NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Nikahkontrak / Kriminal
Popularitas:34.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lintang

Hal yang tidak terduga oleh Aileen adalah kedua orang tua yang sangat ia sayangi tega menukar dirinya dengan hutang kedua orang tuanya, menjadikannya pengantin seorang Mafia kejam yang terkenal di Kotanya.

Brian Erlangga tidak membiarkan Aileen merasakan bahagia hidup bersamanya, ia di tuntut untuk bekerja dan menghasilkan uang untuknya sebagai pengganti uang yang telah di berikan kepada Papanya.

Aileen bukanlah seorang wanita yang cengeng, ia mampu mengatasi kesulitannya seorang diri. Suatu hari ia sudah merasakan jenuh hidup bersama Brian lantas menginginkan perceraian, tapi yang ia dapat adalah sebuah siksaan.

Suatu hari pihak kepolisian mengirim seorang detektif untuk menangkap Brian, ia berpura-pura menjadi bodyguard Aileen. Adelio membebaskan Aileen dari tangan Brian dan membawanya pergi jauh darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlambat bangun

Karna sudah larut malam aku berniat untuk tidur, tapi aku bingung akan membaringkan tubuhku di mana. Mataku menangkap sebuah sofa yang terdapat di sudut ruangan di bawah cendela, aku bergerak menuju sofa tersebut, karna tidak mungkin aku tidur berdua di ranjang yang sama dengan Brian. Walaupun aku tau Brian sudah menantiku untuk tidur bersamanya.

"Kau mau kemana?" teriaknya.

"Tidur di sini sepertinya nyaman tuan" jawabku dengan langsung membaringkan tubuh ini.

"Oh, nyamannya sofa ini..." aku menempatkan tubuhku di posisi senyaman mungkin.

Brian nampak memperhatikan tingkahku, lalu berjalan mendekatiku saat mata ini meminta untuk di pejamkan. 'ku mohon dia tak berbuat yang tidak-tidak' gumamku sambil merapatkan mataku.

"Kalau kau merasa nyaman tidur di sini silahkan saja, karna aku akan tidur di kamar pribadiku!" ujarnya sambil tersenyum meninggalkanku.

"Haa..." mataku kembali terbuka, rasa kantuk yang tadi menyerangku kini telah hilang. Hatiku bersorak gembira, aku telah lolos dari terkaman lelaki yang suka berbicara keras itu.

Aku mengintip dengan menyipitkan mataku, lalu ku arahkan pandanganku ke pintu, apakah dia sudah benar-benar pergi atau hanya menggodaku. Jangan-jangan ia kembali saat aku menikmati tidurku, aku bisa malu sendiri nantinya.

Setelah menunggu beberapa saat tidak ada tanda-tanda pintu kamar terbuka, aku segera bangkit dan mengunci pintu itu dengan cepat. Dan kini aku bisa bebas berada di kamar ini, aku bisa melakukan apapun yang ku mau tanpa harus ada penguntit atau apapun itu.

Aku segera menaiki ranjang berukuran besar itu dan mulai mengarungi mimpi indah malam ini. Aku tak tahu kalau terdapat cctv rahasia di pasang di kamar ini, sehingga Brian ataupun asistennya bisa melihat gerak-gerikku melalui layar hanphone mereka masing-masing.

Sedangkan di sebelah kamar ini, Brian nampak tersenyum melihat aksi ku yang sedang menari-nari di atas ranjang. Tapi senyuman itu nampak menakutkan, Brian bertekad akan membuat aku begitu tertekan berada di mansionnya.

***

Sang fajar nampak malu-malu menunjukkan sinarnya, hari sudah siang tapi karna mendung keadaan seperti nampak masih gelap saja. Aku masih asik menikmati hangatnya kamarku, padahal hari sungguh sangat dingin pagi ini.

Pukul 07.00 para pelayan serta pekerja lainnya sudah sibuk membersiahkan mansion dan menyiapkan hidangan sehat untuk penghuni rumah baru, John pagi-pagi sudah sampai di mansion ini karena akan mengerjakan pekerjaan yang di minta oleh Brian semalam.

"Selamat pagi John, kau pagi sekali datang kemari. Bukankah masih jam tujuh?" sambil menuruni anak tangga.

"Selamat pagi juga tuan, saya sengaja untuk datang lebih pagi karena ingin menyambut istri tuan?."

"Istri?, bahkan aku saja belum bertemu dengannya pagi ini. Suruh pelayan membangunkannya!" ujarnya sambil duduk di ruang makan.

Pelayan langsung menyajikan kopi di hadapan Brian, dan yang lainnya membukakan koran untuknya.

Dengan sigap John meminta pelayan perempuan untuk membangunkanku, kali ini kepala pelayan Elli yang akan membangunkanku.

"Elli, beritahu dia tentang peraturan di mansion ini. Jangan biarkan nona muda melanggarnya atau kau yang akan ku pecat dari pekerjaanmu sekarang!" John berbisik tepat di telinga Elli.

Perempuan paruh baya itu menunduk dan langsung undur diri untuk membangunkanku, langkahnya begitu cepat karna Brian tidak suka orang yang lelet dalam bekerja.

Elli berkali-kali mengetuk pintu kamarku tapi tak ada respon dariku sama sekali, aku masih sibuk merangkai mimpi panjangku. Elli masuk menggunakan kunci duplikat untuk membuka kamarku, kini Elli sudah berada di kamarku dan menarik selimutku, aku terkejut dan ku buka mata lebar-lebar.

"Anda siapa, kenapa bisa masuk ke kamar ini?" tanyaku sambil mengumpulkan sisa nyawaku yang belum sepenuhnya terkumpul.

"Kenalkan nama saya Elli nona, saya adalah kepala pelayan di rumah ini. Tugas saya adalah kepala pelayan di mansion ini, peraturan yang harus anda patuhi adalah harus bangun paling lambat pukul enam pagi, jam tujuh tepat harus berada di ruang makan, dan setelah itu anda boleh melakukan hal apapun di dalam mansion ini. Kecuali pergi dari mansion tanpa ijin tuan muda terlebih dahulu" ujarnya dengan tegas.

"Ba... baiklah nona Elli, saya minta maaf" sementara itu aku kabur ke kamar mandi dengan cepat, saat Elli mulai memegang selimut bekas ku pakai tadi.

Dengan cepat ku selesaikan memakai baju, serta memoles wajahku senatural dan secepat mungkin. Aku tak mau pria yang selalu berkata keras itu marah kepadaku, dengan langkah gontai aku menuruni anak tangga. Kepercayaan diriku hilang mana kala ketiga pasang mata sedang memandangku di bawah sana.

"Maafkan saya tuan, saya terlambat" ujarku sambil tertunduk.

"Cepat makan sarapanmu, setelah itu ikut aku pergi ke kantor!."

Aku mendongakkan kepalaku, apa aku bermimpi?. Barusan ku dengar dia sedang berbicara lirih terhadapku, tanpa pikir panjang segera ku jawab perkataannya.

"Ke kantor tuan?."

"Maaf nona di larang berbicara saat makan, tuan melarangnya!" teguran keras di ucapkan oleh John, yang juga ikut menikmati sarapannya.

"Tapi anda..." aku urung melanjutkan perkataanku karena John memelototiku.

"Baiklah saya akan segera menghabiskan sarapan saya" ujarnya seraya melahap satu suapan roti ke dalam mulutnya.

Kami bertiga sarapan dengan tenang, tanpa ada pembicaraan sedikitpun hanya ada suara alat makan garpu dan sendok yang berdenting saling bersahutan.

Beberapa menit kemudian kami bertiga pergi bersama ke kantor Brian, Brian mengajakku untuk memilih tempat dan juga gedung perkantoran untuk perusahaan baruku nanti.

1
Fawaz Al ashy
sangat baik alur nya saya suka
Eca Sallsavy
lanjut
Wienda Na
lamma
Wienda Na
seru,jalan ceritanya bikin penasaran
Olive Vivi Lalujan
nexxx
Hanna Devi
sampai di sini dulu, besok2 mampir lagi 😁
Hanna Devi
nyicil2 bacanya 🤭
Hanna Devi
semangat selalu 💪💪
Hanna Devi
Hai..
Hati Terbelah Di Ujung Senja mampir nih 😍
Ridi Alifia
Nextttt
Ulfa
semangat kak

maaf baru sempat mampir lagi
Keiro
semangat akak
♕FiiStory_
mampir lagi, jangan lupa mampir lagi di karyaku ya
Keiro
Astaga jahatnya
Keiro
Kasian Aileen Thor
Keiro
Lagi...
Keiro
Lanjut thor
Keiro
Tega amat tuh orang tua, kasian anaknya
Ulfa
nyicil jejak kak

semangat
Ulfa
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!