun buah ya!" A Bao menyeringai lebar sambil terkekeh.

" Buah berry rasanya enak sekali,ibu ayo kita gali yang banyak dan tanam." A Bao menggerak-gerakkan tangan dan kakinya dengan semangat di depan Wang chunniang.

Dulu saat kebun buah terbakar, Wang chunniang samar-samar ingat A Bao pernah bilang bisa menanam buah apa gitu. Baru hari ini ia tahu, ternyata buah berry.

"A Bao, sepertinya tidak bisa." Wang chunniang menggeleng,"buah berry memang enak,setiap tahun toko-toko di kabupaten juga ada yang menampungnya,harganya tiga puluh keping uang tembaga per kati. Tapi orang-orang hanya bisa memetik nya di gunung. Banyak yang sudah mencoba memindahkan nya untuk ditanam, tapi tidak ada yang berhasil."

" Tapi di kebun buah kita ada abu tebal,itukan pupuk." A Bao berisikeras. Tubuh mungilnya berdiri di atas kang,kedua tangan berkacak pinggang,kaki kecilnya dihentakkan."aku yang paling kecil,dengarkan aku!"

Keluarga Zhao akhirnya berpegang pada prinsip,"siapa yang paling kecil, dialah yang di dengar."dan siap naik gunung untuk menggali bibit buah berry. Musim ini bibit buah baru saja bertunas,memang waktu yang tepat untuk memindahkannya,entah nanti berhasil tumbuh atau tidak.

Begitu sampai di gunung,dengan percaya diri A Bao menelungkup di punggung Zhao Heng,memberi komando kepada keluarganya menuju tempat yang banyak bibit buah berry nya.

Hanya saja,saat ini juga musim yang tepat untuk mencari sayur liar dan rebung musim semi. Gunung penuh dengan orang-orang dan anak-anak yang bermain. Saat Wang chunniang dan Zhao Xuan sedang menggali bibit buah berry,di depan mereka A Bao kembali berkelahi dengan rombongan yang Dabao.

Kali ini tanpa ketepel kecil, A Bao harus bertarung dengan tangan kosong. Hasilnya tentu saja ia kembali kalah dan kotoran-kotoran. Karena tidak bisa mengalahkan Yang Dabao dan kawan-kawannya,A Bao berteriak sekuat tenaga,"Kakak...kakak..."

"Tahunya cuma panggil kakak,memalukan,kau sendiri kan tidak bisa mengalahkan kami," yang Dabao yang terlihat berusia lima atau enam tahun mendengus,lalu memeletkan lidah mengejek ke arah A Bao.

A Bao sukses terpancing emosinya. Ia kembali menerjang ke arah beberapa anak itu. Istilah,"sudah payah tapi hobi main" sangat pas untuk menggambarkan dirinya.

Akhirnya, keluarga Zhao pindah lokasi ke bagian hutan yang lebih dalam. A Bao duduk putus asa dengan kaki pendek terentang di samping Zhao Heng,suara manjanya terdengar lemas tak bertenaga,"ayah, keledai keras kepala, aku ini keledai bodoh."

Tak jauh dari sana, Wang chunniang yang mendengar percakapan ayah dan anak itu berusaha keras menahan tawa.

"Aku tidak bisa mengalahkan mereka,juga.... tidak bisa pakai ketepel. Tiap kali berkelahi aku selalu saja kalah." kepala kecil berambut halus A Bao bersandar di sisi Zhao Heng.

Zhao Heng tidak menjawab,masih sibuk dengan benda di tangannya. Ia memegang belati kecil, sepertinya sedang meraut sesuatu. A Bao memperhatikan beberapa saat, sampai hampir tertidur,barulah Zhao Heng menyodorkan sebuah peluit bambu kecil.

"Nanti kalau di gunung kau kalah berkelahi lagi,tiup ini."kata Zhao Heng dengan wajah datar."lumayan bisa membantumu."

Ini adalah peluit pemanggil hewan. Karena buta,ia tidak bisa membuat peluit bambu yang terlalu halus,tapi lumayan Masih bisa dipakai. Untuk anak sekecil A Bao,ia juga tidak berharap anaknya bisa memanggil hewan buas.

"Ayah, bolehkah tiup sekarang?" A Bao menggoyangkan kaki pendeknya dengan penasaran.

Zhao Heng mengangguk.

A Bao mengambil peluit bambu kecil itu dan meniupnya sekali. tidak ada apa-apa yang datang.

Tiupan kedua masih tidak ada pergerakan.

Tiupan ketiga, terdengar suara gemersik dari semak-semak tak jauh dari mereka.

Mata A Bao terbelalak. Ia sepertinya melihat dua telinga kecil. Mungkinkah ini bala bantuan yang dikatakan ayah?

Detik berikutnya,sebuah kepala kecil berbulu menyembul dari semak-semak, bertatapan langsung dengan mata besar A Bao yang penuh rasa ingin tahu.

"Auuuuu..."

1
lin sya
aku suka karakter a bao peka trhdp tanaman dan tanah yg subur atau tdk, dan brsyukur a bao berada dkt kluarga angkat yg tulus, msih penasaran identitas a bao, 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!