COVER FROM PINTEREST
Max Winston menikahi Elena Gilbert bukan semata-mata untuk mempertahankan mansion tua nan mewah milik keluarga Gilbert. Tanpa Elena ketahui, Max telah jatuh cinta padanya sejak lama dan terus memperhatikannya selama 7 tahun. Mansion tua keluarga Gilbert memang salah satu alasan, tapi alasan terbesarnya hanya Max yang mengetahuinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[6] Elena Tidak Bertanggung Jawab
ELENA POV
“Sugar, ayo bangun! Jika tidak, kau akan tahu apa yang terjadi!” aku mendengar suara ancaman yang tidak enak didengar dalam mimpiku.
Buruknya, itu memang bukan mimpi melainkan memang benar-benar nyata keluar dari bibir pria brengsek yang telah mengganggu tidurku.
“Kau sangat berisik! Ini masih sangat pagi! Kenapa sih membangunkanku!” kataku menendang bokongnya dari pinggir ranjang hingga membuatnya jatuh mengaduh kesakitan.
Biar dia tahu rasa! Dia kira, aku tidak bisa membuatnya menderita, heuh! Aku pun kembali tidur dan menutup telingaku dengan bantal.
“Oke, anggap saja ini kau yang meminta,” ucapnya dan tiba-tiba aku merasakan tubuhku melayang berada di dalam gendongannya.
Aku pun membuka mataku dan merasakan seluruh tubuhku basah. Begitu aku sadar di kamar mandi. Aku pun berteriak keras hingga beberapa pelayan datang melihat aku yang sudah Max permalukan karena ulahnya.
“Tina! Aku tidak mau! Aku tidak mau dia mandikan!” teriakku seraya menyilangkan ke dua tanganku untuk menutupi tubuhku. Sementara Max hanya menahan tawanya dengan wajah tidak bersalah.
“Nona, tenanglah! Baju Anda masih lengkap,” ucap Tina dan Max akhirnya meledakkan tawanya, begitu juga beberapa pelayan yang kini ikut menertawakanku, tapi Tina langsung mengusir mereka untuk kembali bekerja.
Aku pun melihat bajuku yang masih lengkap. Kurang ajar! Aku kira dia membuka bajuku juga! Dia benar-benar membuatku malu!
“Max! Kau kurang ajar! Memang aku ini kucing! Kenapa kau membangunkanku dengan cara seperti itu!”
Aku pun keluar dari bath-up dan mengejar Max yang kini berusaha kabur dariku. Sebelumnya, aku lihat Tina tersenyum dan pergi meninggalkan kami. Dia juga tida lupa menutup kamar, sementara aku tetap mengejar pria brengsek itu! Lihat saja! Setelah aku mendapatkannya, aku akan menjambak rambutnya sampai botak! Dia tidak akan lagi menjadi pria tampan yang semua artis gilai.
Akan tetapi itu hanya khayalanku saja. Karena akhirnya aku malah terpleset di lantai yang licin karena ulahku sendiri dan Max berusaha menangkapku. Kami terjatuh bersama di atas ranjang yang sama. Aku berada di atas Max dan Max…
“S-sugar, k-kau harus bertanggung jawab mengenai ini,” ucapnya terbata-bata membuatku tidak mengerti maksudnya.
“M-maksudmu?” bahkan bodohnya aku juga ikut gugup karena jarak kami sangat dekat.
Mungkin dalam jarak sejengkal saja, bibirnya sudah bisa menyentuh bibirku, tapi aku melihat bekas luka semalam. Aku ingat, aku menggigitnya hingga berdarah.
“Kau harus bertanggung jawab karena dia bangun,” katanya kini mengangkat tubuhku ke punggunggnya seperti mengangkat sebuah karung beras dan aku memberontak sekuat mungkin!
“Apa yang ingin kau lakukan! Lepaskan aku brenggseekk! Aku tidak mau! Aku tidak mau!” teriakku begitu aku sadar dia membawaku kembali ke kamar mandi.
“Tapi kau harus bertanggung jawab!” katanya terus mengulang kata-kata itu yang membuatku tidak mengerti.
Namun pria itu tanpa menjawab lagi sudah membuka piyamanya hingga aku refleks menutup mata. “Max! Kau gila! Apa yang ingin kau lakukan?!”
“Aku ingin mandi!” katanya dengan santai.
Aku mengintip dari jemariku. Nampak Max hanya memakai boxernya dan dia meninggalkanku menuju ranjang baju kotor. Aku pun segera berusaha keluar dari bath-up sebelum dia melakukan hal yang tidak aku inginkan.
“Sugar! Apakah kau sedang melarikan diri?” tanyanya menghalangiku di depan pintu.
“O-oh itu, aku hanya ingin mengambil baju!” kataku entah kenapa malah menimbulkan jawaban-jawaban seolah aku ini memang sedang beralasan ingin menghindar darinya.
Bukankah seharusnya aku memarahinya! Aku belum menikah dengannya! Lalu untuk apa aku bertanggung jawab. Oh sial!
“Baiklah, kali ini aku akan membebaskanmu. Jika kau mengulanginya, aku tidak akan segan-segan menyeretmu untuk bertanggung jawab, mengerti?!”
Aku langsung mengangguk cepat dan meloloskan diri darinya. Sebelum dia menutup pintu kamar mandi, aku lihat dia mengerlingkan matanya kepadaku hingga menimbulkan rasa jijik dan gidikkan dari tubuhku. Apa-apaan kerlingan itu! Eww!
***
Usai makan pagi bersama Max di rumah. Andrew, Max dan aku pun pergi ke salah satu kantor wedding organizer yang tentunya terkenal di kalangan artis. Aku ingat semalam Max mengatakan akan membawaku ke suatu tempat. Ternyata dia memintaku untuk memilih gedung tempat kami nanti menikah. Juga, memilih desain interior tertentu yang nampak cantik sesuai dengan keinginanku. Entah kenapa hari ini aku senang bisa memilih sesuai kemauanku. Meski sebenarnya kemarin juga Max mengabulkan keinginanku mengenai baju pengantin yang aku gunakan, tapi entah kenapa hari ini rasanya senang karena tidak ada drama melihat wanita bergincu merah menyala untuk menggoda Max.
Sial! Apa aku cemburu?! Tidak mungkin! Itu hanya rasa kesalku karena mereka terlihat sangat murahan! Bisa-bisanya menggoda calon suami orang dengan terang-terangan. Ah sudahlah! Aku harus kembali memilih bunga-bunga yang sesuai dengan imageku dan Max. Ini adalah hal yang paling aku sukai! Aku suka bunga! Bunga apapun itu, aku suka!
“Aku kira, kau hanya bercanda, tapi sepertinya kali ini benar-benar berbeda. Dia tidak seperti Natt,” ucap Freda, pemilik wedding organizer ini.
Saat ini aku berada di ruangan yang terpisah. Jaraknya memang tidak begitu jauh hingga aku bisa mendengar sekilas apa yang mereka bicarakan. Freda dan Max sedang berbincang di luar seraya menikmati kopinya. Mereka sama-sama penggila kopi sedangkan aku sibuk dibantu Rain juga karyawan Freda mengurus semua ini.
Wanita itu bilang akan mensponsori pernikahan kami, tapi Max menolaknya mentah-mentah. Dia bilang, dia akan membayarnya sesuai harga yang ada dan tentunya Freda tetap akan memberikan harga teman; itu yang aku dengar.
“Jujur saja aku senang saat melihat wanita yang kau bawa bukanlah Natt. Ini kejutan untuk semua orang karena kau tidak menikahi wanita berambut pirang itu,” ucapnya lagi membuatku ingin tahu, wanita seperti apa Natt itu.
Apakah dia juga artis? Apakah aku tahu? Dan apakah Natt yang mereka bicarakan adalah mantan kekasih Max? Atau mungkin sudah lebih jauh daripada yang aku bayangkan?
“Aku memang beruntung bukan? Dia cantik dan menggemaskan,” ucapnya kali ini membuat wajahku memerah.
Apa-apaan ini! Dia pasti sengaja membuatku melambung mendengarnya. Tapi kenapa aku bisa-bisanya terus mendengarkan pembicaraan mereka?! Aku kan sibuk!
“Bagaimana dengan ini?” tanya Rain dan aku mengangguk setuju. “Itu bagus,” kataku, tapi Rain tiba-tiba tertawa membuatku melirik ke arahnya.
“Ibu Elena, kau sedang tidak fokus! Aku bertanya kau akan memesan jus ini, bagaimana? Tadi kau bilang aku saja yang memilih. Kenapa Ibu bilang bagus?”
Ah bodoh!
“O-oh itu, maksudku, hiasan jus ini bagus. Aku pesan ini saja,” kataku menunjuk jus strawberi yang kini menimbulkan tawa lagi dari Rain.
“Baiklah, satu jus strawberi dan juga kopi dolce,” ucap Rain pada seorang pelayan kafe yang tempatnya menyatu dengan kantor Freda. Freda memiliki dua bisnis. Gedung ini ada tiga tingkat.
Gedung pertama adalah kantor Freda, di atasnya ada kafe tempat nongkrong yang tidak bisa sembarang orang masuk. Di lantai tiga adalah bar sederhana untuk minum-minuman keras yang jelas pembelinya hanya artis dan kalangan pembisnis terkenal. Bar itu dibuka hanya dibuka jam 7 sampai jam 12 malam. Freda memang membuatnya sebagai tempat untuk minum saja, bukan hal-hal aneh seperti ada di club pada umumnya. Rain bilang ini tempat favorit Max ketika sedang ada masalah. Jadi ini bisa menjadi tempat pertama untukku mencari pria itu, jika nantinya Max tidak pulang ke rumah.
Anehnya, aku penasaran. Memang biasanya Max merasa terterkan dengan apa? Bukankah dia punya keluarga yang sempurna? Ayah-Ibu, adik dan juga seorang keponakan. Oh ya, ngomong-ngomong tentang orang tua Max. Max sama sekali tidak menyinggungnya. Bahkan aku belum bertemu dengan mereka. Apakah Max akan membawaku hari ini? Kenapa justru pertama kali dia membawaku ke rumah Sara, adiknya? Ini aneh.