Tak ada yang menyangka jika orang yang dianggap musuh ternyata orang yang dikirim Tuhan untuk menjadi orang yang berarti dalam hidupnya.
Walau banyak sekali rintangan untuk mengucap janji suci. Tapi jika Tuhan sudah berkehendak rintangan seberat apapun tidak akan mengalahkan tekadnya.
Gama Alexander berubah menjadi posesif ketika sudah menjadi suami Elata. Tegas dan mempunyai karismatik yang menawan. Sehingga tak banyak yang kagum pada sesosok pengusaha muda tersebut.
Elata wanita yang dari dulu sangat dicintai dan diinginkan Gama. Siapa yang tidak kenal dengan wanita jutek itu. Tapi, setelah menikah dengan Gama, Elata berubah menjadi sosok yang ramah. Berbeda jika pada saat dengan Gama, wanita cantik itu akan berubah 180 derajat. Tingkah absurdnya akan kembali.
Apakah Gama dan Elata akan tetap bertahan dengan pernikahannya seperti waktu mereka pacaran dulu dengan cobaan yang akan datang menimpa pernikahan mereka. Ataukah akan sebaliknya?
Simak di MEIML
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seizy kurniawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aneh
Mereka tertawa girang melihat wajah Askan yang cemberut.
"Kaya cewe aja loe As, wajah di cemberutin gitu" Andra meledek Askan.
Mereka yang ada di satu meja tertawa, tapi tidak dengan Elata.
Gadis itu dari tadi hanya diam saja. Kali ini ia merasa canggung berhadapan dengan Gama. Tak seperti biasanya.
"Kenapa dada gue tiba-tiba jadi panas gini sih?" Elata menyentuh dadanya yang terlihat naik turun. Dan sesekali matanya melirik ke arah Gama.
Saat itu Elata menangkap mata Gama tengah menatapnya. Tak lupa dengan wajah datarnya. Kemudian Elata mengalihkan pandangannya ke lain arah. Ia menyedot minumannya tanpa jeda sampai minuman itu habis tak tersisa.
Elata mengibas-ngibaskan tangan ke wajahnya. Ia masih merasa panas walau sudah menghabiskan satu gelas jus.
Matanya masih melirik ke kanak dan ke kiri enggan bertemu mata Gama. Sangat-sangat aneh bukan?
Gama yang terus menatap ke anehan Elata, perlahan menyenderkan punggungnya di senderan kursi lalu melipatkan ke dua tangan di dadanya. Keningnya berkerut.
Elata semakin salah tingkah. Gadis itu mulai membayangkan saat Gama menyentuh dadanya dan memberinya nafas buatan.
Tangannya tergerak spontan menutupi tubuh bagian atasnya.
"Oh My Good.. Payudara gue? Apa Gama menyentuh payudara, Gue?" Elata bergelut sendiri dengan hati dan pikirannya.
Kemudian tangannya beralih menutupi mulutnya.
"Bibir, gue? Bibir gue udah gak virgin lagi. Gama sialan" umpatnya Elata dalam hati.
"El?" Flora menyadarkan pikiran Elata yang tengah kacau. Elata menoleh.
"Hhmm"
"Loee, kenapa sihh? Aneh tau dari tadi"
"Mmmmmm gue, gue, gue." Elata berpikir. Mata nya mengalihkan pandangan dari teman- temannya, yang sekarang menatap keanehan Elata.
"Kenapa siih?"
"Gue kekelas duluan" Elata berdiri kemudian berlalu.
Teman- temanya masih dengan posisinya masing -masing. Hanya menatap ke arah Elata yang kini punggungnya mulai tak terlihat.
"S Elata kenapa sih, gay's?" Tanya Askan, membuat Abram dan Andra menggeser duduknya. Askan kini duduk setelah pegal karna berdiri terlalu lama.
Flora menggelengkan kepalanya, Cindy mengangkat ke dua bahunya. Tanda mereka juga tak tau.
"Apa karna Gama yang ngasih Elata nafas buatan ya?" Askan mulai berasumsi
Mereka yang berada disana menatap ke arah Gama, seolah bertanya.
Gama hanya berdehem saja, kemudian menetralisasikan kembali dirinya.
"Tadi kan si Elata tiba- tiba pegang bibirnya"
"Apa loe udah cerita ke Elata, Flo?" tanya Abram, pemuda itu kini menatap wajah Flora dengan penuh selidik.
Flora hanya cengengesan.
"Wah..Parah loe Flo" Andra kini yang menyahut.
Mungkin mereka tau Elata malu atau apalah. Tapi yang pasti saat ini Elata sunggu berbeda dari biasanya.
"Pantesan tingkahnya aneh" Ucap Gama dalam hati "Tapi, kenapa harus sampai aneh seperti itu?" Tanya Gama pada dirinya sendiri seolah yang di asumsikan teman- temannya benar.
Visual Gama Alexander
cowo cuek tapi banyak yang suka
****
"Kenapa hari gue sial banget sih? Ini semua gara- gara Gama"
Lah si Elata kenapa jadi salahin Gama? Dia 'kan gak tau apa-apa.
"Gue 'kan slalu sial kalau udah dekat dekat sama tuh anak"
Elata terus marah-marah gak jelas diruangan ekskul tersebut. Tangannya memegang sapu.
Ya sekarang gadis itu sedang membersihkan ruangan, menyelesaikan hukuman dari pak Farel.
Setelah kelas selesai, dan murid-murid berlalu dari kelas masing- masing. mereka yang ikut ekskul musik berjalan menuju ruangan itu.
Tak semua dari kelas Elata ikut ekskul musik. Tapi hampir semua mengikuti kegiatan ekskul itu, hanya beberapa yang tidak.
"Gue duluan gay's" Ucap Elata pada dua temannya saat kelas sudah selesai.
"Loe mau kemana, El? gak ikut Eksul ?" tanya Cindy.
"Gue dihukum pak Farel bersihin Aula ekskul musik" jeda Elata kemudian melanjutkan kalimatnya "Gara-gara loe nih, Cind"
"Lah, kok salah gue?" Cindy menunjuk wajahnya sendiri.
"Ia lah, salah loe. kalau saja kemarin loe bawa seragam gue ke rumah, gak mungkin 'kan pagi ini gue telat. Udah gitu gue harus ngambil seragam gue dulu ke rumah loe" Elata terkekeh.
Ia, kemarin pas hari minggu Cindy datang ke rumah Elata. Tapi gadis itu melupakan seragam milik Elata. Jadi tadi pagi saat Elata hendak ke sekolah, harus mampir dulu ke rumah Cindy. Sedangkan gadis itu sudah berangkat lebih dulu kesekolah. Sial bukan??
"Jadi karna itu loe diem trus?" Flora bertanya
"Hhmm"
"Bukan karna, loe..." Flora menjeda kalimatnya, kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Elata. Berbisik!
"Loe dikasih nafas buatan oleh Gama?" lanjutnya kemudian yang mendapat Tatapan tajam dari Elata.
"Loe" Elata mengarahkan telunjuknya ke wajah Flora. Gadis yang di tunjuknya hanya mengangkatkan tangannya ke udara. Menyerah!
****
Gama dan tiga karibnya begitu juga dengan Flora dan Cindy. Tidak termasuk Elata, karna dia sudah pergi lebih dulu ke ruangan ekskul musik. Berjalan melewati koridor sekolah.
Flora dan cindy berjalan di depan, sedangkan pemuda empat itu berjalan di belakangnya bagaikan bodyguard yang sedang mengawal sang putri.
Gama berjalan seperti biasa, dengan wajah datar tanpa ekspresi dan tangan di masukan ke dalam saku celana.
Walau banyak murid perempuan yang menyapanya, Gama hanya menanggapi sapaan itu dengan senyuman yang di paksakan.
Andra dan Abram saling merangkulkan tangannya. Kaya orang yang lagi pacaran saja mereka berdua ini.
Dan Askan. Apa yang Askan lakukan ? tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba saja,
semakin ku kejar
semakin kou jauh
Askan bernyanyi? Kini langkahnya sudah mendahului Flora dan Cindy.
tak pernah letih, mendapatkamu
Tubuhnya kini dihadapkan ke depan Flora. Tangannya bergaya, seperti sedang konser saja.
Terus berlari
Namun ku takut Terjatuh lagi...
Tak ingin lagi.. Mem-
Belum juga Askan menyelesaikan liriknya, sudah di hentikan Flora dengan mengarahkan lima jarinya ke wajah Askan.
"STOP!"
Askan berdecak kesal, karna lagunya belum selesai.
"Apa sih Flo? Belum juga selesai lagunya. Udah main stop-stop aja"
"Pala gue seperti mau meledak dengerin suara loe"
"Yaelahhh... Suara gue 'kan bagus, sebelas dua belas lah sama Gama" Tingkat PD Askan mulai kambuh seratus delapan puluh derajat.
"Enyahlah, loe Askan dari muka bumi ini! Gue pusing denger suara, loe" Flora menarik tangan Cindy meninggalkan Askan yang sedang memasang wajah kesal.
Kemudian di susul Abram dan Andra.
Gama hanya menepuk bahu Askan saja tak berkomentar. Kemuadia ikut berlalu meninggalkan Askan.
****
"Gays, Badgirlnya garuda lagi nyapu tuhh" Dengan tiba- tiba saja Rara meledek Elata.
"Cocok loe jadi OB" Rara menertawakan Elata sinis. Yang di tertawakn mah malah cuek saja, enggan menanggapi omongan Rara. Elata gak sedang ingin ribut.
Tapi dasar Rara yang gak kehabisan akal buat cari masalah sama Elata tiba- tiba saat Elata akan melewati Rara, kaki Rara dihadangkan ke kaki Elata, sehingga Elata,
Brukk... Elata bukan terjatuh, tapi gadis itu hampir terjatuh kalau saja tak ada tangan yang memegang ke dua bahunya.
"Loe gak apa 'kan?"
Tubuh Elata kembali di tegakkan oleh pemuda yang menolongnya itu.
"Gue gak apa-apa. Thank's Marcel" Elata tersenyum canggung.
Lah.. Kok Marsel sih yang nolongin Elata? Terus berharapnya siapa? ji-chang- wook ?
Ya gak mungkin lah, Oppa 'kan di Korea. Gak mungkin 'kan tiba-tiba saja ada di ruangan ekskul musik Garuda? Memangnya jelangkung? Datang tak di jemput pulang tak di antar.
Ahh sudahlah. Lupakan oppa Ji chang wook!!
Rara berdecak kesal karna gagal membuat Elata terjatuh.
Memang tak ada kapoknya si Rara itu. Selalu ingin Membuat Elata celaka.
Murid sudah mulai memasuki ruangan satu persatu dan langsung mencari tempat duduk.
"Ada apa sih, El?" tanya Flora saat sudah memasuki ruangan dan mendapati Elata yang tengah berhadapan dengan Rara.
"Ra, gak bosen apa loe cari masalah terus sama Elata?" Tanya gadis itu. Tetapi Rara tak menggubrisnya. Ia berlalu begitu saja mencari tempat duduk.
"Ada apa sih, ribut-ribut?" Tanya Askan yang baru datang ke ruangan. Di sebelahnya Andra dan Abram.
Kok bertiga? Gamanya kemana??
Tak ada yang menjawab pertanyaan Askan. Mereka mengabaikannya dan malah berjalan ke arah kursi yang masih kosong.
"Ya Tuhan" Askan kesal. Karna tak mendapat jawaban. Dia menengadahkan wajahnya ke atas. Wajahnya gusar.
****
"Loe ngapain pegang sapu?" tanya Gama pada Elata yang masih mematung di tempatnya tadi.
"Buat gebukkin, loe" lagi, Elata selalu jutek pada Gama.
Kali ini Marsel sudah duduk. Jadi tinggallah Gama dan Elata di depan ruangan.
Kaya yang lagi ada pertunjukan drama, murid yang sudah duduk di kursinya masing-masing hanya menikmati adegan apa yang akan di lakukan Gama dan Elata selanjutnya.
Elata yang akan berjalan menyimpan sapu ke tempatnya, tiba- tiba saja tangannya di cekal Gama.
Elata memejamkan matanya, mengatur nafasnya yang tiba-tiba saja sesak, kemudian membuangnya kasar.
"Apaan sih, loe?" Elata berbalik menghadap Gama. Kemudian Gama melepaskan pergelangan tangan Elata. Gama mendekat pelan.
"Loe, aneh" Gama menekan kalimatnya.
"Aneh kenapa?" Tanya Elata heran, ia mengerutkan keningnya.
Pura- pura saja tak menyadari ke anehan dalam dirinya. Padahal Elata sadar betul kalau saat ini ia sedikit aneh dekat dengan Gama.
Gama tak menjawab. Ia berlalu melewati Elata yang tak mendapt jawaban darinya.
Saat Gama hendak duduk di kursinya, tiba-tiba
BBUUKK
Satu kali. Gama mendesah kesakitan. Pemuda itu memelototkan matanya pada Elata. Kemudian
BBUUKK
Dua kali
"ELATA" Gama geram. Tangan kanannya memegangi tangan kirinya yang sakit karna pukulan dari Elata.
Ya, Elata memukul Gama dengan sapu yang masih ia pegang.
"Apa?" Elata memelototkan balik matanya. Dan justru Elata akan kembali memukul Gama dengan sapunya. Ia mengangkat sapunya tapi dengan cepat Gama memegang sapu itu.
"Lepasin gak!"
"Gak"
"GAMA.. Lepasinn!"
"Enggak"
"GAMA ALEXANDER" Elata berteriak.
Kemudian dengan terpaksa Gama melepaskan sapunya. Bukan karna teriakan Elata, tetapi karna di belakang Elata sudah ada Pak Farel berdiri dengan gaya yang cool dan tak lupa tangan di masukan ke dalam saku celana.
Apa kebiasaan cowo cool ya gayanya selalu seperti itu? Lupakan!
Gama duduk di kursi depan. Sementara Elata masih berdiri mengatur nafasnya yang naik turun.
"Kenapa sih, loe slalu ngeselin? Loe selalu ganggu gue? Gak bisa apa sehari aja loe gak ganggu mood gue? Dan bla bla bla bla bla"
Panjang lebar Elata. Ia sedikit berteriak sehingga semua yang ada di ruangan itu menutupi telingnya. Gama menunduk, memijat pelipisnya. Ia pusing oleh teriakan Elata.
Abram yang duduk di sebelah Gama menyadarkan Elata. Mengisyaratkan lewat matanya, agar Elata menoleh kebelakangnya.
"El" masih dengan bahasa matanya.
"Apa? Loe juga mau ikutan cari ribut sama gue? Teriak Elata pada Abram. Matanya melotot.
Abram terus mengisyaratkan matanya. Elata tak mengerti. Sampai ada suara yang terdengar di belakangnya. Barulah Elata membalikan tubuhnya. Elata tersenyum kikuk karna malu. Teman- teman yang ada di ruangan itu hanya menertawakan Elata dengan pelan.
Elata mengutuki dirinya sendiri. Menyimpan sapu ke tempatnya kemudian mencari tempat duduk yang kosong.
Tapi sayangnya semua kursi sudah terisi oleh murid yang ikut ekskul. Cuma hanya satu yang masih kosong, dan itu..
****
Ya tuhann, kenapa sapunya lengket banget sihhh. Kaya gak mau lepas dari Elata 😂😂😂
TBC
Masih penasaran kah dengan lanjutan ceritanya??
Kira kira kursi manakah yang masih kosong ?
Apa lagi yang akan dilakukan Elata jika trus dekat dengan Gama?
Jangan lupa kasih boom like sama komen ya. juga rate nya jangan lupa kasih bintang lima 😂😂😂
Makasih buat para reader's yang terus mengikuti karya sampai episode ini 🙏🙏🙏🙏
lope yu 😘😘😘