NovelToon NovelToon
Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.

Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.

Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.

*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*

Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.

Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10: Api di Malam Hari

"Mas Kevin," kata Nadia, suaranya pecah. "Surya mengambil Mega Awan."

Di ujung lain telepon, Kevin tidak langsung menjawab.

Keheningan itu lebih menakutkan daripada makian.

Nadia berdiri di tengah ruang tamu yang berantakan. Pecahan vas berserakan di lantai. Foto Pak Kusuma tergeletak miring di atas meja. Untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Surya, ia merasa rumah ini tidak lagi aman.

"Mas?" panggilnya lagi.

"Dengar baik-baik," suara Kevin akhirnya terdengar rendah. "Kalau Surya mau main dokumen, kita kasih dia dokumen. Kalau dia mau main bukti, kita kasih dia masalah yang bikin semua buktinya tidak sempat dipakai."

"Apa maksudmu?"

"Besok pagi kamu akan terima salinan surat utang. Beberapa miliar. Atas nama Surya. Kalau dia bisa jadi Dirut tanpa sadar, dia juga bisa jadi debitur tanpa sadar."

Nadia menelan ludah.

"Dan kakaknya?"

"Orang miskin paling takut pada polisi," kata Kevin dingin. "Tekan dari sana."

Telepon terputus.

Keesokan paginya, Surya menerima foto surat pengakuan utang dari nomor tidak dikenal. Nilainya Rp 3,2 miliar. Tanda tangannya dipalsukan cukup rapi. Namun, terlalu bersih. Orang yang membuatnya tidak tahu bahwa tanda tangan Surya selalu sedikit menekan di ujung huruf terakhir.

Ia menyimpan foto itu.

Lalu pesan kedua masuk.

Bayar, atau semua orang akan tahu kamu menipu keluarga Kusuma.

Surya belum sempat membalas ketika Dewi menelepon.

"Dik..." Suara kakaknya bergetar. "Polsek datang ke pabrik. Mereka bilang ada laporan pencurian."

Surya berdiri dari kursi.

"Kakak di mana?"

"Di ruang security. Mereka menemukan komponen kecil di tas Kakak. Kakak nggak tahu itu dari mana. Kakak sumpah..."

"Aku percaya." Suara Surya langsung menjadi keras dan stabil. "Kakak jangan tanda tangan apa pun sebelum aku datang. Bilang kamu minta pendamping."

"Mereka mau bawa Kakak."

"Ikut dengan tenang. Aku ke sana."

Surya mengambil jaket dan flash disk cadangan. Di parkiran kos, Alphard hitam milik PT Mega Awan masih terparkir. Ia baru membuka pintu ketika mencium bau bensin.

Terlambat.

Api menyala dari bagian bawah kap mesin.

Dalam tiga detik, lidah api merambat ke depan mobil.

"Kebakaran!" seseorang berteriak dari lantai dua kos.

Surya mundur cepat. Panas menghantam wajahnya. Kaca depan retak dengan suara tajam. Orang-orang keluar dari kamar, membawa ember dan alat pemadam kecil. Seorang penjaga kos berlari panik.

Alphard hitam yang semalam menjadi simbol pertama kemenangannya kini berubah menjadi kotak api.

Surya melihat api itu tanpa bergerak.

Marah?

Tentu.

Tetapi di balik amarah, ada satu hal yang membuat napasnya tetap rata.

Semua dokumen sudah di cloud.

Flash disk tidak ada di mobil.

Hard drive ada di loker.

Mereka membakar kulit, bukan tulang.

Ketika api mulai terkendali, seorang penghuni kos berteriak lagi dari belakang bangunan.

"Ada yang siram bensin dekat kamar!"

Surya berlari.

Di depan pintu kamarnya, lantai basah oleh bau bensin. Sumbu kain kecil tergeletak di sudut, gagal menyala karena basah terkena air dari ember warga. Kalau api dari parkiran menyebar sedikit saja, kos itu bisa ikut terbakar.

Ini bukan sekadar peringatan.

Ini percobaan menghapus tempat, kendaraan, dan mungkin dirinya.

Handphone Surya bergetar. Meilu.

"Saudara Surya, saya menerima laporan kendaraan PT Mega Awan terbakar. Anda di lokasi?"

"Saya di sini."

"Ada korban?"

"Tidak. Tapi kamar kos saya juga disiram bensin."

Suara Meilu berubah lebih pendek. "Jangan sentuh barang bukti. Saya kirim anggota untuk koordinasi dengan Polsek setempat. Dan soal Dewi Prasetyo, saya sudah dengar ada laporan pencurian."

Surya menutup mata sebentar. "Mereka bergerak cepat."

"Anda juga harus lebih cepat. Siapa yang bisa membantu mengumpulkan bukti di luar jalur resmi tanpa merusak prosedur?"

Nama yang semalam ia simpan dari rekomendasi Rangga muncul di kepala.

Biro Investigasi Wulan.

Dua jam kemudian, setelah memberikan keterangan awal soal kebakaran, Surya duduk di kantor kecil di lantai dua ruko daerah Kalibata. Papan namanya sederhana: PT Investigasi Wulan & Rekan.

Wulan Sari tidak terlihat seperti detektif dalam film. Ia memakai kemeja abu-abu, rambut pendek, dan mata yang terlalu tenang. Di sampingnya ada dua perempuan muda: Lili, kurus dan lincah, serta Nana, berkacamata, duduk di depan laptop dengan tiga layar kecil.

"Saya tidak butuh aksi ilegal," kata Surya. "Saya butuh jejak yang bisa dipakai untuk mendorong laporan resmi. Siapa yang menaruh komponen di tas Dewi. Siapa yang membakar mobil. Ke mana Benny Halim pergi. Dan apakah Nadia memindahkan aset setelah Mega Awan dibekukan."

Wulan mengangguk. "Kami bekerja sebagai konsultan investigasi. Semua bukti yang kami dapat harus bisa dijelaskan sumbernya. Kalau butuh tindakan polisi, kami serahkan ke penyidik."

"Bagus."

"Biaya awal tidak murah."

Surya meletakkan salinan tanda terima rekening penampungan Mega Awan dan rekening pribadinya yang hampir kosong. "Uang pribadi saya terbatas. Tapi ini kasus yang berhubungan dengan PT yang saya pimpin dan dengan laporan polisi. Saya bisa bayar bertahap dari dana legal yang disetujui sebagai biaya audit dan investigasi, selama ada invoice resmi."

Wulan menatapnya lebih lama.

Lalu ia tersenyum tipis. "Anda baru saja kehilangan mobil mewah dan hampir dibakar. Namun, masih bicara invoice."

"Karena saya tidak mau menang dengan cara yang membuat saya kalah di pengadilan."

"Baik." Wulan menoleh kepada Nana. "Mulai dari Benny Halim."

Nana mengetik.

Satu menit belum lewat ketika layar di depannya berubah penuh data publik: alamat lama, riwayat perusahaan, media sosial keluarga, nomor yang pernah dipakai untuk registrasi iklan lowongan, dan satu unggahan lama tentang ibunya yang dirawat di rumah sakit swasta di Jakarta.

Nana mendorong kacamatanya. "Benny Halim punya ibu dengan penyakit jantung. Ada kemungkinan dia akan muncul kalau kondisi ibunya memburuk. Saya bisa pantau dari jalur informasi publik dan kontak rumah sakit yang legal."

Surya menatap layar.

Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibirnya bergerak.

"Cari juga Bu Wati," katanya. "Rekan kerja Dewi. Orang yang paling mudah memasukkan barang ke tasnya biasanya orang yang dianggap teman."

Wulan berdiri. "Lili ke pabrik. Shinta akan cek sekitar kos dan parkiran. Nana pantau Benny dan aset Nadia. Pak Surya, Anda ke Polsek. Jangan biarkan Dewi sendirian terlalu lama."

Surya mengangguk.

Saat ia keluar dari kantor Wulan, Meilu menelepon lagi.

"Kondisi Anda?"

"Mobil terbakar. Kos hampir terbakar. Kakak saya dibawa Polsek. Tapi semua bukti utama aman."

Ada jeda singkat.

"Anda terdengar terlalu tenang untuk orang yang baru diserang tiga arah."

"Kalau saya panik, mereka menang."

Meilu menghela napas pelan. "Saya akan minta anggota memastikan penanganan kebakaran tidak asal ditutup sebagai korsleting. Untuk Dewi, kirimkan nama Polsek dan kronologi."

"Terima kasih, Bu AKP."

"Surya."

Itu pertama kalinya ia tidak memakai "Saudara".

Surya berhenti di anak tangga.

"Jangan mati sebelum kasus ini selesai."

Telepon terputus.

Surya menatap layar gelap, lalu memasukkan handphone ke saku.

Di luar, langit Jakarta mulai gelap. Api telah membakar Alphard. Fitnah telah membawa Dewi ke Polsek. Utang palsu sudah dilempar ke wajahnya.

Tetapi Nadia dan Kevin membuat satu kesalahan.

Mereka mengira dengan membakar barang, mereka membakar jalannya.

Padahal, di tangan Nana, nama Benny Halim baru saja terbuka hanya dalam satu menit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!