Sebelumnya ia berpamitan untuk pergi ke toko membeli keperluan kedua putra kembar kami. Tetapi ia tidak kunjung kembali dan aku sangat khawatir.
Berbagai cara aku lakukan untuk mencarinya baik lewat jalur udara maupun laut. Hingga bertahun tahun lamanya.
Aku berpikir sesuatu yang buruk terjadi padanya. Sampai aku melihatnya dengan pria lain di Instagram. Seketika hatiku hancur, kaki ku terasa lumpuh. Istriku tega mengkhianatiku dan meninggalkan kedua putra kembar kami.
Aku menyimpan rahasia ini sendirian tanpa memberitahu kedua putra kembar ku, dan memutuskan untuk merawat dan membesarkannya.
Sampai suatu hari, aku terpaksa menikahi seorang gadis salah satu pasien rumah sakit jiwa.
Hay kakak semua, ada novel baru nih yuk kepoin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beri aku waktu
Bagaskoro dan Aldara terus menekan Ken untuk menjelaskan siapa sebenarnya Tianyfa. Sejak kedatangannya ke rumah itu, sikap Tianyfa sangat aneh dan terkadang tatapan matanya menakutkan.
"Katakan siapa wanita itu!" tunjuk Bagaskoro menatap wajah Tianyfa yang ketakutan mendengar suara Bagaskoro yang berteriak.
"Pa, bisa aku jelaskan. Tapi tolong, pelankan suara papa." Pinta Ken. Memohon karena ia tahu, Tianyfa akan sangat ketakutan apabila di bentak apalagi di sakiti.
"Cepat katakan!" pinta Bagaskoro mengulang.
Ken menarik napas panjang, lalu menceritakan asak usul Tianifa. Namun, Ken tidak mengatakan alasan dia menikahi Tianyfa kepada Bagaskoro sehingga membuat pria paruh baya itu marah dan merasa di permalukan.
Raut wajah Bagaskoro berubah merah padam. Menarik paksa tangan Tianyfa supaya berdiri.
"Kau tidak pantas berada di sini, sekarang juga antarkan wanita ini ke tempat asalnya!"
"Tidak opa!" pekik Gerhana, berlari menghampiri lalu menarik tangan Tianyfa. "Dia tidak seperti yang opa katakan."
"Gerhana! dia bukan ibumu!" bentak Aldara ikut bicara.
"Tianyfa, ibuku!" bantah Gerhana menatap tajam Bagaskoro, sebelumnya Gerhana tidak pernah bersikap seperti itu.
"Kau lihat? wanita gila ini, sudah mempengaruhi putramu." Timpal Aldara.
"Dia, tidak gila." Bantah Gerhana lagi, lalu memeluk erat Tianyfa yang semakin ketakutan.
"Aku tidak mau tahu, kau harus antarkan wanita gila ini. Atau, aku sama sekali tidak akan memberikan harta warisan sepeserpun padamu!" Ancam Bagaskoro.
"Pa..beri aku waktu satu minggu. Setelah itu, aku janji akan mengembalikan Tianyfa." Ken memutuskan akan mengembalikan Tianyfa.
"Aku pegang kata katamu." Kata Bagaskoro, lalu beranjak pergi, di ikuti Aldara.
"Ayah, kumohon jangan bawa pergi ibu." Gerhana melipat kedua tangannya. "Aku janji, aku akan mengikuti apa mau Ayah. Aku akan giat belajar dan tidak mengecewakan ayah lagi."
Ken menatap kedua bola mata Gerhana, ia melihat kesungguhan di matanya. Terpancar rasa sayang Gerhana terhadap Tianyfa.
"Ayah, aku mohon." Pinta Gerhana lagi.
Namun Ken tidak menjawab apa apa, ia merangkul bahu Tianyfa lalu membawanya ke kamar.
Sesampainya di kamar, Ken menyuruh Tianyfa duduk di tepi tempat tidur. Lalu ia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan gadis itu.
"Aku minta maaf," ucap Ken. "Aku akan mengembalikanmu ke rumah sakit. Tapi sebelum itu, aku akan mengajakmu jalan jalan."
Tianyfa hanya diam, kepalanya tertunduk memainkan jari jemarinya. Ken menarik napas panjang, lalu berdiri. Meninggalkan Tianyfa sendirian di kamarnya.
***
Ke-esokan harinya. Ken, mengajak Tianyfa jalan jalan ke taman bermain. Ken membelikan gadis itu sepatu, meski Tianyfa mengaku kakinya sakit apabila menggunakan sepatu. Namun atas desakan Ken, akhirnya Tianyfa mau menggunakan sepatu. Setelah itu, Ken mengajaknya berkeliling taman hiburan, naik berbagai macam wahana.
Ken memperhatikan taut wajah Tianyfa terlihat sangat bahagia. Setelah puas bermain, Ken mengajak Tianyfa duduk di bangku lalu membelikannya es cream.
"Untuk pertama kalinya, aku bahagia."
Ken tersentak mendengar penuturan Tianyfa. Tangannya terulur mengusap lembut sisa es cream di bibirnya.
"Oya? selama ini kau ngapain saja?" tanya Ken basa basi. Namun jawaban Tianyfa, harus membuat Ken berpikir ulang tentang penilaiannya terhadap gadis yang sudah ia nikahi dengan paksa.
"Aku tidak pernah melihat indahnya dunia, ibuku mengurungku sejak kecil."
Antara percaya dan tidak percaya, Ken hanya mengangguk lalu tersenyum mengembang.
"Kau akan mengembalikanku ke rumah sakit?" tanya Tianyfa, melirik ke arah Ken.
Namun Ken hanya diam, ia masih ragu. Apakah istrinya itu benar benar gila? atau tidak? tapi Ken berusaha menepis keraguannya. Wajar saja, jika Tianyfa bisa bicara normal kadang tidak.
"Sudah sore, kita pulang. Masih ada waktu beberapa hari lagi, kau bisa bermain sepuasnya menikmati indahnya dunia." Bujuk Ken.
Tianyfa mengangguk, lalu turun dari atas bangku. Menggenggam erat tangan Ken, lalu mereka melangkah bersama meninggalkan taman hiburan.
lope lope bwat mereka semua....peluk onlen bwat othornya...Makasiiih untuk ceritanya.
jgn lupa kasih extra part ya😘😘😘😘
Salam dri " Reinkarnasi untuk Balas dendam "
Hhhhh
lanjut makk,mngatt