Cerita ini berkisah tentang petualangan seorang pemuda bernama Aryasetya yang bertransmigrasi ke tubuh seorang pangeran bernama Agha Agana.Pangeran itu menerima racun sebelum dinobatkan sebagai Raja, setelah dia memasuki tubuh Agha Agana, dia dinobatkan sebagai seorang Raja di Kerajaan Agrapana.
Dengan berbagai bantuan dari para bawahannya yang terampil, Agha Agana memulai petualangannya. Menemukan berbagai hal baru di dunia yang ia tinggali dan perlahan dia mengerti seberapa luas dunia yang ia tinggali.
Dengan bantuan sistem, Agha Agana
mulai memperkuat kerajaannya dan perlahan dia mulai menapaki jalan penaklukkan. Dimulai dari dunia yang ia tempati kemudian dia menaklukkan berbagai dunia yang memiliki keunikannya masing-masing.
Dan nantinya kerajaan yang ia bangun akan terus ada dan berakhir menjadi Dinasti tanpa akhir.
Ikuti perjalanan Agha yang menapaki langkahnya menjadi seorang penguasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OmuraRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8. “Tri Dharma” Tiga Menteri Utama Kerajaan
Pada saat mereka tiba di ruang pribadi Raja. Agha segera membuka gulungan yang sedari tadi berada di tangannya dan menunjukkannya kepada mereka.
Danadyaksa dan yang lainnya melihat tulisan struktur Kerajaan pada gulungan kertas yang dibuka Agha.
Agha memberitahu mereka bahwa dia mengumpulkan mereka hari ini untuk mendiskusikan pembentukan departemen yang akan menggantikan sistem menteri saat ini agar menjadi lebih baik dan membentuk struktur yang baru untuk kerajaan Agrapana.
"Menteri Kavi, kamu selalu berkutat dengan masalah yang ada di dalam kerajaan ?" tanya Agha, nada yang begitu ambigu membuat mereka yang menangkapnya memiliki asumsi berbeda.
"Ya, saya juga dibantu oleh kepala Chen, Yang Mulia."
"Kau pasti lelah mengurus itu semua, hanya dengan bantuan kepala Chen saja."
"Tidak, Yang Mulia. Saya masih kuat dan mampu untuk memegang tugas-tugas itu,Yang Mulia."
Kavi berpikir bahwa Agha ingin menyingkirkannya dari posisi yang kini dia pegang. Danadyaksa menatap Agha dengan heran setelah mendengar Agha menanyakan hal itu kepada Kavi. Danadyaksa juga memiliki pemikiran bahwa Kavi akan diganti apalagi setelah melihat Jovic diganti jabatannya, meskipun Jovic memiliki masalah tersendiri.
"Yang Mulia, saya mohon agar menteri Kavi tidak diturunkan dan dilepaskan dari jabatan yang dia pegang saat ini, dia setia kepada kerajaan dan memiliki kemampuan untuk memegang posisi yang dia pegang. Yang Mulia, saya mohon pertimbangkan kembali,"
ucap Danadyaksa setelah memikirkan Kavi yang akan dilepas dari jabatannya.
"Hahahaha... Paman... Paman. Aku tidak ingin melepas posisi yang kini dipegang paman Kavi, aku hanya menanyakan keadaanmu saja, karena hal yang ingin aku bicarakan saat ini berkaitan dengan pekerjaan yang paman Kavi pegang."
Agha menatap mereka yang ada di ruangnya dan menjelaskan bahwa dia tidak melepas jabatan yang dipegang kavi sambil tertawa.
Setelah beberapa saat mendiskusikan hal-hal kecil yang tidak berkaitan dengan pemerintahan, tiba-tiba Agha menjatuhkan pernyataan yang terdengar seperti bom untuk Danadyaksa dan Kavi. Penyataan yang dinyatakan Agha benar-benar akan mengubah seluruh struktur pejabat di kerajaan Agrapana bahkan mempengaruhi jabatan yang mereka pegang, sehingga Kavi dan Danadyaksa terkejut dengan pernyataan Agha.
Gajah Mada memiliki senyuman yang cemerlang dan lebar dari telinga ke telinga, setelah dia mendengar pernyataan Agha. Sistem dan struktur yang dinyatakan Agha hampir mirip dengan sistem kerajaan yang dia layani dulu, namun ada perbedaan dan sedikit lebih baik.
Agha menyatakan bahwa seluruh jabatan yang saat ini ada akan dihapus dan digantikan dengan jabatan baru yang lebih terstruktur dan lebih baik. Posisi yang memiliki pengaruh tinggi tidak luput dari penghapusan dan akan diganti dengan yang baru.
Posisi para Menteri yang ada pada saat ini akan ditiadakan dan diganti menjadi tiga Menteri yang akan dinamakan dan dikenal sebagai "Tri Dharma". Tiga Menteri utama terdiri dari:
Penasehat Kerajaan untuk sementara posisi ini akan dikosongkan terlebih dahulu hingga Agha menemukan orang yang tepat untuk mengisi posisi ini.
Kanselir kerajaan posisi ini akan diberikan kepada Kavi Akhilendra sebagai bentuk apresiasi terhadap kesetiaan yang dia miliki kepada kerajaan, dan dengan kemampuan yang dimiliki Kavi Akhilendra dia adalah orang yang tepat untuk mengisi dan menjabat posisi ini.
Marsekal Agung atau Panglima Kerajaan yang diberikan kepada Danadyaksa Gautama atas pengabdian yang selama ini ia tunjukkan dan berikan kepada kerajaan. tidak hanya pengabdian yang dia tunjukkan Danadyaksa juga menunjukkan keberanian di medan perang atau diluar medan perang, sehingga dia cocok untuk kandidat ini.
Ketika Agha memikirkan pembentukan "Tri Dharma" dia cukup sulit untuk memutuskan siapa yang akan memegang jabatan Marsekal Agung. Dia memiliki dua kandidat yang akan dia angkat menjadi Marsekal Agung, mereka adalah Gajah Mada dan Danadyaksa Gautama.
Setelah Agha memikirkannya dalam waktu yang cukup lama dia akhirnya memutuskan untuk memberi posisi Marsekal Agung Kepada Danadyaksa Gautama karena dia telah mengabdi lama di kerajaan dan Gajah Mada belum memiliki prestasi nyata ke kerajaan walaupun dia memiliki kemampuan yang lebih baik dan pengalaman di posisi ini.
Untuk kekuatan militer dan keputusan penting terkait masalah sipil akan berada di tangan raja, dan "Tri Dharma" akan membantu raja ketika mengambil keputusan.
Gajah Mada memiliki ekspresi masam ketika mendengar dia tidak masuk ke dalam salah satu jabatan itu dan dia mengutarakan keluhannya kepada raja.
Agha mengatakan kepada Gajah Mada bahwa dalam hal kemampuan dia lebih baik dari Danadyaksa Gautama namun dalam pengabdian dia kurang dan juga dia belum mengetahui sepenuhnya tentang kerajaan ini sehingga Agha memberikan posisi Marsekal Agung kepada Danadyaksa.
Ketika Danadyaksa mendengar keluhan Gajah Mada dia menatap Gajah Mada dan mendekatinya kemudian dia membisikkan kalimat yang membuat Gajah Mada kembali tersenyum.
Menteri Kavi yang sebelumnya khawatir kini tersenyum lebar setelah mengetahui bahwa dia tidak dilepas dari posisi menteri melainkan diubah menjadi salah satu pejabat utama kerajaan. Dia sangat bahagia karena dia berpikir bahwa dia masih dapa melayani kerajaan Agrapana hingga akhir hayatnya.
"Bagaimana Paman, ini adalah salah satu sistem yang aku bentuk dan masih ada yang lainnya lagi. Aku ingin menghapus sistem menteri yang saat ini kacau balau, setelah aku membunuh menteri-menteri sebelumnya."
"Ini terlihat lebih baik Yang Mulia, namun apa tugas dari Penasehat kerajaan bukankah kita tidak memerlukannya," ujar Kavi mendengar pertanyaan yang diajukan Agha
"Mungkin saat ini belum diperlukan Paman kavi, namun disaat Kerajaan kita akan diperluas dan menyerang tempat lain kita memerlukan seseorang yang dapat memberikan pendapat selain Paman Kavi dan Paman Danadyaksa."
Agha juga memberi pengertian tugas-tugas yang akan dimiliki "Tri Dharma" kepada mereka. Terutama departemen yang akan berada di bawah naungan mereka.
Jovic dan Gajah Mada yang sedari tadi mendengarkan penjelasan dari Agha memahami apa yang ingin Agha lakukan dengan pembentukan "Tri Dharma". Mereka merasa bahwa Agha ingin memusatkan pemerintahan ditangan "Tri Dharma" namun dia tetap memegang kendali keseluruhan kerajaan.
Agha menyuruh kavi untuk membaca tulisan yang ada pada gulungan kertas yang dibawa Agha. Kavi menatap tulisan itu cukup lama sehingga membuat yang lainnya penasaran. Danadyaksa yang tidak sabar akhirnya menanyakan apa tulisan yang ada di dalam kertas itu.
"Kavi Tua, cepat bacakan atau berikan gulungan itu padaku. Aku ingin tahu tentang isi gulungan itu."
Danadyaksa meminta gulungan yang sedang dibaca kavi, dia penasaran dengan isi gulungan. Tidak hanya Danadyaksa yang penasaran Gajah Mada dan Jovic juga penasaran dengan isi yang ada pada tulisan.
"Sabarlah...... aku sedang membacanya."
Setelah kavi memastikan isi dari tulisan itu dengan baik dia memberikan gulungan kertas ke Danadyaksa dan kini dia memikirkan apa yang harus dia sarankan kepada Raja setelah membaca tulisan di kertas itu.
Danadyaksa yang membaca kertas itu cukup terkejut karena tulisan yang ada di kertas itu mengisyaratkan pembentukan berbagai departemen yang akan membantu "Tri Dharma" dalam mengatur dan menjalankan roda pemerintahan di kerajaan Agrapana. Gajah Mada dan Jovic akhirnya diberitahu oleh Danadyaksa tentang isi dari tulisan di kertas.
"Langsung saja Paman. Setelah kalian membaca tulisan itu adakah saran yang ingin kalian berikan atau tetap pada rencana yang ada dikertas itu."
"Ya, Yang Mulia. Aku ingin menanyakan mengapa Yang Mulia membentuk Divisi-divisi dibawah departemen yang ada dikertas." ujar Kavi yang cukup penasaran dengan pembentukan divisi dibawah departemen.
"Begini Paman, tugas dari departemen yang akan aku bentuk untuk mengawasi dan mengelola pekerjaan yang telah ditetapkan secara garis besar sedangkan divisi-divisi aku bentuk untuk membantu dan meringankan tugas dari departemen. Disamping itu dengan adanya divisi-divisi itu tugas dari departemen akan lebih efisien."
Setelah Agha menjelaskan tentang tugas-tugas tersebut, dia meminta saran kepada mereka semua dan Agha mendapatkan cukup banyak saran dari mereka sehingga dapat membentuk system yang lebih baik dari yang dia pikirkan.
Sebelum mendapat saran dari Kavi dan yang lainnya, Agha ingin membentuk 4 departemen yang berisi berbagai divisi namun setelah berdiskusi dan mendapatkan berbagai saran dari mereka Agha dapat membentuk sistem yang lebih rinci.
Divisi-divisi yang sebelumnya dipikirkan Agha hanya akan membantu tugas dari departemen saja namun setelah melalui pertimbangan dan pembicaraan dengan mereka berempat Agha memutuskan untuk member tanggung jawab lebih kepada divisi dan tugas dari departemen tidak berubah banyak.
Dengan sistem pemerintahan yang baru Agha berharap kerajaan Agrapana dapat berkembang lebih baik dan lebih cepat sehingga dia dapat membalas kekalahan yang diderita Raja Asoka.
kurang piknik nehhh authornya..