NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35: Janji Perlindungan Seorang Suami Kontrak

di lantai teratas gedung pencakar langit Oliver Group perlahan-lahan kembali sunyi setelah kepergian Adrian Lin dan Widya Lin yang diseret oleh pihak kepolisian.

Sisa-sisa histeria, tangisan keputusasaan, dan aroma kepicikan yang sempat memenuhi ruangan itu kini menguap, digantikan oleh keheningan yang damai.

Udara siang yang bersih berembus dari sistem ventilasi, membawa ketenangan baru ke dalam ruangan berdinding kaca besar tersebut.

Viona masih terduduk di kursi kebesaran berlapis kulit hitam.

Kepalanya bersandar di dada bidang Oliver, sementara lengannya melingkar erat di pinggang kokoh suaminya.

Tubuhnya yang tadi sempat tegang saat menghadapi Adrian kini telah sepenuhnya rileks.

Detak jantung Oliver yang konstan dan kuat di bawah kemeja putihnya bertindak sebagai melodi penenang paling mujarab bagi jiwa Viona yang baru saja melewati gerbang pembebasan.

Oliver terus mengusap punggung ramping Viona dengan gerakan perlahan dan protektif.

Mata elangnya menatap ke arah luar jendela kaca besar, memandangi hamparan gedung-gedung pencakar langit kota yang membentang luas di bawah mereka.

Di matanya, tidak ada lagi kilat kemarahan yang membara.

Yang tersisa hanyalah tekad yang teramat dalam untuk menjaga kebahagiaan wanita di dalam dekapannya ini.

"Apakah kau baik-baik saja, Sayang?"

tanya Oliver, suaranya terdengar sangat rendah dan lembut, kontras dengan nada dingin mematikan yang ia gunakan pada keluarga Lin beberapa menit lalu.

Viona mengangguk perlahan di dalam dekapan Oliver.

 Ia mendongak, menatap wajah tegap suaminya dengan sepasang mata jernih yang kini tidak lagi menyimpan beban masa lalu.

"Aku baik-baik saja, Oliver. Bahkan, aku merasa sangat... ringan,"

 bisik Viona dengan senyuman manis yang tulus.

"Melihat mereka menghadapi konsekuensi dari perbuatan mereka sendiri membuatku sadar bahwa keadilan itu benar-benar ada. Selama ini, aku selalu merasa bahwa aku adalah pihak yang salah, pihak yang membawa kesialan. Tapi sekarang, semua beban itu telah diangkat dari pundakku."

Oliver menangkup wajah cantik Viona dengan kedua tangannya yang besar dan hangat.

Ia menatap lurus ke dalam manik mata jernih istrinya dengan intensitas yang begitu kuat.

"Kau tidak pernah bersalah, Viona. Kau adalah korban dari ketamakan dan kepicikan mereka," ucap Oliver dengan nada tegas yang tidak menerima bantahan.

"Dan tugasku adalah memastikan tidak akan ada satu pun orang di dunia ini yang bisa membuatmu merasa seperti itu lagi."

Oliver menuntun Viona untuk bangkit dari kursi.

Dengan gerakan yang sangat kasual namun penuh wibawa, ia merangkul pundak Viona, membawa istrinya keluar dari ruang rapat menuju ruang kerja pribadinya yang terletak di ujung koridor lantai teratas tersebut.

Ruang kerja pribadi Oliver adalah sebuah representasi dari kekuasaan mutlak.

Ruangan itu sangat luas, didominasi oleh furnitur kayu mahoni gelap, sofa kulit premium berwarna hitam, dan dinding kaca patri yang menampilkan sudut pandang terbaik dari seluruh distrik bisnis.

Namun, di salah satu sudut ruangan yang biasanya dingin dan formal itu, kini terdapat sebuah sentuhan yang sangat hangat:

sebuah meja kecil dengan beberapa mainan lego milik Yoyo dan sebuah bingkai foto digital yang menampilkan senyum riang Yoyo bersama Viona saat mereka bermain di taman mansion beberapa waktu lalu.

Begitu pintu ruang kerja tertutup rapat dan menyisakan privasi mutlak bagi mereka berdua, Oliver menuntun Viona untuk duduk di sofa kulit yang empuk.

 Ia sendiri tidak duduk di kursi kebesarannya, melainkan ikut duduk di samping Viona, memotong jarak di antara mereka hingga tak ada celah yang tersisa.

Oliver mengambil sebuah dokumen kecil dari dalam laci meja kopi di depan mereka.

Dokumen itu adalah lembaran kertas perjanjian yang telah agak menguning di bagian sudutnya—dokumen asli kontrak pernikahan satu tahun yang mereka tanda tangani beberapa bulan lalu di kantor pengacara privat.

Viona menatap dokumen kontrak itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

Di satu sisi, dokumen itulah yang membawanya masuk ke dalam kehidupan Oliver dan mempertemukannya dengan Yoyo yang teramat ia sayangi.

Di sisi lain, dokumen itu adalah pengingat bahwa hubungan mereka awalnya hanyalah sebuah transaksi bisnis formal untuk menyelesaikan masalah masing-masing.

"Oliver... mengapa kau mengeluarkan dokumen ini?"

tanya Viona lembut, jarinya menyentuh permukaan kertas itu dengan ragu.

Oliver tidak langsung menjawab.

Ia mengambil pena hitam berlogo emas milik Oliver Group, lalu dengan gerakan yang sangat tenang namun tegas, ia menarik garis menyilang yang besar di atas lembaran kontrak tersebut, sebelum merobeknya menjadi dua bagian di depan mata Viona.

"Srek."

Suara robekan kertas itu terdengar begitu nyaring di dalam ruangan yang sunyi.

Viona tersentak, menatap potongan-potongan kertas kontrak yang kini tergeletak tak berdaya di atas meja kopi.

"Kontrak itu telah resmi berakhir hari ini, Viona,"

ucap Oliver, suaranya bergetar oleh ketulusan maskulin yang teramat dalam.

"Ketika aku memintamu menandatangani kertas ini beberapa bulan lalu, aku melakukannya sebagai seorang pria yang egois. Aku membutuhkan seorang ibu yang tulus untuk putriku, dan aku melihatmu sebagai sosok yang sempurna untuk peran itu. Aku menawarkan perlindungan hukum dan finansial kepadamu sebagai imbalan dari transaksi ini."

Oliver menggenggam erat kedua tangan Viona, membawa jemari manis istrinya yang kini dihiasi cincin berlian sejati ke bibirnya, mengecupnya dengan penuh rasa hormat dan pengabdian.

"Tetapi hari ini, di hadapan hukum negara dan di hadapan hatiku sendiri, aku berdiri di sini bukan lagi sebagai suami kontrakmu yang dingin. Aku adalah suamimu yang sah, pria yang telah jatuh cinta seutuhnya pada kesucian jiwamu."

Oliver menatap dalam-dalam ke dalam mata jernih Viona, membiarkan wanita itu melihat seluruh kerentanan dan kesetiaan yang ia miliki.

"Dulu, janji perlindunganku kepadamu ditulis di atas kertas kontrak yang memiliki masa berlaku satu tahun. Tetapi mulai detik ini, janji perlindunganku ditulis di dalam darah dan helaan napasku. Aku berjanji, demi nama Alexander yang kusandang, aku akan melindungimu dari setiap duri di dunia ini. Aku akan menjadi dinding kokoh yang menghalangi setiap badai yang mencoba mengusik kedamaianmu. Dan aku akan memastikan bahwa setiap air mata yang keluar dari matamu di masa depan hanya akan berupa air mata kebahagiaan."

Air mata haru kembali merebak di pelupuk mata jernih Viona, berkilau indah di bawah siraman cahaya siang yang menerobos dinding kaca.

Kata-kata Oliver bukan sekadar janji manis seorang pria yang sedang jatuh cinta;

itu adalah sumpah suci dari seorang tirani dingin yang terkenal tidak pernah menarik kembali kata-katanya sekali pun di dunia bisnis luar sana.

Bagi Viona, robekan kertas kontrak itu adalah simbol kemerdekaan mutlaknya.

Ia bukan lagi seorang "pekerja" yang bertugas merawat Yoyo demi mempertahankan perlindungan Oliver. Ia adalah istri sah, belahan jiwa, dan ratu dari pria paling berpengaruh di kota ini.

"Oliver..."

bisik Viona, suaranya serak karena rasa syukur yang teramat besar.

Ia memajukan tubuhnya, menangkup wajah tegap Oliver, dan untuk pertama kalinya, ia memulai kecupan itu terlebih dahulu.

Viona mengecup bibir tegas Oliver dengan kelembutan yang sarat akan cinta yang murni dan penyerahan diri yang utuh.

Oliver sedikit terkejut dengan inisiatif Viona, namun detik berikutnya, ia membalas kecupan itu dengan gelora protektif yang teramat dalam.

Ia merangkul pinggang ramping Viona, menarik tubuh wanita itu ke dalam pangkuannya, memperdalam ciuman mereka di bawah saksi bisu langit siang yang cerah di luar jendela.

Ciuman itu terasa sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya.

Tidak ada lagi rasa bersalah karena status kontrak, tidak ada lagi ketakutan akan masa lalu.

Yang tersisa hanyalah penyatuan dua jiwa yang telah berhasil melewati badai tergelap dan kini siap menyambut fajar baru yang teramat indah.

Setelah beberapa menit yang penuh kehangatan, Oliver melepaskan ciumannya dengan perlahan, meskipun ibu jarinya tetap mengusap bibir merah muda Viona yang kini tampak sedikit basah dan merona segar.

"Kita harus kembali ke mansion,"

ucap Oliver lembut, senyuman hangat menghiasi wajah tegapnya.

"Yoyo pasti sedang menunggu kita untuk menyelesaikan istana legonya. Dan... dr. Elena berjanji akan mengirimkan hasil tes darah lengkapmu sore ini ke rumah."

Mendengar kata "hasil tes darah", jantung Viona kembali berdebar halus, namun kali ini rasa gugupnya telah sepenuhnya digantikan oleh harapan yang indah.

"Ya, mari kita pulang, Oliver,"

jawab Viona dengan senyuman tercantik yang pernah ia miliki.

"Ayo kita temui putri kita."

Oliver bangkit berdiri, merapikan jas hitamnya sejenak, lalu menggandeng erat tangan Viona.

Saat mereka melangkah keluar dari ruang kerja pribadi menuju lift, seluruh staf Oliver Group yang berpapasan dengan mereka memberikan bungkukan hormat yang paling dalam.

Mereka semua tahu, wanita yang berjalan di samping Tuan Besar mereka dengan anggun bukan lagi sosok misterius yang terikat kontrak tersembunyi—ia adalah Nyonya Oliver Alexander yang sesungguhnya, pemilik sah dari hati sang penguasa dingin.

Masa lalu telah resmi runtuh bersama hancurnya keluarga Lin dan robeknya kertas kontrak di atas meja kerja.

Di atas fondasi janji perlindungan sejati seorang suami, Viona melangkah mantap menuju babak baru kehidupannya yang dipenuhi oleh keajaiban, cinta yang tak bersyarat, dan kebahagiaan utuh yang akan ia jaga bersama keluarga kecilnya untuk selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!