Menceritakan seorang gadis bernama Alisya yang begitu menyukai seorang cowok bernama Adrian secara diam-diam. Adrian sendiri tentu sudah memiliki kekasih bernama Tania.
Hingga Alisya mendapat kabar jika kedua orangtua mereka berdua akan menjodohkan mereka berdua dan menginginkan mereka segera menikah. Namun, dalam pernikahan itu hanya Adrian yang tak bahagia. Dikarenakan Adrian masih mencintai cinta pertamanya yaitu Tania..
Bagaimana dengan biduk rumah tangga yang hanya diisi rasa cinta sepihak dari Alisya? dan Apakah Adrian akan membuka hatinya untuk Alisya?
Bagi yang Penasaran silakan dibaca😁
Karena Saya masih seorang penulis pemula.. maaf jika banyak typo yang bertebaran di karya saya ini. Dan harapan saya sebagai penulis, saya harap kalian para pembaca menyukai karya saya ini. terima kasih😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Saat mereka sedang bercanda, tak sengaja mereka menabrak bahu seseorang yang ternyata itu adala Tania. Alisya dan Bunga kaget. Alisya buru-buru segera meminta maaf ke Tania. Tetapi Adrian yang juga berada disitu bersama Tania tidak terima.
“Kamu kalau jalan hati-hati dong!” Bentak Adrian di depan Alisya.
Alisya dan Bunga yang mendapat bentakan dari Adrian hanya bisa menunduk.
“Maaf Kak, kita gak sengaja kata.” Bunga.
“Iya, gak apa-apa. Mereka gak sengaja Adrian, kamu gak perlu bentak kayak gitu.” Kata Tania menenangkan Adrian.
“Iya. Kita gak sengaja. Toh, Kak Tania juga gak apa-apa. Kenapa kamu harus bentak kami seperti itu?” Teriak Alisya lalu pergi meninggalkan mereka.
“Maafkan teman ku kak.” Kata Bunga menunduk lalu berlari mengejar Alisya.
Adrian menatap tajam kearah dua cewek yang meninggalkan dirinya dengan Tania.
“kamu gak apa-apa?” Tanya Adrian.
“Gak apa-apa. Ayuk kita pulang.” Kata Tania tersenyum.
Alisya berjalan dengan cepat, dia menghiraukan panggilan dari Bunga.
“Alisya, tunggu.” Teriak Bunga.
Alisya berhenti disebuah pohon besar dan menangis. Hatinya benar-benar akan perlakuan Adrian tadi padanya. Adrian malah membela Tania dan membentak dirinya. Alisya terus menangis.
“Al, kamu kok jalan cepat banget si! Capek tauk kejar kamu, belum lagi aku panggil kamu dari tadi. Kamunya malah gak nyahut sama sekali.” Kata Bunga sambil ngos-ngossan karena dirinya harus berlari mengejar Alisya yang meninggalkannya.
Alisya masih menangis. Dirinya tak bisa menutupi air matanya di depan Bunga. Melihat Alisya menangis Bunga merasa khawatir.
“Al, kamu kenapa menangis?” Tanya Bunga yang khawatir melihat Alisya menangis.
Alisya tak menjawab malah justru Alisya memeluk Bunga dan terus menangis. Bunga yang kebingungan membalas pelukan Alisya dan menepuk punggung dengan tangannya agar Alisya bisa tenang.
“Kamu kenapa Al?” tanya Bunga yang khawatir dengan sahaabatnya itu.
Disisi lain, Daffa sedang menunggu Alisya di parkiran. Namun, sedari tadi menunggu Alisya tak kunjung muncul. Merasa khawatir, Dafa pergi mencari Alisya di kelasnya. Saat berjalan menuju kelas dia melihat Adrian bersama dengan Tania. Adrian terlihat merangkul Tania. Dafa tak memperdulikan mereka, dirinya terus berjalan menuju kelas Alisya. Sesampai di kelas Alisya, dirinya tak melihat Alisya. Daffa mencoba bertanya kepada salah satu siswi yang lewat, tetapi siswi itu mengatakan jika dirinya tak melihat Alisya. Dafa merasa bingung, jika Alisya pulang duluan seharusnya dia melewati tempat parkir dan Dafa bisa melihatnya, pikir Dafa. Dafa masih berdiri di depan kelas Alisya.
Alisya melepaskan pelukannya.
“Makasih ya Bunga untuk pelukannya.” Kata Alisya tersenyum dan menghapuskan air matanya yang menetes.
“Kamu gak apa-apa Al?” Tanya Bunga merasa khawatir.
“Gak apa-ap kok. Yuk pulang.” Kata Alisya.
“Tunggu dulu, kamu harus cerita sama aku. Kamu kenapa menangis?” Tanya Bunga yang penasaran dengan keadaan sahabatnya itu.
“Eum.. lah aku baper aja saat Adrian bentak kita. Makanya aku menangis. Aku gak suka dibentak kayak itu. “ Kata Bunga berbohong lagi.
“Ternyata itu masalah. Kamu mah pake baper segala. Lah memang si Adrian bucin tingkat dewa cuman disenggol sedikit aja pacarnya itu, langsung dibentak.” Kata Bunga mempout bibirnya.
“Yuk kita pulang.” kata Alisya menarik tangan Bunga.
Saat mereka berdua berjalan menuju gerbang. Bunga melihat Dafa yang berdiri di kelas mereka.
“Al, bukannya itu kak dafa di depan kelas kita. Jangan-jangan dia nungguin kamu.” Kata Bunga.
Mendengar perkataan Bunga, Alisya lalu melihat kearah kelas mereka. Dan benar apa yang dikatakan Bunga, Daffa berdiri di depan kelas mereka. melihat Dafa dirinya teringat akan janji mau menceritakan berita bahagianya setelah pulang sekolah kepada Dafa. Tapi, apakah dirinya harus menceritakan sedangkan Adrian sudah mengancam untuk tak memberitahu siapapun. Tetapi, Dafa sahabat kecilnya, menurut Alisya tak masalah dirinya menceritakan itu kepada Dafa. Namun, Alisya merubah pikirannya untuk tidak mau menceritakan karena baginya justru menambah luka mengingat kelakuan Adrian kepadanya selama di sekolah.
“Yuk kita hampiri Kak Dafa.” Kata Bunga yang beranjak mau berjalan menghampiri Dafa. Namun ditahan oleh Alisya.
“Gak usah deh. Lebih baik kita pulang saja.” Kata Alisya menarik Bunga.
“Emang kamu lagi berantem ya sama Kak Dafa. tumben kagak mau pulang bareng sama dia.” Kata Bunga.
“Gak. Kita gak berantem kok. Aku hanya ingin pulang bareng kamu aja. Sekaligus menebus kesalahan kemaren.” Kata Alisya.
“Kemaren?” Tanya Bunga bingung.
“Iya. Kemaren lalu kita pernah ke mall ka, Gara-gara aku pengen pulang cepat, kamu malah gak jadi beli barang yang kamu ingin beli. Jadi hari ini kita pulang berdua aja, sekaligus ke mall. Gimana?” Kata Alisya.
“Ah iya. Aku ingat. Tapi kan kalau ngajak Kak Dafa lebih bagus lagi tauk. Supaya bisa makan gratis. Hehehe.” Kata Bunga terkekeh.
“Hmm. Ingat makan gratis mulu kamu yah.” Kata Alisya kesal sambil mendorong kepalanya Bunga.
“Yang namanya gratisan enak kali Al, tak perlu susah payah keluarin uang.” Kata Bunga.
“Terserah kamu dah. Yuk kita jalan sebelum Dafa ngelihat kita disini.” Kata Alisya menarik tangan Bunga untuk segera pergi dari situ.
“Serius gak ajak kak Daffa.” Kata Bunga.
“Kalau kamu mau makan gratis lagi nanti aku traktir deh.” Kata Alisya.
“Senangnya diriku. Tadi di kelas memang sial. Pulang malah dapat traktiran makan enak. Ini baru nama kehidupan yang seimbang. Sial dulu senang dikemudian hari. Hahaha.” Kata Bunga sambil tertawa.
Alisya menatap Bunga dengan ekpresi wajah kesal.
“Jangan keras-keras dong ketawanya. Nanti malah ketahuan.” Kata Alisya.
Mereka berdua berjalan keluar dari gedung sekolah. Mereka kembali berjalan. Kata Alisya lebih baik berjalan sambil menunggu taksi dari pada harus menunggu taksi di depan sekolah. Alisya takut jika mereka masih menunggu taksi tiba-tiba Dafa keluar dari sekolah dengan mobilnya.
“Al, sampe kapan kita berjalan terus. Dari tadi taksi tidak kunjung kelihatan.” Kata Bunga mulai mengeluh.
“Kita jalan saja dulu. Pasti nanti ada taksi kok.” Kata Alisya.
“Kenapa gak nunggu disini saja si. Capek kaki aku Al.” Kata Bunga.
“Kamu ini nanti kita malah ketemu Dafa.” Kata Alisya.
“Ya, bagus dong kita bisa menumpang.” Kata Bunga.
“Bunga! Kamu mah gak pengertian banget sama teman.” Kata Alisya kesal.
“Habisnya aku gak paham permasalahan kalian itu apa?” Tanya Bunga.
“Nanti aku ceritain. Tuh ada taksi.” Kata Alisya.
Mereka berdua menaiki taksi menuju mall.
Dafa masih berdiri di depan kelas Alisya. Sedari dari dirinya melihat disekitar sekolah. Tidak ada siswi yang berkeliaran. Sebenarnya dimana Alisya, apakah Alisya sudah pulang? pikir Dafa.
Karena sudah lama menunggu, Dafa berniat untuk pulang saja. Sebenarnya dirinya ingin menghubungi Alisya terlebih dahulu untuk mengetahui keberadaan Alisya. Namun, Daffa menyadari Alisya tak membawa ponsel ke sekolah.