Memang sakit rasanya, saat dulu kita sedekat Nadi, namun kini akhirnya harus sejauh Matahari, bahkan Matahari yang sudah tenggelam tergantikan dengan terangnya sinar Rembulan malam.
Sebagian orang bilang, sangat menyakitkan ketika menunggu seseorang, namun sebagian lagi bilang, menyakitkan itu ketika kita harus melupakan, tapi yang paling sakit sebenarnya adalah ketika kau tidak tahu, apakah harus menunggu atau melupakan.
"Niar... kamu tahu kan kalau seorang dokter itu paling ahli masalah suntik menyuntik, jika biasanya suntikan itu menyembuhkan penyakit pasien, tapi suntikan dariku, pasti akan menorehkan luka dalam hubungan kalian, cukup sekian dan terima kasih sudah menjadikan aku sang mantan, walau tidak kamu akui."
Walau pedih namun dokter Marvin harus bisa menerima kenyataan, bahwa dirinya tidak menjadi pilihan dari seorang Niar, dia tetap saja menerima lamaran dari Dito kekasih hatinya yang memang sudah berhubungan bertahun-tah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iska w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8.Selalu Begini
...Happy Reading...
Setelah mendapatkan suntikan obat dari Marvin biasanya Samuel akan tertidur setelahnya, bahkan biasanya dia akan tidur seharian, itu mengapa Samuel tadi sebenarnya enggan disuntik.
Namun kali ini Samuel sempat terheran, dia sama sekali tidak merasa ngantuk, bahkan badannya terasa sehat segar bugar.
"Rinjani kalau begitu aku ajak Yoyo main ke Alun-Alun kota dekat sini aja ya, biasanya kalau akhir pekan begini banyak yang menyewakan mainan anak-anak, dia pasti suka." Niar sudah menenteng tas perlengkapan milik Yoyo, karena sedari awal memang Rinjani meminta tolong Niar untuk membawa Yoyo pergi jalan-jalan, agar dia bisa menjaga Samuel yang tadi sempat kesakitan.
"Bahaya nggak kalau main disana, sekarang kan lagi marak penculikan anak?" Walau bukan anak kandung sendiri, namun Rinjani juga snagat menyayangi bocah itu dengan sepenuh hati.
"Aku kan nanti ada disana untuk selalu menemaninya?" Jawab Niar dengan mantap, karena jika harus pergi ke taman bermain dipusat kota akan memakan waktu seharian penuh dan sudah pasti capek banget, padahal tubuhnya akhir-akhir ini kurang istirahat karena terlalu sibuk mempersiapkan pernikahan dirinya yang hanya tinggal menghitung hari saja.
"Tapi aku was-was juga, benar atau hoax sih kabar itu?" Karena di media sosial beredae banyak sekali berita-berita seperti itu.
"Sudahlah, jangan khawatir, Yoyo tidak semudah itu untuk di culik, dia terlalu sulit untuk dikelabuhi, bahkan terkadang dia lebih pintar daripada orang dewasa." Niar tahu betul bagaimana Yoyo, karena dia juga pernah menjadi babysitter Yoyo selama beberapa bulan dan sudah tahu kebiasaannya yang dewasa sebelum waktunya.
"Hehe... Itulah kehebatan putraku!" Rinjani mengiyakan juga pendapat dari sahabatnya itu.
"Vin... kamu masih ada acara nggak?" Samuel langsung memanggil Marvin saat dia baru mengemas tas obat miliknya, setelah memberikan obat cadangan untuk Samuel nantinya jika diperlukan.
"Nggak, tapi jangan suruh aku untuk menemani kalian disini, aku malas!" Jawab Marvin tanpa mau menoleh kearah mereka.
"Mau aku kasih bonus tahunan nggak?" Samuel mulai memberikan iming-iming.
"Nggak!" Tolak Marvin mentah-mentah.
"Yaelah Vin, bukannya kamu sudah aku anggap sebagai saudara sendiri?"
"Aish... Apalagi kali ini Sam?" Akhirnya Marvin menoleh dengan kedua bahu yang sudah melorot karena kesal.
"Temankan mereka pergi bermain." Ucapnya dengan cepat.
"Siapa?"
"Yoyo sama Niar lah."
"Kenapa bukan kalian berdua saja yang menemani mereka?"
"Bukannya kamu baru saja menyuntikkan obat denganku? biasanya kan aku langsung tidur setelah ini."
"Apa anda merasa mengantuk sekarang?" Tanya Marvin dengan senyum menyeringai.
"Eh iya, kenapa aku tidak mengantuk ya?" Samuel baru sadar, biasanya tidak butuh waktu lama setelah disuntik obat itu dia pasti akan terlelap.
"Ya sudah, kalau begitu anda saja yang pergi temankan mereka!" Marvin kembali menenteng tas miliknya.
"Hoaheeem... Yank, aku sudah mulai ngantuk kayaknya ini." Samuel langsung menyandarkan kepalanya dibahu istrinya.
"Cih.. Drama! Itu tadi hanya Vitamin, bukan obat tidur, jangan menipu doktermu ini!" Umpat Marvin yang langsung menatap jengah kearah pasangan bucin itu.
"Hei Vin.. terlepas benar atau tidaknya kasus penculikan saat ini, tapi apa kamu tega membiarkan Niar menjaga Yoyo sendirian di tempat terbuka seperti itu, nanti kalau sampai Yoyo di culik dan Niar disakiti, kamu orang pertama yang aku salahkan dan sudah paati kamu akan menanggung resikonya!" Rinjani langsung melirik Marvin dengan tatapan penuh ancaman.
"Aish... kenapa kalian berdua suka sekali menyudutkan aku!" Teriak Marvin seketika, bukan masalah menjaga mereka berdua, namun karena hatinya begitu terluka oleh ucapan Niar tadi.
"Eherm... di depan ada mobil sport terbaru, kalian bisa menggunakannya, itu kunci mobilnya!" Samuel langsung menunjuk kunci mobil diatas meja.
"Aku tidak tertarik!" Namun Marvin langsung beranjak pergi dan menyambar kunci mobil itu dengan cepat.
"Rinjani, seharusnya aku tidak perlu ditemani olehnya?"
Saat Marvin sudah keluar duluan dari dalam kamar itu, Niar langsung berjalan mendekat kearah Rinjani.
"Kenapa? aku lebih tenang kalau kalian berdua yang menjaga Yoyo, kamu tahu sendiri kan Yoyo aktifnya kayak apa?" Rinjani sebenarnya memang sengaja ingin mempertemukan mereka kembali, karena dia tahu betul kebimbangan Niar akhir-akhir ini dan kebetulan momentnya tepat.
"Aku bisa menjaga Yoyo sendiri, akan aku pastikan Yoyo baik-baik saja Jan!"
"Sebenarnya kamu kenapa? katakan dengan jujur." Rinjani menatap intens wajah Niar yang terlihat kalut.
"Aku nggak enak sama Dokter Marvin."
"Alasan lainnya?"
"Kamu tahu sendiri statusku sekarang, dan Marvin itu, ckk... kamu tahu sendiri maksudku apa kan?" Niar bingung harus menjelaskan darimana dulu, karena dia yakin Rinjani tahu semua tentang dirinya.
"Kamu menyukainya?"
"Ini bukan masalah suka atau tidak Jani, tapi aku sudah mau menikah dengan Dito."
"Lalu?"
"Kok lalu sih Jan?"
"Ya kalau kamu memang sudah punya niatan dan mantep menikah dengan Dito, kenapa harus menghindar dari Marvin? apa kamu akan menganggap dia musuh selama hidupmu?"
"Bukan begitu juga."
"Kalian berdua itu teman bahkan sudah seperti saudara kami berdua, sudah pasti kalian akan sering bertemu, apa kamu sudah tidak ingin bertemu denganku lagi setelah menikah?" Rinjani tidak ingin nanti Marvin seperti orang asing jika bertemu Niar setelah menikah.
"Kok kamu ngomongnya gitu sih Jan?"
"Ya sudah, jangan pernah menyimpan dendam dalam diri, jika kalian memang sudah memutuskan dengan takdir masing-masing, saling terbuka aja, katakan apa adanya, ngobrol dong, kalau tidak bisa berjodoh kalian kan bisa berteman?"
"Bahkan berteman pun terasa sulit bagiku Jan, aku benar-benar tersiksa karenanya." Akhirnya pengakuan itu keluar dengan sendirinya.
"Astaga, kejamnya manusia adalah ketika seribu kebaikan yang kita lakukan akan sirna hanya dengan satu kesalahan." Samuel yang sedari tadi hanya menyimak perbincangan mereka langsung ikut berkomentar pedas tentangnya.
"Emang Marvin salah apa Kak?" Tanya Jani dengan heran, apa ada yang tidak ia ketahui pikirnya.
"Jatuh Cinta dengannya."
"Heh?" Rinjani langsung melongo saat mendengarnya.
"Pergilah dengannya, apapun alasanmu tidak baik bermusuhan dengan orang yang pernah kita sayang, bukan begitu istriku?" Pungkas Samuel kembali sambil memeluk mesra istrinya.
"Cocok kali kurasa." Dan Rinjani pun mengusap lembut kepala suaminya.
"Nyonya Rinjani yang terhormat, suruh teman anda segera keluar, Yoyo sudah ngedumel aja itu didalam mobil, atau kalian mau mobil sport mahal kalian itu dihancurkan oleh Yoyo!" Tiba-tiba terdengar suara teriakan Marvin dari arah luar kamar yang menggelegar.
"Aish... jangan! aku bahkan baru membelinya tiga hari yang lalu, suruh temanmu itu pergi yank, cepat!" Samuel langsung sontak menegakkan tubuhnya dan melotot kearah Niar.
"Niar Go! kalau memang kamu tidak bisa menjadi istrinya, jadilah TTM nya, lumayankan dapat sparepat cadangan!" Ucap Rinjani dengan gilanya.
Plak!
"Kamu ini pikirannya!" Niar langsung memukul lengan Rinjani.
"Hei, jangan menyakiti istriku!" Samuel langsung protes karenanya.
"BYE! ckk... selalu saja begini, bilang aja kalian cuma mau bermesraan berduaan saja, kenapa jadi aku yang harus selalu jadi korbannya."
Niar langsung mengumpat sendiri dan menggangkat satu tangannya ke udara, lalu melenggang pergi keluar dari kamar itu dengan rasa gelisah yang tidak menentu.
Karena pergi bersama Marvin adalah suatu ujian terberat baginya, apalagi menghabiskan sisa waktu diakhir pekan ini bersama dengannya, itu akan menjadi siksaan terberat bagi Niar, yang memang masih menyimpan rasa dengan dokter tampan itu.
masih anak aayam aja dah digoreng, sudah menetas dimasukkan kurungan, eh udah besar dipotong
jadi jgn terlalu ngeluh sama hidupmu
penderitaanmu gak ada apa²nya sana deritanya ayam
cerita Nya bagus thor
sdh mengiris kalbu rasane....