Kisah seorang Aluna merubah dirinya menjadi iana, karena derita dan ditolong oleh satu keluarga. Membuatnya kembali bertemu pria yang selama ini ia hindari.
Siapa sangka karena Ananda Hiko ditinggal mati sang istri karena kecelakaan, ia kembali hidup dengan identitas baru bernama Kelvin.
Pertemuan mereka kembali, ditakdirkan meski sejauh manapun mereka merubah dirinya, akan tetapi alam memang menyurati jika mereka jodoh.
Simak kisahnya ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oktiyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INGATAN LALU
Luna pergi setelah memakamkan ibunya, selama beberapa pekan ia mencari bantuan, merubah identitasnya demi menjauh dari Ananda Hiko. Yang pelak Luna sadari, ia adalah suami dari sahabat kecilnya itu. Mau tidak mau, Luna meminta bantuan sang dokter untuk merahasiakan dirinya pergi dari kehidupan Hiko yang notabane suami Alaura.
"Baiklah, hati hati denganmu ya Luna!"
"Terimakasih bantuannya dokter!" ujar Luna, yang saat itu menahan mual.
***
Tiga Tahun Kemudian.
Aluna merubah dirinya menjadi Iana. Gadis yang bekerja pada orangtua kaya, dan dianggap anak sendiri saat itu. Tak lain kisahnya adalah, ia adalah sahabat dari mendiang sang mama yang telah meninggal.
"Yeaay...." sorak gembira, teriak lepas senyum para mahasiswa -siswi di univ ternama ibu kota. Mereka saling berpeluk dan melempar topi toga. Antusias terpancar di hari yang cerah dan sejuk.
Tiga gadis remaja yang dikenal dengan gadis AMI, sesuai nama depan mereka. Ia juga terkenal, pintar, cantik dan kompak.
Namun iana gadis paling menonjol karena parasnya mudah dikenal dan aura yang berbeda. Selain karakter yang lembut, ramah bertutur kata, paras yang dominan sunda bercampur eropa bak wanita dongeng. Ia gadis yang beruntung diasuh oleh keluarga kaya yang mempunyai sisi terkenal dan berpengaruh.
"Na.., kamu selesai ini mau ngelamar kerja dimana?" tanya Amel.
"Aku.. belum kepikiran mel. Tapi momy ira minta aku langsung kerja dan berlatih di kantor papi Ico!" ucapnya.
"Waah.., masa depanmu amat cerah cemerlang na. Gak kaya kita nih! rekomendasiin dong sahabatmu ini na,Heuumh... ya gak mel!" pinta Melin dengan mengedipkan mata jahil memesona.
"Aku coba ya, tapi aku gak janji. Sebab aku aja kayanya menolak, kepikiran mau buka usaha kue aja. Biar banyak waktu luang dan cari pengalaman sebelum terjun kerja dibawah tekanan." balas iana.
"Dasar gadis bodoh kamu iana,udah bagus dikasih enak sama mama angkatmu itu. Eekh, malah mau ngerintis dari awal. Kalau gw sih ga nolak ga capek, pastinya beuuh..."
ucap Melin. Ia merasa kesal dengan sahabatnya itu dan memanyunkan bibirnya, lalu membuka air mineral di botol.
"Udah..aakh. Aku tuh gak mau bergantung terus. Sudah lulus sarjana sampe saat ini aja, aku tuh udah bersyukur tau gak. Jadi setelah buka toko kue, aku mau mandiri dan ga bergantung sama mami, papi aku. Dia kan juga sibuk. Apalagi kaka yang sebaya sama aku itu, dia kuliah di LN sama dengan kakaknya. Sudah pasti pusing dan super sibuk,mangkanya aku tau diri aku menetap di ibu kota, Eh ga nyangka sampe saat ini ketemu temen baik kaya kalian tuh. Spesial banget." iana mencubit gemas kedua pipi sahabatnya itu.
"Auuw.. sakitna, udah kaya mie paket komplit aja spesial. Tapi aku dukung kamu 100%." balas Amel.
"Aku.. setengahnya na, alasanku karena kamu tuh harus....!"
Belum selesai Melin membujuk dan memberi wejangan. Tangan iana ditarik Amel.
Eeekh..., kalian mau kemana? Kok aku ditinggalin nyebelin deh kalian! ucap Melin.
"Hehee.. sini sayang, ayo tanganmu. Udah jangan bahas lagi soal aku ya, aku tau kamu khawatir tapi ini pilihanku!" tutur iana.
"Oke deh... sekarang kita meluncur ya!"
***
Cafe Royalti.
"Kalian pesan aja, biar aku traktir!" ucap Iana.
"Wah.. makasih na." balas Amel.
"Sering - sering na, gw sih mau banget tiap hari malah maunya hahaa...!" Melin.
Saat mereka memesan pesanan, tak lama kedua orangtua iana datang membuat mata Amel dan Melin menohok.
"Boleh ikut bergabung gadis manis, maaf tante sedikit lama ya?"
Tante ...? Melin saling menatap Amel. Karena ia tidak tau hingga kini seperti apa kedua orangtua angkat iana.
"Kenapa kalian bengong begitu memegang sedotan?" tanya wanita paruh baya. Bak masih gadis usia 25 tahun.
"Momy, papi udah sampe, iana habis dari belakang."
"Eeeuuum...kesayangan momy maaf terlambat tadi saat kamu kelulusan selalu dengan bi Ratna ya, maaf sayang pesawat kami delay."
"Tak apa.. apa kedua kakak ku juga ikut?" tanya iana.
"Tidak sayang, papi ada hal mendesak kakakmu sibuk mengurus seperti biasa. Tapi nanti kelak pasti akan berkunjung."
Tak lama, iana terdiam ketika kedua sahabatnya jadi patung tak berkata. "Eekh iya.. Amel, Melin ini momy ira yang selalu aku ceritakan, dan itu papi ico aku yang sedang menelp disudut sana."
"Senang tante berjumpa. Kami sahabat iana, ga nyangka aku pikir iana kakak soalnya face tante baby face." tertawa kecil. Melin menyapa.
"Bisa aj, ya udah kalian lanjutin jangan sampe menunda makanan hampir dingin, mumpung tante disini main kerumah iana ya. Tante akan ada dua hari disini, malah selepas ini mau ajak iana ke paris! setelah ini kamu jadi mau lanjutin kuliah atau Gabung perusahaan papi dan kakakmu sayang ?"
"iana mau..."
"Sayang.. aku akan meeting bersama klien, ada pertemuan mendadak. Iana kamu jaga momy ya, maaf papi tak bisa kumpul makan bersama. Tunggu dirumah kita kumpul bersama ya!" potong papa sambung.
"Ya papi."
Tak lama, mereka saling banyak bercerita dan melanjutkan makan bersama. Bagai wanita sebaya. Kecantikan momy ira amat natural dan babyface. Serius nya mereka, iana jadi lupa menjawab pertanyaan mami ira. Jika ia ingin membuka usaha toko kue.
Dua jam berlalu mereka berpisah, iana dan kedua sahabatnya berpisah. Ia pun menatap tak percaya ketika iana masuk kedalam mobil.
Terlihat sang supir dan beberapa bodyguard di berbeda mobil menyambutnya dan mengantar.
"Anjrit.. ga nyangka si iana, kaya di film aja tuh. Beruntung amat ya hidupnya?" ucap Melin.
"Udah ga usah iri sama rejeki sahabat, iana itu ga mau diperlakuin seperti itu. Dia mau mandiri mau buktiin ke saudara angkatnya. kalau ia tau diri, yang aku dengar iana itu ga akur sama kedua anak kandung momy ira."
"Heuum... iana ku yang malang. Tapi kita deketin yuuks.. mumpung tante ira ada di kota padat ini selama dua hari, siapa tau dapet jebolan loker pekerjaan." ucap Melin.
"Dasar temen tak tau diri,tapi idemu patut aku ikutin!" hahaaa... Amel tertawa. Dan mereka pulang bersama dengan taksi.
.........
"Sayang, momy mau buat sop tomyam kesukaan kamu. Ayo kamu ada ide apa, kita masak bareng sampe dirumah. Kita buat kejutan masakan kesukaan papi juga!"
"Ia momy, iana ambil kesebelah itu dulu ya.
kayaknya sayuran dan dagingnya fresh?"
Tak lama, iana ingin mengambil satu beberapa bungkus jamur. Tapi ia merasa kurang tinggi, ia menoleh ke bodyguard merasa tak enak untuk menyuruhnya. Ia berusaha hingga melompat lompat. Namun tiba saja, sebuah tangan kokoh tubuh maskulin dan tampan membuat iana terpesona.
"ini nona.." ia pun memberikan sebuah bundelan sayur jamur pada iana.
"Terimakasih." balas iana.
"Sayang, ayo sudah terlalu lama kita." iana pun tersenyum dan mengekor pada sang momy.
Saat dikasir ia terpesona akan pria yang membantunya. Ia berharap kelak akan bertemu kembali. Jika aku bertemu kembali artinya apa dia jodohku. Lirih iana tersenyum malu.
Saat menuju loby parkiran, momy ira meminta supir dan bodyguard menunggunya di loby utama dikeramaian. Meski sang supir menolak tapi kemauan nyonya tak bisa dibantah.
"Sudah, ada iana putriku kalian jangan cemas. Cepat putar mobilnya. Saya tunggu didepan!"
Ketika momy ira menerima pesan dan serius, iana disampingnya yang melamun. Tiba saja seorang pria kupluk menjambret kilat tas momy ira, sontak berteriak dan iana pun meminta bantuan.
"Toloong..ada jambreet.!" ucap iana. Ia berlari.
"Sayang, jangan dikejar nak!" teriak momy ira.
Tak lama seorang pria dengan tubuh sempurnanya dengan cekat mengejar pria itu, hingga lima belas menit berlalu. iana yang terjatuh dibantu oleh momy.
"Maaf tante, ini tas nya!"
iana terkejut, ia menatap pria yang tadi menolongnya. Kini diapun menolong disaat urgent, jika tidak papi ico akan marah besar dan menghukum seluruh bodyguard dan sang supir yang tak bersalah.
"Kamu...?" ucap iana.
"Sayang..kamu kenal pria yang menolong momy?"
"Dia momy..itu..eekh.." gugup tak karuan iana menjawab.
"Kalau gitu, ini kartu nama tante. Nanti malam jam delapan kerumah ya, jangan sampe tidak anggap aja rasa terimakasih tante."
"Maaf tante, saya hanya sekedar lewat menolong. Tak perlu seperti ini... Tapi tante!"
Pria itu menatap iana yang mengangguk. Entah arti ia atau ada maksud, akhirnya ia pun berjanji akan datang.
Siapa pria itu?!
Tbc.
Ini adalah secuel kisah Luna menjadi iana, ada saatnya ia akan bertemu Ananda Hiko. Jadi jika kalian pernah baca, sebelumnya author teruskan dan belum kontrak di judul berbeda dan dilanjut di judul ini.