Namaku Yuta Mayasaki, aku mempunyai seorang pacar bernama Giza, gadis cantik yang merupakan madona sekolah SMA Jayakarta.
Suatu hari saat aku pulang sekolah, Ayahku yang seorang duda membawa pacarnya dan juga seorang gadis yang merupakan anak dari pacarnya.
Namun saat aku melihat penampilannya... ya, benar sekali, anak dari pacar ayahku itu adalah Giza.
Bagaimana hubunganku dengan Giza seterusnya? Apakah masih boleh kita berpacaran walaupun kita kakak adik? Bukankah ini cinta terlarang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noya Clarissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.7 Mencari Informasi
...Note: Aku mengganti style tulisanku menjadi seperti style light novel Jepang....
...****************...
"Jadi, Yuta udah dapat petunjuk belum?" Giza bertanya padaku sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
"Belum, tadi pagi aku sempat bertanya ke Rito dan Fujii, tapi mereka saja tidak tahu apa-apa tentang orang itu"
"Hum ... jadi bagaimana kita harus menyelesaikan masalah ini ..."
Aku jadi bingung apa yang harus kulakukan, memang benar sih aku bilang ke Ayane-senpai bahwa aku akan menyelesaikannya sendirian, tapi tak kusangka masalahnya akan sesusah ini.
Oh, aku ada ide, aku cari tahu saja siapa cewe itu. Dari sana, aku akan mencoba untuk informasi tentang cowok yang ku cari.
"Giza"
"Hnn ...?"
"Setelah ini, kita ke ruangan osis yuk, ada hal yang ingin aku tanyakan ke Ayane-senpai"
"Oh ... baiklah"
Setelah selesai memakan bekal, aku dan Giza langsung pergi ke ruangan osis setelah meletakkan kotak makan di kelas masing-masing.
Aku mengetuk pintu ruangan osis untuk meminta izin masuk.
"Ayane-senpai, apa kamu ada di dalam?"
"Ah, Yuta ya? Silahkan masuk"
Saat aku berjalan masuk ke ruangan, aku melihat Ayane-senpai sedang duduk di kursi osisnya sambil merapihkan dokumen-dokumen yang berantakan. Dan juga ada Zea yang sedang membuat teh di sisi kiri ruangan osis.
"Jadi? apakah ada sesuatu, Yuta?"
Ayane-senpai bertanya padaku sambil berhenti merapihkan dokumen-dokumen yang ada. Mungkin agar dia bisa fokus mendengarkanku.
"Jadi begini, Ayane-senpai sempat bilang kemarin, katanya ada seorang anggota klub sepak bola yang memberitahu masalah ini ke Ayane-senpai"
Aku bertanya ke Ayane-senpai seraya duduk di kursi kosong yang ada bersama Giza. Sesaat setelah aku dan Giza duduk, Zea menghampiri kita sambil membawa nampan berisi dua gelas teh.
"Ini untuk kalian"
"Ah, makasih Zea"
"..."
Masih dingin seperti biasanya ya ...
"Ah iya, aku memang sempat bilang" Ayane-senpai menjawab pertanyaanku sambil berpose mengangkat 1 jarinya ke atas.
"Nah, aku ingin meminta tolong ke Ayane-senpai, bisakah Ayane-senpai mencari orang itu lagi dan menanyakan perihal siapa gadis yang diperebutkan itu?" aku mengangkat gelas berisi teh yang tadi dibawakan Zea dan meminumnya.
Secara reflek aku bilang "Ah, teh ini enak" sambil menoleh ke arah Zea.
"Makasih"
"Boleh saja kok? Lagi pula, aku mau membantumu juga, aku merasa tidak enak jika Yuta harus menyelesaikan permasalahan rumit ini sendirian," Ayane mengarahkan jarinya ke mukaku sambil memicingkan matanya. "Dan juga, berhenti memanggilku pakai kata 'Senpai', paham?"
"Ah... umm oke, lalu aku memanggilmu apa"
Aku kebingungan, aku memang sengaja memanggilnya menggunakan kata 'Senpai' karena secara umur, dia lebih tua dariku. Dan juga, aku tidak mau dianggap tidak sopan oleh Ayane-senpai.
"Panggil aku Ayane saja"
"A-Ayane? Oke ..."
Tak kusangka dia menyuruhku untuk memanggil namanya secara langsung. Apakah hal seperti ini boleh? Apakah ia tidak merasa tersinggung nantinya? Tapi yasudahlah, toh dia yang menyuruh.
"Kalau begitu, apa masih ada yang ingin beritahu, Yuta?"
"Ah, kurasa cukup"
"Baiklah kalau begitu"
Ayane-senpai kembali merapihkan dokumen-dokumennya yang masih berantakan. Aku dan Giza beranjak dari tempat duduk kami untuk berpamitan.
"Terima kasih Sen- Ayane, maaf jika aku menganggu waktumu"
"Eh ...? Tidak apa-apa, kok. Lagi pula, sekarang kamu sudah menjadi anggota osis 'kan?
"Tidak, tidak, aku hanya membantumu saja"
Sambil berjalan ke arah pintu ruangan osis, aku dan Giza melambaikan tangan ke dua gadis yang masih ada di ruangan itu.
"Bye-bye, Ayane, Zea"
"Bye-bye~"
"Bye"
Sesaat setelah kami keluar dari ruangan itu, aku langsung menghela nafas berat.
"Haah ..."
"Kamu lelah, Yuta?"
"Tidak ... hanya saja ..."
Minta masakin ah~
"Aku ... ingin dimasakin Giza lagi"
"...Ternyata itu toh"
"Hehehe"
"Yaudah, kalau gitu kita mampir ke minimarket dulu"
"Oke~"
***
Keesokan harinya setelah aku dan Giza selesai makan bekal bareng di atap, kami bergegas menuju ruangan osis untuk menanyakan Ayane-senpai tentang gadis yang aku beritahu kemarin.
*tok tok tok
"Silahkan masuk"
Kali ini, saat aku memasuki ruangan osis itu, aku hanya melihat Ayane-senpai yang sedang membuat teh.
Si cewe dingin itu kemana?
"Halo, Ayane, apakah kamu sudah mendapatkan informasinya?"
"Sudah kok," Ayane-senpai menghampiri kami sambil membawa dua gelas berisi teh.
"Padahal tidak perlu repot-repot"
"Tenang saja~ ini sudah menjadi budaya osis untuk menyambut tamu dengan teh"
Tapi kan kita bukan tamu ...
"Oh iya, nama gadisnya adalah Yoshida Shizu, anak kelas 10 seperti kalian"
Ternyata seumuran ya, aku awalnya mengira dia sudah menjadi senpaiku.
"Oh! Aku kenal anak itu!"
Giza tiba-tiba nyeletuk sambil berlompat-lompat kecil di kursinya.
"Eh? Kamu mengenalnya, Giza"
"Iya, dia teman sekelasku"
"...Hah?"
Apa-apaan ini, sebuah kebetulan yang sangat menyeramkan. Aku dan Ayane-senpai sempat tersentak sedikit saat mendengar ucapan Giza itu. Tapi aku bersyukur sih, aku tidak perlu susah-susah mencari gadis itu lagi.
"Kalau begitu, masalah ini sudah selesai dong~"
"Tidak ... tentu saja belum selesai, ini hanya seperti 20 persennya saja"
"Setidaknya sudah ada kemajuan ya 'kan?"
Kalau begitu, sekarang aku harus memikirkan bagaimana caranya agar gadis itu mau bekerja sama dengan kita. Maksudku, tidak mungkin dong dia tau kalau dia itu tengah menjadi bahan perebutan laki-laki anggota ekskul.
"Unn ... Giza, bisakah kamu mengajaknya untuk membahas masalah ini bersama"
"Mengajaknya ke ruang osis?"
"Iya"
"Tentu saja, sebentar ya, aku akan memanggilkannya"
Giza beranjak dari tempat duduknya sambil menunduk dan berkata, "Terima kasih atas minumannya Senpai".
Suara pintu terbuka terdengar di kupingku saat Giza mulai membuka pintu ruangan osis.
Saat Giza sudah keluar, Ayane-senpai tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya sambil mengambil gelas aku dan Giza. Aku bisa menebak kalau Ayane-senpai akan mencuci gelas-gelas yang telah kami pakai. Namun secara reflek aku mengajukan diri untuk ikut membantunya.
"Ah, senpai, biar aku bantu"
"E-eh ...? Tidak usah, kamu duduk saja Yuta"
"Tidak apa-apa"
Aku berniat mengambil gelasku, namun saat itu ...
"..."
"A-a-a-ah maaf, aku gak sengaja megang tangan kamu"
Karena waktunya berbarengan, tanganku jadi memegang tangan Ayane-senpai yang sedang mengambil gelasku.
"T-tidak apa-apa, kok? Kenapa kamu begitu malu? Bukannya ini hanya bersentuhan biasa?"
"Y-ya bener sih ..."
"Hee ... atau jangan-jangan ... kamu suka sama aku, nanti aku bilangin Giza 'loh?"
Ayane-senpai tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arahku. Sepertinya dia menggodaku. Mungkin kalau lelaki lain, Ayane-senpai sudah di–
"Bercanda"
"Eh ...?"
"Lagian, mana mungkin kamu suka sama aku 'kan? Toh, kamu sudah punya Giza"
"Itu benar, Giza itu tak tergantikan"
Kami berdua pun mencuci gelas-gelas kotor itu di wastafel yang ada di ruangan osis. Namun, selama aku mencuci gelas, sesaat aku melihat raut wajahnya Ayane-senpai yang murung.
Kira-kira ... kenapa ya?
***
diriku adalah masa depanku
setetes air diujung ranting
terjebak dalam masa lalu
happy Reading ❤️
kn kasian pacarin adik sendiri🥹