Berkisah mengenai cinta lama bersemi kembali antara Tere dan Darryl yang sebelumnya berstatus sebagai kekasih masa muda (alias cinta monkey). Tere dan Darryl bertemu kembali dinegeri yang Tere singgahi saat pertukaran pelajar setelah 10 tahun kemudian.
Anehnya dalam kisah, Tere amat menyukai revan dan Darryl sudah jatuh cinta pada Cecile. Revan dan Cecile adalah sahabat dekat mereka sejak kecil.
Bagaimana Takdir mampu mengalahkan friendzone yang tegas mengukir cinta diantara kempat tokoh ini?
yuk mampir, dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benak Darryl
"Wanita memang mudah merasa. Mau mengisi kekosongan?" tukas Darryl seraya mulai meminum jus buah.
"Sayang sekali, Tidak" tukas Tere.
Darryl melirik, ia mulai berdiri dan meminta Tere menaiki mobilnya.
Mobil berjalan lebih cepat.
Darryl mulai memikirkan hal yang sama seperti saat itu. Sangat sama ketika Tere tak sengaja melihat Darryl mengecup seorang wanita di panggung drama yang sepi. Keadaannya seperti sedang terjadi berputar, namun dengan keadaan yang sangat berbeda. Darryl terdiam.
..."Biasanya kamu fokus menghafal saat lima belas menit sebelum pulang. Kenapa masuk dan membuatku jantungan?!" tukas Darryl tiba-tiba....
..."Aku yang jantungan melihatmu tadi" tanggap Tere....
..."Sudahlah tidak perlu di bahas" singkat Darryl....
...Darryl terdiam cukup lama....
..."Sedang berpikir bagaimana cara membersihkan otakku ya?" tanya Tere membuka pembicaraan....
..."Iya!" tukas Darryl tampak kesal....
..."Banyak film di negeri ini yang lebih berani dan lebih romantis dari adeganmu barusan. Ternyata kedua pemeran utama yang sedang latihan bisa terbawa suasana dan terjadilah situasi sepertimu" jawab Tere dengan tenang....
..."Tidak usah menonton film yang seperti itu lagi mulai sekarang! Merepotkan juga kalau seperti ini" tukas Darryl dengan spontan....
..."Apanya yang membuatmu repot?" tukas Tere....
..."Orang sepertimu!" singkat Darryl....
..." Aku ini bukan orang" singkat Tere....
...Darryl terkekeh....
..."Memangnya siapa?" tanya Darryl....
...Tere mendehem....
..."Aku pohon. Jangan tebang aku, jangan patahkan dahanku. Aku kehijauan yang menghidupkanmu" ucap Tere seraya mengatakan isi dialog pementasan drama....
..."Cinta memang telah membuatku rela mengorbankan segalanya. Cinta yang buta membuatku sulit melihat dunia" timpal Darryl dengan gaya....
..."Oh Tidak! Dahanku....." tukas Tere dengan serius, lalu terkekeh....
..."Kamu belum hafal dialogmu, tapi kenapa ku dengar tadi justru menghafalkan dialog pemain yang lain?" tukas Darryl....
..."Jadi kamu sudah hafal dialog pohon??" tukas Tere dengan spontan....
..."Aku mudah mengingat dengan sekali membaca atau mendengarnya sekali. Itu rahasia besarku. Orang tuaku tidak tau. Eh, hanya mamiku yang tau" tukas Darryl....
..."Tidak mungkin! Aku lumayan sering melihatmu masuk perpustakaan. Kamu pasti menghapal diam-diam tanpa ada yang tau!" singkat Tere....
...Darryl terkekeh....
..."Aku memang menutupinya dengan tetap pergi ke perpustakaan sewaktu-waktu. Semua siswa perlu nilai, dan itu bayaran yang pantas untuk membalas biaya sekolah dari orang tua. Jika ingin tau, sebenarnya diperpustakaan aku hanya ingin tidur saja. Aku hanya tidak suka di sebut kutu buku yang aneh, maka aku tetap ingin mencari masalah yang membuatku tetap leluasa menjadi diri sendiri" ucap Darryl seraya tersenyum sendiri....
..."Pantas saja terkadang aku melihatmu seperti orang yang aneh. Murid bermasalah, tapi masih saja diperlakukan dengan baik oleh teman-temanmu" singkat Tere....
..."Yah, contohnya yang ini, sudah tau kelakukanku barusan, masih saja menungguku pulang!" tukas Darryl....
..."Yah, lagipula untuk apa menanggapi orang yang hanya sepertimu?" tanya Tere spontan....
..."Hanya sepertiku? Itu ucapan yang menyinggung" singkat Darryl....
..."Eh, ada apa denganmu?. Maaf-maaf ternyata mood mu sedang sangat buruk. Baiklah ku akui, aku juga hanya seorang aku" singkat Tere....
...Darryl terkekeh....
..."Ucapanmu benar-benar aneh" singkat Darryl....
..."Eh. Di dengar dulu! Intinya, jika kamu mudah mengingat sesuatu dengan sekali membaca, aku justru sangat-sangat-sangat berbanding balik denganmu. Itulah yang membuatku menjadi terlihat sok rajin. Rahasianya hanya sedang menutupi kebodohanku dan kekuranganku. Orang tuaku jelas tau, tapi orang lain tidak tau, eh ada satu lagi selain mereka." tukas Tere....
..."Benarkah? Artinya ini rahasia kita" tukas Darryl....
..."Cecile, dengan Cecile tentunya" tukas Tere seraya tersenyum lebar....
...Darryl menggeleng....
..."Aku yakin dia juga diberi karunia yang sama denganku, itulah yang membuat kami tidak pernah membahas itu. Kami justru sering membanding-bandingkan nilai ujian kami tanpa bertanya bagaiamana cara kami bisa mendapatkan nilai yang terbaik di setiap waktu. Aku justru baru melihatnya belajar dan tau bagaimana caranya belajar saat kamu datang dan kita belajar bersama. Terbukti Cecile juga tidak pernah belajar. Hahaha" tukas Darryl seraya tersenyum....
..."Sebenarnya kalian itu sangat serasi. Tapi kenapa saling membingungkan satu sama lain?" tukas Tere dengan serius....
..."Menurutmu begitu ya?" tukas Darryl seraya tersenyum lebar....
..."Iya" singkat Tere....
..."Mulai sekarang aku bisa membantumu menghafal dialog dengan cepat jika mau. Hanya perlu lawan main untuk membuat suasananya menjadi hidup" tukas Darryl sebelum sampai di rumah....
..."Tidak perlu. Aku orang yang mudah tersandung perasaan, dan lagipula aku ini hanya pohon" tukas Tere seraya tersenyum lebar....
..."Kamu mencuri perhatian" tukas Darryl....
..."Iya.. Menurutmu begitu ya?" tukas Tere seraya terkekeh dan berlari ke dalam rumah....
Tere menoleh seraya melihat plang jalan.
Darryl memutar kemudinya, dan memasuki bangunan tinggi yang kokoh.
“Terlalu jauh jika harus mengantarmu ke rumah Cecile. Besok pagi kita juga akan kembali ke rumah sakit. Kita tidur diapartemenku malam ini. Tenang saja. Tidak akan ada drama, aku tidur di ruangan lain” tukas Darryl seraya mengambil kartu parkir di gerbang masuk.
“Aku akan memesan kamar yang lain” singkat Tere setelah Darryl membuka sabuk pengamannya.
“Apartemen disini tidak bisa disewa perhari. Setidaknya enam bulan di bayar dimuka jika kamu ingin mendapatkan kamarnya” singkat Darryl lagi.
Tere masih terdiam.
“Bawalah mobilku jika mau pergi sendirian ke rumah Cecile. Terserah juga jika ingin mencari hotel di sekitar sini. Jika kamu ditilang, aku baru akan menebusmu besok. Intinya aku menghargai semua keputusanmu” tukas Darryl dengan tenang.
“Aku tidur di mobil saja!” tegas Tere.
“Oke. Mesinnya aku biarkan menyala. Ini tombol pengunci dan ini cara membukannya. Sama saja seperti mobil yang lain” tukas Darryl seraya membuka pintu mobilnya.
“Ini manipulatif” tukas Tere dengan spontan.
“Berpikirlah secara dewasa dan juga secara positif. Kamu sudah dewasa dan kita tau situasi apa yang sedang terjadi” tukas Darryl lagi.
“Tapi wanita yang masih perawan memang tidak mungkin tidur diatap yang sama bersama pria lokal yang bebas” tanggap Tere dengan spontan.
Darryl sontak tersenyum.
“Informasi yang menarik untuk pria lokal yang bebas” tukas Darryl spontan.
“Aku tidur di mobil!” tanggap Tere lagi.
Darryl tak lagi menggubris sebuah keputusan. Itu masalah sepele yang tidak pantas diributkan. Semua itu tidak penting sekarang.
Darryl mulai berjalan keluar.
Darryl mengubah-ubah posisi tidurnya berulang kali. Memikirkan keteguhan yang tak pernah ia sangka akan mampir lagi. Saat ini bahkan telah bergulir menjadi tahun yang sangat berbeda dan Darryl terdiam dengan alasan besar yang terasa berbeda juga.
...Darryl masih ingat jelas ketika Tere menyatakan cinta padanya saat pertama kali....
...Darryl masih terus mengingat satu sikap asing yang terekam jelas dalam memorinya. Darryl baru menyadari sebuah ungkapan cinta dengan ungkapan yang berbeda disaat itu juga....
...Tere pernah mengetuk pintu rumah Darryl dengan senyuman yang berbeda....
..."Hey" singkat Darryl....
..."Aku suka peranku bersamamu, dan ini untukmu" ucap Tere seraya memberikan kamus elektronik yang mati....
...Darryl memandang tajam. Tere tak berani menatap. Darryl tau, saat itu adalah momen yang akhirnya terjadi juga. Darryl akhirnya berhasil mendapatkan hati Tere, dan segalanya pasti mudah diberikan untuk sebuah rasa cinta. Bagaimana rasanya kira-kira?...
..."Kamu Ingin masuk?" tanya Darryl dengan spontan....
..."Sedang ada siapa di dalam?" tanya Tere....
..."Seperti biasa, tidak ada orang" singkat Darryl seraya tersenyum....
..."Ya sudah kalau begitu" ucap Tere....
...Darryl masuk dan ia menoleh lagi. Tere sudah berjalan menjauhi rumah Darryl seraya menoleh dan tersenyum salah tingkah seraya membuka pintu rumah Cecile....
"Ah sial!" tukas Darryl seraya mulai duduk terdiam.
Tadinya Darryl benar-benar mengantuk, tapi ia baru menyadari bahwa Tere benar-benar keras kepala. Apakah Tere bisa tidur dengan nyaman? Apakah dia lebih takut pada Darryl jika dibandingkan dengan para berandal yang mungkin muncul kapan saja? Apakah Darryl telah dianggap sebagai berandal juga?. Ah, Darryl baru menyadari sikap keras kepala yang menyebalkan. Tapi ia mulai menyadari, Tere akan mengisi ruang dalam otaknya untuk kembali dipikirkan.
Darryl turun, dan dengan spontan tertawa kecil. Tere tertidur dengan mulut yang menganga. Deskripsi yang jelas bahwa raga dan pikiran telah terkuras habis seharian ini.
Darryl merogoh saku celananya, kemudian menekan tombol dari kunci cadangan untuk membuka pintu mobil yang terkunci dari dalam.
Tere membuka mata, seraya melihat jam di tangannya dan mendekatkan badannya kearah Darryl.
“Apa yang kamu inginkan saat hanya ada kita berdua?” Ucap Darryl seraya tersenyum dan memegang kemudi dengan spontan.
“Beberapa detik lagi aku akan menekan klakson supaya kamu terbangun dengan enerjik” ucap Tere dengan serius.
“Ini masih jam empat pagi dan terlalu gelap gulita untuk menjenguk siapapun!” tukas Darryl dengan serius.
"Ada toko pakaian 24 jam yang buka di sekitar sini. Aku perlu pakaian karena setelah beristirahat di sini, kita langsung pergi ke rumah sakit lagi kan?" tanya Tere seraya menunjukkan ponselnya memperlihatkan letak toko itu pada Darryl.
Darryl memandang kesal.
"Iya. Kita tidak pulang, dan membeli pakaiannya nanti saja saat matahari sudah muncul" singkat Darryl.
Tere ikut memandang kesal seraya membuka pintu mobil.
"Kalau aku belum kembali dalam satu jam, maka kamu harus mencemaskanku!" ucap Tere.
"Tidak. Jika matahari sudah muncul, aku baru cemas. Hati-hati di jalan"singkat Darry.
Tere benar berjalan keluar.
Darryl sengaja tidak menggubris permintaan yang konyol di pagi buta seperti ini. Darryl kembali memejamkan kedua matanya. Kali ini biarkan saja ia tega. Bekas perkelahian kemarin juga benar-benar mulai terasa sangat menganggu Darryl saat pagi.
Tere belum kembali dalam satu jam. Darryl dengan spontan membuka matanya lagi.
Darryl menoleh dan Tere sudah mengetuk jendela. Darryl menghela nafasnya.
“Aku ingin pinjam apartemenmu sebentar” tukas Tere lagi.
“Tadi malam menolak, tapi kenapa sekarang tiba-tiba ingin pinjam?!” singkat Darryl.
“Bagiku sekarang sudah pagi, dan aku memerlukannya” ucap Tere dengan tatapan yang serius.
Darryl hanya diam. Dia tidak mau mendebat keras kepala itu lagi dan sesekali melirik Tere yang tetap diam dalam lift yang hening. Apa kiranya yang sedang ada dalam benak Tere kali ini?
Tere membuka tas jinjingnya, dan berdiri diam kearah mata angin tertentu. Darryl mengintip ponsel Tere yang tergeletak begitu saja. Aplikasi arah mata angin masih terpasang. Darryl baru mengingatnya dengan jelas tentang hal itu.
“Hey Darryl!” tukas Tere.
Dengan spontan Darryl menegakkan badannya dari sofa santainya.
“Sudah jam delapan. Kapan tepatnya kamu mau bangun? Apakah kamu selalu bangun di jam sesiang ini?” tukas Tere dengan spontan.
“Tentu saja tidak. Aku selalu bangun pagi. Jam tujuh” tukas Darryl.
Tere hanya mengerutkan dahi. Apa bedanya antara dua waktu itu? Kesimpulannya tetap sama.
“Kita sarapan apa?! Maaf tadi aku membuka lemari pendinginmu karena sangat lapar. Di lemari pendingin hanya ada makanan ringan dan alkohol. Kamu juga hanya memiliki makanan cepat saji di dapur. Sejujurnya itu bukan menu yang baik untuk kebutuhan sarapanku” tukas Tere protes.
“Setelah memberimu tempat menginap, apakah aku perlu menyediakan sarapanmu juga?” tukas Darryl.
“Aku tamu. Jamu lah seorang tamu dengan baik” jawab Tere dengan tenang.
Darryl mulai berjalan kearah kamar mandi, lalu melepas kaosnya dan mulai tersenyum membuka pintu kamar mandinya lagi.
“Bagaiamana jika tamuku berbuat baik dengan tuan rumahnya dulu?” tanya Darryl menggoda seraya menyampirkan anduk di pundaknya. Ia membuka pintu toiletnya lebar-lebar dan membuka kedua tangannya lebar-lebar juga seperti membuka pelukan tanpa setelan atas.