Sejak berusia sepuluh tahun, Yan Kai hidup sebagai pelayan di Sekte Hutan Bambu setelah kehilangan kedua orang tuanya. Karena memiliki akar spiritual yang sangat lemah, ia tidak pernah diterima sebagai murid dan selama delapan tahun hanya menjadi sasaran penghinaan, perundungan, serta siksaan dari para murid sekte. Hidupnya dipenuhi penderitaan, hingga suatu hari sebuah tugas sederhana membersihkan perpustakaan kuno mengubah takdirnya selamanya.
Sebuah buku misterius membawanya ke Dimensi Tak Berujung, tempat seekor Naga Kegelapan kuno disegel sejak ribuan tahun lalu akibat perang besar antara ras naga dan para dewa. Yan Kai mendapatkan secuil kekuatan naga itu hingga mengubah akar spiritualnya yang sebelumnya cacat menjadi fondasi yang luar biasa. Tanpa mengetahui rahasia besar yang kini tersembunyi dalam dirinya, Yan Kai memulai perjalanan kultivasinya menuju puncak kekuatan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANTE-KUN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Dengan tubuh yang dipenuhi luka, Yan Kai terus melangkah perlahan menembus kabut Hutan Larangan. Setiap langkah terasa semakin berat.
Darah masih menetes dari beberapa luka cakaran di bahu dan punggungnya, sementara napasnya mulai tidak teratur akibat pertarungan sengit melawan Macan Kumbang Tingkat 2.
"Aku harus segera beristirahat... kalau tidak, aku bahkan tidak akan mampu menghadapi Binatang Iblis Tingkat 1."
Ia terus mengamati keadaan sekitar. Beberapa saat kemudian, matanya menangkap sebuah celah sempit di balik semak-semak berduri. Celah itu tertutup oleh tanaman liar sehingga cukup sulit ditemukan bila tidak diperhatikan dengan saksama.
Yan Kai segera menyingkirkan ranting-ranting yang menghalangi. Di baliknya ternyata terdapat sebuah gua kecil, mulut gua itu hanya cukup dilewati satu orang dewasa.
"Semoga tempat ini aman..."
Yan Kai segera masuk ke dalam. Semakin jauh ia melangkah, cahaya dari luar semakin menghilang, suasana di dalam gua menjadi sangat gelap. Ia lalu mengeluarkan batu api yang selalu dibawanya sebagai pelayan sekte.
Ctak... ctak...
Setelah beberapa kali percobaan, sebuah obor kecil akhirnya menyala. Api yang redup perlahan menerangi bagian dalam gua. Dan saat cahaya itu menyebar, Yan Kai langsung menghentikan langkahnya.
"Apa...?"
Beberapa meter di depannya, bersandar pada dinding gua, terdapat sebuah tengkorak manusia. Rangka itu masih utuh, posisinya seperti sedang duduk bersila sebelum akhirnya meninggal dunia. Pakaian yang dahulu dikenakannya telah lapuk dimakan usia, hanya menyisakan serpihan kain yang hampir hancur.
Yan Kai menatapnya beberapa saat. Dilihat dari keadaan tulangnya yang masih utuh tanpa bekas benturan ataupun tebasan, ia memperkirakan orang ini tidak mati karena pertarungan. "Mungkin ia meninggal karena racun."
Hutan Larangan memang dipenuhi berbagai racun mematikan. Kemungkinan besar kultivator ini terluka, kemudian racun menyebar ke seluruh tubuhnya hingga akhirnya meninggal di tempat ini.
Yan Kai menghela napas pelan, lalu membungkukkan badan dengan hormat. "Senior. Maafkan saya karena mengganggu tempat peristirahatan Anda. Semoga arwah Anda dapat beristirahat dengan tenang."
Saat itulah tatapannya tertuju pada tangan kanan tengkorak tersebut. Di jari manisnya masih melingkar sebuah cincin berwarna biru gelap. Cincin itu tampak sangat sederhana, namun tidak sedikit pun terlihat berkarat.
Yan Kai perlahan mengambilnya. "Maafkan saya, Senior. Saya benar-benar membutuhkan benda ini." Ia kembali memberi hormat sebelum memperhatikan cincin tersebut. Semakin lama ia melihatnya, semakin muncul dugaan di benaknya.
"Cincin Ruang..."
Ia pernah mendengar para murid sekte membicarakan benda seperti ini. Konon, para kultivator yang memiliki kedudukan tinggi sering menggunakan cincin yang telah diberi mantra ruang, sehingga bagian dalamnya memiliki ruang penyimpanan yang jauh lebih besar daripada ukuran cincin itu sendiri.
Namun Yan Kai sama sekali tidak tahu cara menggunakannya. Ia membolak-balik cincin itu beberapa kali, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. "Mungkin aku bisa mencoba menggunakan Qi." Ia perlahan mengalirkan sedikit energi spiritual dari dantiannya menuju cincin tersebut.
Wuuung...
Sesaat kemudian, kesadarannya langsung masuk ke dalam sebuah ruang yang cukup luas. Yan Kai membelalakkan mata. "Benar-benar berhasil!"
Ruang di dalam cincin itu tidak terlalu besar, namun cukup untuk menyimpan banyak barang. Di salah satu sudut terlihat sebuah pedang bersarung hitam yang masih tampak sangat terawat.
Di sampingnya terdapat sebuah kitab tua. Selain itu, tersusun rapi beberapa jubah sutra dengan kualitas yang jelas jauh lebih baik daripada pakaian biasa. Masih ada pula beberapa barang kecil lainnya, tetapi Yan Kai tidak sempat memperhatikannya lebih jauh.
Yang paling menarik perhatiannya justru jubah tersebut. Pakaian pelayannya kini telah robek di banyak bagian akibat pertarungan sebelumnya.
Dengan pikiran, ia mencoba mengeluarkan salah satu jubah itu. Kilatan cahaya muncul, sebuah jubah sutra berwarna hitam polos langsung muncul di hadapannya.
Yan Kai tersenyum kecil. "Hebat..." Ia segera mengganti pakaian lamanya. Jubah sutra itu terasa sangat nyaman saat dikenakan—bahannya lembut, tetapi ketika disentuh, Yan Kai dapat merasakan bahwa kain tersebut jauh lebih kokoh daripada pakaian biasa, seolah memiliki perlindungan alami.
Kini penampilannya benar-benar berubah. Dengan jubah hitam sederhana itu, sulit membayangkan bahwa dirinya adalah seorang pelayan sekte.
Setelah itu, Yan Kai kembali mengeluarkan kitab yang tersimpan di dalam cincin. Ia meniup debu tipis yang menempel di sampulnya. Di sana tertulis empat huruf yang tegas.
Teknik Pedang Bayangan.
Yan Kai membaca judul itu berulang kali. Matanya perlahan berbinar. "Sebuah teknik pedang..." Selama ini ia sama sekali tidak memiliki teknik bertarung, hanya mengandalkan naluri dan kekuatan tubuhnya. Kalau ia benar-benar mempelajari teknik pedang ini, kekuatannya pasti akan meningkat jauh lebih besar.
Yan Kai tersenyum tipis. "Sepertinya aku benar-benar sedang dinaungi keberuntungan."
Namun ia segera menggelengkan kepala. Bukan saatnya mempelajari teknik baru. Tubuhnya masih dipenuhi luka, Qi di dalam dantiannya juga hampir habis akibat pertarungan melawan Macan Kumbang. Kalau memaksakan diri sekarang, itu justru akan membahayakan nyawanya.
Yan Kai menyimpan kembali kitab dan pedang ke dalam Cincin Ruang, lalu memadamkan sebagian obor agar tidak terlalu menarik perhatian Binatang Iblis dari luar. Ia duduk bersila di sudut gua, perlahan memejamkan mata.
Malam itu, ia memusatkan seluruh perhatiannya untuk memulihkan luka-luka dan memulihkan Qi yang telah banyak terkuras, sementara di luar gua, Hutan Larangan tetap diselimuti kabut pekat dan suara-suara misterius yang sesekali terdengar dari kejauhan.
...
Malam pertama Yan Kai di Hutan Larangan berlalu dalam kesunyian. Di dalam gua kecil itu, ia duduk bersila dengan kedua mata terpejam. Luka-luka di tubuhnya masih terasa nyeri, tetapi napasnya sudah jauh lebih stabil dibanding sebelumnya.
Perlahan, ia mulai menjalankan Teknik Kultivasi Bulan Purnama. Meski bulan telah bergeser menuju ufuk barat, sisa energi yin yang memenuhi malam masih dapat diserap oleh teknik tersebut.
Benang-benang energi spiritual perlahan berkumpul dari segala arah, memasuki tubuh Yan Kai melalui pori-pori dan meridian yang telah terbuka.
Di saat yang sama, secuil energi kegelapan di dalam dantiannya juga ikut berputar mengikuti aliran Qi. Kedua energi itu tidak saling bertabrakan, sebaliknya mereka justru berpadu dengan sangat harmonis.
Luka-luka di bahu dan punggung Yan Kai mulai menutup sedikit demi sedikit. Qi yang sebelumnya hampir habis akibat pertarungan melawan Macan Kumbang perlahan kembali memenuhi dantiannya. Waktu terus berlalu. Yan Kai sama sekali tidak membuka matanya. Ia terus berkultivasi hingga fajar menyingsing.
Ketika sinar matahari pertama memasuki celah gua, Yan Kai perlahan membuka matanya. Hembusan napas panjang keluar dari mulutnya.
"Huff..."
Ia mengepalkan kedua tangannya perlahan. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan. Luka-luka akibat pertarungan semalam telah pulih hampir seluruhnya, bekas cakaran yang dalam kini hanya menyisakan garis-garis tipis di kulitnya. Qi di dalam dantiannya juga kembali penuh.
Yan Kai tersenyum tipis. "Teknik Kultivasi Bulan Purnama benar-benar luar biasa. Aku hanya berkultivasi semalaman, tetapi pemulihannya jauh lebih cepat daripada yang kubayangkan."
Namun, tak lama kemudian terdengar suara pelan dari perutnya.
Grrkk...
Yan Kai tersenyum kecut. "Aku hampir lupa, aku belum makan."
Ia pun berdiri, lalu meninggalkan gua dengan tetap berhati-hati. Kabut pagi masih menyelimuti Hutan Larangan, meski tidak sepekat malam sebelumnya. Yan Kai mulai berkeliling mencari sesuatu yang bisa dimakan.
Tak lama kemudian, telinganya menangkap suara langkah ringan dari balik semak. Ia segera merunduk. Di balik rerumputan tinggi tampak seekor rusa liar sedang memakan dedaunan dengan tenang.
Yan Kai menahan napas. Perlahan ia mengambil sebuah batu yang cukup besar. Lalu—whusss!—batu itu melesat lurus.
Buk!
Rusa itu terkejut dan langsung berlari. Namun lemparan Yan Kai berhasil mengenai salah satu kaki belakangnya. Kesempatan itu tidak disia-siakan.
Ia langsung mengejar dengan kecepatan penuh. Beberapa saat kemudian, setelah pengejaran singkat, Yan Kai akhirnya berhasil menangkap rusa tersebut.
Tak lama kemudian, api unggun kembali menyala di depan gua. Daging rusa yang telah dibersihkan dipanggang perlahan di atas bara api, aroma daging yang harum mulai memenuhi udara.
Yan Kai tersenyum puas. Sudah sangat lama ia tidak menikmati makanan sebanyak ini. Selama menjadi pelayan sekte, ia hanya memakan sisa-sisa makanan para murid. Kini ia bisa menikmati daging panggang hangat hasil buruannya sendiri.
Setelah makan hingga kenyang, tenaga Yan Kai benar-benar pulih. Ia menatap kantong kecil di pinggangnya. Di dalamnya masih tersimpan Inti Jiwa Macan Kumbang Tingkat 2.
Yan Kai mengeluarkannya perlahan. Bola kristal kekuningan itu memancarkan energi spiritual yang cukup kuat. Ia pernah mendengar para murid sekte mengatakan bahwa inti jiwa Binatang Iblis mengandung energi yang sangat murni dan sering digunakan para kultivator untuk mempercepat proses kultivasi.
Yan Kai menarik napas panjang. "Mari kita coba."
Ia kembali duduk bersila. Inti jiwa itu digenggam erat di kedua telapak tangannya. Perlahan ia menjalankan Teknik Kultivasi Bulan Purnama.
Wuuung...
Begitu teknik itu aktif, energi spiritual yang berada di dalam inti jiwa langsung mengalir deras menuju tubuh Yan Kai. Matanya langsung membelalak. "Cepat sekali!" Energi itu jauh lebih murni dibanding energi spiritual alam.
Meridian-meridian Yan Kai langsung dipenuhi aliran Qi yang deras, dantiannya berputar semakin cepat. Energi kegelapan di dalam tubuhnya juga ikut membantu menyempurnakan energi yang masuk, membuat hampir tidak ada sedikit pun energi yang terbuang.
Waktu berlalu. Satu jam, dua jam. Retakan kecil mulai terdengar dari dalam dantiannya.
Krak...
Qi di dalam tubuh Yan Kai terus meningkat, aura yang dipancarkannya menjadi semakin kuat. Tak lama kemudian...
Boom!
Gelombang energi spiritual meledak dari tubuhnya. Daun-daun di sekitar gua beterbangan akibat hembusan angin yang tercipta.
Yan Kai membuka matanya perlahan. Kilatan cahaya melintas di kedua pupilnya. Napasnya terasa jauh lebih panjang, aliran Qi di dalam tubuhnya juga menjadi jauh lebih padat dibanding sebelumnya. Ia berhasil menerobos hambatan terakhir.
Kini, Yan Kai resmi mencapai Ranah Pengumpulan Qi Tahap Puncak.
Ia mengepalkan tangannya perlahan. Kekuatan yang mengalir di dalam tubuhnya kini berkali-kali lipat lebih besar dibanding saat pertama memasuki Hutan Larangan.
Namun, Yan Kai tidak menunjukkan rasa puas yang berlebihan. Ia justru menatap ke arah hutan lebat di hadapannya. Ia tahu, di Hutan Larangan ini, Ranah Pengumpulan Qi Tahap Puncak masih belum cukup untuk menjamin keselamatan dirinya. Masih ada Binatang Iblis yang lebih kuat. Dan mungkin, rahasia-rahasia lain yang sedang menunggunya di kedalaman hutan.