Ini hanyalah kisah romansa remaja yang dialami Alisha, remaja SMA ketika ia dekat dengan seorang anak laki laki yang berbeda dengan dirinya. Keseharian berjualan kaki lima tak surut untuk Alisha dalam mendekati Dika yang diam diam menyimpan kesempurnaan dalam hidupnya.
"Aku menyukainya.. tidak mau menahu akan pandangan orang orang disekitar akan dirinya, karena hanya aku yang mengetahui segalanya mengenai dia, Dika Arya."
Alisha Puteri,
"Sejak kapan kamu menjadi sosok puitis?"
Dika Arya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuliana Farida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
My Dad's Comeback
Alisha POV
Selama perjalanan pulang tadi, aku terus berpikir bagaimana dengan hubungan antara aku dan Dika, terlebih dengan perasaanku. Dan kini, di dalam kamar aku kembali memikirkan tentang Dika.
Ku akui awal pertama kali aku melihatnya, ia sudah menarik perhatianku. Meskipun terlihat biasa saja, tapi aku yakin ia memiliki sesuatu yang entah sengaja atau tidak, ia sembunyikan. Suatu hal yang sangat luar biasa dan membuatku semakin terpukau karenanya.
Yang jelas, selama empat hari kebelakang aku sudah menemukan dan mengenali jati dirinya.
Ia mandiri, cerdas, pintar, kerja keras, dan menurutku ia sedikit pemalu. Ya meskipun selalu ditutupi oleh raut ketusnya. Tapi wajah ketus yang kulihat, melainkan wajah lucu menggemaskan seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Aku tak menyangka dibalik keadaannya sekarang Dika memiliki kelebihan lebih yang banyak orang tidak tahu. Jadi, jangan salahkan diriku yang jika nanti akan jatuh ke dalam pesonanya.
'huft.'
"Lish, bantu mama masak!" perintah mama yang sedang masak di dapur.
"Sebentar ma." Aku bangun dari tiduranku dan berjalan menghampiri mama.
"Masak apa ma?" tanyaku melihat mama sedang memotong sayap ayam.
"Masak opor sama tumis kangkung. Kamu ulek bumbunya Lish." Tunjuk mama pada ulekan berisi bahan bahan opor yang telah dikupas dan dibersihkan.
Aku pun mengikat rambut terlebih dahulu dan mulai menghaluskan bahan bahan tersebut setelahnya.
"Apa lagi ma?" tanyaku setelah ulekanku halus dan membuarkannya.
"Potong-potong kecil kangkungnya Lish."
"Belah batangnya dulu Lish, takut ada uletnya." kata mama mengingatkanku sebelum aku mengerjakan perintahnya itu.
"Iya." Aku pun mengambil dua ikat kangkung dari kulkas ke wastafel untuk dibersihkan terlebih dahulu sebelum dipotong.
"Kenapa si Dika gak mampir dulu Lish?" tanya mama mengenai Dika yang langsung pulang begitu sampai di depan rumahku saat mengantarku pulang.
"Mau bantuin ayahnya jualan gorengan lagi katanya." jelasku sambil mengeringkan kangkung dan memasukkannya ke dalam wadah besar.
"Oh. Jadi gorengan yang kamu hutang dari Dika?" tanya mama yang dibalas anggukkan olehku. Mama tertawa menggelengkan kepalanya mengingat kelakuanku.
"Eh Lish, mama kira Dika bukan muslim loh pas pertama kali lihat." Aku mama. Aku pun mengangguk menyetujuinya.
"Iya, Alish juga sempet mikir gitu ma."
"Tapi kenapa ya dia gak sekolah? Dika kayaknya seumuran sama kamu?" Ternyata mama masih penasaran akan Dika. Aku pun menjawab sepengetahuanku yang diperoleh dari perkataan ayah Dika tadi.
"Kata ayahnya sih, Dika gak mau sekolah. Mau bantu ayahnya kerja."
"Emang ekonominya kurang banget ya? Kasihan, sayang banget gak bisa sekolah kayak anak anak lainnya." ungkap mama iba.
"Iya ma, padahal Dika pinter banget loh Biologinya. Jawaban Alish aja Dika yang benerin." Beritahuku dengan bangga akan kemampuan yang Dika miliki.
"Dih malu malu in kamu, Dika yang belajarnya gak sepadet kamu aja bisa, kamu yang delapan jam belajar kalah sama dia."
"Ma, setiap orang itu punya kelebihannya masing masing, nah kalau Alish gak punya kelebihan di bidang Biologi, apalagi Fisika sama Kimia, makanya Alish ambil jurusan IPS." ungkapku menjelaskan dengan cengiran lebar sebelum mama kembali berkata panjang lebar.
Mama melirik kepadaku dan hanya menggelengkan kepala tak berkata lagi, jika saja berlanjut, pasti mama akan terus berkata panjang lebar menceramahiku.
Aku kembali ke kamar setelah masak dan makan siangku selesai. Aku mengecek ponselku dan ada beberapa pesan dari beberapa teman kelasku, termasuk Evan, si bendahara kelas yang memintaku besok untuk tak langsung pulang. Aku pun meng-iya kan, mungkin untuk pemberitahuan keuangan kelas.
Tak lama, terdengar seseorang mengetuk pintu depan rumah. Mama memintaku untuk membukakan pintunya.
Aku berjalan dan membukakan pintu tanpa melihat siapa yang bertamu.
"Ayah!." Aku terkejut, ternyata ayahku lah yang berdiri di hadapanku sekarang. Kenapa ayah tiba tiba sekali pulangnya?
Tak mau membuang waktu, aku kemudian menghambur ke dalam pelukannya.
"Kok ayah gak bilang mau pulang sekarang sih?" tanyaku masih dalam pelukan eratnya.
"Biar kejutan buat kamu dan mama." ucapnya diselingi tawa dan mencium kepalaku.
"Siapa Lish- Ayah?" Seru mama di belakangku. Sepertinya mama juga terkejut melihat kepulangan ayahku yang tiba tiba ini.
Ayah melepaskan pelukanku dan menghampiri mama yang disambut dengan ciuman dan pelukan dari mama.
"Kok gak bilang pulang sekarang?" tanya mama sama sepertiku.
"Biar kejutan ma." ucap ayah sambil tertawa, kemudian mengajak mama masuk ke dalam rumah dan meninggalkanku beserta barang bawaannya di depan rumah.
"Lish bawa koper sama tas ayah ya." pinta ayah yang berjalan ke dalam yang kemudian dianggukki olehku, meskipun ayah tak melihatnya.
Aku masuk ke rumah membawa dua koper dan satu tas besar bawaan ayah dan menyimpannya di dekat meja ruang tengah.
"Ayah bawa oleh oleh buat Alish gak?" tanyaku melihat ayah duduk disamping mama.
"Bawa dong, kamu buka aja." kata ayah sembari memindahkan chanel tv menggunakan remot.
"Mas mau makan?" tanya mama yang langsung di angguki ayah.
"Yaudah mama hangatkan masakan dulu."
"Perlu Alish bantu ma?" tawarku sebelum mama pergi ke dapur.
"Kamu beres beres pakaian ayah aja." tolak mama sambil berjalan ke arah dapur. Aku pun mengangguk meng-iya kan.
Aku mulai membuka koper ayah satu per satu dan mengeluarkan isinya untuk dibereskan setelahnya.
"Ini kaos buat siapa yah?" tanyaku melihat kaos khas borneo yang bermotif lucu yang tercium khas baju baru.
"Buat kamu." ucap ayah santai. Ayah kemudian merebahkan tubuhnya dengan kepala disandarkan di lengan sofa.
"Ih ayah, kok kaos sih, mama aja di kasih dress ini." Protesku seraya menunjuk dress batik yang seukuran mama yang telah ku keluarkan tadi.
"Ya, kan kamu sukanya pakai kaos, ayah belinya kaos aja."
"Tapi pengen yang tangan panjang yah." rajukku yang tak menginginkan kaos berlengan pendek.
"Tuh ayah beli dua buat kamu, satu pendek, satu lagi yang panjang. Ayah tahu kamu bakal protes." ucap ayah terkekeh mendengar protesanku. Kemudian ayah meminum air yang tadi di sediakan oleh mama.
"Hehe, makasih ayah. Eh kalau Alish kasih yang ini ke temen boleh yah?" Tunjukku ke kaos yang berlengan pendek itu. Aku seketika teringat dengan Dika.
Ayah mengangguk memperbolehkan.
"Yang ini buat siapa yah?" Tunjukku ke arah kaos yang tersisa 3 tapi berbeda motif dan warna dengan kaos punyaku.
"Punya ayah satu, yang dua lagi buat Agung sama kakek."
"Oh gitu." Aku menganggukkan kepala.
Aku baru saja membereskan satu koper. Kemudian aku beralih ke koper yang satu lagi. Kali ini bukan hanya pakaian isi didalamnya, aku melihat ada pernak pernik dan sebuah lukisan rumah adat yang dibingkai sangat menarik.
"Ayah beli ini?" Aku membawa lukisan itu dan melihatnya seksama.
"Enggak, itu di kasih sama bupati disana. kamu simpan aja di kamar."
"Ok." jawabku semangat dan menyimpan sementara lukisan itu di atas meja.
"Lagian ayah sudah beli lukisan yang lainnya buat dipajang di ruang tamu." ungkap ayah yang ingin menunjukkan barang yang dibelinya.
"Mana yah?" tanyaku penasaran.
"Ayah kirim lewat kurir, ribet kalau ayah bawa semuanya."
"Oh gitu." Aku mengangguk mengerti, kemudian aku menemukan sebuah paper bag mini yang isinya beragam gantungan kunci yang sangat menarik.
"Yah, aku minta gantungan kuncinya sepuluh ya?" pintaku yang ingin aku ambil sebagai koleksi.
"Itu ayah beli semuanya buat kamu, kamu bagi bagi sama teman sebagian."
"Waahh siap yah." ucapku senang sambil melakukan gerakan hormat seperti saat upacara bendera.
"Ayah ke dapur dulu, mau makan." Beritahu ayah yang di angguki olehku yang terus mengeluarkan barang barang dari koper ayah.
Setelah selesai membuka kedua koper itu, aku membuka tas besar disampingku. Ternyata isinya hanya makanan. Aku membiarkannya karena itu urusan mama. Aku membawa pakaian ayah untuk disimpan ke lemari.
Setelah selesai, aku membawa semua pemberian ayah untukku ke dalam kamar. Aku menyimpannya di atas kasur dan mencari cari keberadaan ponselku yang aku sendiri lupa menyimpannya dimana.
"Dimana ya?" Ku ingat ingat terakhir kali aku memegang ponsel.
"Ah kursi." Aku pun mengambil ponselku yang terselip di kursi santaiku, kulihat ponselku sedang menyala, tanda ada pesan masuk.
Dan kulihat salah satu pesan itu ternyata dari Dika.
'Dika?'
****
Dika POV
Aku bingung harus memulai bagaimana. Ku pikirkan apa yang harus kutanyakan kepada Alisha.
Tiba tiba aku kepikiran tentang jaket milik Alisha. Kemudian aku menanyakan bagaimana aku mengembalikan jaket tersebut dan Alisha menjawab pesanku dua jam kemudian bahwa ia akan mengambilnya besok di tempat jualanku.
Lalu setelahnya Alisha bertanya kepadaku mengenai kegiatanku sekarang, dan aku menjawab bahwa aku masih berjualan bersama ayah. Ia kemudian meminta maaf merasa sudah menggangguku. Dan aku meng-iya kan saja tanpa berpikir panjang, lama kemudian tak ada lagi balasan pesan darinya.
Aku menepuk jidat. Kenapa jawab iya Dik? Pasti ia salah paham dan tak mau membalas pesanku lagi.
"Ck." Aku berdecak kesal dan sibuk menggerutu menyadari kebodohanku. Padahal aku ingin kembali berkirim pesan dengannya.
"Dik, ada yang beli." Beritahu ayah kepadaku yang sedang sibuk memegang ponsel didepan wajan penggorengan dengan kompor yang masih menyala.
"Sebentar yah." Aku menyimpan ponsel ke dalam saku celanaku dan mulai melayani tiga orang pembeli, sementara ayah sedang memakan makan siangnya yang tertunda di warung Bang Jono.
Setelah tidak ada lagi pembeli, aku kembali membuka ponselku dan mulai mengetikkan suatu pesan kepada Alisha.
Beberapa menit tidak ada pesan balik ke ponselku. Aku jadi kesal dan tak semangat lagi untuk jualan.
Kemudian ayah kembali menghampiriku setelah kegiatan makan sorenya selesai.
"Kenapa Dik?" tanya ayah yang sedang membersikan gerobak dari sisa jualan tadi. Aku menggeleng tidak menjawab, rasanya malas sekali mulutku untuk berbicara.
"Tutup sekarang aja ya dik." saran ayah yang di angguki olehku. Sekarang sudah pukul 4 sore, dan sudah cukup waktunya untuk tutup warung dan pulang. Kemudian aku membantu ayah membereskan sisa dagangan. Aku meminta izin kepada ayah untuk pulang lebih dulu tanpa menunggunya.
Sesampainya di rumah, aku menyimpan wadah yang tadi ku bawa ke dapur, kemudian ke kamar membawa handuk untuk mandi dan setelahnya melaksanakan sholat ashar.
Selesainya, aku mengambil ponsel yang tadi ku taruh di meja yang berisi tumpukan buku dan mulai merangkai kata kata untuk di kirimkan ke Alisha.
Alishaa
Lish
15.20
Apa?
15.22
Aku bingung ingin menanyakan apa, sebentar aku berpikir. Kemudian ponselku menunjukkan bahwa baterai ponselku tersisa sedikit lagi. Segera aku mengambil charger dan menyambungkannya.
Aku duduk di dekat chargeran yang sedang tersambung untuk membalas pesan dari Alisha.
Lagi apa?
15.23
Aku memutuskan untuk menanyakan kegiatannya sekarang. Aku menaruh ponselku sedikit kasar saat pesanku sudah terkirim padanya. Aku mengacak ngacak rambutku tidak tahu kenapa. Rasanya sangat malu, tapi aku ingin tahu keberadaannya sekarang.
Kemudian ponselku berkedip menandakan ada pesan.
Lagi duduk, kamu?
15.24
Sama.
15.24
Besok pulang sekolah aku ke tempat jualan kamu ya?
15.25
Ada apa memangnya?
15.25
Aku punya sesuatu untuk kamu,
besok ya..
15.25
Iya.
15.25
Apa yang ingin Alisha berikan? Kenapa dia mau repot repot segala memberiku sesuatu.
****
Alisha POV
Akhirnya Dika kembali menghubungiku setelah ia pulang dari pekerjanya. Aku sudah berpesan kepadanya bahwa besok aku akan memberikan sesuatu kepadanya sepulang sekolah. Kemudian aku mengirimkan pesan sebelum meneleponnya.
Dik
15.27
Dikaaaa
15.27
Hm?
15.28
Aku telepon ya.
15.28
Setelah pesan itu terkirim, aku langsung meneleponnya tanpa menunggu terlebih dahulu balasannnya.
"Halo?" sahut Dika diseberang sana.
"Hai Dik." sapaku dengan senyuman yang ditahan, mendengar suaranya dari telepon, membuatku ingin terus tersenyum, entah kenapa.
"Udah pulang?"
Tanyaku basa basi.
"Iya."
"Oh git-"
Sambungan telepon tiba tiba terputus, dan ternyata isi pulsaku telah habis.
"Kenapa habisnya sekarang?" tanyaku resah sambil menghadapkan ponsel ke arahku berkali kali seperti orang gila.
Aku segera mengirim whatsapp ke Winda, teman sebelah kelasku yang menjual pulsa. Tapi ternyata pulsanya sedang kosong. Aku berdecak kesal.
"Ayaaahhh ... mau pulsaaa." teriakku dari kamar, merengek meminta pulsa.
"Kan ada wi-fi." jawab ayah santai.
"Maunya pulsaa." pintaku kekeuh ingin segera mengisi pulsa sekarang.
"Besok aja, kali ini ayahnya capek, lagi pula di luar sedang hujan." Kali ini mama yang menjawab.
"Pake punya ayah aja. Emang sangat penting?" bujuk ayah namun aku tak mau.
"Gak mau. Penting banget yahh." teriakku kembali kemudian membuka pintu dan mendekati ayah di ruang tengah.
"Besok." putus ayah melihatku yang akan menghampirinya dan keputusannya kali ini tidak bisa di ganggu gugat.
Aku mengangguk lesu sambil berjalan kembali ke kamar.
***
Sementara di kamar Dika, ia terus memandangi teleponnya yang tidak jua tersambung lagi dengan Alisha. Dika kesal karena isi pulsanya habis, sementara diluar sedang hujan besar yang menghalangi Dika untuk segera membeli pulsa.
Dika mengacak ngacak rambutnya dengan kesal. Lalu ia berbaring di kasurnya. Dika diam sejenak menutup mata. Kemudian membukanya lagi dan bangkit duduk.
Ya, ia hanya perlu menunggu besok.
Aduh gak bisa ikutan aku😭
Doaku, semoga dikau sukses di lapak sebelah ya..!
Ini aku admin gc mu, aku udh gak menerima member karna gc sekarang pada sepi, takut cuma nampung doang sedang kita disana sering bertukar poin. Member disana asli sudah terpercaya dan memanfaatkan gc sebijak mungkin.
begitu berat... tapi gak apa lahh,
Semangat terus kak Yul😁😆😆
jangn buat konflik yg berat2 dong. msa crita ny di pisah kn melulu. 😣😣
ap lgi klw ad smpe ad konflik lupa ingatn dn gk ingt dgn pasangn ny.
tpi kmu suka kn liiiiisssshhh