19+ Bijak-bijaklah memilih bacaan.
Mungkin bisa saja anda salah paham.
Kisah ini menceritakan sebuah Goblin yang tampan terjebak dan dibebaskan oleh tetesan air mata seorang wanita yang cantik dari sebuah gantungan kunci tua.
Goblin tampan dan wanita cantik yang saling jatuh cinta dan menikah.
Tapi cinta mereka dan pernikahan mereka tidak bertahan lama, cuman bertahan 2 hari.
Setelah itu Goblin tampan menghilang di tengah ramainya orang yang sedang berkunjung di pusat permainan hiburan malam.
Hati wanita itu sangat hancur, seperti tidak menerima kenyataan jika ia harus berpisah untuk selamanya.
Beberapa hari setelah kejadian perginya suami wanita tersebut.
Muncullah 2 orang pria dari masa kecil dan berebut cinta yang di miliki wanita itu.
Siapakah pria yang akan berhasil merebut cinta dan menggantikan sosok suami yang wanita ini cintai?
Jika Anda penasaran Klik dan baca "Gantungan Kunci Tua".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengetahui lebih dalam.
Part 8
______
Pagi menyapa dengan cuaca dan hembusan angin yang masuk melalui sela-sela lubang kecil memasuki kamar Syahri. Matahari menyilaukan mata dan membuatnya terbangun.
Syahri membuka kedua mata indahnya, “Auuww! sakit sekali badanku semua.” Syahri mencoba bangkit dari tempat tidurnya.
William mencoba bangun, “Hem! kenapa kau tidak membangunkan aku.” William dengan mata yang masih mengantuk.
Syahri yang duduk memegang bahu kirinya dengan tangan kanannya.“Aku tidak enak, kamu sudah letih mengurusku dari kemarin. Jadi biarkan aku sendiri yang berusaha untuk diriku sendiri.” tegas Syahri seperti tidak ingin memberatkan William.
William duduk dengan dahi yang mengerut, “Kamu itu jangan bandel, sini aku bantu.” William menggigit giginya dan bangkit mendekati Syahri.
“Aku mau mandi dan aku mau bekerja, apa mungkin kau akan ikut mandi bersama dengan diriku.” Ucap Syahri sambil menatap William dengan sudut bibir atas yang sedikit menaik.
William menaikkan kedua bahunya, “Bisa jadi kalau terpaksa, tapi untuk sementara ini kau tidak boleh bekerja. Jika bos kamu marah biarkan saja dia marah yang penting kau sehat dulu.” ucap William dengan nada yang sedikit terbalut amarah.
Dia ini siapaku sebenarnya, gayanya seperti dia suamiku saja.
Batin Syahri dengan wajah yang di tekuk menatap William.
William menarik tangan Syahri, “Sudah mari sini aku bantu kamu membilas rambutmu, tenang saja aku tidak memandikan kamu. Cuman membantu untuk membasuh rambutmu saja.” Tegas William sambil menuntun Syahri menuju kamar mandi.
******
Di meja makan.
William meletakkan berbagai macam makanan yang telah di masak oleh tangannya sendiri, “Ini aku buatkan sup buntut dan puding untuk kamu.” dengan nada lembut berkata kepada Syahri.
Wajah Syahri memerah, “William!” ucapnya memandang wajah William.
William menolehkan wajahnya, “Ada apa.” terlontar perkataan yang ketus dari bibir William.
Bibir Syahri mengerucut, “Iih! galak amat.” Syahri menolehkan wajahnya.
Saat di tengah nikmatnya santap makan, Syahri meletakkan sendok dengan wajah yang menatap wajah William.
“Apa memang benar ruh kamu yang terjebak di dalam gantungan kunci kuno itu?” Tanya Syahri yang masih tidak percaya.
William yang masih menikmati makanan menganggukan kepala, “Iya. Gantungan kunci itu milik seorang...apa ya? aku lupa. Pokoknya seperti itu lah, kenapa?” terdengar sahutan William yang sepertinya malas membahas masalah masa lalunya.
Syahri menundukkan pandangannya, “Jadi sewaktu-waktu kamu bisa pergi meninggalkan aku untuk selamanya.” Tanya Syahri dengan nada sedih.
William mengalihkan pandangannya, “Jika memang ia, aku berharap suatu saat kau akan mendapatkan pendamping hidup yang baik untuk kamu, agar aku bisa tenang meninggalkanmu.” Jawab William dengan tangan yang mencoba meraih tangan Syahri.
William menarik tangannya kembali dan menyimpannya di bawah meja makan. “Haaa!” William manarik nafas panjang.
Syahri menatap wajah William dan bertanya, “Kenapa William?” dengan wajah yang sedikit penuh tanda tanya.
William menggelengkan kepala dengan bibir yang tersenyum melontarkan pertanyaan kepada Syahri.
“Tidak apa-apa, jika suatu saat aku terlahir kembali aku berharap kita di pertemukan dan aku akan langsung menikahi kamu dan tidak boleh ada satu orang pun yang menyakitimu.” Perkataan seperti angan-angan William yang terpendam dalam hati dan kini di utarakan nya.
Syahri menatap tajam wajah William, “Mimpi. Kamu saja sering memarahiku.” Bantah Syahri dengan menaikkan kedua alisnya.
William berdiri mendekati Syahri dengan tangan yang mengulur panjang mendekati rambut Syahri, “Itu karena kamu tidak mau menuruti kata-kata aku.” William mengacak rambut Syahri.
Syahri menepis tangan William, “Hei! rambutku bisa kusut, sudah cepat habisi dulu makanan ini.” Syahri mengambil makanan dan melahapnya tanpa ampun.
William tersenyum lebar menatap wajah Syahri yang tanpa ampun melahap makanan yang tersaji di atas meja.
“Pelan-pelan kamu bisa..” William terhenti.
Syahri menepuk pelan dadanya, "Uhuk! Uhuk!" Syahri mengulurkan tangan menunjuk ke arah gelas yang berisikan air putih. "Minum." Syahri tersedak.
William berdiri di belakang kursi Syahri dengan tangan yang menepuk pelan punggungnya.
“Kamu apa tidak bisa tenang sedikit saat makan, baru mau bilang sudah terjadi. Apa kamu tidak bisa merubah pola makan kamu yang rakus itu.” William membentak.
Syahri menekuk dahinya, “Tidak bisa, jika tidak suka tidak usah kamu lihat.” Syahri memalingkan wajahnya dengan kesal.
******
Di teras atas.
Syahri dan William berjemur di teras atas sambil menikmati suasana pagi yang di temani dengan angin yang cukup kencang dan matahari yang bersinar terang.
“Syahri.” Panggil William.
“Iya.” Jawab singkat Syahri sambil bersandar di kursi santai dengan topi dan kaca mata hitamnya.
“Aku boleh tanya sesuatu tidak.” William bertanya dengan nada ragu-ragu.
Syahri menganggukkan kepala, “Hem! Tanya saja.” Sahut Syahri yang masih menikmati matahari pagi.
William mengalihkan pandangannya, “Jika aku boleh tahu, apa kamu memang tinggal sendiri. Maksud aku…” William gugup karena takut menyinggung hati Syahri.
Syahri yang masih santai di kursi santai menjawab pertanyaan William.
“Aku paham maksud kamu. Iya aku tidak memiliki kedua orang tua atau saudara, dulu aku di asuh oleh nene. Kedua orang tua aku sudah meninggal dunia saat aku masih kecil, aku tidak tahu persis kejadiannya tapi nenek aku bercerita seperti itu kepadaku. Mereka meninggalkan aku saat aku berumur 10 hari dari kelahiran aku.”Ucap Syahri sambil melepas kaca mata dan berbalik badan ke arah William.
Wajah William panik, “Maaf. Bukan maksud aku untuk membuat kamu sedih.” William mencoba meraih tangan Syahri.
Syahri mendongakkan wajahnya menatap ke arah langit yang begitu sangat cerah.
“Sudah tidak apa-apa, sekarang mereka semua sudah tenang di alam sana. Tinggallah aku sendiri di sini, dan untuk sementara ini kamu menemani aku. Tapi suatu saat kau juga akan meninggalkan aku seperti ayah, ibu dan nenekku. Tapi aku tidak akan bersedih, karena setiap mahluk yang di ciptakan pasti akan kembali dan kita akan bisa berkumpul di sana.” Syahri berjalan dan meregangkan ke dua tangannya dan berjalan ke tepian teras.
William hanya memandangi Syahri dari belakang tanpa memberikan jawaban apa pun kepadanya.
Andai malaikat maut memberi aku penangguhan, aku akan memohon dan meminta waktu untuk menemani dirimu beberapa saat saja dan aku pastikan kamu tidak akan merasa sedih dan sendirian lagi di sini.
Gumam William dalam hati sambil melihat Syahri.
Syahri membalikkan badannya dan menyandar di tepian pagar teras atas rumah.
Syahri menolehkan wajah memandang William. “Will! Kenapa kamu diam saja, apakah kamu ingin aku ajak jalan keluar.” Tanya Syahri dengan wajah yang cukup serius.
William memutar bola matanya menatap ke atas dengan dahi yang ditekuk, “Tidak perlu, kamu masih belum baik. Sebaiknya kita di rumah ini saja atau aku membantu kamu memberesi rumah kamu biar nampak lebih bagus dan rapih?” William memberi ide.
Syahri menganggukan kepala, “Boleh juga, kalau begitu mari kita lakukan segera.” Syahri berjalan dan menarik tangan William dari tempat duduknya.
Suasana yang tadinya sedih, kini telah berubah menjadi kegembiraan. William mencoba membangkitkan suasana dengan membantu Syahri membereskan rumah dan menyusun barang-barang yang tak terpakai.
William mengajak Syahri bercanda dengan benda yang ia dapat. Seperti topi halloween, topeng atau barang aneh lainnya. Tawa yang di pancarkan Syahri begitu lepas, dan terlihat untuk sesaat beban yang dipikulnya terlepas sudah.
Melihat engkau tertawa begitu lepas, aku sudah merasa bahagia. Teruslah tertawa selagi aku di sampingmu, agar kesedihan dan masalahmu bisa kau lupakan untuk sesat.
Batin William sambil melemparkan senyum dari bibirnya.
“Auuw! Sakit sekali tanganku, apakah terkilir.” Syahri berteriak sambil memegang pergelangan tangannya dan melepaskan kardus yang akan ia angkat.
Dengan sigap William berlari ke arah Syahri, “Sudah jangan kau angkat, biar aku saja yang mengangkat. Ini barang mau kau letakkan di mana?” Tanya William sambil mengangkat kardus.
Syahri menunjuk ke arah gudang. “Di sana saja.” Syahri berjalan duluan sambil ke arah belakang rumahnya.
William mengikuti Syahri dari belakang, mereka pun terhenti di sebuah gudang yang penuh dengan sarang laba-laba. Kemudian Syahri membuka pintu.
Ceklek!!!!!
Nyiiitt!!!
Ketika pintu gudang terbuka lebar, terlihat beberapa sarang laba-laba menghiasi dan hampir memenuhi gudang.
Aroma abu yang menusuk dari hidung hingga ke tenggorokan membuat Syahri tidak bisa menahan batuk.
"Uhuk! Uhuk! Ternyata abunya banyak juga.” Ucap Syahri dengan tangan yang menutup mulut dan hidungnya.
William menolehkan wajah cemasnya menatap Syahri, “Hati-hati, sudah biar aku bantu kamu membersihkan gudang ini.” William melangkahkan kaki kanannya masuk ke sebuah gudang sambil meletakkan kardus di atas meja.
William yang berada di dalam gelapnya gudang mencoba meraih tombol lampu sembari bertanya kepada Syahri yang perlahan masuk ke dalam gudang.
“Sudah berapa lama kamu tidak memasuki gudang ini?” sambil mencoba menghidupkan lampu dan mencari sapu.
Syahri menoleh ke kanan dan ke kiri, “Dari nenek aku meninggal, aku tidak pernah masuk ke sini. Karena yang sering masuk adalah nenek aku.” Jawab Syahri yang masih menutup hidungnya dengan tangannya.
William pun membuka satu persatu kain penutup yang menutupi barang-barang bekas peninggalan almarhum neneknya.
“Lihat ini, kenapa banyak sekali gulungan kain disini?” William menunjukkan banyak gulungan kain-kain ke Syahri.
Syahri berjalan mendekati William, “Mana coba aku lihat.” Syahri membuka penutup yang lainnya.
Wajah Syahri menjadi bingung, “Iya. Disini juga ada beberapa mesin jahit dan alat mesin lainnya.” Seru Syahri yang masih bingung.
William mengambil sebuah gambar yang berada di sebuah buku besar yang terletak di samping mesin jahit.
“Apa kamu tidak tahu kalau nenek kamu dulu penjahit, dan lihat baju buku ini begitu indah gambarannya.” Kemudian menunjukkan beberapa model gambaran baju ke Syahri.
Syahri mengambil beberapa gambar dari tangan William, “Mana coba aku lihat.” dengan wajah yang masih tidak percaya.
William menatap wajah Syahri dengan serius dan memberikan sebuah ide. “Syahri sebaiknya kamu mencoba untuk menjahit dan menjual baju-baju dari bakal kain ini saja.”
Syahri menundukkan pandangannya, “Tapi William, jahitan aku masih kurang bagus.” Syahri minder karena kemampuan yang dimilikinya masih kurang bagus.
William memegang bahu Syahri, “Tidak apa-apa, yang penting kamu mencobanya terlebih dahulu dan jangan gampang menyerah.” Dengan wajah yang tersenyum memberi semangat kepada Syahri.
Syahri mengepal tangannya seperti wajah yang sedang bersemangat, “Baiklah aku akan mengerahkan semua kemampuanku.” Ucap Syahri dengan penuh semangat dan keyakinan yang sudah bulat menjadi satu.
Sebelum tugas di mulai untuk menjahit, William dan Syahri membersihkan seluruh gudang dan menata ulang mesin jahit yang sudah lama tersusun dan tidak pernah di pakai di sudut gudang tersebut.
Setelah semua di bereskan, William dan Syahri berisitirahat sejenak sambil memandangi gudang yang tadinya penuh debu kini rapih bersih bagaikan tempat konveksi yang baru saja di bangun.
“Apakah kamu sudah siap.” William berbicara sambil memacakkan tangan di pinggang dengan nada semangat.
“Sebelum memulainya kita bisa makan dulu tidak. Perutku sangat lapar.” ucap Syahri dengan wajah yang memelas.
“Huu! masih bisa mikirin makan.” Gumam William dengan wajah yang di tekuk.
“Ayolah aku akan memasakkan kamu sup iga sapi.” William menarik tangan Syahri dan mengajaknya ke dapur.
Syahri mengikuti langkah kaki William dengan tangan William yang menarik tangannya, “Emang aku ada membeli iga untuk di stok di lemari pendingin.” Tanya Syahri dengan polos dan lupa.
William terus melangkahkan kakinya berjalan menuju dapur, “Apa kamu sudah lupa. Sudah kalau begitu kamu diam saja dan nikmati masakan koki terhebat dari goblin yang tampan.” Ucap William sangat pede.
“Mulai lagi.” Ucap Syahri dengan ekspresi yang datar.
Bersambung...
Terimakasih telah singgah untuk membaca 😉😊**
cerita yg menarik Thor 👍🏻
aku list favorit dan juga rate bintang 5
salam dari "get married with monster"