Kehidupan baru Kenzo dan Delima berubah setelah hadirnya buah hati mereka, dan jangan lupakan jika Delima kini berubah menjadi Mahasisiwi cantik yang siap dilirik oleh kaum laki laki.
Selain Kenzo dan Delima, disini juga mengisahkan orang orang yang belum move on dari masa lalunya, kecuali satu orang sang Duteng alias Duda Ganteng.
"Satu ditambah satu dua, kamu tau kan yank kalau aku tak akan menduakan mu"
"Cintaku bukan seperti es teh plastikan, jika habis langsung dibuang"
Yuk, yang penasaran kisah Kenzo sang mantan Casanova, Mario yang katanya Mafia tapi juga gagal move on, dan si Tata Surya yang sudah beristri tapi juga belum move on, atau si Duteng pendatang baru yang akan meramaikan kisah mereka.
Mengandung adegan 18+ dan 21+ , dibawah umur jangan coba coba baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulina alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham
Delima dan Dimas kini sudah berada di hotel yang beberapa jam yang lalu sudah diberitahukan alamatnya oleh Tante Lina
"Bentar Kak" Delima menghentikan langkah nya dan juga Dimas kala memasuki lobi sebuah hotel mewah itu.
"*Iya Hallo Tante...
"Oh...iya aku kesana sekarang*"
"Kak, langsung ke kamar nomer 212 saja"
"Wih...ngamar kita Del...." ucap Dimas cengengesan
"Iya kak ngamar, habis ini kakak digorok suamiku bau tau rasa"
"Haaaaaaaa" tawa Dimas melihat Delima yang manyun karena digoda.
Delima dan juga Dimas berjalan menuju kamar 212 "Kamar wiro sableng kak"
"Elu kali yang sableng Del"
"Aku sableng, kakak gendeng" jujur Delima yang yang tidak mau kalah dengan Dimas
Delima sampai didepan kamar itu, kemudian memencet bel dan menunggu yang punya kamar membukakan pintunya.
”Dia......" dari sebuah sudut yang berbeda Vano tanpa sengaja melihat Delima dan juga Dimas sedang memasuki kamar. Seorang gadis cantik yang baru kemarin dia lihat di restoran Casablanka
Gadis cantik yang berhasil menggoyahkan hatinya setelah lima tahun men duda. Namun sayang pikiran Vano kali berbeda ketika melihat Delima dan seorang laki laki masuk ke kamar hotel.
"Sayang cantik cantik murahan" cibir Vano ketika melihat Delima dan juga Dimas memasuki kamar hotel. Dan memang mereka terlihat sangat mesra apalagi dari jauh terlihat seperti sedang berciuman, entah posisinya mereka seperti apa saat itu, tetapi pkiran Vano sudah menjurus ke mana mana.
Oh tidak, Vano salah paham, dia mengira wanita yang kemarin sempat membuatnya kagum itu akan melakukan adegan begono an didalam kamar.
Vano tidak tau saja jika yang ada didalam kamar itu adalah Mamahnya, dan Delima memasuki kamar hotel itu juga karena perintah Mamahnya.
Memang, jika orang lain yang melihat atau mereka hanya sekilas melihat, Delima dan Dims tampaklah sebagai sepasang kekasih yang sedang menghabiskan waktunya dikamar hotel, karena mereka kelihatan mesra.
Tante Lina membukakan pintu
"Masuk Delima"
"Makasih Tante"
Lalu Delima dan juga Dimas segera duduk di sofa kamar hotel itu. Delima melihat ke sekeliling, tetapi tidak ada siapa siapa, hanya ada tante Lina saja disini.
"Maaf ya Del....anak Tante tidak bisa kemari, mungkin besok tante suruh ke butik kamu saja" kata Tante Lina yang dari tadi memperhatikan Delima yang sedang mencari cari seseorang rupanya
Delima tersenyum "Tidak apa apa tan, besok juga boleh"
"Dan maaf juga, tante menyuruh kamu kesini, karena tadi tante tiba tiba gak enak badan"
"Tidak masalah Tan, santai saja"
Tante Lina melirik seorang laki laki yang dari tadi diam saja disamping Delima
"Ini?" tanya Tante Lina yang penasaran dengan laki laki tampan disebelah Delima
"Pacar kamu Del?"
Delima menggeleng "Bukan Tan, ini Kak Dimas, kakak Delima" jawab Delima sopan serta mengenalkan Dimas kepada Tante Lina
Tante Lina tersenyum, nampak wajah nya terlihat bahagia sekali mendengar kalau laki laki disamping Delima itu bukanlah pacarnya.
"Ada apa sih Tan, kok malahan senyum senyum sendiri?" tanya Delina yang heran mengapa wanita yang seumuran dengan Maminya ini mendadak tersenyum.
"Tante seneng, ternyata Dimas cuma kakak kamu sayang, bukan pacarmu, Tante jadi lega" jawab Tante Lina dengan memegang tangan Delima
Delima dan juga Dimas saling menatap, seakan akan mereka berdua mengerti arah pembicaraan Tante Lina
"*Mam*pus elu Ken, nambah lagi saingan elu, kalo ini urusan elu bukan sama anaknya, tapi langsung emaknya," batin Dimas tersenyum sinis.
"Aduh jangan jangan TantebLina mau njodohin anaknya ma gue, duh.......lemes gue kalau ngadepin emak emak yang pastinya ini juga sama bawelnya kayak emak gue" batinDelima*
"Emmm......maksud Tante apa ya?" Delima pura pura tidak mengerti saja, biar suasananya tidak semakin mencekam, karena aura tante Lina yang dari tadi senyum senyum sendiri membuat ngeri, apalagi ini hari kamis dan nanti malam pastinya malam jumat.
"Nanti kamu tau sendiri sayang, tidak usah dipikirkan" jawab Tante Lina dan lagi lagi tesenyum dengan menatap wajah Delima
"Bener nih....emak emak satu ini, pasti kesambet setan ngakak" batin Delima lagi
Delima yang dari tadi ditatap ngeri oleh Tante Lina mendadak berpaling ke Dimas, dan menyuruh Fimas untuk memberikan sebuah map yang berisi rancangan gaun yang telah Delima buat
"Tante.....coba tante lihat ini" Delima menyodorkan beberapa lembar kertas yang sudah ada gambar desain gaun pesta yang sangat indah
"Tante suka yang mana? atau kalau ada yang perlu ditambahin lagi, bisa reques langusng ke Delima tan"
Bukanya melihat desain rancangan Delima, tetapi Tante Lina malahn lagi lagi memandang wajah cantik Delima.
"Tan......" panggil Delima yang merasa risih karena lagi lagi dipandang tante Lina seperti itu.
"Tante suka semuanya, terutama yang buat" jawab Tante lina dengan pura pura membuka lembar demi lembar kertas yang ada didepannya.
"Yang buat tidak kalah caniknya dengan rancangan gaunnya, bahkan lebih cantik" Tante Lina melanjutkan omongannya
Delina melotot dibuat terkejut dengan ucapan Tante tante yang ada didepannya ini, biasa nya Delima digombalin oleh para kaum lelaki, tetapi ini malahan emak emak, "emak emak gaes"
Dimas menyikut Delima, dia membisikkan sesutu ditelinganya "Kayaknya emak emak itu suka deh ma elu, liaht aja muka emak emak itu"
Delima menatap tajam Dimas, kemudian berbisik "Ngawur......bukan begitu, tapi hawa hawanya gue mau dijodohin dengan anaknya"
Dimas tersenyum ngakak "Resiko punya wajah cantik"
"Emang......gini gini bisa buat orang gila" ucap Delima dan seketika langsung teringat tentang Surya yang beberapa bulan yang lalu gila karenanya, gila beneran
Deg
Seketika Dimas kaget mendengar ucapan Delima, dan teringat dengan pertemuannya dengan Surya beberapa hari yang lalu.
Dimas jadi kawatir jika Surya dibuat gila lagi oleh Delima, dan kawatir juga jika Surya malahan semakin nekat dengan Delima
"Kak.....Hello" Delima mengibas ngibaskan tangannya didepan Dimas, karena melihat Dimas yang melamun
"Eh.....iya Del, kenapa?"
"Emmm....gak apa apa, takutnya kakak kesambet juga kayak tante Lina" ucap Delima berbisik
Sedangkan dari tadi Tante lina asyik mengarahkan ponselnya ke Delima, tanpa Delima ketahui tentunya
"Jadi...tante milih yang mana?" tanya Delima sekali lagi karena dari tadi Delima menunggu Tante Lina memilih tetapi masih saja diem
"Semuanya cantik, tapi.....tante mau yang ini saja keliatan lebih simpel" jawab Tante Lina yang pura pura memilih sebab dari tadi beliau tidak konsen karena sibuk memandang wajay Delima
"Iya Tan...cocok dengan tante yang energik dan tentunya anggun, pasti nya nanti bakalan cantik jika tante yang memakainya"
"Delima bisa aja kamu nak, lebih cantikkan kamu" puji Tante Lina
"Berarti ini ya Tan..." Delima menunjuk lagi desain yang sudah dipilih tante Lina, dan tante Lina mengangguk
"Kalau gitu aku pulang dulu ya Tante" Delima kemudian membereskan semua kertas kertas yang ada didepannya itu.
"Mari Tan..." pamit Delima setelah sebelumnya memeluk wanita paruh baya yang ada didepannya
Delima hendak membuka pintu tetapi "Delima...maukah kamu menikah dengan anak tante?"
Deg
Seketika Delima menghentikan langkahnya dan berbalik. Delima menggeleng bermaksud ingin menjelaskan ke Tante Lina bahwa dirinya sudah menikah.
"Aku....sudah men......."
Kring....Kring...
Ponsel Tante Lina berbunyi, dan kemudian beliau mengangkat dan meninggalkan Delima, tanpa menunggu kelanjutan ucapan Delima tadi
"Menikah....." Delima meneruskan ucapannya tadi tetapi tetap saja suaranya kalah dengan suara Tante Lina yang asyik mengobrol ditelepon, kemudian Delima meninggalkan hotel yang bernomor wiro sableng.