NovelToon NovelToon
GADIS TARUHAN

GADIS TARUHAN

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Menikah dengan Musuhku / Tamat
Popularitas:391.8k
Nilai: 5
Nama Author: Emma Shu

Dipaksa menikahi duda cacat yang tak lain adalah pembunuh ayahnya, membuat Elnara merasa hidup seperti di neraka. Dia harus berperang melawan kebencian dalam hatinya pada suaminya sendiri. Seharusnya posisi itu dialami oleh Afsa, kembaran Elnara, namun Afsa menolak dan terpaksa Elnara yang menggantikan posisi itu.
Ibunya menjadikan Elnara sebagai taruhan, memaksa bungsunya itu menikahi Emir. Hingga saat sebuah rahasia besar yang disimpan Emir terbongkar, akhirnya Afsa berusaha keras untuk mendapatkan Emir meski harus berpura-pura menjadi Elnara dengan modal wajahnya yang kembar identik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesalahan

“Aku… Aku kurang enak badan, jadi memilih untuk pulang saja,” jawab Afsa bertingkah seolah- olah dia adalah Elnara.   

Mana mungkin Emir bisa membedakan antara Afsa dan Elnara, mereka kembar identik.

“Aku masuk!” ucap Afsa sengaja meniru sikap Elnara yang lebih kalem.

Di tengah perjalanan menuju ruangan lain, ia mendengar suara Emir yang lantang.  “Kamu mau kemana?”

Afsa bingung, ia pun tak tahu mau kemana.  Dapur entah dimana, kamarnya pun entah dimana pula.  Jadi dia harus jawab apa?  Ia hanya berhenti saja tanpa menoleh.

“Kamu masih bisa bicara kan?”

Suara Emir terdengar sangat tegas.

“Ya, tentu.  Aku mau minum.  Kupikir itu nggak penting bagimu, kan?”

Emir menyeringai.  “Sudah pintar kamu sekarang menjawab ya.  Ayo, antar aku ke kamar.”

Afsa membelalak bingung.  Ke kamar?  Bahkan Afsa pun tidak tahu dimana letak kamar Emir.

“Baik.”  Afsa mendekati Emir dan memegang gagang kursi roda untuk kemudian didorong.  Entah menuju kemana, yang penting ke ruangan lain.

“Hei, kemana kamu membawaku?” tegur Emir ketika kursi roda diarahkan ke ruang keluarga.

“Eh, aduh.  Aku agak pusing.  Aku nggak tau ini arahnya kemana.  Aku ingin segera berbaring.  Kepalaku puyeng.  Tunjukkan jalan padaku.”  Afsa beralasan sambil pura- pura menghuyungkan tubuh kesnaa kemari.

Yuni, asisten rumah tangga yang baru saja masuk kerja setelah diberi cuti selama hampir dua minggu itu kebetulan melintas.  Gadis dengan tampilan khas rok batik dengan rambut dibundelin di kepala itu menatap prihatin saat melihat majikan barunya pusing sampai segitu parahnya.

Yuni menghambur mendekati Afsa, meraih lengan Afsa.  “Mbak El kenapa?  Pusing ya?  Jangan- jangan bawaan bayi ini!  Eh?”  Yuni kemudian menoleh ke arah Emir dan nyengir kuda. 

“Bantu bawa El ke kamar!” titah Emir.

“Aduh, cepat bawa aku ke kamar.  Aku pusing sekali.”  Afsa terselamatkan oleh Yuni.

Segera Yuni membimbing Afsa berjalan menuju ke kamar yang terletak di lantai yang sama, yaitu lantai satu.  “Ayo, kemari, Mbak.  Nah, di sini.”  

Yuni membantu Afsa duduk di pinggir kasur.  Sedangkan Emir mengarahkan kursi rodanya sendiri menuju kamar.

“Saya ambilkan minum ya!” ucap Yuni.  “Mbak mau minum apa supaya badan jadi seger?”

“Buatkan saja jus alpukat.”  

“Ya sudah.  Akan saya buatkan.”  Yuni melenggang keluar kamar, menganggukkan kepala saat berpapasan dengan Emir di dekat pintu.

Emir mendekatkan kursi rodanya ke arah ranjang.   

Afsa yang tengah duduk dengan gaya pura- pura pusing itu menatap Emir agak canggung.  “Kenapa menatapku begitu?”

“Pergilah ke dokter!”  Emir tidak menanggapi pertanyaan Afsa.

“Aku nggak apa- apa.  Hanya pusing.  Ini sudah sedikit baikan.”

“Baguslah kalau begitu.”  Emir memutar kursi rodanya menuju ke meja kerjanya.  Ia membuka- buka berkas penting.  Beberapa menit setelah emmastikan bahwa dokumen miliknya itu sudah lengkap, ia pun keluar meninggalkan kamar.

Melihat Emir pergi, Afsa segera bangkit berdiri dan mulai beraksi.  Ia membuka map plastik yang baru saja dilihat- lihat oleh Emir.  Ia membaca isi dokumen, yang ternyata itu adalah berkas penting dengan nilai uang bisnis milyaran rupiah.

Senyum licik pun terbit di wajah Afsa.  

Tak lama terdengar suara ketukan pintu.

“Permisi, Mbak.  Saya mau antar jus.”

Suara Yuni melengking dari luar.

Afsa bergegas membuka pintu sebelum Yuni duluan masuk.  Afsa menerima gelas berisi jus alpukat.

“Diminum ya, Mbak.”

“Hm.”  Afsa kembali menutup pintu.  Sebuah ide buruk menari di kepalanya.  Ia menumpahkan jus ke berkas milik Emir.  Tak tanggung- tanggung, jus ditumpahkan dengan ukuran banyak.  Percayalah, setelah ini dokumen tersebut akan lebih menjijikkan dari sampah dan tak akan bisa dibaca.

Afsa kemudian mengembalikan dokumen kotor itu ke dalam map plastik.  Setelah itu, Afsa menuju ke dapur meski harus berputar- putar terlebih dahulu mencari ruangan yang namanya dapur.

Akhirnya ia berhasil menemukan ruangan yang disebut dengan dapur.  Ia melihat Yuni tengah menyediakan makan.

“Itu untuk siapa?” tanya Afsa.

“Untuk Mas Emir.  Mas Emir itu paling suka sama ayam saus begini.  Ini pasti masakan Mbak El pagi tadi kan?” ucap Yuni sambil mengangkat piring berisi ayam saus.

“Sini.  Biar aku yang kasih ke Emir.”

“Oh.  Baik, Mbak.  Kalau begitu saya ke warung dulu mau beli kecap.  Kehabisan kecap.  Non Cindy soalnya paling suka makan pakai kecap.  Permisi.”  Yuni berlalu pergi.

Inilah saatnya Afsa beraksi.  Sambil menoleh ke kiri kanan dan memastikan bahwa tak ada orang selain mereka di sana, Afsa kemudian menaburkan sesuatu ke atas makanan. Setelah itu, ia barulah menumpahkan saus di atasnya untuk menutupi taburan yang dia berikan tadi.

Dia membawa piring itu meninggalkan dapur dengan seringaian kecil.  Bayangan buruk tentang Emir sudah menari di kepalanya.  

Tiba- tiba ia terkejut saat piring di tangannya dirampas oleh seorang gadis cilik.  Tak lain Cindy.  

“Hei, apa yang kamu lakukan?” kesal Afsa melihat piring di tangannya dirampas begitu saja oleh bocah tak dikenal, yang dia duga adalah anaknya Emir.

“Ini rumah papaku.  Jangan cerewet!” ketus Cindy kemudian berlalu pergi membawa piring itu.

“Sialan bocah tuyul!”  Afsa melangkah cepat mengejar Cindy, tapi sepatu high heel membuat kakinya terkilir ketika melangkah lebih cepat.  Ia kehilangan jejak.  Entah kemana Cindy pergi.  Sontak saja ia bingung, bagaimana jika malah Cindy yang menyantap makanan itu?

Tak berselang lama, terdengar jeritan dari salah satu ruangan.  Afsa bergegas menuju ke sumber suara, demikian pula Emir yang menyusul masuk.  Terakhir Yona, yang muncul dari pintu lain.

“Papa, ini kenapa jadi begini?  Aduuuh aduh!”  Cindy menggaruk- garuk muka, leher, lengan, bahkan kakinya.  Dalam waktu singkat, tiba- tiba saja kulit badannya menjadi merah- merah dan gatal, bahkan menghitam seperti kudis.

Ayam saus di meja sudah tinggal separuh.

Segera Cindy dilarikan ke rumah sakit oleh supir. Yona juga ikut.  Sedangkan Afsa dilarang ikut karena diminta supaya di rumah saja mengingat Afsa dianggap sedang tidak sehat, juga tugasnya adalah menemani Emir.  

Saat ini Afsa sedang bertanya- tanya, kenapa Cindy yang menyantap makanan beracun itu malah hanya gatal- gatal dan kudisan saja?  Kenapa tidak kejang- kejang dan tak sadarkan diri?  Rupanya penjual di toko salah memberikan racun.

Afsa secepatnya mengirimkan pesan kepada Linol.

Bu, Elnara masih di situ atau sudah pulang?

Linol membalas pesan.

El baru saja meninggalkan rumah, dia mau pulang ke rumah Emir.

Melihat jawaban itu, segera Afsa beringsut meninggalkan ruangan. 

Emir yang tampak sibuk menyelidiki kandungan makanan dengan memotong, melihat tekstur dan mencium aromanya itu tak menyadari kepergian Afsa.

“Ini ada yang tidak beres!” gumam Emir dengan gigi menggemeletuk.

Bersambung

1
Lutha Novhia
afsa SM ibunya
11 12
Lutha Novhia
c el terlalu baik polos apha bodoh yah
udh tau kembaran dia sllu iri dengki
Lutha Novhia
akhirnyaaaa
Lutha Novhia
banyak yg janggal c emir GK fokus pha emg orgnya bgtu yah
kalung
trus pulang GK SM hamish
Lutha Novhia
aneh zha
koq udh pulang
kn blm jadwal pulang
trus c Hamish blm jmput

harusnya janggal donk emir
tp asudalah
Lutha Novhia
emg slma el pulang ke ibunya
dia GK izin gitu SM suami
lagaknya dia istri yg patuh koq GK izin mau kmna2
Bundanya Pandu Pharamadina
serius bacanya ngga terasa TAMAt
❤❤❤❤
Bundanya Pandu Pharamadina
Emir semoga di beri jalan bahwa istrinya punya kembaran
Bundanya Pandu Pharamadina
Cindy dan akhirnya jatuh sendiri, usil sih sama Elnara
Bundanya Pandu Pharamadina
like
favorit👍❤
Angelica
ceritanya bagus banget
Khanza Za
Luar biasa
Imas Ratnasari
Wah.. gak terasa ternyataa sdh tamat... heee saking asyyikk bacanya.. 🤣🤣
Imas Ratnasari
Hamish jodohkan saja dgn Afsa.. dekatkan mereka
Biar Hamish ikut..merawat sebagai tanggung jawabnya. 😍😍😄😄
Imas Ratnasari
Kasihan juga dengan Afsa dia melakukan itu semua karena iri pada Elnara.selama ini dia selalu kalah baik dalam prestasi maupun kepandaian. Merasa sakit hati karena semua yg terbaik ada pada Elnara. Meskipun Afsa sdh jahat, Tapi Elnara tetap baik tetap melindungi kakaknya. itulah darah lebih kental dr pada air, Rasa persaudaraan tetap lebih erat dibanding rasa sakit hati... Verry Kind Elnara... 😍😍
Imas Ratnasari
heeee . lebih kompak Yona dan Yuni ya tidak saling julid. daripada Afsa dan Elnara. 😄😄😄
Imas Ratnasari
haaaa.. nanti Cindy berubah baik dan suka pada, Elnara. 😄😄
Imas Ratnasari
☝cung
acih aja
no coment...nikmati alur nya aja 😁
acih aja
Masih menyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!