Tiga tahun Arga hidup sebagai menantu miskin yang dipandang rendah keluarga istrinya. Di meja makan, di pesta keluarga, di setiap tatapan dingin, ia diperlakukan seperti beban yang tidak punya masa depan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria pendiam itu adalah pewaris tersembunyi keluarga Mahendra, pengendali kekaisaran bisnis bernilai triliunan rupiah yang bergerak dari balik layar. Saat penghinaan berubah menjadi batas terakhir, Arga mulai mengambil kembali semua yang dirampas darinya: nama, kekuasaan, harga diri, dan kebenaran di balik kematian orang tuanya.
Di tengah perang bisnis para konglomerat, intrik keluarga elite, aliansi berbahaya, dan musuh yang bersembunyi di balik hukum, Arga harus memilih cara membalas tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sementara itu, pernikahannya dengan Bianca diuji oleh rahasia, luka lama, dan cinta yang ternyata lebih kuat daripada kebohongan.
Ini kisah tentang menantu yang diremehkan, pewaris yang bangkit diam-diam, dan balas dendam yang tidak datang lewat amarah, melainkan lewat kuasa yang tepat sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10 - Rasa Ingin Tahu Sang Nenek
Bu Ratih tidak tidur malam itu.
Ia duduk di ruang kerja lantai dua, ruangan yang tak seorang pun dalam keluarga masuki tanpa dipanggil. Rak mahoni berisi buku-buku yang benar-benar ia baca, meja kayu ceri dengan permukaan kulit hijau, dan jendela yang menghadap taman tempat suaminya, Hadi, menanam mawar pertama empat puluh tahun lalu.
Hadi. Kalau dia masih hidup, bocah itu tidak akan pernah melewati pintu.
Bu Ratih membuka laci meja dan mengeluarkan buku catatan bersampul keras. Ia tidak memakai komputer untuk catatan pribadi. Komputer bisa diretas, buku catatan menuntut kehadiran fisik. Ia menulis dengan pena Montblanc yang diberikan Hadi pada ulang tahun pernikahan mereka yang keempat puluh.
Arga Wijaya. Uang dari sumber tidak jelas. Penasihat keuangan bernama Rafael. Holding dengan nama tidak dikenal. Membeli lot di Alam Sutera untuk mengepung tanah Bagas. Operasi terkoordinasi. Bukan keberuntungan. Bukan kebetulan.
Ia menutup buku itu.
Bu Ratih tidak bodoh. Ia mengelola aset keluarga selama dua puluh dua tahun setelah Hadi meninggal, properti, sewa, kerja sama dengan pengembang. Ia tahu bagaimana uang bergerak.
Dan ia tahu seorang menantu pengangguran yang tidur di kamar tamu tidak mengoordinasikan operasi properti bernilai miliaran tanpa seseorang di belakangnya.
Pertanyaannya bukan apakah Arga mendapat bantuan. Pertanyaannya, bantuan dari siapa.
Keesokan paginya, ia menelepon Surya Fadli, penyelidik swasta yang digunakan keluarga Kartawijaya sejak tahun sembilan puluhan. Surya tenang, kompeten, dan mahal, tiga kualitas yang dihargai Bu Ratih dalam proporsi yang sama.
"Saya butuh penelusuran lengkap," katanya ketika Surya duduk di kursi di depan meja. Usianya sedikit di atas enam puluh, janggut kelabu terpangkas rapi, setelan abu-abu tanpa pretensi.
"Arga Wijaya. Menikah dengan cucu saya, Bianca. Tinggal bersama keluarga selama tiga tahun. Tanpa pekerjaan tetap, tanpa aset tercatat, tanpa riwayat finansial berarti."
"Dan Ibu ingin saya mencari..."
"Dari mana uangnya. Dia terlibat dalam operasi yang menyangkut tanah di Jakarta Selatan. Lot di sekitar investasi cucu saya, Bagas, dibeli oleh sebuah holding, MRC Investama, NPWP Jakarta. Saya ingin tahu siapa pemilik sebenarnya."
Surya mencatat di buku kecil tanpa mengangkat mata.
"Tenggat?"
"Satu minggu."
"Bisa ketat, tergantung pelindung struktur perusahaannya."
"Surya, saya tidak membayarmu untuk memberi tahu saya apa yang sulit."
Ia menyimpan buku catatan. Mengangguk.
"Satu minggu."
Surya bekerja cepat. Pada hari Rabu, ia sudah mendapatkan hasil awal, dan tidak satu pun masuk akal.
MRC Investama menjadi pemegang saham perusahaan lain, LMTG Investasi, juga terdaftar di Jakarta. LMTG dikendalikan oleh offshore Panama. Offshore itu dikelola oleh firma hukum di Jakarta yang daftar kliennya mencakup menteri, duta besar, dan keluarga-keluarga yang muncul di Forbes.
Surya mengenal firma itu. Bukan jenis tempat yang melayani menantu pengangguran.
Ia kembali ke rumah besar pada Jumat, lima hari setelah pertemuan pertama. Bu Ratih menerimanya di ruang kerja yang sama, kursi yang sama, pena yang sama di tangan.
"Apa yang kau temukan?"
"Holding yang membeli lot, MRC Investama, hanya cangkang. Di belakangnya ada struktur perusahaan tiga lapis, semuanya terdaftar di Jakarta. Pemegang saham nominalnya adalah kuasa dengan kewenangan terbatas, orang-orang yang menandatangani kertas, tetapi tidak memutuskan apa pun. Uangnya berasal dari rekening bank privat Swiss, ditransfer ke Indonesia lewat operasi valuta yang sah. Semuanya bersih, semuanya sesuai hukum."
"Dan siapa di puncaknya?"
Surya membuka kedua tangan.
"Saya tidak bisa sampai ke sana. Firma yang mengelola offshore itu Kusuma, Laksana & Rekan. Mereka mewakili orang-orang yang sangat berat. Saat saya mencoba mengakses registrasi penerima manfaat akhir, saya menabrak tembok. Jenis tembok yang di sisi lain punya keamanan bersenjata."
Bu Ratih mengetukkan pena ke meja dua kali. Tak. Tak.
"Jadi kau mengatakan kepada saya bahwa bocah yang menumpang hidup di rumah cucu saya punya koneksi dengan orang yang memakai firma hukum para menteri?"
"Saya mengatakan ada seseorang dengan tingkat perlindungan finansial seperti itu yang beroperasi di belakangnya. Apakah koneksi langsung atau Arga hanya pion, saya tidak tahu. Tapi uangnya datang dari Jakarta. Dan jumlahnya sangat besar."
Bu Ratih diam selama tiga puluh detik. Surya menunggu. Ia mengenal keheningan itu. Keheningan Bu Ratih memproses informasi, membuang hipotesis, membangun teori.
"Jakarta," katanya akhirnya, dan untuk pertama kalinya sejak Surya mengenalnya, ada sesuatu yang mirip humor dalam suaranya. "Anak itu tidak mengenal siapa pun di Jakarta. Tidak mengenal siapa pun di mana pun. Pasti kebetulan. Mungkin ada orang yang memakai namanya tanpa dia tahu."
"Bu Ratih, dengan hormat, operasi itu terlalu terkoordinasi untuk..."
"Surya." Ia mengangkat tangan. "Saya kenal anak muda itu. Tiga tahun di bawah atap saya. Dia tidak punya kapasitas untuk itu. Seseorang memanfaatkannya, atau ini kecelakaan di tengah jalan. Apa pun itu, awasi dia. Kalau ada pergerakan aneh lagi, beri tahu saya."
Surya mengangguk. Ia menyimpan buku catatannya. Berdiri.
Saat berjalan menuju pintu ruang kerja, pandangannya melewati dinding sebelah kanan, dinding yang disebut Bu Ratih sebagai "galeri keluarga". Puluhan foto berbingkai: pernikahan, wisuda, acara amal, makan malam dengan politisi. Museum pribadi enam dekade prestise keluarga Kartawijaya.
Satu foto menarik perhatiannya. Bukan yang terbesar, hanya bingkai perak, agak tersembunyi di belakang foto pernikahan Marlina yang lebih besar. Foto itu menunjukkan acara amal, mungkin dua puluh tahun lalu: Hadi Kartawijaya dengan tuksedo, berdiri di samping pria lain berjas gelap, keduanya tersenyum ke kamera. Di belakang mereka, ada spanduk RS Premier Jakarta.
Surya tidak mengenali pria kedua. Namun ada sesuatu di wajahnya, garis rahang, postur, sesuatu di matanya, yang menyalakan seutas ingatan yang belum bisa ia tempatkan.
Diam-diam, sementara Bu Ratih menulis sesuatu di buku catatan dengan punggung menghadapnya, Surya mengeluarkan ponsel dari saku dan mengambil foto cepat. Tanpa flash. Tanpa suara. Gerakan seseorang yang sudah melakukan ini ribuan kali dan tahu bahwa jawaban terpenting biasanya berada pada pertanyaan yang tidak diajukan siapa pun.
Ia menyimpan ponsel. Keluar dari ruang kerja. Menuruni tangga.
Di foto itu, pria di samping Hadi Kartawijaya adalah Raka Wijaya Mahendra.
Surya belum tahu itu.
Tapi ia akan segera tahu.